"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dapur dan Kerlingan Santri
Rasyid bersandar di balik pintu kamar yang baru saja ia tutup rapat. Jantungnya berdentum kencang, seirama dengan deru napasnya yang tidak beraturan.
Di luar sana, angin malam berembus tenang, namun di dalam kepalanya, badai baru saja dimulai.
Bayangan gaun tidur merah itu—cara kain satin itu memeluk lekuk tubuh Shanum dan betis putih istrinya yang terekspos—seperti terpahat permanen di balik kelopak matanya. Rasyid memejamkan mata, jemarinya meremas surban di pundak dengan kuat.
“Astagfirullah... Astagfirullah...” bisiknya berulang kali.
Sebagai seorang laki-laki dewasa, ada bagian dari dirinya yang meronta, sebuah naluri purba yang mengatakan bahwa wanita di balik pintu itu adalah haknya.
Namun, jubah dan predikat ‘Kyai’ yang ia sandang seolah menjadi pagar besi yang dingin. Ia tidak ingin menyentuh Shanum hanya karena nafsu sesaat, apalagi dalam kondisi hati yang masih penuh keraguan.
Tak ingin pikirannya semakin liar, Rasyid segera melangkah keluar menuju teras belakang, mencari udara dingin malam untuk memadamkan panas yang masih menjalar hingga ke ujung telinganya.
Di sana, Zaki sudah menunggu di bawah temaram lampu taman. Sosok kepercayaan Rasyid itu tampak sedang mengutak-atik ponselnya dengan wajah serius.
“Zaki,” panggil Rasyid, suaranya sedikit serak.
Zaki menoleh dan langsung berdiri takzim. “Kyai. Anda tampak... kurang sehat? Wajah Anda sangat merah.”
Rasyid berdeham kencang, membuang muka ke arah pepohonan gelap. “Hanya udara panas. Bagaimana laporanmu soal mobil itu?”
Ekspresi Zaki berubah tegang. “Benar dugaan kita, Kyai. Van hitam itu milik kelompok algojo dari rumah bordil tempat Shanum... bekerja dulu. Mereka bukan preman pasar. Mereka orang-orang terlatih yang tugasnya menjemput aset yang dianggap berharga. Shanum bagi mereka bukan sekadar manusia, tapi investasi jutaan Dollar.”
Zaki menjeda sejenak. “Mereka segan masuk ke sini karena wibawa pondok, tapi mereka akan menunggu celah. Saat Kyai membawa Shanum keluar dari wilayah pesantren, di sanalah bahaya yang sebenarnya mengintai.”
Rasyid menatap ke depan dengan tatapan predator yang tajam. “Kalau begitu, kita percepat kepindahannya. Aku sudah mendapatkan rumah joglo di ujung desa, dekat persawahan. Masih dalam jangkauan pesantren, tapi cukup privasi untuknya. Siapkan semuanya untuk syukuran besok pagi.”
Keesokan harinya, suasana di rumah baru Rasyid tampak ramai. Rumah joglo dengan kayu jati tua itu kini riuh oleh suara ibu-ibu desa dan para santri yang membantu pindahan. Sesuai tradisi, syukuran kecil harus diadakan agar rumah itu mendapat berkah.
Shanum, dengan paksaan halus dari Nyai Salamah lewat perintah Rasyid, akhirnya ‘dibuang’ ke dapur umum yang didirikan di teras samping.
Ia mengenakan gamis panjang warna pastel dan kerudung instan pinjaman yang menutupi lehernya dengan sempurna.
Meskipun tanpa polesan make-up dan berpakaian tertutup, kecantikan Shanum justru meledak dengan cara yang berbeda.
Aura eksotis dari garis wajah Turkinya yang tegas, dipadukan dengan hijab yang membingkai wajah pucatnya, membuat Shanum tampak seperti permata langka yang tersesat di antara tumpukan bawang merah.
Di area luar, para santri putra yang bertugas mengangkat karpet dan kursi mendadak kehilangan koordinasi.
“Aduh!” Seorang santri senior tersandung tikar karena matanya terus melirik ke arah dapur, tempat Shanum sedang sibuk mengiris bumbu.
“Heh! Lihat jalan, jangan lihat yang bukan haknya!” tegur santri lain, meski sedetik kemudian ia sendiri malah terpaku menatap gerakan tangan Shanum yang sedang mengulek sambal.
Rasyid, yang sedang menyalami para warga desa di teras depan, sebenarnya tidak pernah benar-benar fokus pada pembicaraan.
Matanya seperti memiliki radar sendiri yang selalu kembali pada sosok istrinya. Setiap kali ada santri yang berlama-lama di dekat dapur, rahang Rasyid mengeras.
Ia melihat seorang santri senior mendekati dapur dengan alasan ingin mengambil air minum. “Mbak... eh, Nyai... butuh bantuan angkat panci beratnya? Saya kuat, lho,” goda santri itu dengan wajah memerah.
Shanum hanya mendongak sebentar, memberikan senyum tipis—sebuah senyum yang bagi Shanum biasa saja, tapi bagi santri itu mungkin seperti melihat bidadari jatuh dari khayalan.
Rasyid tidak bisa menahannya lagi.
Ia melangkah membelah kerumunan dengan langkah lebar. Tanpa aba-aba, ia masuk ke dapur dan berdiri tepat di belakang Shanum. Posisi mereka begitu dekat hingga punggung Shanum bersentuhan dengan dada bidang Rasyid.
Rasyid tidak bicara. Ia justru mengulurkan tangan, memperbaiki posisi kerudung Shanum yang sebenarnya sudah rapi.
Jarinya sengaja bersentuhan dengan pipi Shanum, lalu tangannya turun, mendarat dengan tegas di pinggang istrinya.
Para santri di sana seketika menunduk dalam, udara di dapur mendadak terasa sedingin es karena tatapan Rasyid yang menusuk.
“Zaki! Selesaikan sambal ini,” perintah Rasyid dengan nada otoriter yang tak bisa dibantah.
Lalu, ia menunduk sedikit ke arah telinga Shanum, memastikan suaranya terdengar oleh semua orang yang ada di sana. “Bisa bantu aku di dalam sebentar, Istriku? Ada bagian rumah yang perlu kamu cek.”
Kata “Istriku” itu diucapkan dengan penekanan yang dalam, posesif, dan sarat akan klaim kepemilikan. Para santri segera bubar, lari kocar-kacir membawa piring kosong.
Shanum ditarik masuk ke dalam rumah yang masih kosong oleh Rasyid. Begitu pintu tertutup, Shanum langsung melepaskan tangan Rasyid dari pinggangnya sambil tertawa geli.
“Wah, Mas Kyai... posesif banget? Tadi itu apa? Takut ya kalau aku digodain santri-santrimu yang lucu itu?” goda Shanum dengan mata mengerling jenaka.
Rasyid mematung. Wajahnya yang tadi terlihat garang seperti singa, kini perlahan berubah warna. Rona merah mulai merayap dari leher hingga ke telinganya. Ia mencoba berdeham, merapikan baju kokonya yang tidak berantakan sama sekali.
“Jangan percaya diri,” ucap Rasyid dengan nada ketus yang dibuat-buat. “Aku hanya tidak mau dapur itu jadi kacau karena santri-santriku tidak fokus bekerja. Kamu itu... kalau pakai baju begitu jangan terlalu banyak tersenyum pada orang asing!”
“Oh ya? Masa? Tapi tadi pegang pinggangnya kencang banget, lho. Kayak takut kehilangan emas satu ton,” Shanum semakin memojokkan Rasyid, ia melangkah maju, membuat Rasyid terpaksa mundur hingga terbentur dinding.
Rasyid membuang muka, matanya melirik ke segala arah kecuali ke arah mata Shanum yang sedang menertawakannya. Ia merasa sangat malu karena ketahuan cemburu, padahal selama ini ia selalu membanggakan ketenangannya.
“Sudah! Kamu diam saja!” bentak Rasyid pelan, suaranya sedikit pecah karena salah tingkah. “Mending kamu... kamu beresin barang-barang di sana! Jangan bahas hal tidak penting!”
Rasyid segera berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar, hampir saja ia menabrak kusen karena saking gugupnya. Sebelum benar-benar keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
“Pokoknya mulai sekarang, kalau mau ke dapur, pakai cadarmu! Aku tidak mau ada santri yang mimisan lagi karena melihatmu!”
BRAK!
Rasyid menutup pintu dengan kencang, meninggalkan Shanum yang tertawa terpingkal-pingkal di dalam rumah kosong itu. Shanum memegang dadanya yang menghangat.
Ternyata, di balik kesucian dan kekakuan suaminya, ada seorang laki-laki pencemburu yang sangat menggemaskan saat sedang jatuh cinta—meskipun pria itu masih terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Di luar, Rasyid mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merutuki dirinya sendiri. Ya Allah, kenapa aku jadi sekonyol ini?
Namun, ia tidak bisa membohongi hatinya, bahwa melihat Shanum tersenyum pada pria lain benar-benar membuatnya ingin membakar seluruh dunia.