Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Pagi itu Clara terbangun lebih cepat dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk dari sela jendela kontrakan kecilnya membuat matanya perlahan terbuka. Untuk beberapa detik dia hanya diam menatap langit-langit kamar yang kusam. Tidak ada pendingin ruangan, tidak ada aroma kopi mahal yang biasa disiapkan pelayan rumahnya, dan tidak ada suara lembut ibunya yang menyuruh pembantu menyiapkan sarapan.
Yang ada hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan sambil mengeluarkan bunyi berdecit.
Clara menarik napas panjang.
Perutnya terasa lapar.
Dia duduk perlahan di kasur tipis yang semalaman membuat punggungnya pegal. Rambut panjangnya tampak sedikit berantakan. Dia melirik koper di sudut kamar, lalu melihat dompet kecil di atas meja.
Dengan ragu Clara mengambil dompet itu.
Dia membuka isinya perlahan.
Hanya ada beberapa lembar uang.
Uang pemberian Bu Suci.
Clara menunduk pelan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia benar-benar memikirkan apakah uang yang dia pegang cukup untuk makan beberapa hari ke depan.
Dulu dia tidak pernah peduli soal harga makanan. Saat bersama teman-temannya, dia bisa menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk nongkrong di kafe mewah. Bahkan kadang makanan yang dia pesan hanya disentuh sedikit lalu dibuang begitu saja.
Sekarang keadaan berbalik.
Dia bahkan harus menghitung uang untuk membeli sarapan.
Clara memejamkan mata sejenak.
"Aku benar-benar jatuh sejauh ini..."
Suara itu terdengar lirih dari bibirnya.
Dia akhirnya bangkit lalu berjalan keluar kontrakan. Gang kecil di depan tempat tinggalnya tampak mulai ramai. Beberapa ibu sedang menyapu halaman, anak-anak kecil berlarian sambil tertawa, dan pedagang sayur lewat sambil berteriak menawarkan dagangan.
Clara berjalan pelan sambil memeluk tas kecilnya.
Beberapa orang sempat meliriknya.
Mungkin karena penampilannya memang berbeda dibanding warga sekitar.
Walau kini hidup susah, wajah Clara tetap terlihat seperti gadis yang berasal dari keluarga berada. Kulitnya masih terawat, cara jalannya masih terlihat anggun, dan pakaiannya walau sederhana tetap tampak mahal.
Namun tidak ada lagi mobil mewah yang menjemputnya.
Tidak ada lagi kartu tanpa batas dari ayahnya.
Sekarang dia hanya seorang gadis yang berjalan kaki mencari makanan murah.
Clara terus melangkah hingga akhirnya melihat sebuah warteg sederhana di ujung jalan.
Asap hangat dari masakan membuat perutnya kembali berbunyi.
Dia berhenti di depan warteg itu.
Matanya memperhatikan tempat tersebut perlahan.
Bangkunya terlihat usang.
Beberapa meja masih memiliki noda kopi yang belum benar-benar bersih.
Kipas angin kecil di pojok ruangan tampak berdebu.
Clara langsung teringat restoran-restoran mahal yang biasa dia datangi.
Lantai mengilap.
Pelayan berpakaian rapi.
Ruangan wangi dan tenang.
Sementara tempat ini sangat berbeda.
Namun Clara sadar dia tidak punya pilihan.
Dia masuk perlahan.
Seorang ibu pemilik warteg tersenyum ramah.
"Mau makan apa, Neng?"
Clara sempat bingung melihat berbagai lauk yang berjajar.
Dia menelan ludah sebelum akhirnya menjawab pelan.
"Nasi campur saja, Bu. Sama teh hangat."
"Pakai ayam?"
Clara langsung berpikir soal uang di dompetnya.
"Yang murah saja, Bu."
Ibu itu mengangguk lalu mulai mengambil nasi dan beberapa lauk sederhana.
Clara duduk perlahan di salah satu kursi.
Dia mencoba tidak terlalu memikirkan keadaan tempat itu.
Namun tetap saja dia merasa asing.
Dulu dia bahkan pernah marah hanya karena gelas di restoran favoritnya memiliki sedikit noda.
Sekarang dia duduk di tempat sederhana sambil berusaha menerima kenyataan hidup.
Tak lama kemudian makanan datang.
"Silakan makan, Neng."
"Terima kasih, Bu."
Clara menatap nasi campur di depannya cukup lama.
Sederhana.
Sangat sederhana.
Namun aroma masakan itu terasa hangat.
Dia akhirnya mulai makan perlahan.
Awalnya Clara merasa canggung.
Namun setelah beberapa suap, rasa lapar membuatnya berhenti memikirkan banyak hal.
Dia makan dalam diam.
Tatapannya perlahan berubah sendu.
Untuk pertama kali Clara benar-benar merasakan kerasnya hidup.
Tidak ada lagi kemewahan.
Tidak ada lagi fasilitas.
Tidak ada lagi orang yang selalu memenuhi semua keinginannya.
Dia menunduk pelan.
Bayangan ayah dan ibunya tiba-tiba muncul di pikirannya.
Apakah mereka sedang mencarinya?
Apakah mereka merindukannya?
Atau mungkin mereka justru merasa lega karena Clara sudah pergi?
Dadanya terasa sesak.
Selama ini dia selalu merasa ayahnya tidak menyayanginya.
Namun kini ketika hidup sendirian, Clara mulai sadar sesuatu.
Ayahnya mungkin marah.
Ayahnya mungkin keras.
Tetapi selama ini semua fasilitas yang dia nikmati berasal dari kerja keras ayahnya.
Dan Clara justru menghamburkan semuanya tanpa rasa terima kasih.
Dia menggigit bibir pelan.
Teringat bagaimana dia mempermalukan Doni.
Teringat bagaimana dia bersikap sombong.
Teringat bagaimana dia selalu merasa dirinya paling benar.
Clara menunduk semakin dalam.
"Aku memang keterlaluan..."
Suara itu hampir tidak terdengar.
"Neng tidak apa-apa?"
Clara langsung tersadar.
Ibu pemilik warteg memperhatikannya dengan wajah khawatir.
Clara cepat menggeleng.
"Tidak apa-apa, Bu."
"Kalau ada masalah jangan dipendam terus. Anak muda sekarang banyak yang sakit karena terlalu banyak pikiran."
Clara tersenyum kecil.
Kalimat sederhana itu justru terasa hangat.
Orang asing bahkan bisa peduli padanya.
Sementara dulu dia sering mengabaikan orang-orang yang tulus.
Setelah selesai makan Clara segera membayar.
Dia kembali menghitung uangnya dengan hati-hati.
Setelah menerima kembalian, Clara keluar dari warteg sambil memegang uang itu erat.
Langkahnya terasa lebih berat dibanding tadi.
Dia mulai sadar bahwa hidup mandiri bukan sesuatu yang mudah.
Saat sampai di kontrakan, Clara langsung duduk lemas di kasur.
Namun belum lama dia beristirahat, matanya tertuju pada ember di sudut kamar.
Di dekatnya ada tumpukan pakaian kotornya.
Clara langsung membeku.
"Astaga..."
Dia benar-benar lupa soal itu.
Selama ini dia tidak pernah mencuci pakaian sendiri.
Di rumahnya ada mesin cuci mahal.
Bahkan pembantu rumah tangga yang mengurus semuanya.
Clara hanya tinggal memakai pakaian bersih setiap hari.
Dia tidak pernah memikirkan bagaimana pakaian itu dicuci.
Namun sekarang tidak ada mesin cuci.
Tidak ada pembantu.
Tidak ada siapa-siapa.
Yang ada hanya dirinya sendiri.
Clara memandangi kedua tangannya.
Tangannya halus.
Kukunya panjang dan terawat.
Dia rutin pergi ke salon hanya untuk merawat kuku.
Bahkan dulu dia pernah marah besar karena salah satu kukunya patah.
Sekarang kuku itu harus dipakai mencuci pakaian.
Clara menghela napas panjang.
"Kenapa hidup bisa berubah secepat ini..."
Namun dia sadar mengeluh tidak akan mengubah keadaan.
Dengan perlahan Clara mengambil ember lalu mulai mengisinya dengan air.
Dia menuangkan deterjen sedikit.
Aroma sabun langsung memenuhi kamar kecil itu.
Clara mengambil salah satu bajunya lalu menatapnya bingung.
"Ini harus bagaimana..."
Dia mencoba mengingat apa yang biasa dilakukan pembantu di rumahnya.
Namun dia benar-benar tidak tahu.
Akhirnya Clara mencoba merendam pakaian itu lalu menguceknya pelan.
Beberapa detik kemudian wajahnya langsung berubah.
"Susah sekali..."
Tangannya terasa pegal.
Busa deterjen mengenai kukunya.
Air mulai membuat kulit tangannya terasa kasar.
Clara bahkan hampir menangis saat melihat kukunya sedikit tergores.
Namun dia kembali terdiam.
Dulu dia selalu hidup nyaman.
Dia bisa membeli barang mahal kapan saja.
Dia bisa menghina orang lain tanpa memikirkan perasaan mereka.
Dia merasa semua orang berada di bawahnya.
Kini hidup memaksanya melakukan hal-hal sederhana yang selama ini tidak pernah dia hargai.
Clara terus mencuci pakaiannya perlahan.
Walau canggung dan berantakan, dia tetap mencoba menyelesaikannya.
Keringat mulai muncul di dahinya.
Punggungnya terasa pegal karena terlalu lama jongkok.
Namun untuk pertama kalinya Clara mulai memahami sesuatu.
Semua kenyamanan yang dia nikmati dulu bukan sesuatu yang datang begitu saja.
Ada orang-orang yang bekerja.
Ada orang-orang yang lelah.
Ada orang-orang yang selama ini dia anggap biasa.
Dan Clara tidak pernah menghargainya.
Dia menunduk sambil terus mencuci.
Bayangan Doni kembali muncul di pikirannya.
Pria itu selama ini bekerja keras di perusahaan ayahnya.
Namun Clara justru terus merendahkannya.
Dia bahkan merasa Doni tidak pantas berada di dekat keluarganya.
Padahal sekarang Clara sendiri tidak mampu melakukan banyak hal.
Perasaan malu mulai memenuhi dadanya.
"Aku memang pantas menerima semua ini..."
Matanya mulai memanas.
Namun Clara cepat mengusap air matanya.
Dia tidak ingin terus menangis.
Tangannya kembali bergerak mencuci pakaian satu per satu.
Walau lambat, akhirnya semua pakaian selesai dicuci.
Clara berdiri perlahan sambil memegangi pinggangnya.
"Ternyata capek sekali..."
Dia membawa ember itu keluar untuk menjemur pakaian.
Beberapa ibu tetangga memperhatikannya.
Salah satu dari mereka tersenyum kecil.
"Baru belajar nyuci ya, Neng?"
Wajah Clara langsung memerah.
Dia merasa malu.
Namun akhirnya dia mengangguk pelan.
Ibu itu tertawa kecil.
"Tidak apa-apa. Lama-lama juga biasa."
Clara hanya membalas dengan senyum tipis.
Setelah semua pakaian dijemur, dia kembali masuk ke kamar kontrakannya.
Tubuhnya terasa lelah.
Dia duduk di kasur sambil menatap ruangan sempit itu.
Sunyi.
Sangat sunyi.
Dulu rumahnya selalu ramai.
Sekarang dia sendirian.
Clara memeluk lututnya perlahan.
Untuk pertama kalinya dia benar-benar merasa takut pada masa depannya.
Uangnya hampir habis.
Dia tidak tahu harus bekerja apa.
Dia tidak tahu sampai kapan bisa bertahan.
Namun di balik semua ketakutan itu, ada satu hal yang mulai tumbuh dalam dirinya.
Kesadaran.
Selama ini dia hidup terlalu sombong.
Dia merasa dunia akan selalu memanjakannya.
Padahal kenyataannya hidup bisa berubah kapan saja.
Dan ketika semua kemewahan hilang, Clara akhirnya dipaksa melihat dirinya sendiri.
Bukan sebagai putri orang kaya.
Bukan sebagai gadis populer.
Tetapi sebagai manusia biasa yang harus belajar bertahan hidup.