Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Prabu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seolah dengan begitu ia bisa mengusir kenyataan pahit yang baru saja disuarakan Xena.
Napasnya memburu, dadanya terasa sesak oleh penolakan yang luar biasa.
Baginya, Tryas dan keluarganya adalah tempat suci yang tidak boleh dikotori oleh siapa pun, termasuk Xena.
"Antar aku pulang," desis Prabu dengan suara bergetar.
"Aku tidak mau di sini lagi. Aku mau pulang sekarang!"
Xena menghapus sisa air mata di sudut matanya, ia berdiri tegak meski tubuhnya masih gemetar akibat cengkeraman tadi.
"Kamu baru akan pulang setelah semua terapi ini selesai, Pra. Itu janji kita pada Ayah."
"Aku bilang pulang, Xena! Antar aku sekarang juga!" teriak Prabu kalap.
"Tidak! Sekarang kamu fokus pada penyembuhanmu. Jangan biarkan emosi ini menghancurkan kemajuan yang sudah kita buat!"
Xena berusaha membalas dengan tegas, mencoba memposisikan dirinya sebagai dokter yang profesional.
"XENA!!" Prabu meraung, suaranya memenuhi pesisir pantai yang sepi.
"Pra, kontrol emosi kamu! Ingat siapa kamu, kamu itu seorang pilot! Seorang pilot tidak boleh kehilangan kendali hanya karena mendengar kebenaran!"
Kalimat "kehilangan kendali" seolah menjadi sumbu yang memicu ledakan di kepala Prabu.
Di bawah pengaruh trauma dan amarah yang tumpang tindih, akal sehatnya benar-benar lumpuh.
Dalam satu gerakan refleks yang brutal, tangan Prabu terayun dan meninju wajah Xena.
BUGH!
Xena terjerembap ke pasir pantai yang kasar. Dunianya seolah berputar. Ia merasakan denyut panas yang hebat di area wajahnya, diikuti cairan hangat yang mulai mengalir deras dari hidungnya.
Ia menyentuh wajahnya dengan gemetar, dan telapak tangannya kini merah pekat oleh darah.
Xena menatap Prabu dengan tatapan yang menghancurkan jantung siapa pun yang melihatnya—sebuah perpaduan antara rasa sakit fisik dan kekecewaan yang teramat dalam.
"Jahat kamu, Pra..." bisik Xena dengan suara serak yang nyaris hilang.
"Sangat jahat."
Prabu mematung sambil menatap tangannya sendiri, lalu menatap wajah Xena yang bersimbah darah.
Kesadaran mulai merayap masuk, namun ego dan rasa malunya masih terlalu besar untuk meminta maaf.
Tanpa menunggu sepatah kata pun dari mulut Prabu, Xena bangkit dengan sisa kekuatannya.
Sambil membekap hidungnya yang terus mengucurkan darah, ia berlari sekencang mungkin meninggalkan pantai, menuju vila.
Ia tidak lagi memikirkan terapi, ia tidak lagi memikirkan kesembuhan Prabu.
Saat ini, yang ia rasakan hanyalah hancurnya martabat dan hatinya yang sudah lama ia pertaruhkan untuk pria yang justru menghadiahi dirinya dengan pukulan.
Lantai vila yang dingin terasa membeku saat Xena melangkah masuk dengan sisa kekuatan yang ada.
Ia langsung menuju kamar mandi di dalam kamarnya, menghindari cermin yang akan memperlihatkan betapa hancurnya wajah dan harga dirinya saat ini.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Xena mengambil kapas dan cairan antiseptik dari kotak P3K.
Setiap sentuhan pada hidungnya yang membengkak menimbulkan rasa nyeri yang menusuk hingga ke ubun-ubun, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan perih di dadanya.
Darah merah pekat itu perlahan mulai mengering di atas kapas, tapi air matanya justru mengalir semakin deras.
Ia menangis sesenggukan, suara isakannya tertahan oleh telapak tangan agar tidak terdengar sampai ke luar.
"Kenapa, Pra? Kenapa kamu sekejam ini?" bisiknya di sela tangis.
Xena segera keluar dari kamar mandi dan bergegas menuju pintu kamar.
Dengan gerakan cepat, ia memutar kunci dua kali.
Ceklek! Ceklek!
Tidak cukup dengan itu, ia menggeser gerendel tambahan di bagian atas.
Ia tidak mau melihat wajah Prabu. Ia tidak mau mendengar suara pria itu.
Untuk saat ini, tembok kamar ini adalah satu-satunya pelindung dari sosok yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung, namun justru menjadi sumber luka terbesarnya.
Xena merosot di balik pintu, memeluk lututnya erat-erat di atas lantai.
Pikirannya melayang pada bayangan piala fisika yang dulu dibuang Prabu ke tempat sampah. Ternyata, sepuluh tahun berlalu, Prabu masih memperlakukannya dengan cara yang sama—membuang dan menghancurkan segala ketulusan yang ia berikan demi membela bayang-bayang masa lalu yang semu.
Di luar pintu, suasana vila mendadak sunyi mencekam.
Xena hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu, sambil berharap malam segera tiba agar ia bisa bersembunyi dalam kegelapan dan melupakan kenyataan bahwa ia baru saja dipukul oleh lelaki yang ia cintai.
Suasana di koridor vila itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara deburan ombak dari kejauhan dan ketukan pelan yang terdengar ragu di pintu kamar Xena.
Prabu berdiri di sana dengan wajah yang hancur oleh penyesalan.
Tangannya yang tadi digunakan untuk memukul, kini gemetar hebat saat menyentuh kayu pintu.
"Xena, buka pintunya, Xen. Aku minta maaf. Aku benar-benar khilaf," suara Prabu terdengar serak, hampir pecah.
"Xena, tolong..."
Ceklek.
Pintu terbuka perlahan. Xena berdiri di ambang pintu dengan wajah yang membuat jantung Prabu seolah berhenti berdetak.
Hidungnya membiru, ada bekas darah yang mengering, dan matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Namun, yang paling menyakitkan bagi Prabu adalah tatapan mata Xena; tatapan itu kosong, dingin, dan tidak lagi menyiratkan cinta yang biasanya selalu ada di sana.
"Ayo, aku antar kamu pulang," ucap Xena datar.
Prabu tertegun. Ia melihat ke dalam kamar dan mendapati sebuah koper besar sudah berdiri tegak di samping ranjang.
Xena ternyata tidak hanya mengobati lukanya, ia juga telah mengemasi seluruh sisa hidupnya di vila itu ke dalam satu tas.
Prabu berdiri mematung. Keinginannya untuk pulang yang tadi ia teriakkan dengan penuh amarah, kini terasa seperti hukuman mati baginya.
"Ayo, Pra. Bukankah ini yang kamu inginkan dari tadi? Kamu ingin pulang, kan?"
Xena melangkah keluar sambil menyeret kopernya, melewati Prabu seolah pria itu hanya udara kosong.
"Xen, tunggu, kita bisa bicara," cegat Prabu pelan, mencoba menyentuh lengan Xena.
Xena menepis tangan itu dengan cepat, gerakannya menunjukkan rasa trauma yang mendalam.
Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang yang terasa menyakitkan bagi dadanya yang sesak.
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Tugas saya menyembuhkanmu sudah gagal karena kamu sendiri yang menghancurkan dokternya," ucap Xena dengan suara yang sangat tenang namun tajam.
"Setelah kita sampai di rumah orang tuamu, aku akan mundur. Aku mundur menjadi dokter pribadimu, dan aku mundur menjadi istri kamu. Kamu bebas, Pra. Kamu bisa kembali memuja masa lalumu tanpa ada aku yang mengganggumu lagi."
Prabu hanya bisa terpaku melihat punggung Xena yang berjalan menjauh menuju mobil.
Kata-kata "mundur" itu terdengar lebih menyakitkan daripada tamparan mana pun.
Ia sadar, di saat ia baru saja mulai merasakan kehangatan Xena, ia justru baru saja memadamkan api itu dengan tangannya sendiri.
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣