NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Misi Kritis Sang Pembunuh

Sinar matahari pagi merayap pelan menuruni tebing-tebing curam Sekte Awan Mengalir, menembus kabut tipis yang menyelimuti Puncak Awan, dan akhirnya jatuh tepat di atas atap Dapur Luar. Melalui "Jendela Kekosongan"—lubang raksasa di atap yang kini disucikan—cahaya keemasan itu tersaring oleh Payung Nirwana Tanpa Bentuk, menghasilkan pendaran lembut yang tidak menyilaukan mata namun cukup untuk menghangatkan kulit.

Di dalam Dapur Luar, simfoni pagi telah dimulai. Suara gemericik air kaldu yang mendidih perlahan, desisan halus dari sayuran spiritual yang ditumis dengan teknik tanpa suara oleh Koki Kepala Wang Ta, dan tentu saja, dengkuran ritmis yang mengalun dari sudut barat laut.

Di ambang batas tirai sutra biru, berdirilah Bai Ling.

Sang 'Viper Tak Terlihat', pembunuh elit tingkat Pendirian Fondasi dari Sekte Gagak Hitam, kini mengenakan celemek kain kasar di atas jubah pelayannya. Tangan kirinya memegang sebuah kemoceng bulu ayam spiritual, sementara tangan kanannya... diam-diam mencengkeram erat pahanya sendiri di balik kain jubahnya, mencubit dagingnya sekeras mungkin hingga meninggalkan memar kebiruan.

Ia harus melakukannya. Rasa sakit fisik adalah satu-satunya jangkar yang menahan kesadarannya agar tidak hanyut ke dalam lautan kantuk yang mematikan.

*Sialan... racun mental apa ini?* Bai Ling merintih dalam hati. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya.

Berdiri hanya empat meter dari Ranjang Awan Mengambang tempat Lin Fan tertidur pulas berarti ia berada tepat di zona merah **Aura Kelesuan Menular**. Setiap tarikan napasnya terasa seperti menghirup dupa penidur dosis tinggi. Kelopak matanya terasa seolah digantungi bandul besi seberat sepuluh kati. Otot-ototnya yang terlatih untuk membunuh dalam sekejap mata kini memberontak, memohon dengan sangat menyedihkan agar ia menjatuhkan senjatanya dan berbaring di lantai batu yang dingin.

Bai Ling menggigit bibir bawahnya hingga mengecap rasa amis darah karat.

*Fokus, Bai Ling! Kau adalah pedang Master Sekte Gui Jue! Kau meminum bisa kalajengking sebagai sarapan saat berlatih! Kau tidak boleh kalah oleh dengkuran seorang pria pemalas!*

Ia memaksakan matanya untuk tetap terbuka lebar, menatap lurus ke arah siluet Lin Fan yang berkedip samar berkat efek Jubah Penolak Gangguan. Teringat akan misi pertamanya sebagai "pelayan pribadi", Bai Ling perlahan melangkah mundur, menahan napasnya.

Satu langkah... dua langkah... lima langkah.

Begitu ia melangkah keluar dari radius lima meter, beban tak kasat mata yang menghimpit jiwanya tiba-tiba terangkat. Paru-parunya meraup udara dengan rakus. Pikirannya yang tadi setumpul pisau berkarat kini kembali setajam silet. Namun, di sudut terdalam hatinya, ada setitik rasa kehilangan yang aneh—sebuah kerinduan patologis untuk kembali ke dalam zona malas tersebut. Bai Ling buru-buru menekan perasaan menjijikkan itu.

"Tugas pertama," gumam Bai Ling nyaris tanpa suara, matanya menyipit berbahaya. "Sebuah bantal guling. Panjang tepat satu setengah meter. Kelembutan setara dengan paha bayi."

Sebagai seorang pembunuh bayaran tingkat elit, otak Bai Ling dilatih untuk mendekode pesan rahasia, menganalisis jebakan, dan mencari makna ganda dari setiap kalimat targetnya.

*Tidak mungkin seorang monster tingkat tinggi menginginkan sesuatu yang begitu kekanak-kanakan dan fana,* analisis Bai Ling, berjalan keluar dari pintu belakang dapur menuju bayang-bayang pepohonan. *Ini pasti sebuah metafora. Sebuah ujian! 'Bantal Guling' melambangkan poros, pusat keseimbangan dari susunan meridian. 'Satu setengah meter' adalah ukuran presisi dari panjang gelombang energi tulang belakangnya. Dan 'Paha Bayi'...?*

Mata hitam Bai Ling membelalak saat pencerahan sinting menghantam otaknya.

*Paha bayi melambangkan kemurnian absolut! Daging yang belum tersentuh oleh dosa duniawi, selembut sutra surga! Beliau tidak sedang meminta bantal tidur! Beliau sedang mengujiku untuk mencari material spiritual paling murni di sekte ini guna menopang sirkulasi 'Tubuh Transparan Dao'-nya saat ia menyeimbangkan energi Yin dan Yang dari batu giok di bawah kakinya!*

Meyakini konspirasi buatannya sendiri, Bai Ling segera bergerak. Tubuhnya meleleh ke dalam bayangan pohon pinus, menggunakan teknik 'Langkah Bayangan Ular' milik Sekte Gagak Hitam. Ia tidak berjalan; ia meluncur di antara titik-titik gelap, menghindari patroli murid luar dengan keanggunan seekor predator mematikan.

Tujuannya hanya satu: Paviliun Logistik Tekstil, divisi bawahan dari Paviliun Harta Karun Langit yang mengurus pembuatan jubah dan perlengkapan tidur para Tetua.

***

Di dalam ruang kerja Paviliun Tekstil yang diterangi oleh mutiara berpendar, Master Penjahit Liu sedang sibuk memotong kain sutra laba-laba es. Ia adalah seorang pria paruh baya yang sangat teliti, dengan pita pengukur selalu terkalung di lehernya.

Tiba-tiba, lilin di sudut ruangan berkedip dan padam. Suhu udara anjlok.

Master Liu merinding. Ia mengangkat kepalanya dari meja potong, dan mendapati sebilah belati berwarna hitam pekat menempel tepat di urat lehernya. Hawa membunuh yang sangat dingin dan pekat mengunci seluruh pergerakannya.

"Jangan berteriak, atau kepalamu akan terpisah dari lehermu sebelum suaramu keluar," desis sebuah suara dari balik bayang-bayang di belakang punggungnya.

Master Liu menelan ludah, keringat dingin membasahi kerahnya. "S-siapa kau? Ini Puncak Utama! Berani sekali kau menyusup kemari!"

"Aku tidak di sini untuk nyawamu yang murah, Penjahit," ucap Bai Ling dingin. Ia sengaja melepaskan sedikit aura Pendirian Fondasinya untuk mengintimidasi pria malang itu. "Aku membawa titah dari Dapur Luar. Dari sang Eksistensi Kosong."

Mendengar gelar itu, mata Master Liu seketika terbelalak lebar. Teror di wajahnya digantikan oleh campuran antara ketakutan dan rasa hormat yang fanatik. "M-Master Lin?! Kau... kau adalah utusan dari Tanah Suci?!"

"Tutup mulutmu dan dengarkan," Bai Ling menekan belatinya sedikit lebih dalam, cukup untuk memberikan peringatan. "Master Lin membutuhkan sebuah objek silinder penyangga poros kultivasi. Benda fana menyebutnya 'Bantal Guling'. Panjangnya harus presisi: seratus lima puluh sentimeter. Tidak boleh kurang sehelai benang pun, atau energi kosmiknya akan bocor."

"S-seratus lima puluh sentimeter... b-baik! Hamba mengerti!" Master Liu gemetar.

"Dan yang terpenting..." suara Bai Ling menjadi semakin berat dan mengancam, seolah sedang menyampaikan resep senjata pemusnah massal. "Tingkat kelembutannya harus meniru kepadatan, elastisitas, dan kehangatan dari paha seorang bayi surgawi. Jika bantal itu terasa kaku, meridian Master Lin akan terganggu, dan sekte ini yang akan menanggung murkanya. Apa kau punya material murni seperti itu?!"

Master Liu berpikir keras, otaknya berputar di bawah tekanan belati di lehernya.

"Paha bayi surgawi... kemurnian absolut... kelembutan tanpa batas..." gumam Master Liu panik. Matanya kemudian tertuju pada sebuah kotak giok bersegel di lemari besi di ujung ruangan.

"Aku punya!" teriak Master Liu tertahan. "Sutra Perut Ulat Sutra Surga yang direndam dalam Susu Roh Sepuluh Ribu Tahun! Itu adalah material kain paling lembut yang pernah ada di benua ini! Dan untuk isiannya... kita bisa menggunakan Serbuk Sari Bunga Awan Kepingan Salju yang dicampur dengan Kapas Inti Bumi! Teksturnya akan membal dan selembut daging dewa, namun tetap padat menopang beban!"

"Kerjakan," perintah Bai Ling, menarik belatinya dan melangkah mundur ke dalam bayangan, meski auranya tetap mengunci ruangan itu. "Aku beri kau waktu setengah jam. Jika gagal, nyawamu taruhannya."

1
abyman😊😊😊
🤣🤣🤣💪
abyman😊😊😊
🤣🤣🤣🤭
Gege
idenya keren tiduran saja bisa ngalahin para ahli...epic dan apik..
Gege
temanya menarik..makin malas makin sakti...belom lagi hadiah hadiah yang diluar nalar... nabok nyilih tangan menang tanpo ngasorake sugih tanpo kerjo...🤣
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!