NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

​Suasana sore di Jakarta terasa sangat kontras bagi Alvin. Di satu sisi, ia merasa bangga dengan kabar kenaikan pangkat sahabatnya, Vino, yang akan segera menjadi Kompol. Namun di sisi lain, pikirannya terus tertuju pada dokter galak yang pertama kali ia temui di bawah flyover saat razia zebra tempo hari.

​Alvin tersenyum sendiri mengingat wajah kesal Fani saat itu. "Baru kali ini ada dokter yang mau nyuntik mati polisi gara-gara ditilang," gumamnya pelan sambil merapikan kemeja batiknya di depan cermin kantor.

​Vino, yang sedang membereskan berkas di mejanya, melirik Alvin. "Vin, lo kenapa senyum-senyum sendiri? Kerasukan?"

​Alvin menoleh, wajahnya mendadak serius. "Vin, gue mau jemput Fani sore ini. Gue mau ngomong serius sama dia."

​Vino menghentikan aktivitasnya. "Serius? Lo baru kenal dia berapa lama? Sejak insiden tilang itu kan baru hitungan minggu. Lo yakin nggak kecepatan?"

​"Justru itu," sahut Alvin mantap. "Sejak gue ditangani sama dia di UGD pas gue luka kemarin, gue ngerasa ada yang beda. Dia emang galak, tapi dia tulus. Gue nggak mau kehilangan momentum. Gue takut kalau gue lama-lama, dia malah keburu ilfeel sama kelakuan gue yang kaku ini."

​Vino menepuk bahu Alvin. "Oke, Man. Gue dukung. Tapi ingat, Fani itu sahabat deket Alisa. Kalau lo sakitin dia, Alisa bakal ngamuk sama gue juga. Jadi, jangan main-main."

​"Gue nggak pernah main-main soal perasaan, Vin. Lo tau itu," jawab Alvin sebelum melangkah keluar menuju parkiran motor besarnya.

​Sementara itu, di Rumah Sakit Medika, Alisa sedang berusaha menghindari Raka yang sejak tadi terus mencoba mencari celah untuk bicara berdua. Alisa sengaja terus berada di area perawat atau bersama dokter senior lainnya. Namun, Raka bukan orang yang mudah menyerah.

​"Alisa, jangan kekanak-kanakan. Aku cuma mau bahas soal pengadaan alat medis baru untuk polimu," ujar Raka yang tiba-tiba muncul di samping Alisa saat ia sedang berjalan menuju kantin.

​Alisa menghentikan langkahnya, menatap Raka dengan tatapan dingin. "Raka, segala urusan administrasi bisa kamu kirim lewat email atau asistenku. Tidak perlu menemuiku secara personal seperti ini. Tolong hargai posisiku sebagai istri orang."

​Raka tertawa sinis, matanya menatap tajam ke arah Alisa. "Istri orang? Sampai kapan kamu mau bertahan dengan polisi itu? Aku tahu duniamu, Alisa. Kamu butuh kenyamanan, bukan ketegangan tiap kali suamimu berangkat tugas. Polisi itu... Davino... dia cuma punya pangkat. Aku punya segalanya."

​"Pangkat Mas Vino adalah kehormatannya, dan aku bangga dengan itu. Sesuatu yang tidak akan pernah kamu mengerti karena kamu cuma menghargai hidup dengan uang," balas Alisa tajam sebelum pergi meninggalkan Raka yang tampak murka.

​Di parkiran rumah sakit, Alvin sudah menunggu Fani. Tak lama kemudian, Fani muncul dengan jas putih yang tersampir di lengannya. Ia tampak terkejut melihat Alvin yang tidak mengenakan seragam polisi, melainkan kemeja rapi yang membuatnya terlihat jauh lebih muda dan... tampan.

​"Lho, Pak Polisi? Nggak patroli?" goda Fani sambil mendekat.

​Alvin turun dari motornya. "Hari ini saya patroli hati saja, Dok. Ayo, saya mau ajak makan. Ada yang mau saya bicarakan."

​Fani menaikkan alisnya. "Tumben formal banget. Mau nilang saya lagi?"

​"Kali ini dendanya berat, Dok. Nggak bisa dibayar pakai uang," jawab Alvin misterius.

​Alvin membawa Fani ke sebuah taman kota yang cukup tenang, tempat di mana mereka bisa bicara tanpa gangguan sirine ambulans atau hiruk-pikuk rumah sakit. Setelah memesan makanan ringan dari pedagang kaki lima kelas atas di sana, suasana menjadi sedikit canggung.

​"Fani," panggil Alvin. Ia tidak lagi menggunakan panggilan 'Dokter'.

​Fani menoleh, sedikit terkejut dengan perubahan nada bicara Alvin. "Iya?"

​"Kita ketemu dengan cara yang aneh ya. Saya nilang kamu, kamu maki-maki saya, terus saya malah berakhir di bawah perawatan kamu di UGD," Alvin memulai pembicaraan dengan tawa kecil.

​Fani ikut tersenyum. "Iya, saya sempat benci banget sama kamu. Polisi kaku yang nggak mau denger penjelasan orang."

​"Saya emang kaku soal aturan, tapi saya jujur soal rasa," Alvin menatap Fani dalam-dalam. "Fan, sejak hari itu, pikiran saya nggak bisa lepas dari kamu. Kamu dokter pertama yang berani ngelawan saya dan bikin saya ngerasa... saya butuh seseorang di hidup saya selain borgol dan pistol."

​Fani terdiam, jantungnya mulai berdegup kencang.

​"Vino bulan depan naik pangkat jadi Kompol. Dia bakal didampingi Alisa. Dan saya... saya mau ada kamu di samping saya saat pelantikan nanti. Bukan cuma sebagai dokter yang merawat saya, tapi sebagai pasangan saya," lanjut Alvin tegas namun lembut. "Fani, saya mau kita serius. Saya mau ajak kamu ke jenjang yang lebih dari sekadar teman kenalan. Saya mau kamu jadi masa depan saya."

​Fani membelalakkan mata. Ia tertegun. Meskipun mereka baru kenal sebentar, kehadiran Alvin yang gigih—sering mengirim pesan menanyakan kabar meski kaku—ternyata telah menyelinap ke hati Fani.

​"Vin... kita baru kenal sebentar. Kamu yakin?" tanya Fani lirih.

​"Keyakinan nggak diukur dari berapa lama kita kenal, tapi seberapa besar kita mau berjuang. Saya polisi, Fan. Saya terbiasa ambil keputusan cepat dan tepat. Dan keputusan saya saat ini adalah kamu," jawab Alvin tanpa ragu.

​Fani menunduk, menyembunyikan senyumnya yang merekah. "Kamu kaku banget ya kalau ngelamar orang."

​"Jadi...?" tanya Alvin penuh harap.

​"Kasih saya waktu buat kenal kamu lebih jauh, tapi... iya, saya mau dampingi kamu nanti di pelantikan. Dan saya mau jalanin ini serius sama kamu," jawab Fani pelan namun pasti.

​Alvin merasa seolah baru saja memenangkan duel dengan penjahat paling berbahaya. Ia tersenyum sangat lebar, sesuatu yang jarang sekali ia lakukan.

​Malam harinya, Alisa menceritakan kejadian dengan Raka kepada Vino saat mereka sedang bersantai di teras belakang rumah, ditemani Bunda Ratna yang sedang merajut di dekat mereka.

​"Mas, Raka tadi makin berani. Dia bawa-bawa soal administrasi rumah sakit buat deketin aku," adu Alisa dengan nada khawatir.

​Vino yang sedang memijat tangan Alisa langsung berhenti. Matanya menatap lurus ke depan dengan dingin. "Dia pikir dia bisa pakai jabatannya? Besok aku bakal minta Alvin buat cari celah hukum soal perusahaan konsultan dia. Kalau dia main kotor di rumah sakit, dia bakal berurusan sama hukum."

​Bunda Ratna menimpali, "Vino, Alisa... hadapi dengan kepala dingin. Orang seperti Raka itu senang kalau kalian emosi. Tunjukkan kalau pernikahan kalian jauh lebih kuat dari provokasi dia."

​"Iya Bunda," jawab Vino. Ia memeluk Alisa erat. "Besok lusa kita mulai fitting seragam buat pelantikan Kompol ya. Aku mau kamu tampil paling cantik, biar Raka liat kalau dia cuma sampah yang berusaha ganggu berlian."

​Alisa tersenyum, merasa sangat terlindungi di pelukan Vino. Meskipun Raka terus mengejar, Alisa tahu pelabuhan terakhirnya adalah pria berseragam di depannya ini. Dan dengan kabar bahagia dari Alvin dan Fani yang baru saja masuk lewat pesan singkat, Alisa merasa hidupnya semakin lengkap dengan dukungan orang-orang tersayang.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!