NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Hari Kiamat / Fantasi Timur
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.

Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?

kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

romansa klasik

Pagi itu, langit cerah dengan awan tipis berarak lambat. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dari hujan semalam. Lin Yan duduk di atap gedung pertokoan di pusat kota, kakinya menjuntai santai, permen lolipop rasa anggur di mulut.

Di bawahnya, sekelompok zombie level 2 sedang berjalan terseok-seok, tidak sadar ada pemangsa di atas kepala mereka.

Lin Yan melempar bola es kecil seukuran kelereng tepat mengenai kepala zombie paling depan. Zombi itu terhuyung, melihat ke kiri kanan, bingung. Bola es kedua mengenai zombie di sampingnya. Mereka mulai panik, saling dorong, tidak mengerti dari mana serangan datang.

【Kau sudah satu jam di sini. Cuma lempar bola es ke zombie?】

"Bukan cuma lempar. Aku lihat reaksi mereka." Lin Yan mengisap permennya. "Lucu. Mereka panik kayak ayam dikerumuni anak kecil."

【...Ini namanya main.】

"Iya. Emang lagi main." Lin Yan melempar bola es lagi, mengenai zombie yang paling besar. Zombie itu menggeram marah, tapi tidak tahu harus menyerang siapa. "Hari ini libur, sistem. Gak ada misi, gak ada kerja bakti, gak ada yang perlu dibersihkan. Biarkan aku bersenang-senang."

【Terserah. Tapi jangan terlalu lama.】

"Ya, ya, cerewet sekali kau"

Lin Yan baru saja akan melempar bola es berikutnya, ketika telinganya menangkap suara mesin. Beberapa kendaraan, mendekat dari arah timur. Ia menoleh, mata merah delima menyipit.

Dari balik gedung, tiga truk militer melaju masuk ke area perumahan. Di truk pertama, ia melihat sosok yang familiar yah siapa lagi Gu Beichuan di kursi penumpang, Hu Feng di belakang kemudi. Di truk kedua dan ketiga, pasukan bersenjata lengkap dengan senjata api dan perlengkapan evakuasi.

【Kelompok Gu Beichuan. Mereka datang untuk mengambil perbekalan di gudang logistik dekat sini.】

Lin Yan mengangguk, tidak terlalu tertarik. Tapi matanya tertangkap oleh satu sosok di truk kedua.

Seorang wanita dengan rambut hitam panjang sebahu, duduk di samping seorang prajurit, membawa tas ransel besar. Wajahnya segar, mata bulatnya berbinar-binar, sesekali menoleh ke kiri kanan dengan ekspresi penasaran.

"Lin Yuxi, ya?" gumam Lin Yan. "Dia ikut juga."

【Iya. Kemampuan ruangnya sudah aktif. Ruang penyimpanan 50x50 meter. Cukup besar untuk membantu misi logistik.】

"50x50? Lumayan. Tapi masih level awal, kan?"

【Iya. Masih perlu latihan. Dan stabilisasi emosi, kemampuan ruang sangat dipengaruhi kondisi mental.】

Lin Yan mengisap permennya, mengamati dari atas. Truk-truk itu berhenti di depan gudang logistik yang setengah runtuh. Pasukan turun, mulai membersihkan area dengan cepat dan teratur. Gu Beichuan langsung memimpin, memberi instruksi singkat.

Lin Yuxi turun dari truk, agak canggung. Ia berdiri di samping, tidak tahu harus mulai dari mana. Tangannya memegang ransel, sesekali membuka dan menutupnya, mencoba mengaktifkan kemampuan ruangnya.

Gu Beichuan berjalan mendekat. "Kau ikut tim kedua. Fokus pada barang-barang kecil seperti makanan kaleng, obat-obatan, perlengkapan medis. Jangan paksakan kalau kapasitas penuh."

Lin Yuxi mengangguk cepat, wajahnya sedikit memerah. "Baik, Komandan!"

Gu Beichuan sudah berbalik, melanjutkan tugas. Lin Yuxi menatap punggungnya sebentar, lalu buru-buru mengikuti tim.

Dari atas atap, Lin Yan menyaksikan semua itu dengan permen di mulut.

"Dan drama dimulai," gumamnya, sambil menyandarkan punggung di pembatas atap. "Episode hari ini: cewek cantik berusaha deketin pria dingin di tengah kiamat."

【Kau suka sekali mengomentari urusan orang.】

"Biarin, ini hiburan gratis. Lagipula, lebih seru dari film horor yang kemarin." Lin Yan mengambil permen baru dari saku, rokoknya masih disita. "Lihat, lihat. Dia nyoba nyimpen barang ke ruangnya."

Di bawah, Lin Yuxi berdiri di depan tumpukan makanan kaleng. Ia mengangkat satu kardus, mencoba memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan. Tapi konsentrasinya buyar, kardus itu jatuh ke lantai dengan suara berisik. Beberapa prajurit menoleh.

Lin Yuxi tersipu, buru-buru mengambil kardus itu. Kali ini, ia mencoba lebih perlahan, memejamkan mata, fokus. Kardus itu perlahan menghilang dari tangannya lalu masuk ke ruang penyimpanan. Ia tersenyum lega.

Hu Feng yang lewat bersiul kecil. "Wah, keren! Latihan terus, ya."

Lin Yuxi mengangguk malu, lalu melirik ke arah Gu Beichuan yang sedang berbicara dengan Chen Jie. Gu Beichuan tidak menoleh. Lin Yuxi sedikit kecewa, tapi segera fokus kembali ke tugasnya.

Lin Yan menggeleng dari atas. "Kasihan. Usaha mati-matian, yang dilihat malah cuek."

【Itu namanya profesional. Gu Beichuan sedang fokus tugas】

"Bukan profesional. Itu namanya beku." Lin Yan melempar bola es kecil ke udara, menangkapnya kembali. "Kalau aku jadi dia, aku sudah kasih senyum atau acungan jempol, biar ceweknya semangat. Sayang banget cewek cakep di anggurin"

【Itu kau, bukan Gu Beichuan. Lagipula, kau juga dingin sama orang lain.】

"Aku dingin karena malas, bukan karena beku." Lin Yan mengisap permennya. "Ada bedanya."

Di bawah, operasi berjalan lancar. Pasukan membersihkan zombie di sekitar gudang, sementara tim logistik memindahkan barang. Lin Yuxi mulai terbiasa dengan kemampuannya, gerakannya lebih cepat, lebih percaya diri. Sesekali ia melirik ke arah Gu Beichuan, dan setiap kali, ia tersenyum kecil sendiri.

Tapi di sela-sela itu, matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu di atap gedung seberang.

Sosok dengan kaos hitam duduk di pinggir atap, kaki menjuntai, permen di mulut. Rambut pendek berantakan tertiup angin, wajah tampan dengan fitur tegas, mata merah delima yang bersinar di bawah sinar matahari. Dari kejauhan, tidak ada tanda-tanda bahwa itu perempuan atau laki-laki dengan tinggi 175 cm, bahu bidang tapi tidak selebar pria pada umumnya. Yang terlihat hanya seorang pemuda tampan dengan aura malas yang misterius.

Lin Yuxi berhenti sejenak, mengerjap.

"Siapa itu?" gumamnya pelan.

Tapi sebelum ia bisa mengamati lebih lanjut, teriakan dari dalam gudang memecah konsentrasinya.

"ZOMBIE LEVEL 3! DI DALAM GUDANG!"

Kekacauan langsung terjadi. Tiga zombie level 3 keluar dari balik rak-rak penyimpanan, mata merah menyala, gerakan cepat dan terkoordinasi. Mereka langsung menyerang pasukan yang paling dekat.

Gu Beichuan bergerak cepat, petir biru menyambar-nyambar di tangannya. "Tim tempur maju! Tim logistik mundur ke belakang!"

Hu Feng menciptakan angin puyuh, mendorong zombie pertama ke dinding. Wang Lei menghantam zombie kedua dengan pukulan keras. Tapi zombie ketiga lolos, melompat ke arah tim logistik.

Lin Yuxi berdiri di depan, tidak sempat mundur. Zombie itu melompat, cakar terbuka lebar.

Dari atas atap, Lin Yan menghela napas. "Ganggu pemandangan."

Dengan gerakan malas, ia melempar tombak es bukan dari tangan, tapi dari udara di sampingnya. Tombak itu melesat, menusuk tepat di kepala zombie yang sedang melompat. Zombie itu roboh di depan Lin Yuxi, es-nya masih menempel di tengkorak.

Semua orang menoleh ke arah tombak itu, lalu ke atap gedung.

Lin Yan duduk di pinggir atap, kaki menjuntai, permen di mulut. Kaos hitam longgar berkibar tertiup angin, rambut pendek berantakan, mata merah delima menyipit malas.

"Pagi," sapanya datar. "Ganggu, ya? Lanjutkan saja."

Hu Feng bersiul. "Itu orang yang kemarin! Yang bantu kita di gudang!"

Wang Lei mengamati. "Dia dari tadi di atas sana?"

Chen Jie mengangguk. "Tampaknya dia mengamati kita."

Gu Beichuan menatap Lin Yan. Tidak marah, tidak terkejut—hanya tatapan yang dalam, seperti mencoba membaca sesuatu. Ia melangkah maju, berdiri tepat di bawah atap.

"Kau dari tadi di sana?"

Lin Yan mengangkat bahu. "Iya. Lagi main."

"Main?"

"Iya. Lihat zombie panik. Seru tau."

Gu Beichuan menghela napas, tapi sudut bibirnya naik sedikit. "Kau turun, Kami bisa bicara."

"Malas. Di sini nyaman." Lin Yan mengisap permennya. "Tugas kalian selesai? Cepetan ambil barang, nanti zombie lain datang."

Di bawah, Lin Yuxi masih berdiri di tempatnya, jantung berdebar kencang. Bukan karena zombie tadi, tapi karena sosok di atap itu. Dari bawah, ia bisa melihat lebih jelas.

Rambut pendek hitam berantakan, wajah dengan garis tegas, rahang tajam, mata merah delima yang bersinar di bawah sinar matahari. Leher ramping, hanya kaos oblong longgar yang memperlihatkan bentuk tubuh ramping tanpa lekuk yang jelas. Tinggi menjulang dengan postur yang membuat siapapun di sekitarnya tampak kecil.

Tampan. Sangat tampan. Tapi bukan tampan seperti Gu Beichuan yang maskulin dengan bahu lebar dan aura komandan. Ini tampan yang lebih... halus. Elegan. Dengan senyum malas dan tatapan mata yang tidak pernah serius.

Lin Yuxi merasa wajahnya memanas. Ia cepat menunduk, memegang ranselnya erat-erat.

Ini bukan waktunya, pikirnya. Aku harus fokus pada Komandan Gu. Dia yang menyelamatkanku. Dia yang memimpin kami. Dia...

Tapi matanya tanpa sadar melirik ke atap lagi.

Lin Yan sedang tertawa kecil menanggapi sesuatu yang dikatakan Hu Feng. Tawanya ringan, santai, memperlihatkan gigi putih di antara permen lolipop. Sinar matahari pagi menyinari rambutnya, membuat bayangan tipis di wajah tampannya.

Lin Yuxi menggigit bibir.

Tidak. Aku harus fokus.

Di atas, Lin Yan tidak sadar bahwa ia sedang menjadi objek perhatian. Matanya hanya tertuju pada Gu Beichuan yang masih berdiri di bawah.

"Kau mau ikut? " tanya Gu Beichuan tiba-tiba.

Lin Yan mengangkat alis. "Ikut apa?"

"Kerja sama. Kami butuh orang dengan kekuatan sepertimu."

"Kerja sama?" Lin Yan mengisap permennya, berpikir. "Nanti deh kalau ada misi yang seru. Yang ini terlalu biasa."

Ia berdiri, meregangkan tubuh. "Oh iya." Ia menunjuk ke arah Lin Yuxi yang masih menunduk. "Cewek itu tadi hampir kena. Jaga dia lebih baik, Komandan. Sayang kalau cewek cantik mati sia-sia."

Lin Yuxi mendongak, wajahnya merah padam. Gu Beichuan menatap Lin Yan sebentar, lalu mengangguk kecil.

"Aku ingat."

Lin Yan tersenyum malas yang khas lalu melompat dari atap. Bukan teleportasi, tapi lompatan biasa. Tubuhnya melayang di udara, lalu mendarat di atap gedung sebelah. Ia berlari, melompat lagi, menghilang di antara gedung-gedung.

Dari kejauhan, suaranya masih terdengar: "komandan, Cewek itu kasih bunga atau cokelat biar lebih romantis!"

Hu Feng tertawa terbahak-bahak. Wang Lei menggeleng. Chen Jie tersenyum tipis.

Lin Yuxi berdiri di tempatnya, wajahnya semakin merah. Tapi matanya tidak tertuju pada Gu Beichuan. Ia menatap ke arah sosok itu menghilang, jantungnya berdebar dengan cara yang tidak ia mengerti.

Gu Beichuan menoleh ke Lin Yuxi. "Kau tidak terluka?"

Lin Yuxi tersentak, cepat menggeleng. "T-Tidak, Komandan. Saya baik-baik saja."

"Bagus. Lanjutkan tugas." Gu Beichuan sudah berbalik, kembali memimpin operasi.

Lin Yuxi mengangguk, berusaha fokus. Tapi pikirannya melayang ke sosok dengan kaos hitam, permen lolipop, mata merah, dan senyum malas.

Siapa dia? pikirnya. Dia pria, kan? Pasti pria. Tinggi, rambut pendek, wajah tegas, dada datar...

Ia menggeleng cepat. Tidak. Aku tidak boleh berpikir seperti ini. Komandan Gu yang menyelamatkanku. Komandan Gu yang memimpin kami. Aku harus... aku harus fokus padanya.

Tapi matanya tanpa sadar melirik ke arah atap kosong itu lagi.

Di perjalanan pulang, Lin Yuxi duduk di truk kedua, memeluk ranselnya. Di depannya, Hu Feng dan beberapa prajurit sedang bercerita.

"Orang itu, Lin Yan namanya," kata Hu Feng. "Pernah ketemu beberapa kali. Kuat banget, tapi malas setengah mati. Pernah bantu kita di rumah sakit, di tambang, di gudang. Tapi kalau diajak kerja sama, selalu bilang 'nanti aja'."

Lin Yuxi mendengarkan dengan saksama. "Lin Yan? Dia... pria?"

Hu Feng mengangkat bahu. "Entahlah. Dari penampilan sih kayak pria. Tinggi, rambut pendek, suara netral. Tapi pernah lihat dia pakai baju agak... terbuka? Aku gak yakin."

Wang Lei menambahkan, "Yang jelas, dia bukan musuh. Dan dia kuat. Itu sudah cukup."

Lin Yuxi mengangguk, tapi pikirannya masih kacau.

Ia menoleh ke truk pertama, di mana Gu Beichuan duduk di kursi penumpang. Dari belakang, ia bisa melihat bahu lebar, postur tegas, aura pemimpin yang kuat. Pria yang ideal.

Lalu bayangan Lin Yan muncul di kepalanya. Tinggi ramping, wajah tampan dengan senyum malas, mata merah yang tidak pernah serius. Tampan dengan cara yang berbeda.

Siapa yang lebih...

Lin Yuxi menggigit bibir, memukul pipinya sendiri pelan.

"Aku harus fokus pada Komandan Gu," bisiknya.

Hu Feng yang mendengar menoleh. "Ada apa?"

"T-Tidak ada!" Lin Yuxi cepat menunduk, wajahnya merah.

Di dalam kastil, Lin Yan sudah berguling-guling di sofa, menunggu makan malam.

Di pangkalan militer, Gu Beichuan duduk di ruang komando, memikirkan senyum malas Lin Yan dan komentar terakhirnya: "cewek itu dikasih bunga atau coklat biar romantis." Ia menggeleng kecil, lalu melanjutkan membaca laporan.

Di tenda penyintas, Lin Yuxi duduk di ranjang darurat, memegang botol air mineral. Matanya menerawang, memikirkan dua wajah yang terus bergantian muncul di kepalanya.

Wajah Gu Beichuan yang tegas, dingin, penuh wibawa.

Wajah Lin Yan yang tampan, malas, dengan mata merah yang tidak pernah serius.

Ia menghela napas, memukul bantal.

"Aku harus fokus pada Komandan Gu," bisiknya. "Dia yang menyelamatkanku. Dia pemimpin yang baik. Dia..."

Tapi bayangan Lin Yan tetap tidak pergi.

Ia menutup mata, berusaha tidur. Tapi di dalam hatinya, ada kebingungan yang tidak pernah ia alami sebelumnya.

1
nana
apa nih, lin Yan itu cewek loh🤭
Herli Yani
wah wah wah luar biasa 🤭
XIA LING
bagus sih, cocok untuk orang yang suka protagonisnya pria nya telat jadi gak ketebak gittuu cerita nya
azka Heebat
double up thorr masih kurang /Sob/
nana
rekomendasi banget untuk peminat cerita kiamat, seru banget pokonya. soalnya si Lin yan ini kayak gila tapi sadar gimana ya dan ceritanya juga gak mudah di tebak, bagus pokoknya 🫶😍
nana
ceritanya bagus banget kak😍😍, maaf ya aku masih akun baru jadi gak bisa kasih gift 😭😭
Ellasama
up lagi dong, yg banyak y kak💪/Determined/
Weeks
thor jangan lupa update yaa 🤭
Weeks
Aku bakal rajin nunggu eps baru nya thor 🤭 semangat thor 💪
Weeks
seru banget cerita ny, wajib baca novel ini masa enggk baca padahal bagus loh 🤭
Ellasama
alurnya still good n selalu semangat buat karya dengan tema seperti ini👍🏻/Determined/
Ellasama
bagus👍🏻
Ellasama
makasih Thor udah up tetap semangat 💪/Determined/
Ellasama
kak kapan update lagi? dah gak sabar ni
Ellasama
semangat up ny jgn patah semangat pembaca setiamu ini akan selalu menanti dan terus mendukung dengan like Koment dan Gift 💪/Determined/
Ellasama
padahal novel ny sebagus ini tp kok gak ada yg baca y?/NosePick/
azka Heebat: iya bagus
total 1 replies
Ellasama
makin penasaran siapa yg jadi pasangan nya si Lin yan/NosePick/
Ellasama
yang s mangat💪
Ellasama
logika lurus yg patut dipertahankan di banyak novel bertema kan akhir dunia/Determined/
Ellasama
lanjut 💪 makin dibaca makin seru gila💪😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!