NovelToon NovelToon
Lara Di Tapal Batas

Lara Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:67.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.

Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.

》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?

》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"

Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗

Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34.

...~•Happy Reading•~...

Laras menatap layar laptop sambil memikirkan Rafael yang ditinggalkan di rumah. Ada rasa kesal, tapi juga rasa bersalah setelah mendengar keterangan Hendi.

'Tapi dia memang sudah sepakat mendukung kerjaanku. Apa jadinya kalau aku terus hamil? Apa aku bisa konsentrasi bekerja saat hamil?' Laras membatin.

Sejenak dia hanya diam, namun hatinya terus berdialog seakan ada dua pribadi yang berbeda pendapat di dalamnya. Kadang ada suara yang mendesak untuk pertahankan keinginannya. Kadang terdengar suara menegur untuk mendengar keinginan Rafael. Sehingga pikirannya seperti perahu yang diombang ambingkan oleh suata hati.

Laras ingat yang terjadi di rumah menjelang dia akan lakukan pertemuan untuk mempresentasikan produk perusahan kepada client dan mengajar karyawan.

'Pantas waktu-waktu menjelang itu, Rafa pinjam laptopku dan tidur larut malam.' Laras ingat yang dilakukan Rafael di malam hari. 'Ternyata dia sedang mengerjakan powerpoint untuk materiku.' Laras menepuk dahinya.

Terdengar suara hati menentang. 'Rafa sedang pura-pura menolong, supaya bisa hidup enak dengan hasil keringatmu.'

Hatinya jadi ragu. Maka terdengar suara lain menegur. 'Laras, dia mau membantu untuk mempermudah pekerjaanmu. Itu sebagai wujud tanggung jawabnya.'

Laras terus bergelut dengan pikirannya yang terus diganggu oleh suara hati yang tidak bisa disaring. 'Huuuuu...' Laras menghembuskan nafas kuat lalu berdiri keluar dari ruangan. Dia jadi bimbang dan bingung, hingga tidak bisa konsentrasi bekerja.

~••

Di rumah ; Rafael bangun siang. Seluruh tubuhnya terasa kaku, pegal dan sakit.

Melihat Laras sudah tidak ada di sampingnya, dia bangun. Rumah sangat tenang dan sepi, membuat dia segera turun dan keluar kamar untuk melihat Laras.

'Sudah berangkat rupanya.' Rafael menghembuskan nafas kuat melihat mobil Laras tidak ada di halaman.

Dia segera ke dapur untuk membuat minuman. 'Apa persoalan seperti ini dialami oleh suami yang istrinya berkerja di luar rumah?' Rafael bertanya sendiri sambil membuat kopi panas.

Hhhmmm... 'Rafa, efek suatu kesepakatan berdampak positif dan negatif. Ini adalah konsekuensi yang harus di hadapi.' Rafael mengingatkan dirinya dengan nada pahit, sepahit kopi yang diseruput.

Dia menyingkirkan cangkir kopi dan meletakan lengan di atas meja. "Ya, Tuhan, jikalau aku telah berbuat kesalahan, tolong maafkan aku. Kalau Engkau berkenan kami punya anak, tolong jernihkan pikiran Laras, supaya dia tidak lakukan kesalahan." Rafael berdoa sambil menelungkup wajah ke atas lengannya.

Beberapa saat dia berdoa dalam posisi itu, hingga beban berat di hatinya perlahan terangkat. Kemudian dia berdiri dan memperhatikan isi rumah. 'Semangat, Rafa. Kau mampu.' Dia menenangkan hati dan pikirannya yang sedang berperang, agar tidak terjadi penyesalan.

Dia bersyukur melihat ponselnya dalam keadaan non aktif. Sehingga tidak diperhadapkan dengan pertanyaan Mertua yang tidak bisa dijawab.

Dia mengambil alat pembersih lalu membersihkan seluruh rumah, halaman dan kamar mandi. Dia bekerja seperti tidak pernah membersihkan rumah.

Setelah lama bekerja dan tidak ada yang bisa dibersihkan lagi, dia duduk di halaman yang gersang tanpa pohon. 'Halaman ini seperti perasaanku.' Rafael membatin, lalu berdiri masuk ke dapur.

'Aku harus makan.' Rafael mengingatkan, sebab hari makin siang.

Walau sudah makan, tubuhnya tidak bertenaga dan lelah untuk lakukan yang lain. Perlengkapan makan dibiarkan begitu saja dalam tempat cuci piring. Dia duduk bersandar sambil memejamkan mata.

~••

Beberapa waktu kemudian, menjelang malam Laras tiba di rumah. Dia terkejut melihat rumah dalam keadaan gelap. 'Rafa ke mana?' Laras jadi panik. Dia turun dari mobil dan mendorong pagar.

Dia membiarkan lampu mobil terus bernyala di halaman lalu membuka pintu mobil dan rumah perlahan. Setelah masuk, dia heran dan was-was melihat rumah dalam keadaan bersih, harum dan sunyi.

Dia makin panik dan langsung membuka pintu kamar. Ketika melihat Rafael sedang tidur, hatinya seperti tanaman yang disiram air setelah seharian terkena sinar matahari. Ada rasa tenang, disertai kelegaan saat mengetahui Rafael ada di rumah.

Tanpa mengganti outfit, dia naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Rafael. Walau Rafael tidak merespon, dia memeluk pinggang sambil harap harap cemas.

Ketika Rafael masih belum bergerak, Laras mendekatkan wajahnya ke belakang leher dan berbicara. "Rafa, aku sudah periksa. Hamilku mau 5 minggu." Bisik Laras sambil tetap memeluk. Dia berharap itu adalah kabar bahagia yang ditunggu Rafael. Dan itu juga sebagai isyarat, dia akan mempertahankan kehamilannya.

Namun tanpa diduga Laras, tubuh Rafael menjadi kaku. Tidak berbalik dan menyambut girang yang dia katakan. Sejenak mereka mematung, tanpa bicara. Sikap dingin Rafael membuat Laras terkejut. Dia segera melepaskan pelukan dari pinggang Rafael.

Sekian lama berdiam diri, Rafael bangun dan mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan. "Kau malu memeriksakan kehamilanmu denganku?" Rafael bertanya sambil menatap Laras yang sudah duduk.

"Rafaaa... Mengapa berpikir begitu?" Laras terkejut melihat mata Rafael memerah. "Tadi aku pulang kantor langsung ke rumah sakit untuk periksa. Aku mau kasih surprise buatmu." Laras bicara cepat.

"Iya. Kau berhasil kasih surprise dengan mengabaikan statusku sebagai suamimu." Rafael segera turun dari tempat tidur.

"Mandi lalu telpon Mama Papa untuk kasih tahu hasilnya. Aku akan siapkan makan malam." Ucap Rafael datar, lalu berjalan keluar kamar.

Hati Rafael yang mulai tenang, kembali berkecamuk dan sedih. Laras telah menghilangkan kesempatan melihat dan mengetahui calon anaknya untuk pertama kali.

Ternyata Laras tidak peka terhadap hal-hal yang bersifat pribadi. Karena bukan dia belum tahu tentang kehamilan Laras. Tapi mereka sedang bergumul dan berselisih paham untuk mempertahankan calon bayi atau tidak.

Ketika makan malam telah siap, Rafael masuk ke kamar. Namun dia tidak jadi membuka pintu, karena mendengar suara Laras sedang berdebat. Dia berbalik dan membiarkan Laras bicara dengan orang tuanya.

"Laras cuma mau kasih surprise, Ma. Apa itu salah?"

"Kasih surprise apa? Memangnya Rafa belum tahu kau hamil? Kau sudah menyinggung perasaannya."

"Kau keterlaluan. Apa tidak bisa pulang kasih tahu, kalau kau mau pergi ke dokter? Itu adalah surprise buat Rafa. Bukan pergi periksa sendiri, baru kasih tahu." Mamanya tidak tahan memarahi, karna bisa merasakan perasaan Rafael.

"Pantas sepanjang hari telponnya tidak aktif. Ternyata kau tidak peka, tidak bisa merasakan yang dia rasakan." Papanya ikut memarahi.

"Mama Papa, kenapa marah aku. Tadi aku cuma berpikir praktis dan mau kasih surprise. Tidak bermaksud merendahkan." Laras jadi kesal, sebab orang tuanya tidak berpihak juga padanya.

"Kami marah, karna sayang padamu. Kami tidak ingin ada masalah dalam keluargamu. Apa salahnya kau pulang beritahukan Rafa? Ajak dia mendampingimu."

"Mama Papa, aku mau makan, sudah lapar." Laras mencari alasan menghindar, sebab dia sadar yang dilakukan tidak disetujui.

Dia segera mematikan telpon, lalu keluar kamar. "Kau juga mau memarahiku?" Laras melampiaskan rasa kesalnya kepada Rafael.

"Apa kau tidak lapar? Duduk lalu makan. Bertanggung jawablah dengan keputusanmu. Calon bayi butuh asupan makanan." Rafael menahan diri untuk tidak berdebat, sebab dia khawatir dengan calon bayi yang baru berusia 5 minggu.

...~•••~...

...~•○♡○•~...

1
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🅶🅳🅰🆅🅸🅳
Kita ksh kopi dll ke Author coz Laras udh dpt 2 'Pletak' dari Papah & Mamah 🔥🔥🔥
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
Dih gayamu Laras apa kau bisa merawat Aileen seperti Rafael merawatnya kau saja tidak dekat dengan anakmu sendiri kapok kau ditampar sama mamamu itu artinya apa mereka sudah kecewa sama kelakuan kau yang seenaknya terhadap Rafael 😏😔
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Laras turunkan egomu ,jgn apa2 kau putuskan sendiri,sebab kau sdh berumahtangga ,semestinya lah kau rundingkan dulu dengan suamimu, keduaorangtuamu juga patut kau ajak berunding, bukan mengatur segala hal dan mereka harus menerima tanpa bisa protes.
kau sudah berkali kali melukai harga diri rafa ,laras.
❥␠⃝ ͭ🍁Ƭђi̽єʀᴀ💃🅶🅳🅰🆅🅸🅳
sukuriin akhirnya dikasih tamparan juga tuch Laras saking keselnya pak Jareth sama kelakuan anaknya, biarin aja kalo Laras mau bawa Aileen biar dia rasakan gimana ngurus anak apalagi kalo nangis terus apakah bisa sesabar Rafa
Yayang Suami Risa
Laras kamu ngga peka banget Rafael kecapekan membuat surprise anniversary pernikahan malah kamu ngga ingat mungkin sekarang Rafael setang kecewa sama kamu
Rahmawati
kasih aja bawa Aileen biar dia tahu rasanya ngurus anak😡
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🅶🅳🅰🆅🅸🅳
O oo ooo, Jgn Salah, slama ini Rafa gk kerja krn udh komitmen dari awal sesuai perjanjian kalian
Yayang Suami Risa
Pak Yafeth mending pakai meja atau kursi saja buat menimpuk Laras jangan centong nasi
Yayang Suami Risa
Kenapa Laras ngga menghargai Rafael dan orang tuanya kasihan Rafael sebagai suami Laras ngga di hargai istrinya
Yayang Suami Risa
Laras kenapa kamu semena mena dan ngelunjak ngga dengarkan nasehat ayah kandungmu sendiri
Yayang Suami Risa
Laras kenapa ngga mau dengarkan nasehat papamu padahal saran papamu gampang cuma minta maaf ke mamamu
❥␠⃝ ͭ🍁Hermina💃🅶🅳🅰🆅🅸🅳
tampar bulak balik bu ester. belum rasa diguncang tangisan aileen. pagi2 laras bikin gedek aja 😡🙈🙈
❥␠⃝ ͭ🍁Hermina💃🅶🅳🅰🆅🅸🅳
orang sombong begini. laras kira dia doang yang bisa kerja cari uang? tunggu saja waktunya 😡
Risa dan Yayang
Laras semakin semena mena dan ngga menghargai orang lain mungkin karena merasa dia punya uang hasil kerja sendiri ya
Risa dan Yayang
Pak Yafeth mending pakai pohon yang besar atau batu jangan pakai centong nasi
❥␠⃝ ͭ🍁𝗨𝗺𝗺𝗮💃🅶🅳🅰🆅🅸🅳
Kamu saja jarang merawat Aileen sok-sokan mau bawa pulang dia tanpa baby sitter dan bibi Laras, apa kamu sanggup merawat Aileen dan bersih kan rumah sendirian tanpa bantuan, sedangkan kamu sendiri apa-apa minta dilayani, apa Aileen bisa melakukan apa-apa sendiri gak mungkin kan umur 9 bulan belum bisa apa-apa Laras, memang enak kena tampar dari Mama mu itu belum seberapa dibanding kan dengan sakit hati mereka karena ulah mu
Risa dan Yayang
Rafael Laras keras kepala banget bahkan ngga mengurus anak yang dia lahirkan karena sibuk bekerja
Risa dan Yayang
Laras kamu buat marah banyak orang termasuk kepada kedua orang tuamu kamu sebentar lagi punya anak kenapa masih menyakiti hati orang tuamu
Risa dan Yayang
Laras perkataan papamu ada benarnya juga pasti kamu menyakiti hati mamamu mending kamu minta maaf ke mamamu
@Yayang Suami Ris4
Laras kenapa ngelunjak dan semena mena banget sama orang tua dan suami apa karena Laras cari uang sendiri jadi sombong dan semena mena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!