NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:35.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sap 23

Nanda terlihat duduk manis di kursinya sambil memegang krayon warna-warni.

Anak itu tampak sehat.

Tidak menangis.

Tidak sakit.

Napas Nadia langsung terlepas begitu saja.

“Alhamdulillah...” bisiknya lirih sambil memegang dada.

Kakinya bahkan sempat terasa lemas karena rasa lega yang terlalu besar.

“Sekarang mari kembali ke ruangan saya,” ucap Ibu Rosidah lembut. “Selama proses belajar, anak-anak memang tidak boleh dilihat orang tua dulu. Nanti konsentrasi mereka terganggu.”

“Baik, Bu,” jawab Nadia pelan sambil mengusap air mata di sudut matanya.

Sebenarnya inilah alasan Nadia menyekolahkan Nanda di TK Tunas Bangsa.

Sekolah itu tidak hanya fokus mengajarkan baca tulis dan berhitung, tetapi juga membangun karakter dan kemandirian anak.

Nadia menyukai cara sekolah itu memperlakukan murid-muridnya.

Mereka kembali ke ruang kepala sekolah.

Setelah duduk, Ibu Rosidah langsung bertanya pelan.

“Bunda dapat info dari mana kalau Nanda sakit?”

Nadia segera menunjukkan nomor telepon yang tadi menghubunginya.

Ibu Rosidah mencatat nomor itu lalu memeriksanya di ponsel.

“Nomor ini bukan dari pihak sekolah, Bunda,” jelasnya pelan. “Biasanya kalau ada kabar tentang Nanda itu dari saya, Bu Niken, atau Bu Ida.”

Nadia langsung menunduk malu.

“Maaf, Bu,” ucapnya pelan. “Saya panik tadi. Soalnya kemarin Nanda makan sembarangan lagi. Saya takut alerginya kambuh.”

Ibu Rosidah tersenyum lembut.

“Tidak apa-apa, Bu. Wajar kalau ibu panik,” katanya penuh pengertian. “Saya juga pasti panik kalau dengar anak sakit.”

Nadia tersenyum tipis penuh rasa tidak enak.

“Sekali lagi maaf sudah mengganggu pekerjaan Ibu.”

“Tidak masalah,” jawab Ibu Rosidah ramah. “Hanya lain kali kalau ada kabar seperti itu, pastikan dulu hubungi saya, Bu Niken, atau Bu Ida.”

“Baik, Bu.”

Suasana sempat hening beberapa detik.

Ibu Rosidah terlihat ragu-ragu sebelum akhirnya berbicara lagi.

“Maaf, Bu... saya mau tanya sesuatu. Tapi jangan tersinggung ya.”

Nadia mendadak merasa tidak tenang.

Jantungnya kembali berdebar.

“Katakan saja, Bu.”

“Sebenarnya... siapa sih Bu Ratna itu?”

Deg.

Jantung Nadia langsung berdetak keras.

“Ada apa memang, Bu?” Nadia balik bertanya hati-hati.

“Itu...” Ibu Rosidah tampak canggung. “Beliau sering datang ke sini, Bun. Terus suka kasih makanan siap saji ke Nanda.”

Rahang Nadia perlahan mengeras.

“Tapi saya cuma izinkan pas jam pulang sekolah,” lanjut Ibu Rosidah cepat. “Beliau juga pernah beberapa kali jemput Nanda.”

“Kenapa Ibu izinkan?” tanya Nadia pelan.

“Karena yang kasih izin Pak Raka, papanya Nanda,” jawab Ibu Rosidah serba salah. “Jadi saya bingung juga harus bagaimana.”

Wanita itu lalu bertanya lagi dengan rasa penasaran.

“Sebenarnya siapa Bu Ratna itu? Kalau dia pelakor, saya enggak akan izinkan datang lagi.”

Nadia langsung mengembuskan napas panjang.

Ia tidak mungkin membuka aib rumah tangganya di sekolah anak.

“Dia sepupu saya, Bu,” jawab Nadia akhirnya.

“Oh... sepupu.”

Nadia memaksakan senyum tipis.

“Karena Nanda sehat, saya izin pulang dulu ya, Bu.”

“Oh iya, Bu. Mari saya antar.”

Ibu Rosidah mengantar Nadia sampai depan gedung sekolah.

Di tengah perjalanan, Nadia sempat melihat Nanda sedang berlari-lari kecil bersama seorang anak perempuan seusianya di taman bermain sekolah.

Tawa kecil anak itu terdengar jelas.

Melihat itu, sudut bibir Nadia akhirnya melengkung lega.

Syukurlah.

Nanda benar-benar baik-baik saja.

Sesampainya di gerbang sekolah, Nadia langsung memesan taksi online.

Tak butuh waktu lama, mobil datang.

Sepanjang perjalanan pulang, Nadia terus berpikir keras.

Siapa yang meneleponnya tadi?

Apa tujuan orang itu?

Hanya bercanda?

Atau ada maksud lain?

“Setahuku aku enggak punya musuh,” gumam Nadia pelan sambil menatap jalanan kosong di luar jendela.

Tak lama kemudian rahangnya kembali mengeras.

“Pasti Ratna.”

Namun Nadia kembali mengernyit bingung.

“Tapi untuk apa?”

Nadia lalu membuka catatan kecil di ponselnya.

Dengan jemari perlahan ia mulai mengetik.

Tanggal 17 Januari.

Pesan palsu mengatasnamakan sekolah bahwa Nanda sakit.

Nadia menatap tulisan itu cukup lama.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ia akan sampai di titik ini.

Mencatat satu per satu keburukan orang-orang di sekitarnya.

Namun demi hak asuh Nanda...

Nadia mulai melakukan hal-hal yang dulu tidak pernah ia bayangkan.

Ratna kembali lagi ke rumah menggunakan ojek online.

Ia berdiri tak jauh dari pagar rumah sambil memperhatikan jalanan.

Begitu melihat Nadia benar-benar pergi dengan tergesa-gesa, bibir Ratna langsung melengkung tipis.

“Dasar wanita bodoh,” gumamnya mengejek. “Mau saja dibohongi.”

Ratna melihat ojek yang membawa Nadia semakin menjauh.

“Peduli sekali sama anak orang,” lanjutnya sambil terkekeh kecil. “Memang beda tipis orang baik sama orang bodoh.”

Setelah memastikan keadaan aman, Ratna melangkah mendekati rumah.

Ia membuka pagar perlahan agar tidak menimbulkan suara.

Lalu berjalan mengendap-endap masuk ke dalam rumah.

Ruang tengah kosong.

Suara televisi tidak terdengar.

Yuni sepertinya masih berada di kamar, sedangkan Mbak Tari sibuk di dapur.

Tatapan Ratna langsung tertuju pada pintu kamar Nadia yang sedikit terbuka.

Senyumnya semakin lebar.

“Ceroboh sekali,” bisiknya.

“Meninggalkan kamar tanpa dikunci.”

Ratna segera masuk ke kamar itu.

Matanya berkeliling menelusuri setiap sudut ruangan.

Kamar Nadia selalu rapi.

Wangi lembut khas lavender masih terasa.

Seprai tertata lurus.

Botol skincare tersusun rapi di meja rias.

Namun Ratna sama sekali tidak peduli.

“Sebentar lagi kamar ini jadi milikku, Nad,” gumamnya sambil membuka lemari pakaian.

“Kalau aku berhasil menemukan harta warisan orang tua kamu, Ayah pasti langsung menyingkirkan kamu.”

Ratna mulai mengobrak-abrik isi lemari.

Baju-baju Nadia ditarik keluar begitu saja lalu dilempar ke lantai.

Laci demi laci dibuka dengan kasar.

Kosong.

Ia berpindah ke meja rias.

Semua laci dibuka satu per satu.

Tetap tidak ada apa-apa.

Ratna mulai kesal.

Ia mengangkat bantal.

Membuka tas.

Bahkan mengangkat kasur.

Tetap nihil.

“Gila...” gerutunya frustrasi.

“Jangankan sertifikat atau buku rekening, perhiasan saja enggak punya.”

Ratna menatap kamar itu dengan heran.

“Padahal gaji Raka besar. Kalau aku mau, aku juga bisa suruh dia korupsi lebih banyak.”

Ia mencibir kecil.

“Kamu benar-benar bodoh, Nadia.”

Tatapannya kembali berkeliling.

Kini kamar itu berubah berantakan.

Baju berserakan di lantai.

Laci terbuka.

Bantal jatuh ke bawah.

Di atas meja rias, Ratna melihat sebuah buku kecil.

Keningnya langsung terangkat.

“Mungkin catatan pribadi.”

Ratna segera mengambil buku itu lalu membukanya cepat.

Beberapa detik kemudian, senyum sinis kembali muncul di wajahnya.

“Dasar bodoh,” gumamnya puas.

“Mau membawa Nanda pergi?”

Matanya menyipit tajam.

“Mimpi saja kamu.”

Ratna menggenggam buku itu erat.

Rencananya sederhana.

Buku ini akan ia gunakan untuk menekan Raka agar segera bertindak pada Nadia.

Namun tiba-tiba—

“Ratna, ngapain kamu di sini?”

Ratna tersentak.

Ia buru-buru menoleh.

Yuni sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin.

Tatapan wanita tua itu langsung jatuh pada kondisi kamar Nadia yang berantakan

1
Talnis Marsy
semangat thor
Talnis Marsy
lho kok
nunik rahyuni
klo suami menunjukan hal2 yg diluar kebiasaan secara terus menerus itu perlu di curigai..knp g kmu selidiki..ikuti pkai taksi online kan bisa ..jgn terlalu oon..duit kan banyak..buntuti selidiki jgn mau di bodohi terus
nunik rahyuni
kebiasaandiam malah di injak injak terus ..
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
Marni Marlina
lnjuut
fatmiatun sahono
heran juga ma si Nadia. dia TDK sadar apa itu muda Nanda mirip siapa krg peka sama sekitar nya ne....
Marni Marlina
lnjuut
siswati etty
lha dah tamat to.....
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪
Alim
lo kok tamat thor
Anonim
Jujur aja andre biarin novi tau siapa ibu nya ,pasti novi milih nadia nanti
Suanti
semoga cepat punya baby 🤭
Suanti
ayok novi bantu papa nya tolak wanita yg mau jodoh kan jadi mama baru mu 🤭🤣🤣🤣
Alim
hah kok cepet mati thor🤭🤭🤭
siswati etty
ternyata...... dari atasnya gak benar jadinya gak benar jg seterusnya...
SOPYAN KAMALGrab
menyedihkan
Alim
apa yg trjadi
Alim
lsnjutkan thor
Inarrr Ulfah
semgat KA 💪
siswati etty
tetep semangat... ditunggu lanjutannya thor
Machmudah
semangat othor.....jd semangat jg bacanya kl upnya banyak....Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!