Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pandangan
Brak!
Pintu terbuka dengan cukup keras.
“Kenapa kamu masuk kerja?”
Xavero yang sedang fokus pada laptopnya langsung terkejut dengan kehadiran Naura di ruangannya. Ia bahkan menghentikan pekerjaannya seketika.
Ia segera beranjak dari duduknya. “Maaf, Nona. Tapi saya sudah sehat,” ucapnya sopan.
Naura menatapnya dengan sorot sinis, namun terselip kekhawatiran yang tidak ia tunjukkan secara terang-terangan.
“Kamu masih perlu beberapa tahap medis. Kamu mau saya dianggap atasan jahat karena membiarkan asisten saya tetap bekerja saat dia sakit?” ucapnya kesal, suaranya terdengar tegas namun tidak sepenuhnya dingin.
“Saya janji tidak akan merepotkan siapa pun, Nona,” balas Xavero dengan nada tetap tenang, berusaha meyakinkan.
Naura menghela napas panjang, jelas menahan emosi.
“Masalahnya bukan kamu merepotkan atau tidak,” ucapnya tegas. “Masalahnya kamu belum sepenuhnya pulih.”
Xavero terdiam.
Tatapannya tetap tenang, tapi ada sedikit perubahan di matanya. Seolah ia tidak terbiasa, dipedulikan seperti itu.
“Saya bisa bekerja, Nona,” jawabnya lagi, tetap pada pendiriannya.
“Kamu keras kepala, ya,” gumamnya pelan.
Naura menyilangkan tangan di dada, menatapnya tajam.
Ia melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya beberapa langkah.
Tatapannya turun, memperhatikan luka di wajah Xavero yang belum sepenuhnya hilang. Perban di lengannya masih terlihat jelas di balik kemeja yang ia pakai.
“Kalau kamu pingsan di kantor,” ucap Naura pelan namun menekan, “itu bukan profesional. Itu ceroboh.”
“Saya janji tidak akan merepotkan siapa pun, Nona,” ucap Xavero. “Terima kasih atas perhatiannya.”
Naura menghela napas panjang, seolah menyerah untuk memaksanya.
“Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, kamu langsung istirahat,” ujarnya tegas.
Xavero mengangguk sopan. “Baik, Nona.”
Naura mengangguk kecil, lalu menatapnya sejenak. “Jangan paksa diri kamu,” ucapnya, nadanya kini lebih tenang. “Tidak semua hal harus kamu tanggung sendiri.”
Setelah mengatakan itu, Naura berbalik dan meninggalkan ruangan Xavero.
Sementara itu, Xavero masih berdiri diam di tempatnya, menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Aroma parfum Naura masih tertinggal di ruangan, samar namun cukup terasa.
Entah kenapa, ucapan Naura yang singkat tadi terus terngiang di kepalanya—terdengar seperti perhatian, meskipun disampaikan dengan nada yang tetap dingin.
Senyum tipis sempat terbit di sudut bibirnya.
Namun, Xavero segera menggeleng pelan, menepis pikirannya sendiri.
“Sadar, Vero… dia atasan lo. Nggak pantas buat lo berharap.”
Ia menarik napas dalam, tatapannya kembali dingin.
“Tugas lo kerja… dan balas dendam.”
°°
“Baik, meeting hari ini saya tutup sampai di sini.”
Xavero menunduk sopan kepada para relasi bisnis dan investor yang hadir. Ini adalah pertama kalinya ia terlibat langsung dalam pertemuan dengan para pelaku besar di dunia bisnis. Rasa gugup sempat muncul, namun ia berusaha tetap tenang dan menyampaikan setiap penjelasan dengan rinci.
Satu per satu, mereka mulai beranjak dari kursi masing-masing. Suasana yang sebelumnya tegang perlahan mencair. Beberapa di antara mereka saling berjabat tangan, bertukar senyum profesional.
“Nona Naura,” ucap salah satu investor, Dimas, menyapa.
“Tuan Dimas,” balas Naura dengan sopan.
Dimas mengulurkan tangannya. “Semoga kerja sama ini bisa menguntungkan dan bermanfaat.”
Naura menyambut uluran tangan tersebut dengan anggun. “Tentu, Tuan.”
Ia melepaskan jabat tangan itu dengan elegan. Senyumnya tipis—profesional, tidak berlebihan.
“Semoga kerja sama ini berjalan sesuai ekspektasi,” tambahnya tenang.
Dimas mengangguk puas. “Saya yakin, Nona.” Ia lalu melirik ke arah Xavero. “Asisten baru Anda memiliki potensi yang sangat baik.”
Naura melirik sekilas ke arah Xavero. “Dia adalah pilihan kakak saya, Tuan Dimas.”
“Pantas,” sahut Dimas. “Pilihan Tuan Nathan memang tidak pernah meleset.”
Naura hanya mengangguk kecil.
“Terima kasih atas pujiannya, Tuan Dimas,” ucap Xavero sambil menunduk sopan.
Setelah beberapa basa-basi singkat, Dimas pun berpamitan. Investor lain menyusul, satu per satu meninggalkan ruangan.
Tak lama kemudian, Naura dan Xavero juga melangkah keluar.
“Jadwal selanjutnya?” tanya Naura sambil berjalan, Xavero mengikutinya di samping.
“Hari ini cukup sampai di sini, Nona,” jawab Xavero dengan sopan.
Naura menghembuskan napas pelan, seolah sedikit lega. “Baiklah. Temani saya ke mall setelah makan siang.”
Belum sempat Xavero menjawab, Naura sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu secara otomatis.
Xavero terdiam beberapa detik di depan pintu yang kini tertutup rapat.
Alisnya sedikit mengernyit.
“Mall…?” gumamnya pelan, memastikan dirinya tidak salah dengar.
Waktu berlalu.
°°
Setelah makan siang, Xavero sudah berdiri rapi di depan lobi perusahaan. Kemejanya tetap terlihat rapi, meski luka di tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih.
Beberapa menit kemudian, Naura muncul.
Penampilannya berbeda.
Lebih santai, namun tetap elegan.
Tatapannya langsung tertuju pada Xavero.
“Kamu siap?” tanyanya singkat.
“Iya, Nona.”
Naura mengangguk kecil, lalu melangkah keluar lebih dulu.
Mobil sudah menunggu.
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di depan pusat perbelanjaan mewah.
Beberapa orang langsung menoleh saat Naura turun.
Auranya memang berbeda.
Xavero keluar dari sisi lain, langsung berjalan satu langkah di belakangnya.
Mereka masuk ke dalam.
Naura langsung menuju salah satu butik perhiasan mewah.
Xavero berhenti sejenak di depan pintu, matanya mengamati sekitar.
Instingnya bekerja.
Namun ia tetap masuk.
Di dalam Naura sudah duduk, melihat-lihat koleksi yang ditawarkan.
“Yang ini,” ucapnya singkat, menunjuk sebuah kalung berlian.
Pegawai toko langsung tersenyum ramah.
“Pilihan yang sangat bagus, Nona.”
Naura hanya mengangguk kecil.
Ia lalu melirik Xavero.
“Kamu lihat.”
Xavero mendekat.
Tatapannya jatuh pada kalung itu.
Sekilas saja, ia sudah tahu nilainya tidak main-main.
“Bagus,” ucapnya singkat.
Naura menyipitkan mata.
“Cuma ‘bagus’ saja?"
Xavero tetap tenang. “Elegan. Tidak berlebihan.”
Naura terdiam beberapa detik.
Lalu, sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Kamu punya selera juga ternyata.”
Xavero tidak menanggapi.
Namun, tatapannya tidak lepas dari sekitar.
Hingga pandangannya jatuh pada sebuah cincin yang berkilau di salah satu etalase, tak jauh dari tempatnya berdiri.
Xavero tanpa sadar melangkah mendekat, menatap cincin itu dengan saksama.
“Cantik…” gumamnya pelan.
Namun sesaat kemudian, matanya melebar ketika melihat angka yang tertera di bawahnya.
“Empat miliar…” gumamnya pelan, menelan ludah.
Ia tersenyum tipis, getir.
“Harus berapa lama gue kerja buat dapetin cincin itu…”
“Xavero.”
Suara itu langsung menyadarkannya.
Ia menoleh cepat ke arah Naura yang mengisyaratkan untuk kembali.
“Siap, Nona.”
Mereka pun keluar dari butik, dengan Xavero membawa beberapa kantong belanjaan milik Naura.
“Naura.”
Langkah mereka terhenti.
Naura dan Xavero menoleh bersamaan ke arah sumber suara.
“Liora,” ucap Naura datar.
Liora tersenyum manis, lalu menghampiri mereka dengan langkah anggun. Sekilas, ia melirik Xavero dengan tatapan merendahkan, sebelum kembali fokus pada Naura.
“Kamu habis belanja?” tanya Liora ringan.
“Iya. Ada apa? Waktu aku tidak banyak,” jawab Naura tenang, nadanya tetap datar.
Ia sempat melirik ke arah Xavero.
Dalam sekejap, aura pria itu berubah—lebih dingin, lebih tertutup.
Dan Naura… langsung memahami maksudnya.
Liora tersenyum tipis, langkahnya santai saat mendekat.
“Kebetulan ketemu kamu di sini,” ucapnya ringan. Lalu, seperti baru teringat sesuatu, matanya kembali tertuju pada Naura.
“Oh iya… hampir lupa.”
Naura menatapnya datar. “Apa?”
Liora merapikan rambutnya sedikit, lalu berkata dengan nada seolah akrab,
“Kamu datang ke reuni kampus kita, kan?”
Naura mengernyit tipis.
“Reuni?” ulangnya singkat.
“Iya,” angguk Liora. “Anak-anak kampus lagi ngadain kumpul besar. Sudah lama juga, kan? Kebetulan banyak yang bakal datang.”
Senyumnya manis, tapi terasa dibuat-buat.
Naura terdiam sejenak.
Pikirannya langsung melayang pada jadwal yang hampir tidak pernah kosong.
“Aku belum tahu,” jawabnya jujur. “Jadwalku lagi padat.”
Liora terkekeh pelan.
“Kamu memang dari dulu sibuk banget,” ucapnya.
Nada itu terdengar seperti pujian, tapi menyimpan sindiran tipis.
“Semoga saja masih sempat datang. Atau sekarang, kamu sudah terlalu sibuk sampai nggak ada waktu buat hal-hal seperti itu?”
Naura menyipitkan mata sedikit.
Ia tidak langsung menjawab.
“Aku datang kalau ada waktu,” ucapnya akhirnya, tetap tenang.
Liora mengangguk pelan, lalu perlahan pandangannya bergeser ke arah Xavero.
Tatapannya berubah.
Lebih menilai, lebih rendah.
“Dan ini…” ucapnya sambil menatap Xavero dari atas ke bawah.
“Asisten barumu?”
Naura menjawab singkat, “Iya.”
Liora tersenyum tipis.
“Lumayan juga,” gumamnya. “Tapi…”
Ia menjeda, seolah berpikir.
“Agak kaget saja sih. Kamu biasanya memilih orang-orang yang selevel.”
Kalimatnya halus.
Tapi jelas merendahkan.
Xavero tetap diam.
Wajahnya datar, tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Naura melirik sekilas ke arahnya.
Ia bisa merasakan perubahan kecil itu.
“Dia bagian dari timku,” ucap Naura dingin. “Itu sudah cukup.”
Liora mengangkat bahu ringan.
“Tentu saja. Aku cuma mengatakan apa yang aku lihat.”
Ia melangkah sedikit mendekat ke arah Xavero.
Tatapannya menekan.
“Dunia seperti ini…” ucapnya pelan, “nggak mudah dimasuki. Apalagi kalau, nggak terbiasa.”
Xavero menatapnya sekilas dengan ekspresi datar. Tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya, ia memilih untuk tidak menanggapi.
Liora yang tidak mendapat tanggapan hanya bisa berdecak pelan.
Naura menghela napas pelan.
Ia sudah tidak tertarik memperpanjang percakapan ini.
“Kalau tidak ada hal penting, aku pergi dulu,” ucapnya tegas.
Liora kembali memasang senyum manisnya.
“Jangan lupa undangannya,” ucapnya. “Aku tunggu kehadiran kamu.”
Naura tidak menjawab, ia langsung berbalik.
“Xavero.”
“Iya, Nona.”
Mereka melangkah menjauh.
Beberapa langkah kemudian…
Naura berhenti.
Tanpa menoleh, ia berkata,
“Kamu nggak perlu dengerin dia.”
Xavero sedikit terdiam.
“Saya tidak mempermasalahkannya, Nona.”
Naura menoleh pelan.
Tatapannya lurus.
“Bagus,” ucapnya singkat.
“Karena orang seperti dia, memang terbiasa merendahkan orang lain.”
Lalu Naura kembali berjalan.
“Dan satu lagi,” ucapnya.
“Iya, Nona?”
“Kalau suatu hari kamu berdiri lebih tinggi dari mereka…”
Ia menjeda.
“Pastikan kamu nggak jadi seperti mereka.”
Xavero terdiam.
Untuk sesaat, langkahnya melambat.
Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
Senyumnya sangat tipis.