Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 09
**
Tentang Map Terjatuh
**
Something memegang dadanya yang berdebar, pertemuannya dengan Daniel tadi sedikit bereaksi pada perasaannya. Meskipun semua itu tak mengubah hatinya untuk bergerak menerima tawaran mantannya tersebut. Terlebih hal ia ucapkan tadi, semakin membuatnya kalut. Some menghembuskan nafas kasar di mobilnya, lalu menelungkupkan wajah di bantalan tangan. Sedikit frustasi dengan perasaannya saat ini, apalagi cuaca terik menambah kesan panas. "Huft," ucapnya ketika menegaskan diri.
"Non?" tanya sopirnya masih sama dengan yang tadi pagi. Namun Some yang dari tadi berdiam tidak memerhatikan sopir itu yang hendak berangkat pergi.
"Apa pak?" tanya Some kebingungan, jujur Some merasa kalau di rumah juga semakin membuatnya kalut. Tapi jika mampir ke cafe, ia akan tenang meski berakhir dengan melamun.
"Mau berangkat sekarang non, tapi kok kayak ada masalah. Belum selesai urusan Osisnya atau ada yang masih non lakukan di sekolah?" tanya Supratman dengan perhatian, khas dirinya. Bahkan sikap ramah itu mungkin hanya di tunjukan pada anak - anaknya. Tapi Some dengan cuma - cuma mendapat kasih tersebut.
"Jangan dulu pak, aku masih mau di sini. Kayaknya," Some kembali mengingat sebenarnya ia lupa apa sih. Padahal teman - temannya udah pada pulang. Map di genggamannya memang perlu di fotocopy, tapi tadi ia nggak ada waktu. Apa perlu sekarang aja, atau minta pak Supratman. Tapi map ini tidak boleh diketahui pak Supratman. Terpaksa Some harus keluar sebentar untuk ke tempat fotocopy sekolahnya.
"Pak tunggu di mobil ya aku mau ke ruko fotocopy sebentar," ucap Some sambil membuka sabet mobilnya. Ia sempat mau berangkat andai saja pak Supratman menghargainya.
"Iya gapapa non, jangan lama semakin siang nanti nyonya marah non," jawab pak Supratman diiringi senyum kecil yang terlihat manis. Some menyunggingkan senyum manisnya.
"Enggak lama kok, palingan cuma beberapa lembar kertas. Ada juga pak yang sabar nunggunya," canda Some sambil membuka pintu mobil disebelahnya. Ia lalu keluar dan cahaya panas langsung menyambut kepalanya. Some menutup pintu mobil segera, lalu berjalan perlahan.
"Hati - hati non, apalagi sama yang baru lewat ya," teriak pak Supratman.
"Emhh," Some menggelengkan kepala ketika melihat ke belakang tepatnya pada pak Supratman yang hanya terlihat kepalanya saja di jendela mobil. Ia terus berjalan sampai di ruko fotocopy SMA, begitu nama yang tertera.
"Hi mas, ini minta di copy satu per lembar aja," ucap Some memberikan map yang ia pegang tadi. Ia melirik ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang memerhatikan.
"Baik kak," jawab tukang fotocopy itu membawa map di tempat Some menyimpannya. Ia lalu meprintnya, dapat ia lihat kertas itu berupa hasil check up dari rumah sakit ternama.
"Mbak lagi sakit ini kan hasil check up rumah sakit?" tanya tukang fotocopy itu ramah. Some memerhatikan diam - diam, ia lalu terdiam beberapa saat.
"Ini mbak udah selesai," ucap tukang fotocopy itu sambil memasukan kertas hasil fotocopy ke plastik bening. Tak lupa memberikan map tadi, yang isinya dua lembar tentang kesehatan dan data darah yang begitu panjang.
"Makasih mas," jawab Some sambil menunduk. Ia mengambil hasil dan map-nya kembali, gak lupa membagi tukang fotocopy itu tip cukup.
Karena merasa tukang tadi akan bertanya lagi Some buru - buru keluar area sana, sampai tak sadar di perjalanannya ia tersandung batu lagi.
"Awww," keluhnya yang sempoyongan itu. Dan mas tadi hanya terkikik geli menyaksikan siswi SMA yang lumayan cantik terlihat kikuk. Dan sungguh Some ingin marah, jika saja ia sadar kalau ia masih di sekolah. Map yang dipegangnya entah berada di mana, Some sampai lupa.
Map itu kembali di bawa seseorang yang menggunakan converse, siswa cowok itu baru saja keluar dari sekolah. Disaat sepertinya itu semua siswa SMA lagi nongkrong sana - sini.
Some menarik wajahnya untuk melihat siluet cowok itu. Cowok yang lumayan rapi tanpa tambahan jaket atau apa, hanya seragam SMA dan dasi abu - abu. Tapi hanya dengan itu saja kesannya cukup rapih. Some merasa ini cowok yang sangat baru diantara cowok yang pernah ia temui di SMA Bhakti Darma.
"Makasih," ucap Some pendek ketika map itu diarahkan kepadanya dengan hati - hati. Ia menerima map itu, tapi sebelum ia melihat wajahnya yang akan membantu Some mengenal, cowok itu melenggang pergi, dengan berjalan kecil. Some menghembuskan nafas pasrah, seenggaknya ia tidak punya urusan dengan cowok manapun.
Ia membersihkan kotoran di rok seragamnya. Lalu kembali berjalan, melewati bebatuan krikil yang membentang bersebelahan dengan pagar SMA yang menjulang. Some tak memedulikan itu dan langsung masuk ke mobil, ketika melihat Pak Supratman mengawasinya dengan kahwatir.
"Langsung berangkat ya non, tadi saja kebagian jatuh dua kali, saya nggak mau non kenapa - napa," ujar Supratman sambil memarkirkan mobilnya. Lalu menjalankannya untuk ke rumah majikannya.
"Iya pak, jalan aja," titah Some yang mulai penat karena udara di luar. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, sambil sesekali menghembuskan nafas cape.
**
"Non, nggak istirahat dulu, tunggu aja sampai keringatnya reda," ucap pak Supratman sambil membukakan pintu mobil. Karena mereka telah sampai di rumah. Setelah menempuh perjalanan kurang dari tiga puluh menit.
"Nggak pak," tolak Some lesu, bahkan ia segera menuruni mobil. Dan melangkahkan kaki menaiki tangga ke depan rumahnya.
Ia memasuki rumahnya itu, ia melangkah melewati ruang tamu yang terdapat dua sofa besar, ada rak dinding di bagian depan. Dan ada juga hiasan berbentuk patung khas Venice, yang memanjang di pojok ruangan. Ketika Some dan Ranu pulang ke rumah, sperti biasa rumah sudah bersih dengan lantai yang mengilat. Sekalipun converse Some menginjaknya, Some terus berjalan sampai depan tangga.
Ia menaiki tangga berukuran tidak besar dan tidak kecil, dikhususkan untuk Some dan Ranu untuk naik kamar. Ia melewati satu - satu, sampai di lantai dua ia meneruskan jalannya. Dan ia berhenti di sebuah pintu warna coklat Disney, dengan banyak hiasan Disney. Some memasukinya, lalu merebahkan dirinya di kasur empuk. Kamarnya pun sudah rapih, dengan aksen warna biru laut dan coklat Disney. Banyak boneka Disney dan poster motivasi yang tertata rapi.
"Hari yang cukup melelahkan, rasanya setiap ada kumpulan OSIS aku begitu giat, bahkan aku pulang lebih sore. Tapi untuk hari ini melebihi hari itu," racau Some.
"Ahh aku mandi dulu," lanjut Some sambil kembali bangun. Ia membuka sepatu dan kaos kakinya lalu menyimpannya di bawah kasur. Ia melangkahkan kaki perlahan, dan memasuki kamar mandi rumahnya.
Dilain sisi handphonenya bergetar menampilkan berbagai notifikasi dari berbagai apk. Hp itu diletakan di atas tas biru milik Some, yang masih tergeletak di kasur.
**