NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Rahasia Jantung Aequoria

Nana terdiam. Jantung Aequoria di dadanya berdenyut — pelan, hangat, seperti sedang membenarkan kata-kata Dewi Laut.

"Kenapa ayahku terperangkap di Teluk Hantu?" tanyanya. "Kenapa aku tidak bisa membebaskannya?"

Dewi Laut menghela napas — atau gerakan yang setara dengan menghela napas bagi makhluk sepertinya.

"Raja Valerius tidak terperangkap karena sihir Aramis," katanya. "Dia terperangkap karena pilihannya sendiri."

Nana mengerjap. "Apa maksudmu?"

"Saat Aramis menyerang istana, Ratu Ruenna memberinya pilihan: menyerahkan Jantung Aequoria, atau melihatmu dibunuh. Ruenna memilih mati. Tapi Valerius... Valerius tidak bisa menerima kematian istrinya."

Dewi Laut mengangkat tangannya. Gambar di air berubah — menunjukkan Raja Valerius muda, berdiri di depan gerbang Teluk Hantu, wajahnya hancur karena kesedihan. Rambutnya yang dulu rapi kini kusut. Matanya yang dulu bersemangat kini kosong.

"Ia datang ke Teluk Hantu dan meminta aku membawanya ke dimensi tempat Ruenna berada. Ia ingin mati bersama istrinya."

"Tapi Ruenna tidak ada di sana," bisik Nana, air matanya mulai jatuh. Jantung Aequoria berdenyut — ikut merasakan kesedihan ayahnya.

"Benar. Ruenna sudah meninggal. Jiwanya sudah kembali ke alam lain. Tidak ada dimensi yang bisa menjangkaunya. Tapi Valerius tidak percaya. Ia mengurung dirinya di dimensi gelap — diciptakan oleh kesedihannya sendiri."

"Selama sepuluh tahun?"

"Selama sepuluh tahun. Sepuluh tahun ia duduk di ruang kosong itu, sendirian, tanpa makanan, tanpa air, tanpa siapa pun. Sepuluh tahun ia hanya mengingat wajah Ruenna. Sepuluh tahun ia menangis dalam diam."

Nana menutup wajahnya dengan tangan. Bahunya bergetar. Air mata mengalir di sela-sela jarinya, jatuh ke air hitam Palung Hitam.

"Ayah..."

 

Dewi Laut mendekat. Meski tidak padat, Nana merasakan hangat di sekelilingnya — seperti pelukan dari cahaya.

"Valerius tidak bisa keluar karena ia tidak ingin keluar," kata Dewi Laut dengan suara lembut — seperti seorang ibu yang menghibur anaknya yang sedih. "Kesedihannya terlalu dalam. Ia memilih tenggelam di dalamnya daripada kembali ke dunia tanpa Ruenna."

"Tapi aku ada! Aku anaknya! Kenapa itu tidak cukup?"

"Karena ia tidak tahu kau ada."

Nana mengangkat wajahnya. Matanya merah — habis menangis. Pori-porinya terasa panas.

"Apa?"

"Dimensi gelap itu memutus ingatan. Selama sepuluh tahun, ia lupa bahwa ia punya anak. Yang ia ingat hanyalah Ruenna — dan kematiannya. Ia pikir Ruenna adalah segalanya. Ia lupa bahwa Ruenna memberinya hadiah terbesar sebelum mati: kau."

"Tapi aku bertemu dengannya! Aku bicara padanya di Teluk Hantu! Dia memanggil namaku!"

"Itu karena kau masuk ke dimensinya. Suaramu — lagu kerajaan — membangunkan ingatannya. Untuk beberapa saat."

Nana teringat saat itu. Wajah ayahnya yang kusam tiba-tiba berbinar. Matanya yang kosong tiba-tiba melihat. Suaranya yang lemah tiba-tiba memanggil Nanara.

"Untuk beberapa saat?" ulang Nana. "Jadi dia lupa lagi setelah aku pergi?"

Dewi Laut mengangguk pelan. "Dia kembali ke kesedihannya. Tapi tidak sepenuhnya. Bekas ingatan tentangmu masih ada. Seperti cahaya di ruang gelap. Kecil. Tapi ada."

 

Nana menggigit bibirnya — sampai hampir berdarah. Jantung Aequoria di dadanya berdenyut — tidak sakit, tapi haru.

"Jadi... dia bisa sadar? Dia bisa keluar?"

"Bisa. Tapi kau tidak bisa memaksanya. Ia harus memilih untuk keluar. Kesedihan tidak bisa disembuhkan dengan paksa. Kesedihan hanya bisa disembuhkan dengan cinta yang sabar."

"Bagaimana caranya membuatnya memilih?"

Dewi Laut tersenyum. Senyumnya tidak terlihat di wajah, tapi terasa di hati Nana.

"Kau harus masuk lagi. Bukan ke dimensinya — itu terlalu berbahaya. Kau bisa terjebak di sana bersamanya. Tapi kau bisa berbicara dengannya. Dari luar. Dengan lagu kerajaan."

"Dengan lagu?"

"Lagu kerajaan bukan hanya senjata. Ia juga jembatan. Jembatan antara hati dan hati. Jembatan antara dimensi. Jembatan antara hidup dan mati."

Dewi Laut menatap Nana dengan mata biru yang dalam — biru seperti Jantung Aequoria, biru seperti mawar biru di taman laut.

"Tunjukkan padanya bahwa ia punya alasan untuk hidup. Bukan Ruenna. Tapi kau. Kau yang ia kandung. Kau yang ia cintai sebelum ia lupa. Kau yang menunggunya selama sepuluh tahun."

Nana menangis lagi. Tapi kali ini, tangisnya tidak pahit. Tangisnya lega.

 

"Sekarang," kata Dewi Laut setelah memberi Nana waktu untuk menenangkan diri. "Kau harus pergi. Zara sudah menunggumu."

Dewi Laut menggerakkan tangannya. Dinding cahaya di sekeliling mereka terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan kecil di samping.

Di ruangan itu, Zara terbaring — tidur, tapi tenang. Dadanya naik turun teratur. Wajahnya tidak menunjukkan rasa sakit.

"Zara," bisik Nana, berenang mendekat. Ia menyentuh bahu Zara, mengguncangnya pelan. "Zara, bangun. Aku di sini."

Zara mengerjap. Matanya terbuka perlahan — sayu, bingung.

"Yang... Yang Mulia?"

"Aku di sini. Kita pulang."

Zara duduk, memegangi kepalanya yang pusing. "Apa yang terjadi? Aku hanya ingat masuk ke Palung Hitam, lalu... gelap."

"Kau pingsan. Dewi Laut yang menjagamu."

Zara menatap ke arah Dewi Laut — makhluk bercahaya yang masih melayang di belakang Nana. Matanya membesar.

"D-Dewi Laut?"

"Istirahatlah," kata Dewi Laut. "Perjalananmu berat. Tapi kau selamat. Kau Siren yang pemberani, Zara."

Zara tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menunduk — mungkin karena hormat, mungkin karena masih bingung.

 

Nana berpamitan pada Dewi Laut.

"Aku akan kembali," katanya. "Untuk ayahku. Tapi tidak sekarang."

"Aku tahu," jawab Dewi Laut. "Kerajaanmu membutuhkanmu. Tapi jangan terlalu lama. Kesedihan yang lama akan berubah menjadi kepahitan. Dan kepahitan... sulit disembuhkan."

Nana mengangguk. "Aku janji."

Dewi Laut tersenyum lagi. "Kau ratu yang baik, Nanara Ciel Aequoria. Dunia ini beruntung memilikimu."

"Atau sial," kata Nana setengah bercanda.

Dewi Laut tertawa — suara yang seperti gemericik air di bebatuan, seperti angin yang berbisik di daun lamun.

"Mungkin keduanya."

 

Nana dan Zara berenang keluar dari Palung Hitam.

Perjalanan pulang terasa lebih cepat dari sebelumnya. Mungkin karena mereka tidak sendirian — meski hanya berdua, kehadiran satu sama lain cukup untuk mengusir kegelapan.

"Yang Mulia," kata Zara di tengah perjalanan.

"Ya?"

"Maaf aku tidak bisa menyelesaikan misi. Aku pingsan sebelum menemukan apa pun."

"Kamu sudah berusaha. Itu sudah cukup."

"Tapi—"

"Zara," potong Nana. "Kau mantan Siren Hitam. Kau membelot untuk membantu Aequoria. Kau sudah menyelamatkan nyawaku setidaknya dua kali. Berhentilah merasa tidak cukup."

Zara terdiam. Matanya berkaca-kaca.

"Terima kasih, Yang Mulia."

"Jangan berterima kasih. Kita keluarga."

Zara tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya berenang di samping Nana dalam diam — diam yang hangat.

 

Ketika mereka tiba di gerbang Aequoria, Jeno sudah menunggu.

Ia berdiri di depan pintu gerbang, trisula di tangan, mata biru pucatnya menyipit ke arah selatan — tempat Nana seharusnya muncul.

Begitu melihat Nana, wajahnya berubah.

Dari tegang menjadi lega.

Dari waspada menjadi pulang.

"Kau kembali," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan perintah. Tapi pernyataan — pernyataan yang ia ucapkan seolah-olah ia baru saja bisa bernapas lagi setelah sekian lama menahan napas.

"Aku kembali," jawab Nana.

Mereka berdua terdiam. Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Hanya tatapan.

Tapi tatapan itu cukup. Cukup untuk berkata: Aku khawatir. Aku lega. Aku mencintaimu.

Zara, yang berenang di belakang Nana, tersenyum kecil. "Aku akan ke rumah sakit dulu, Yang Mulia. Periksa kondisi badanku."

"Baik. Istirahatlah."

Zara pergi. Meninggalkan Nana dan Jeno berdua di gerbang kota. Lampu-lampu bioluminesensi di sekeliling mereka berkedip lembut — seperti bintang-bintang yang ikut tersenyum.

"Jeno," kata Nana.

"Ya?"

"Apa kau tidak akan memelukku?"

Jeno tersenyum. Lalu ia berenang mendekat, membuka tangannya, dan memeluk Nana — erat, lama, pulang.

"Jangan pergi sendirian lagi," bisiknya di telinga Nana.

"Aku tidak janji."

"Nana..."

"Aku ratu. Tugasku melindungi kerajaan. Kadang-kadang, itu berarti pergi sendirian."

Jeno menghela napas. "Kau keras kepala."

"Kamu baru sadar?"

Mereka berdua tertawa — di gerbang Aequoria, di bawah lampu-lampu bioluminesensi, di tengah dinginnya air laut yang terasa hangat karena pelukan..

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!