Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api di balik tenang
Kemarahan Ravion bukanlah api yang meledak-ledak, melainkan bara yang membara di kedalaman paling gelap hatinya. Saat ia berdiri di lorong rumah sakit yang sepi, tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Jika bukan karena hukum yang masih menjeratnya sebagai pimpinan Arshaka Group, ia sudah memastikan Calista tidak akan pernah melihat matahari lagi.
Bagi Ravion, Calista bukan sekadar mantan kekasih yang cemburu; wanita itu adalah iblis yang merampas kebahagiaan yang baru saja ia jemput dengan susah payah dari pesisir utara. Kenyataan bahwa Elfesya kini menatapnya dengan pandangan formal sebagai "atasan" adalah siksaan yang lebih pedih daripada luka fisik manapun.
"Aku ingin dia membusuk," desis Ravion kepada pengacara dan detektifnya di ujung telepon. "Jangan biarkan ada celah untuk jaminan. Pastikan dakwaan percobaan pembunuhan berencana itu terkunci rapat. Aku ingin dia merasakan apa itu kehilangan segalanya, termasuk kebebasannya."
Setelah menutup telepon, Ravion menghampiri Elric yang sedang duduk lesu di kantin rumah sakit. Anak laki-laki itu tampak bingung dan sedih melihat kakaknya yang mendadak menganggap pernikahan mereka sebagai sebuah lelucon.
"Elric," panggil Ravion. Suaranya sudah lebih terkendali, meski raut lelah tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
"Kak Ravion... kenapa Kak El bisa lupa? Kenapa dia tidak ingat saat Kakak membantu kami di laut?" tanya Elric dengan mata berkaca-kaca.
Ravion duduk di hadapan Elric, meletakkan tangannya di bahu bocah itu. "Dokter bilang ini trauma, El. Otaknya hanya mencoba melindungi dirinya sendiri dari rasa sakit kecelakaan itu. Sekarang, dengarkan aku baik-baik."
Ravion menatap Elric dengan serius. "Jangan paksa dia untuk ingat. Jangan tunjukkan foto-foto pernikahan atau menceritakan soal hubungan kami sebagai suami istri untuk sementara waktu. Biarkan dia tenang. Jika kita menekannya, kondisinya bisa memburuk."
"Tapi Kak..."
"Tugasmu sekarang adalah sekolah yang rajin," potong Ravion tegas namun lembut. "Kembalilah ke asrama atau apartemen, belajar untuk ujianmu. Biar aku yang menjaga Kakakmu di sini. Aku tidak ingin dia merasa terbebani dengan status yang tidak dia ingat. Aku ingin dia jatuh cinta padaku lagi karena keinginannya sendiri, bukan karena paksaan kenyataan."
Elric mengangguk pelan. Ia mengerti bahwa pria di depannya ini sedang memikul beban yang sangat berat—menjadi orang asing bagi wanita yang sangat ia cintai.
Ravion kembali ke kamar rawat Elfesya. Ia menemukan Elfesya sedang mencoba duduk untuk meminum air. Dengan sigap, Ravion membantu menyangga punggungnya, namun ia segera menarik tangannya begitu melihat Elfesya sedikit tersentak karena canggung.
"Terima kasih, Pak Ravion," ucap Elfesya sambil memberikan senyum sopan—senyum yang dulu sangat ingin Ravion hapus, namun kini sangat ia rindukan kehangatannya. "Bapak tidak perlu sesering ini di sini. Saya tahu jadwal Bapak sangat padat. Saya merasa tidak enak selalu merepotkan bos saya."
Ravion tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung luka yang tidak terlihat. "Jadwalku tidak ada yang lebih penting daripada memastikan aset terbaik perusahaanku pulih, Elfesya."
"Bapak sangat berubah," gumam Elfesya tiba-tiba.
"Maksudmu?"
"Dulu, Bapak sangat dingin. Jangankan menjenguk, melihat saya di lorong kantor saja Bapak sering memalingkan muka," Elfesya tertawa kecil, tanpa sadar ucapannya menusuk hati Ravion. "Kecelakaan ini sepertinya membuat Bapak merasa bersalah karena saya tertabrak di depan apartemen Bapak."
"Mungkin lebih dari sekadar rasa bersalah," sahut Ravion. Ia berdiri di dekat jendela, menatap langit yang mulai beranjak senja. "Terkadang kita harus kehilangan sesuatu dulu untuk menyadari betapa berharganya hal itu."
Elfesya menatap punggung Ravion yang lebar. Ada perasaan familiar yang bergejolak di dadanya—rasa aman yang aneh, seolah ia pernah bersandar di punggung itu saat badai melanda. Namun, memorinya tetap kosong. Baginya, Ravion tetaplah sang CEO angkuh yang mendadak menjadi sangat baik hati.
Ravion membelakangi Elfesya agar istrinya tidak melihat matanya yang mulai basah. Ia harus bersabar. Ia harus menelan egonya sebagai suami dan kembali menjadi "Pak Ravion" yang berjarak. Namun di dalam kepalanya, ia sudah menyusun rencana untuk menghancurkan setiap orang yang membuat Elfesya menderita, sementara tangannya yang lain bersiap untuk merayu kembali hati istrinya dari titik nol.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...