Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"arghhh, Clara sakit Lo beneran pengen gue mati ya gak bangun-bangun dari sini," setelah beberapa menit bersembunyi di dalam selimut Linus, Clara tidak kunjung keluar membuat Linus yang menahan tubuhnya menjadi tidak tahan.
Perlahan Clara mulai berganti posisi, ia menjauhi Linus meskipun mereka masih sama-sama duduk di satu ranjang.
"Linus, Lo yakin rumah Lo ini gak ada hantunya sama sekali? Kok dari tadi masih aja ada suara kayak di film horor gitu?" ujar Clara memastikan.
"Gue gak tau sih, tapi villa ini di jauh dari kota, selain itu juga deket sama hutan, gak heran kalau ada beberapa hal mistis yang mengganjal," Linus dengan santai menanggapi ucapan Clara barusan.
Hal ini membuat bulu kuduk Clara semakin berdiri, ia merasa kalau di villa itu memang ada hantunya apalagi gelap gulita.
Akhirnya Clara pun memutuskan untuk tidur satu ranjang dengan Linus, namun sebelum tidur dirinya membuat perbatasan wilayah di atas ranjang dengan bantal-bantal yang ada agar mereka berusaha tidak saling bersentuhan.
Keesokan harinya.
Setelah semalaman hujan, pagi ini cuaca cukup cerah, perlahan sinar matahari mulai masuk menerobos selah-selah jendela kamar Linus, membuat Linus yang tidur lelap mengerjap kan matanya.
Ia membuka mata perlahan dan melihat Clara yang masih tertidur pulas sambil memeluk dirinya, bukan ia yang melewati batas, namun Clara lah yang datang kepadanya dan dengan nyaman tertidur.
Senyum Linus mengambang, saat melihat wajah cantik Clara," gadis mungil, tidur aja masih secantik ini, gimana bisa Raja punya perempuan seperti ini? Gue jadi penasaran gimana mereka bisa pacaran ya?" batin Linus mengagumi kecantikan Clara ia perlahan menyingkirkan rambut yang menutupi separuh wajah gadis itu.
"Clara, andaikan Lo bukan ceweknya Raja, udah gue bikin Lo jadi milik gue sepenuhnya," lirih Linus sambil mengelus lembut bibir Clara dengan jari jempolnya.
Clara yang merasa risih akan tangan Linus yang menggangu nya pun segera membuka mata, meskipun sedikit buram namun ia tetap bisa melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Astaga!"
Gubrak! ...
Jerit Clara mengema di dalam kamar itu di sertai kaki nya yang melaju menendang Linus hingga laki-laki itu terjatuh ke lantai.
"Patah! Patah tulang gue arghhhh! Claraaaa!" jerit Linus sembari memegang punggung dan tangan nya yang berdenyut akibat terbentur keras.
"Lo ngapain ngelewatin batas yang udah gue buat! Lo ngelakuin apa sama gue?" Clara buru-buru membuka selimut dan melihat tubuhnya.
Ia lega karena pakaian di tubuhnya masih lengkap dan tidak ada yang terlepas satu pun.
"Lo buta apa gimana sih? Gak lihat ya? Yang ngelewatin batas terus meluk gue kan elo, kok gue yang di tendang, kalau gue patah dan gak bisa jalan lagi gue pastiin Lo bakal jadi perawat gue seumur hidup!" Linus emosi sambil menujuk Clara dengan wajah marah nya.
Clara pun merasa bersalah setelah melihat posisi tempat tidur nya, apa yang di katakan Linus itu benar, ia lah yang melanggar batas yang sudah ia buat.
"Ma, maaf gue gak sengaja," ujar Clara sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal rasa bersalah yang ia rasakan membuat nya malu dan serba salah.
"Maaf-maaf! Tunggu apa lagi cepetan bantuin gue bangun!" Linus furstasi dengan kejadian itu sampai-sampai membuat ia seperti anak kecil yang jatuh dan ingin ibunya membantu berdiri.
Clara pun segera turun dari ranjang dan membantu Linus untuk bangkit dari posisi nya saat ini.
Keduanya saling diam dan Clara tidak lagi berani angkat bicara dia menyimpan rasa bersalah itu di dalam hatinya.
Jam sudah menujukkan pukul sembilan pagi, Linus dan Clara kini telah bersiap-siap untuk pulang.
"Semoga papa gak marah pas lihat aku pulang nanti," batin Clara sambil masuk ke dalam mobil.
"Dari tadi Lo diam aja, mikirin apaan?" tanya Linus lagi.
Clara memasang sabuk pengaman Linus, namun bibirnya masih bungkam.
"Lo kenapa? Kelihatan tegang banget, takut di marahin Raja?" lagi-lagi Linus melontarkan pertanyaan nya.
"Engak kok, gak ada apa-apa," ujar Clara lagi.
Setelah berkata demikian, Clara pun segera menyalakan mesin mobil dan mereka pergi dari tempat itu.
Singkat cerita, dua jam pun berlalu dengan begitu cepat, kini Clara dan Linus telah kembali ke rumah Linus.
Akan tetapi, Linus kaget melihat ada mobil mama dan papa nya di halaman rumah.
"Clara, ayo turun dulu," ujar Linus sambil matanya fokus dengan mobil sang mama.
Bukan hanya mobil, ternyata pemilik mobil juga sedang berdiri di depan rumah dengan tangan yang di lipatkan ke bawah dada.
"Mama, bukan nya baru seminggu? Kok tiba-tiba udah di rumah aja," ujar Linus menghampiri sang mama.
Sementara Clara masih berada di dalam mobil.
Mata Clara tertuju ke arah wanita yang saat ini berdiri di depan mobil nya, rasanya kejadian malam itu kembali terbayang di benak Clara, di mana mama Maya menghina dan sangat benci terhadap nya. Dia juga sangat menyalahkan Clara atas jatuhnya Rena ke kolam renang.
"Dari mana saja kamu?" tanya mama Maya dengan tatapan tajam nya ke arah Linus.
Sejujurnya Clara tidak ingin keluar dari mobil dan hendak langsung pulang saja, namun jika begitu bagaimana bisa ia melihat reaksi mama nya Linus, ia ingin tau, apakah wanita jahat itu mengenali nya atau tidak.
Clara pun keluar dari mobil dan kemudian berjalan menghampirinya Linus.
"Selamat siang tante," ujar Clara berusaha bersikap sopan meskipun di dalam hatinya tersimpan rasa sakit yang begitu berbekas.
"Ma, ini Clara, dia yang ngerawat aku, kami dari villa, tadi malam gak sempat pulang karena badai mama kok tiba-tiba pulang? Bukan nya baru seminggu di sana, dan di mana papa?" ujar Linus panjang lebar.
"Itu karena gue yang minta tante buat pulang, Linus Lo keterlaluan banget sih, bisa-bisa nya bawa orang asing ke villa pribadi Lo," bukan mama Maya yang angkat bicara, namun Rena, iya dia adalah Rena yang tiba-tiba keluar dari balik pintu rumah Linus.
"Rena!? Lo? Ngapain Lo di rumah gue!?" marah Linus.
"Udah-udah! Cukup! Sekarang kamu masuk ke dalam, maksud mama kalian masuk ke dalam mama mau ngomong," Maya berjalan masuk ke dalam rumah mendahului ketiga remaja itu.
"Clara ayok!" ajak Linus.
"Lo duluan," jawab Clara.
Linus melangkahkan kakinya mengikuti sang mama masuk ke dalam rumah itu sementara Rena dan Clara masih di luar.
Saat Clara hendak melangkah masuk mengikuti Linus, Rena tiba-tiba memegang lengan nya, membuat Clara mengentikan langkah kaki nya.
"Siap-siap aja Lo bakal di marahin sama mama nya Linus, karena Lo udah berani pengaruhin Linus sampai-sampai ngajakin Lo ke villa dia," bisik Rena dengan lirikan tajam nya.
"Lepas, jauhin tangan kotor Lo dari gue!" Clara menyingkirkan tangan Rena dari lengan nya dan kemudian masuk ke dalam rumah.
"Awas aja Lo," umpat Rena yang kemudian mengikuti dari belakang.
Lima menit kemudian mereka semua sudah berkumpul di ruang tamu rumah Linus, suasana hening, mama Maya menatap Clara dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Tante lihat dia cewe yang bikin Linus jatuh sampai tangan nya keselo dan dia juga udah bikin Linus berani ngajak orang luar ke villa nya," ujar Rena tidak sabar.
"Siapa nama kamu?" ujar mama Maya menatap Clara.
"Clara tante Clara Vanessa Chaseiro," jawab Clara dengan penuh wibawa.
Mama Maya seketika mengerutkan keningnya, Chaseiro, nama itu benar-benar tidak asing di telinga nya.
"Chaseiro? Apa kamu ada sangkut pautnya dengan pak Tian Chaseiro?" ujar mama Maya dengan tatapan penuh harapan.
"Saya putri tunggal Tian Chaseiro Tante," ungkap Clara tampa senyum di wajahnya.
"Apa!" segera saja mama Maya berdiri dari duduknya sambil memegang dada.
Sudah begitu lama ia ingin bertemu dengan tuan Chaseiro untuk membuat kesepakatan bisnis antara perusahaan mereka dan perusahaan tin grup, perusahaan terbesar di kota ini, namun ia selalu tidak pernah mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Tian Chaseiro, perusahaan mereka masih jauh di bawah perusahaan Tian grup.
"Mama kenapa?" Linus malah kebingungan dengan sikap sang mama.
"Kamu ini gak bohong kan?" Mama Maya sekali lagi bertanya dan tidak bisa percaya kalau Clara adalah anak dari Tian Chaseiro.
Segera saja Clara mengeluarkan ponselnya dan memberikan sebuah foto untuk dilihat mama Maya.
Mama maya bergetar memegang ponsel tersebut dan kemudian kembali terduduk di tempat duduk nya.
"Kamu? Kamu benar-benar anak nya, astaga Linus kenapa kamu gak bilang sama mama kalau Clara nona muda kelaurga Chaseiro, kalau gitu mama gak perlu khawatir gini kamu di rawat sama dia sampai-sampai papa di sana tingal sendiri karena mama khawatir sama kamu," ujar mama Maya tiba-tiba mengelus pundak Linus.
Linus benar-benar kaget wajah garang sang mama tiba-tiba lenyap setelah tau Clara adalah anak dari Tian Chaseiro.
"Seharusnya mama telpon aku dulu,gak perlu langsung pulang kayak gini ma," Linus kini serba salah dengan mama nya.
Sementara itu Rena benar-benar kaget dan sangat kecewa dia tidak menyangka kalau respon Maya tidak sesuai dengan ekspektasi nya.
"Tante kok tante berubah gini, dia itu udah lancang masuk ke villa pribadi Linus dan bikin Linus jatuh kok Tante gak marahin dia sih?" tanya Rena tidak puas.
"Diam kamu! Ini semua gara-gara kamu, kamu nelpon aku dan bilang hal yang gak jelas tentang Linus dan Clara aku jadi khawatir dan kembali dasar anak bodoh kamu!" Mama Maya menuding Rena dengan kata-kata kasar.
Sementara Clara yang melihatnya hanya tersenyum miring.
"Clara, eh maksudnya nona Clara maafin tante ya, hampir aja asal marah dan menyinggung perasaan mu," ungkap mama Maya berpindah tempat duduk dan memegang tangan Clara.
"Dia benaran gak kenal gue?" batin Clara.
"Maafin Tante ya," sekali lagi mama Maya meminta maaf.
"Gak apa-apa kok Tante ini cuman salah paham Rena juga asal bicara tapi udah lupain aja jangan panggil nona pangil aja Clara aku seumuran kok sama Linus," dengan lembut Clara menangapi mama nya Linus.
"Kamu ini benar-benar sangat baik," mama Maya terlihat bahagia melihat Clara.
Namun tepat di saat itu, tiba-tiba kepala pelayan datang ke ruang tamu dengan buru-buru ia mendekati Clara.
Bersambung ....