Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENYELINAP
Pintu besar itu tertutup dengan dentuman pelan yang menggema di seluruh lobi, seolah-olah mengunci Yasmin dalam kehampaan. Ia mematung di balik daun pintu, jemarinya masih menyentuh kayu ukiran yang dingin.
Bayangan mobil Arya yang menjauh dari pekarangan rumah seakan membawa pergi satu-satunya oksigen yang bisa ia hirup di kediaman ini. Sikap dingin Arya tadi benar-benar membekukan nyali Yasmin. Suaminya pergi tanpa kata manis, hanya meninggalkan kecurigaan yang menggantung berat di udara.
Tak lama, suara langkah kaki yang angkuh memecah keheningan. Yasmin menoleh pelan, mendapati Maura dan Freya berjalan beriringan keluar dari ruang makan. Keduanya sudah tampil sangat rapi. Maura dengan blouse elegan dan tas bermerek yang senada, sementara Freya tampak modis dengan gaun santai namun mahal, siap untuk bertemu teman-temannya.
"Masih di sini?" sindir Freya sambil merapikan antingnya di depan cermin besar dekat pintu. "Kiraian udah minggat bersihin kolam belakang."
Maura hanya melirik Yasmin sekilas, tatapan matanya tetap datar dan penuh penilaian. "Kami pergi dulu. Freya ada acara ulang tahun temannya, dan saya ada arisan di hotel. Pastikan rumah ini tidak berantakan selama kami tidak ada."
Yasmin tersentak. Pikirannya melayang, melamunkan kengerian yang mungkin terjadi. Ia membayangkan koridor rumah yang luas ini mendadak terasa sempit saat ia berpapasan dengan Tama. Ia membayangkan bagaimana pria itu akan berjalan santai mendekatinya, dengan seringai yang menyiratkan bahwa dia tahu mereka kini hanya berdua.
Bagaimana kalau dia mengetuk pintu kamarku? Bagaimana kalau dia sengaja menungguku di dapur saat aku haus?
"Heh?!" Tegur Freya mengejutkan. "Denger, gak?!"
Yasmin hanya mengangguk tanpa suara. Dan di saat yang sama, keduanya laku melangkah keluar dengan penuh percaya diri. Dan, saat pintu kembali tertutup dengan deru mobil mereka yang perlahan mulai menjauh, jantung Yasmin justru berdegup dua kali lebih kencang. Sebuah kesadaran horor menghantamnya dengan telak.
Maura pergi... Freya pergi...
Artinya, di rumah seluas ini, hanya ada dia dan para pelayan yang sibuk di bagian belakang. Dan satu sosok lagi yang paling ia hindari.
Tama.
Yasmin meremas dadanya yang sesak. Ironis sekali. Biasanya, ia akan merasa tertekan jika harus berhadapan dengan cacian Freya atau tuntutan Maura yang tak habis-habisnya. Tapi detik ini, ia rela dicaci maki habis-habisan oleh mereka berdua, ia rela dihina habis-habisan, asalkan mereka tidak pergi. Asalkan ia tidak ditinggalkan sendirian di bawah atap yang sama dengan pria yang baru saja meninggalkan jejak ancaman di lehernya kemarin.
Keheningan rumah mewah itu kini terasa mencekam. Yasmin menoleh ke arah lorong menuju ruang tengah, berharap tidak melihat bayangan pria itu muncul dari balik pilar. Ia merasa seperti mangsa yang sengaja dilepaskan di kandang predator tanpa pelindung.
"Aku harus ke kamar... aku harus kunci pintu," bisik Yasmin dengan bibir bergetar. Ia mulai melangkah terburu-buru menuju tangga, matanya liar memperhatikan sekeliling, takut jika sepasang mata Tama sedang mengawasinya dari sudut yang tak terlihat.
Yasmin menaikkan anak tangga dengan napas memburu. Jantungnya berdentum di telinga, seirama dengan langkah kakinya yang tergesa-gesa. Begitu sampai di depan pintu kamar, jemarinya yang gemetar segera memutar kenop, lalu ia menyelinap masuk dan langsung membanting pintu itu hingga tertutup rapat. Ia bersandar pada daun pintu, memejamkan mata erat-erat sambil berusaha mengatur napas yang tersenggal.
"Buru-buru banget... mau ketemu aku, ya?"
Sebuah suara berat dan santai memecah keheningan kamar yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya. Yasmin tersentak hebat, matanya membelalak ngeri. Jantungnya seolah merosot ke perut saat ia menoleh ke arah sumber suara.
Di sana, di sudut kamar—kamar pribadinya dengan Arya—Tama sedang duduk dengan santai di kursi santai dekat jendela. Satu kakinya ditumpangkan di atas kaki yang lain, sementara tangannya memegang sebuah buku yang tadi tergeletak di meja rias Yasmin.
"Mas Tama?!" Yasmin memekik tertahan, punggungnya semakin merapat ke pintu. "K-kamu... ngapain di sini? Ini kamar aku dan Mas Arya!"
Tama tidak langsung menjawab. Ia menutup buku itu perlahan, lalu berdiri. Tatapannya menyisir seluruh sudut kamar dengan ekspresi yang sulit dibaca—seolah ia sedang menginspeksi wilayah kekuasaannya sendiri. Ia melangkah maju, perlahan namun pasti, memperpendek jarak di antara mereka.
"Aku tahu ini kamar Arya," ucap Tama datar, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia berhenti tepat di depan Yasmin, membuat Yasmin bisa mencium aroma parfum pria itu yang kini terasa mencekik. "Tapi Arya sedang tidak ada, kan? Mama dan Freya juga sudah pergi."
Tama memajukan wajahnya, matanya tertuju pada kerah baju Yasmin yang berusaha menutupi jejak di lehernya. "Kenapa gemetaran begitu? Bukannya tadi kamu yang nggak mau ditinggal sendirian di rumah ini?"
Yasmin merasa seluruh tubuhnya membeku. Kehadiran Tama di dalam kamar ini—ruang paling privasi antara dirinya dan suaminya—adalah pelanggaran yang paling mengerikan. Ia merasa seolah dinding kamar ini pun kini ikut mengkhianatinya.
"Keluar, Mas... tolong keluar sekarang," suara Yasmin bergetar hebat, air matanya mulai menggenang. "Kalau Mas Arya tahu kamu masuk ke sini..."
"Arya?" Tama tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan.
"Suamimu itu sedang sibuk dengan egonya dan kecurigaannya di rumah sakit, Yasmin. Dia bahkan tidak sudi menoleh padamu saat berangkat tadi, kan?"
Jemari Tama bergerak pelan, seolah ingin menyentuh helai rambut Yasmin yang berantakan, membuat Yasmin spontan memalingkan muka dengan rasa mual yang meluap. "Lebih baik... kita nikmati kamar ini berdua, sayang."
****