NovelToon NovelToon
Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Barat
Popularitas:327.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kelana sendiri

Petualangan Wirayudha dalam menunaikan tugas mulia, membuatnya jatuh bangun menghadapi berbagai macam rintangan, Kanuragan yang tinggi dari para musuhnya dan tipu daya dari lawan, membuatnya terus berusaha untuk mempertahankan hidup. Luka, derita dan kecewa dalam cinta mengiringi langkah perjuangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kelana sendiri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jatuhnya Bajing Loncat

Padepokan Bajing loncat mendapatkan tamu yang berasal dari barat, mereka terdiri dari beberapa pendekar-pendekar pilih tanding.

Di Balirung utama padepokan, Ki Pandusora di kelilingi putra-putra andalannya menghadapi seseorang yang berusia setengah baya dan memakai pakaian kependekaran yang ringkas.

Kemungkinan mereka telah lama berbincang, dan kini sudah mencapai perbincangan ke tahapan serius.

Terdengar suara Ki Pandusora, "Raden, Padepokan Bajing Loncat ini hanyalah padepokan kecil, dan hanya menampung sedikit pendekar yang masih jauh kemampuannya dalam hal olah kanuragan!"

"Aku seseorang yang tidak biasa berbasa basi Ki, kau tidak perlu berputar-putar saat menjelaskan maksudmu, katakanlah apa keputusanmu!"

"Baiklah Raden Genta Buana, singkatnya kami menolak ajakanmu untuk bergabung dengan pasukan Sumedang Larang, karena terus terang padepokan kami tidak termasuk dalam kawasan kerajaan Sumedang Larang maupun Cirebon, kami bebas menentukan pilihan!" terdengar suara tegas Ki Pandusora yang di dukung putra-putranya.

Padepokan Bajing Loncat hari ini memang menerima kunjungan dari Raden Genta Buana dan anggotanya, mereka datang dengan tujuan menawarkan kerjasama dan meminta padepokan Bajing Loncat untuk bisa memperkuat pasukan Sumedang Larang.

"Ha...Ha...Ha, dengan kata lain kau menolak ajakan kami Ki Pandusora?"

"Grrrrh...Ratakan padepokan ini dengan tanah!" terdengar suara menggeledek dari Raden Genta Buana memberikan perintah kepada anggotanya.

"Hiaaaath...Sraaath!" Genta Buana langsung memberikan serangan kepada Ki Pandusora yang masih duduk, sedangkan Bayusuta, Bayu Lelana, dan Bayu Komara di serang oleh para pendekar yang tadi duduk di belakang Genta Buana.

Balirung Utama padepokan Bajing Loncat kemudian roboh, beberapa tubuh terlihat meloncat menerobos atap yang akan runtuh.

"Sraaath...Sraaath..Wussh...!"

Ki Pandusora melihat beberapa anak panah api menerobos mengenai atap-atap bangunan lain yang berada di dalam lingkungan padepokan, membuatnya kehilangan konsentrasi sesaat. Tanpa dia tahu ternyata puluhan anggota-anggota raden Genta Buana telah menyebar di sekitar padepokannya dan telah siap untk melakukan serangan.

"Graaakh...Crasssh...Arrrkh!" karena kelengahannya, bahunya robek terkena sergapan dari Genta Buana.

Bayu Komara melihat ayahnya terluka, langsung meloncat meninggalkan beberapa lawannya yang terus mendesak dengan pukulan dan tendangan.

"Romoo..bertahanlah!"

Seketika Bayu Komara mengeluarkan pukulan jarak jauh, "Garuda Murkaaa!"

"Wusssh...Dhuaarh...Dhuaarh...tepat mengenai tubuh Genta Buana yang membuatnya terpental.

Ki Pandusora segera menotok sekitar luka di bahunya untuk menghentikan aliran darah. "tenanglah Komara, berhati-hatilah saat menghadapi mereka!"

"Brukh...Bruukh...Aaakh...Aaakh!"

Terdengar beberapa tubuh jatuh terkena anak panah yang meluncur deras dari kerimbunan pohon-pohon, anggota-anggota Bajing Loncat berjatuhan dan tewas ketika mereka masih belum siap.

Melihat para anggotanya yang berjatuhan, Ki Pandusora tidak menghiraukan luka yang di deritanya, ia meloncat ke atas sambil memgibaskan keris berluk tujuh miliknya, sambaran keris menimbulkan angin panas dan berusaha menebas beberapa pemanah yang bertengger di atas pepohonan,.."Hiaaath...Blaarh...Blaaarh...Aaakh...!"

Beberapa orang pemanah jatuh berdebam ke permukaan tanah dengan tubuh yang hangus.

Ki Pandusora sendiri ketika kakinya kembali ke permukaan tanah, menapak dengan gontai dan hampir jatuh karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam, luka di bahunya pun kembali mengeluarkan darah.

Dari bawah pohon, terlihat Maharani memutar pedangnya, menangkis beberapa anak panah yang meluncur ke arah tubuhnya. "Hiaaath..Traakh..Traakh!"

"Suta!..Komara! Lindungi adikmu!" Ki Pandusora memaksakan diri melompat menghadapi Genta Buana yang sedang menyerang Bayu Komara.

Kerisnya kemudian berkiblat berusaha menebas dan menusuk tubuh Genta Buana yang dengan gesit menghindar.

Ujung Keris Ki Pandusora hampir saja mengenai bagian sisi tubuh Genta Buana, "Sraaakh...beruntung hanya bagian bajunya yang terobek, membuat Genta Buana meloncat mundur dan bersiap mengeluarkan Aji yang lebih tinggi lagi.

Setelah melihat keadaan sekeliling padepokannya yang porak poranda, Ki Pandusora mengirimkan suara jarak jauh yang di kirimkan ke Bayu Komara putra tertuanya, "Komara, bawalah ke tiga adikmu menjauh, larilah kau menuju Cirebon, temui Ki Manggala Sakti dan ceritakan semua yang terjadi! cepat Komara sebelum semuanya terlambat!"

Dengan sisa-sisa tenaganya yang semakin lemah, Ki Pandusora melabrak Genta Buana yang kini telah merubah diri menjadi Macan Lodaya.

"Hiaath...Hiaaath, Braakh...Braakh...Desh..Desh!"

Beberapa benturan tenaga dalam terjadi, sayatan dan pukulan berganti mengenai mereka berdua, sehingga suatu saat tebasan tangan kanan Genta Buana mengenai tubuh tua Ki Pandu Sora yang lansung jatuh terlentang, "Craaash....Aaakh!"

Bayu Komara tidak mengikuti petunjuk Ki Pandusora dengan sepenuhnya, setelah menyuruh adik-adiknya melarikan diri, tubuhnya melesat mengejar Genta Buana yang masih kokoh berdiri di depan tubuh ayahnya.

"Aku akan mengadu jiwa denganmu! Hiaaath...Blaaarh!"

Terjadi benturan Aji pukulan yang sama-sama di lapisi tenaga dalam, Bayu Komara terpental sepuluh tombak dan bergulingan, tubuhnya berhenti berguling ketika membentur batang pohon, "Aaakh...Hoeeekh..!" muntahan darah segar keluar dari mulutnya beberapa kali, kemudian ia jatuh tidak sadarkan diri.

Di tepian pantai Randu Sanga, terlihat tiga saudaranya yang masih berkutat dalam pelarian, "Kakang, aku tidak mau meninggalkan romo dan Kakang Komara!" terlihat Maharani berusaha memberontak ketika pergelangan tangannya di seret untuk di bawa berlari bersama Bayusuta dan Bayu Lelana.

Dengan terpaksa Bayu Lelana menotok jalan darah kesadaran Maharani sehingga membuatnya tidak sadarkan diri, tubuh Maharani kemudian di panggulnya di bahu dan di bawa berlari menuju perahu yang tertambat.

Padepokan Bajing Loncat dengan singkat menjadi hancur, api berada di mana-mana yang menghanguskan seluruh bangunan.

Para penduduk yang berada di sekitar padepokan tidak ada yang berani keluar, karena di depan gerbang Padepokan berdiri puluhan orang yang memakai pakaian seperti para prajurit.

Melihat tidak ada lagi penghuni padepokan yang masih hidup, Genta Buana kemudian memberikan tanda dengan siulan keras, "Suuuiiithhhh!"...

Dengan cepat para anggotanya meloncat dan segera menghilang keluar dari padepokan yang kini telah hancur.

Bayu Lelana dan Bayusuta melihat dari atas perahunya asap yang membumbung tinggi, keduanya tertunduk sedih, kebahagian dan kebersamaan setelah puluhan tahun, kini hancur hanya dalam sekejap.

Perahu kecil mereka kemudian terombang ambing oleh arus pantai yang berbalik menuju lautan luas, Bayusuta dan Bayu Lelana kemudian mendayung perahu kecil mereka dengan perasaan campur aduk antara dendam dan kesedihan.

Sementara itu Genta Buana mengumpulkan anggotanya di balik bukit, dan menghitung anggotanya yang tewas, "Sencaki, berikan kabar kepada yang lain untuk segera merapat ke pebatasan dan lakukan pengamanan seperti biasa, terhitung dua hari dari sekarang kalian harus dalam posisi siaga di daerah perbatasan!"

"Baik Raden! kami akan melaksanakan perintahmu!" kemudian Sencaki memerintahkan semuanya berpencar menjadi kelompok-kelompok kecil dan melewati jalur yang berbeda untuk mengelabui arah dan tujuan mereka.

----------......------------

Terimakasih Kang Moh Rosidi Rosidi, Kang Ade Sofyan, Kang Iyan Kasepp yang telah memberikan koin reward kepada kami...

1
Herman Ahmad
lanjutkan lah thor
CADAS JALARAMBANG
ini bukan taktk tp show force kekuatan wirayudha
Audrey Maritza Kanedy
mantab
Protocetus: jika berkenan mampir ya ke novelku Mercenary of El Dorado
total 1 replies
setyo adi
Luar biasa
Abdul Rouf
ajian nya sama dgn tirta jk
Abdul Rouf
tapak geni, ilmunya tirta jaya kusuma
Abdul Rouf
saya paling suka novel sejarah tq
Tirta ayu Aprilia
sangat sangat bagus.d tunggu kelanjutanya thor
Tri Yogo Utomo
udah ngak ada lanjutannya ini ya3
Tri Yogo Utomo
cerita ini sudah tidak dilanjutin lagi ya autor
Pajero Asia
ayo para suhu yang bisa melanjutkan. tolong di lanjutkan cerita nya..
Sadiyo
sangat menarik cersil dengan latar tataran babad leluhur
Putra_Andalas
--- The End ---

innalillahi WainnaiLaihi Rojiun
Deasy Anggraini
udah abis ya,,,,cuma sampai disinikah?
Beedy Fils
keren juga. ceritanya...mksh ya bro...trs berkarya
Yadi
👍👍👍👍💪💪
Endang Nurhayati
wirayuda mekanjutkan latihannya dan ditemani oleh gurunya, sedangkan eyangnya betusaha melindungi keberadaannya dan berjuang bersana untuk kebaikannya
Endang Nurhayati
saya sangat kedulitan dapat csrita lokal, syukurlah akhirnya ada author yg menulisjannya dan ternyata ada lanjutan dari si Wiratama 👍👍👍
Nasruddin Din
lanjutan mana thorrr
Buyut Anom
lajut dong thor....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!