Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Klinik Tanpa Dinding
Mentari pagi di Jakarta pada pertengahan tahun 2026 terasa berbeda bagi Arkan Xavier. Tidak ada lagi setelan jas Italia seharga ribuan dolar atau aroma cerutu mahal yang dulu identik dengan ruangan kerjanya. Kini, ia berdiri di sebuah bengkel karoseri di pinggiran kota, mengenakan kaus oblong abu-abu yang ternoda oli, menatap sebuah bus medium bekas yang baru saja selesai dimodifikasi.
Di lambung bus itu, terukir kaligrafi sederhana namun tegas: "Klinik Keliling Xavier-Malik".
"Kau yakin mesin tua ini kuat menanjak ke arah pemukiman di perbukitan Bogor, Arkan?"
Leo muncul dari kolong bus, wajahnya cemong oleh gemuk mesin. Setelah pembubaran The Elders, Leo memilih menanggalkan senjatanya dan menjadi kepala logistik sekaligus mekanik utama bagi proyek idealis Arkan.
Arkan menepuk bodi bus itu dengan bangga. "Mesinnya mungkin tua, Leo, tapi jantungnya baru. Sama seperti kita. Selama sasisnya kuat menahan beban obat-obatan dan peralatan rontgen portabel ini, kita akan sampai ke tempat yang tidak pernah disentuh oleh asuransi kesehatan mana pun."
Aisyah melangkah masuk ke dalam bus, memeriksa deretan laci obat yang telah ia susun rapi berdasarkan kategori kegawatdaruratan. Ia mengenakan snelli (jas dokter) putihnya yang kini tampak lebih bercahaya di bawah lampu neon bus.
"Arkan, stok vaksin dan insulin sudah aman di dalam coolbox. Kita siap berangkat untuk misi pertama kita di bawah kolong jembatan daerah penjaringan," ucap Aisyah, memberikan senyum penyemangat yang selalu menjadi bahan bakar bagi tekad Arkan.
Misi pertama mereka bukanlah di rumah sakit steril, melainkan di sebuah ekosistem yang terlupakan oleh gemerlap gedung pencakar langit. Bus "Klinik Tanpa Dinding" itu berhenti di bawah konstruksi beton jalan tol yang pengap, berdebu, dan dipenuhi oleh gubuk-gubuk liar.
Saat pintu bus terbuka, aroma kemiskinan—perpaduan antara sampah basah dan asap knalpot—menyambut mereka. Masyarakat di sana awalnya menjauh, menatap curiga pada bus mewah yang tiba-tiba hadir di tengah kubangan lumpur mereka.
"Mereka takut, Arkan. Mereka mengira kita petugas penggusuran yang menyamar," bisik Aisyah saat melihat anak-anak kecil berlarian masuk ke dalam gubuk.
Arkan tidak membalas dengan pengeras suara. Ia mengambil sebuah kotak P3K, turun dari bus, dan duduk bersila di atas tikar lusuh milik seorang pria tua yang kakinya tampak membengkak karena infeksi selulitis yang parah.
"Permisi, Kek. Saya Arkan, seorang dokter. Boleh saya lihat kakinya?" suara Arkan rendah dan penuh rasa hormat.
Pria tua itu menatap Arkan dengan mata katarak yang buram. "Dokter? Kami tidak punya uang untuk bayar, Nak."
"Hari ini, pembayarannya adalah doa, Kek. Itu saja," jawab Arkan sambil mulai membersihkan luka bernanah itu dengan cairan antiseptik.
Melihat tindakan Arkan, satu per satu warga mulai keluar. Aisyah segera membuka pendaftaran di meja lipat depan bus. Bimo, yang kini mengenakan seragam polisi berpangkat Inspektur Dua, berjaga di kejauhan bersama beberapa anggotanya—bukan untuk menangkap, tapi untuk memastikan keamanan medis sang sahabat.
Keadaan menjadi kritis ketika seorang ibu berlari sambil menggendong balita yang biru karena tersedak kelereng. Aisyah segera mengambil tindakan Heimlich maneuver, namun benda itu terlalu jauh masuk ke tenggorokan.
"Arkan! Kita butuh laringoskop dan klem di dalam bus, sekarang!" teriak Aisyah.
Arkan segera menggendong anak itu masuk ke dalam bus yang kini berfungsi sebagai ruang tindakan darurat. Di bawah guncangan kecil dari kendaraan besar yang melintas di atas jalan tol, Arkan dan Aisyah bekerja dengan sinkronisasi yang luar biasa. Arkan memegang senter medis, sementara Aisyah dengan tangan yang sangat tenang memasukkan alat untuk mengambil benda asing tersebut.
KLIK.
Kelereng itu keluar. Balita itu menangis kencang, sebuah suara yang bagi Arkan lebih merdu daripada musik klasik mana pun. Ibu sang balita bersimpuh di lantai bus, menangis sambil mencium tangan Aisyah.
"Terima kasih, Dokter... Terima kasih..."
Arkan berdiri di pintu bus, menyeka keringat di dahinya. Ia melihat antrean warga yang kini memanjang. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya—sebuah perasaan yang tidak pernah ia dapatkan saat ia menguasai triliunan aset Xavier. Ini adalah kemenangan yang nyata.
Sore harinya, saat mereka sedang merapikan peralatan, seorang pemuda dengan jaket hoodie hitam mendekati Arkan. Ia tidak mengantre untuk berobat. Ia hanya menyelipkan sebuah secarik kertas ke tangan Arkan sebelum menghilang di balik pilar beton.
Arkan membuka kertas itu di dalam bus saat Aisyah sedang mencatat rekam medis pasien terakhir.
"Penebusan tidak akan menghapus garis keturunan, Arkan. Kau memberikan obat pada rakyat, tapi kau membiarkan 'warisan' ayahmu membusuk di tangan yang salah. Temui aku di tempat mawar hitam tumbuh, atau klinik ini akan menjadi peti mati bagi istrimu."
Arkan meremas kertas itu. Wajahnya mengeras. Bayang-bayang masa lalu kembali mengetuk pintunya tepat saat ia merasa telah menemukan kedamaian.
"Ada apa, Arkan?" Aisyah mendekat, menyadari perubahan aura suaminya.
Arkan segera menyembunyikan kertas itu di saku jas labnya. "Hanya catatan dari pasien, Aisyah. Dia berterima kasih."
Arkan berbohong. Ia tahu persis siapa pengirim pesan itu. Simbol mawar hitam adalah kode rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang di lingkaran terdalam klan Xavier yang tidak setuju dengan pembubaran The Elders. Ada faksi pemberontak yang masih menganggap Arkan sebagai "Raja yang berkhianat".
Malam itu, di balkon panti asuhan, Arkan menatap bus kliniknya yang terparkir di halaman.
Ia menyadari bahwa membangun kebaikan jauh lebih sulit daripada menghancurkan. Di satu sisi, ia adalah Dokter Arkan yang dicintai warga miskin. Di sisi lain, ia tetaplah Arkan Xavier yang memegang kunci rahasia yang diinginkan banyak iblis.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Leo. "Leo, aktifkan kembali protokol pemantauan satelit untuk area panti. Dan panggil Bimo. Katakan padanya... serigala-serigala lama mulai kelaparan."
Aisyah masuk membawa dua cangkir teh hangat. Ia tidak bertanya tentang kertas itu, namun ia tahu suaminya sedang memikul beban berat. Ia hanya bersandar di bahu Arkan, menatap mawar-mawar di taman yang bergoyang ditiup angin malam.
"Apapun yang terjadi, Arkan... kita akan menghadapinya bersama. Jangan pernah kembali ke kegelapan sendirian," bisik Aisyah.
Arkan mencium kening istrinya. "Aku tidak akan kembali, Aisyah. Aku hanya akan memastikan bahwa kegelapan itu tidak akan pernah bisa menyentuh rumah ini lagi."