NovelToon NovelToon
JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.

"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.

Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.

Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.

Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 34

Cahaya matahari sore menembus kaca jendela lebar dan celah tirai bermotif bunga, menawarkan warna emas yang memikat mata, namun kehangatannya tak kunjung tiba.

Seperti terhenti di udara.

Tak menyentuh apa pun.

Zenna duduk dengan kaku di atas tempat tidur--yang terlalu besar untuk satu orang, dan terlalu sunyi untuk disebut nyaman--di dalam kamar luas berperabot lengkap dengan gaya rustic. Jarum infus masih menancap di punggung tangan kanannya, dan beberapa peralatan medis seperti monitor detak jantung, tabung oksigen, dan ventilator disediakan persis di sebelah pembaringannya, untuk keadaan darurat.

Jujur Zenna tak tahu ia ada di mana. Kesadarannya kembali lenyap saat ia dibawa keluar ICU beberapa hari lalu. Begitu siuman, ia mendapati dirinya sudah terbaring di kamar yang sepenuhnya asing.

Selama beberapa hari itu, tak banyak yang bisa Zenna lakukan, selain rebah atau duduk di atas ranjang, dan mendapat perawatan seperti saat ia masih berada di rumah sakit. Obat penenang masih rutin disuntikkan ke pembuluh darahnya, namun dosisnya perlahan berkurang--seiring perilakunya membaik dan tak lagi mudah histeris seperti sebelumnya.

Bukan berarti Zenna sudah bisa berdamai dengan situasi dan menjadi jernih. Ia hanya sadar tak ada gunanya meluapkan emosi berlebihan, apalagi melawan.

Ia lumpuh. Ia sendirian. Nasibnya bagai daun tua yang tercerabut dari ranting dan terseret angin topan. Pilihan lain apa yang dia punya, selain pasrah tanpa arah, meski ia benci dan tak ingin mengalami semua ini?

Kebebasan hidupnya bukan miliknya lagi. Dan itu, gara-gara Rendy. Lagi.

"Kita perlu bicara, Zenna."

Suara dan sosok Rendy yang muncul menjelang senja hari itu seperti biasa mengintimidasi dan menimbulkan jeri, tetapi Zenna tak punya daya untuk mengusirnya, dan hanya bisa memandang sang mantan dengan ekspresi terluka.

"Kamu...," Zenna menggenggam erat selimut yang menutupi kakinya, mati-matian meredam guncangan batin. "Apa maumu? Kenapa kamu menahanku di tempat asing seperti ini...?"

"Sudah kubilang untuk melindungimu," jawab Rendy tak sabar. "Kenapa masih tanya? Kamu meragukanku?"

"Kamu membawaku pergi begitu saja... tanpa izin suamiku. Bagaimana aku bisa percaya padamu...?" tukas Zenna getir.

Rendy mendengus. "Maksudmu, tersangka pembunuhmu itu?"

"Bram tak akan melakukan itu!" bantah Zenna, ia nyaris menangis saat teringat suaminya. "Dia suamiku. Dia sudah berjanji akan melindungiku..."

"Dan apakah dia terbukti menepati janjinya?" Rendy tersenyum sinis dan menghina. "Lihat dirimu, Sayang. Kamu hampir tewas berkali-kali. Dan kamu ada di luar jangkauannya sekarang..."

"Bram pasti akan datang dan menolongku!" entah bagaimana, Zenna mendapat keberanian untuk menentang dan menatap sengit Rendy. "Usahamu ini sia-sia saja, Rendy! Sebaiknya kamu lepaskan aku sekarang, atau--"

"Atau?"

"Atau kamu akan menyesalinya dan membusuk di penjara!" jerit Zenna, tak sanggup lagi menahan emosi.

Rendy tertawa keras.

"Kata-kata itu lebih tepat ditujukan untuk pembunuhmu, bukan aku. Aku ini pahlawan yang berjuang menyelamatkan dan melindungimu, Zenna. Kalau bukan karena aku, kamu pasti sudah ada di alam sana sekarang. Mau sampai kapan kamu buta dan tidak menyadarinya?"

Tatapan gila dan ucapan narsis Rendy menyadarkan Zenna bahwa tak ada gunanya berdebat dengan titisan setan satu itu.

Ia pun mengatupkan bibir dan memalingkan wajah. Segala emosi tumpah melalui air mata sunyi.

"Zenna," Rendy mencondongkan tubuhnya ke depan, nada bicaranya sarat kuasa. "Aku mau kamu melakukan sesuatu untukku."

Zenna tak sudi menanggapi.

"Hubungi suamimu. Katakan, kamu ingin dia berhenti mencarimu. Ucapkan selamat tinggal padanya. Sekarang juga."

Mau tak mau, Zenna kembali memandang Rendy. Ia seketika meradang.

"Kamu gila?!"

"Kamu tak mau melakukannya?"

"Jangan harap!" desis Zenna berang. "Sampai kapan pun, aku tak sudi--"

"Ck!"

Rendy mendecak jengkel. Ia pun mengambil ponsel di sakunya, menekan-nekan layarnya, dan menunjukkan sesuatu.

Tepat di depan mata Zenna, sebuah berita diputar dan menayangkan peristiwa kecelakaan mobil yang terjadi di salah satu ruas jalan tol.

"...salah satu korban luka adalah Bram Atmaja, CEO Atmaja Group, yang sudah dilarikan ke rumah sakit..."

Zenna merasa seakan langit runtuh di depannya. Dingin menjalari lengannya, menawarkan sensasi mati rasa seperti yang dialami kedua kakinya.

"B-Bram...?" Ia sepenuhnya dicekam pilu dan ngeri, air matanya menderas lagi.

"Jangan khawatir. Dia masih hidup dan utuh. Hanya luka ringan," kata Rendy lembut dan tenang. "Tapi... mungkin lain kali, ia tak akan semujur ini. Apalagi jika kamu tak mau mematuhiku. Kamu mau itu terjadi--Bram Atmaja hanya tinggal nama di dunia ini? Pikirkanlah baik-baik, Zenna Sayang."

Zenna kehilangan kata untuk beberapa saat lamanya. Momen ini seperti deja vu yang membuka luka terparah dalam hidupnya.

"Jangan... Rendy, tolong jangan...!"

"Kalau begitu, lakukan perintahku. Jauhkan suamimu dari hidupmu. Ucapkan selamat tinggal padanya. Atau dia yang mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Tak sulit, kan?"

Zenna mencengkeram dadanya yang kini sesak, seakan tulang-tulang rusuknya retak.

"Kenapa... kenapa kamu sekejam ini...? Apa salahku...?" isak Zenna.

Rendy mendesah. Jemarinya dengan lancang membelai wajah Zenna.

"Karena aku mencintaimu, Zenna. Kamu juga mencintaiku, kan? Sudah sepantasnya kita bersama sampai akhir."

Bibir Rendy nyaris menyentuh bibir Zenna, namun Zenna menampik dan menjerit, "Jangan sentuh aku! Aku istri Bram! Kalau kamu berani menyentuhku, akan kugigit lidahku sendiri sampai putus!"

Rendy mundur. Ekspresinya mengeras.

"Kamu tak akan jadi istrinya lagi!" tuding Rendy geram. "Turuti perintahku! Kamu harus berpisah darinya! Atau kematian yang akan memisahkan kalian selamanya! Pilih mana?!"

Zenna menangkupkan wajah di tangannya yang gemetar, menangis sejadinya.

"Lakukan! Sekarang!"

Rendy dengan kasar menyorongkan ponselnya.

Dengan hati hancur, Zenna terpaksa menekan opsi memanggil tepat di data kontak Bram Atmaja.

"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi..."

Rendy mendengus kesal. Tetapi ia tak kehabisan akal.

"Dokter Kenan, ke kamar Zenna--sekarang!" perintah Rendy setelah mengambil kembali ponselnya dan menelepon sang dokter.

Tak lama kemudian, Dokter Kenan mengetuk pintu dan masuk. Matanya menelisik tajam.

"Ada apa, Tuan?"

"Kalau tak salah, kamu punya kontak Kalila Mardani, kan?" tukas Rendy tanpa basa-basi.

Dokter Kenan terdiam sejenak, kemudian mengangguk.

"Bagus. Hubungi dia. Lalu biarkan Zenna bicara dengannya. Sekarang!" perintah Rendy.

Dokter Kenan meraih ponselnya dan mulai mencari nama dan nomor Kalila di daftar kontaknya.

"Kamu tahu yang harus kamu katakan, Zenna. Suruh sahabatmu menyampaikan itu pada Bram. Ah, beritahu dia juga untuk tak lagi berurusan denganmu. Katakan kamu tak percaya siapapun lagi, tak mau terluka lagi. Kamu harus ucapkan selamat tinggal pada semua orang di sekitarmu. Kamu mengerti?!"

Dokter Kenan meletakkan ponselnya di telinga, netranya yang jernih tak lepas mengawasi Zenna yang terus sesenggukan.

"Halo, Kalila. Maaf baru bisa menghubungimu lagi..."

"Zenna baik-baik saja. Ia ingin bicara denganmu."

Dan percakapan singkat namun menyakitkan itu pun terjadi.

"...selamat tinggal."

Zenna menutup teleponnya, dan mengembalikan ponsel itu pada Dokter Kenan. Matanya yang bengkak dan merah kini menyorot hampa.

"Bagus," Rendy mengangguk puas. "Sekarang, semua akan berjalan sesuai rencanaku."

Tak ada yang bicara. Rendy mengusap pipi Zenna sekali lagi sebelum pergi.

"Jangan khawatir, Sayang, aku pasti menangkap pembunuh itu. Secepatnya. Tak akan ada lagi yang bisa menghentikan kita bersama. Kamu tunggu dan lihat saja."

Tawa kecil dan lembut mengalir dari bibir Rendy sebelum ia lenyap di balik pintu. Meninggalkan Zenna yang kembali lebur dalam dunia tanpa cahaya--barangkali, kali ini, untuk selamanya.

***

1
Shamira Zee
yaaah akhirnya tamat! happy lihat ze-bra happy ❤️ ditunggu karya selanjutnya ya kak ❤️
Shamira Zee
Huhu manis sekali couple satu ini... bikin irii
Shamira Zee
Yaah ketahuan deh Bram
Shamira Zee
Bram pulih, Zenna pulih, yuk Kenan pulih juga... aku gak mau Kenan jadi korban lho thooor
sryharty
aaah akhirnya happy ending juga mereka,, terimakasih ka udah kasih bacaan bagus
bikin hati bener2 traveling
Shamira Zee
Akhirnya si tua metong /Skull/ tapi bram kritis /Sob/ Kalau zenna sampai tahu gimana...
Shamira Zee
Gak tahu lagi mau bilang apa... jahat banget si tua dan tegangnya itu lho... Bram plis selamat dong
Shamira Zee
Wee bakal dar der dor macam mana lagi inii? Upload semua lah thor sampai ending, jangan bikin tegang dan penasaraaan
Shamira Zee
Whaat seriusan Bram ditangkap? /Scare/
Shamira Zee
Walaahh makin tegaaang
Shamira Zee
Zenna hamil yaa ❤️ Tapi malah jatuh ke tangan Darwin tuh gimana... thor mau bikin ceritanya kayak apa lagi ini /Sweat/
Shamira Zee
Kenan selamat /Scowl/Jangan bikin aku nangis ya thor... trus ini fakta dar der dor apa lagi yang bakal mengguncang Bram? Duh ada aja konfliknyaa
Shamira Zee
Thooor nggak mau aku kalau Kenan meninggal /Sob//Sob//Sob/
Shamira Zee
Semangat nulisnya thor... tapi aku patah hati beneran lho kalau sampai Kenan nggak ada... jangan pliiss /Sob/
Shamira Zee
Ya kamu bisa, Ken, tapi abis itu kamu ketembak... /Sob/
Lord Aaron
Darwin kudunya mati di tangan Kenan atau Bram lah
Lord Aaron
Kan... penulisnya tim medis pasti nih, bisa khatam betul soal obat dan segala macam tes medisnya
Lord Aaron
Jadi PoVnya Kenan... kasihan juga Kenan
Lord Aaron
Kan... runyamm
Lord Aaron
Nekat gak nyelesaiin masalah kali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!