"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: RAHASIA DI BALIK LENSA DAN DENDAM YANG BERKARAT
Mansion Ryker pagi itu terasa sangat berbeda. Meskipun air terjun suci telah menghilang dan digantikan oleh kolam marmer biasa, namun kehangatan yang mengalir di dalamnya jauh lebih nyata. Alurra kini bisa menyentuh benda-benda tanpa membuat mereka bergetar karena energi langitnya. Ia bisa merasakan dinginnya lantai marmer dan hangatnya sinar matahari yang menembus jendela kaca tanpa harus merasa jiwanya tersedot.
Nael duduk di meja makan, memandangi Alurra yang sedang sibuk (dan sedikit kacau) mencoba menggoreng telur di dapur. Wajah Alurra cemong terkena tepung, dan ia sesekali memekik kaget saat minyak panas meletup.
Nael hanya bisa tersenyum simpul. Ia tidak lagi mencoba mengeluarkan suara. Keheningan di tenggorokannya kini terasa seperti medali kehormatan—sebuah pengingat bahwa Alurra ada di sini, hidup dan bernapas sebagai manusia, karena pengorbanannya.
Ia meraih ponselnya, mengetik dengan cepat: "HATI-HATI. JANGAN SAMPAI TANGANMU TERLUKA. BIAR PELAYAN SAJA YANG MASAK."
Alurra menoleh, menjulurkan lidahnya dengan jenaka. "Tidak mau! Aku ingin menjadi istri manusia yang sesungguhnya. Kalau aku tidak bisa memasak sate ayam untukmu, apa gunanya aku menukar sayapku dengan daster ini?"
Alurra menghampiri Nael, membawa piring berisi telur yang bentuknya agak abstrak. Ia duduk di pangkuan Nael, melingkarkan tangannya di leher pria itu, lalu menempelkan kening mereka.
"Nael... kau tidak menyesal, kan?" bisik Alurra, matanya yang ungu kini tampak lebih gelap namun lebih dalam. "Dunia ini akan kembali memanggilmu 'Si Bisu'. Mereka akan meremehkanmu lagi di kantor."
Nael menggeleng pelan. Ia mengambil tangan Alurra, lalu menuliskan huruf demi huruf di telapak tangan bidadari itu dengan jarinya: "A-K-U B-A-H-A-G-I-A."
"Dasar pangeran gombal," Alurra tertawa, namun air mata haru menggenang di sudut matanya. "Tapi kau tahu, Nael? Meskipun suaramu hilang, resonansi jantungmu sekarang terdengar sangat keras di telingaku. Itu sudah lebih dari cukup."
...****************...
DI SEBUAH KANTOR PENGACARA GELAP - PUSAT KOTA
Di sisi lain kota, suasana sangat kontras. Stella Van Doren duduk dengan amarah yang meluap-luap. Di depannya, berserakan foto-foto amatir yang diambil oleh orang suruhannya saat kejadian di jalanan kemarin—foto pilar cahaya, foto Alurra yang muncul dari udara kosong, dan foto Nael yang bersujud di aspal.
"Kau lihat ini?" Stella melemparkan foto itu ke arah pengacaranya. "Wanita itu bukan manusia! Tidak ada manusia yang turun dari langit dengan cahaya emas seperti itu! Nael Ryker sedang menyembunyikan sesuatu yang ilegal... sesuatu yang supranatural!"
"Nona Stella, foto-foto ini bisa dianggap editan oleh publik," sang pengacara ragu. "Apalagi setelah isu 'Proyek Laser' yang disebarkan Nael kemarin."
"Maka kita buat mereka tidak punya pilihan selain percaya!" Stella berdiri, matanya berkilat penuh dendam. "Hubungi kantor berita internasional. Beri mereka judul: 'CEO Ryker Group Melakukan Praktik Okultisme dan Menyembunyikan Makhluk Asing di Mansionnya'. Aku ingin tim investigasi dunia datang dan menggeledah setiap sudut rumah itu!"
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Seorang pria dengan setelan jas rapi namun beraura gelap masuk. Dia adalah Mr. X, seorang kolektor benda antik ilegal yang bekerja sama dengan Jayden sebelumnya.
"Nona Stella... saya punya cara yang lebih efektif," suara Mr. X berat. "Jangan hanya gunakan berita. Gunakan rasa takut. Jika publik tahu bahwa wanita itu adalah sumber bencana alam yang terjadi kemarin, mereka sendiri yang akan menyeretnya keluar dari pelukan Nael."
Stella tersenyum licik. "Bencana alam? Maksudmu badai itu?"
"Tepat. Kita katakan bahwa keberadaan Alurra di Bumi adalah virus energi yang akan menghancurkan iklim Jakarta. Manusia sangat mudah diprovokasi jika menyangkut keselamatan nyawa mereka."
...****************...
KEMBALI KE MANSION RYKER
Nael sedang bersiap berangkat ke kantor saat Bram menelepon dengan suara panik. Nael menyalakan loudspeaker agar Alurra bisa mendengar.
"Tuan! Gawat! Berita internasional baru saja merilis artikel tentang Nona Alurra! Mereka menyebarkan video durasi panjang dari kejadian kemarin dengan analisis 'pakar' yang menyebutkan bahwa Nona Alurra adalah ancaman bagi keamanan nasional!"
Nael tertegun. Wajahnya langsung mengeras. Ia menatap Alurra yang juga tampak terkejut.
"MEREKA MULAI LAGI," Nael mengetik di ponselnya dengan cepat. "STELLA TIDAK AKAN BERHENTI SEBELUM KITA HANCUR."
Alurra mengepalkan tangannya. "Ancaman? Aku? Padahal aku sudah memberikan suaraku dan sayapku untuk tinggal di sini dengan damai!"
Tiba-tiba, suara riuh rendah terdengar dari luar gerbang mansion. Suara teriakan massa yang terhasut berita bohong mulai terdengar. "KELUARKAN MAKHLUK ITU! KAMI INGIN KEAMANAN! JANGAN SEMBUNYIKAN MONSTER DI SINI!"
Nael menarik Alurra menjauh dari jendela. Ia memeluk Alurra erat, melindunginya dari bayangan kebencian yang mulai mengepung rumah mereka.
Nael meraih tabletnya, mengetik sebuah instruksi rahasia untuk tim keamanannya: "AKTIFKAN PROTOKOL ISOLASI. JANGAN BIARKAN SATU ORANG PUN MASUK. DAN HUBUNGI TIM IT... KITA AKAN MELAWAN BALIK DENGAN CARA YANG TIDAK PERNAH STELLA BAYANGKAN."
Alurra menatap Nael dengan cemas. "Nael... apa kita akan baik-baik saja?"
Nael mencium kening Alurra, lalu menunjukkan layar tabletnya: "DULU ANDA YANG MELINDUNGI SAYA DENGAN SIHIR. SEKARANG, BIARKAN SAYA MELINDUNGI ANDA DENGAN KEKUASAAN MANUSIA SAYA. TIDAK AKAN ADA YANG BISA MENYENTUHMU."
Di luar, badai kebencian manusia mulai berkecamuk, namun di dalam pelukan Nael, Alurra merasa untuk pertama kalinya bahwa Bumi, meskipun kejam, adalah tempat yang layak untuk diperjuangkan.
...****************...
aku suka namanya Nael ....