NovelToon NovelToon
The Happy A Villain

The Happy A Villain

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / TimeTravel / Chicklit / Tamat
Popularitas:349.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sisi Miring Petagon

Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.

Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?

Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?

Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja

27 Oktober 2020

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

WARNING TYPO BERTEBARAN

***

Melisa POV

“ Hebat” kata Elgartara memujiku membuatku binggung.

Elgartara merah ponselnya yang berada ditanganku. Dia membuka surat bukti persetujuan.

“ Aku muak dengannya karena tidak segera mengirim persetujuan ini. Dia pikir aku tidak memiliki kesibukan. Aku sabar menunggu karena 80% anak ingin pergi ke hutan musim. Aku sedikit menekannya dia menangis sungguh menyebalkan. Aku harus berbicara dengan nada lembut supaya tidak menangis. Sungguh dia seperti bayi berumur 1 tahun yang tidak bisa jalan” kata Elgartara mengomel.

Aku terkejut mendengar perasaan terpendam Elgartara dalam menghadapi Olivia. Aku pikir Elgartara dan Olivia merupakan pasangan serasi.

“ Aku tidak menyangka bahwa kamu punya unek-unek” kataku jujur.

“ Aku manusia” kata Elgartara ketus.

“ Aku tahu kau menusia hanya sikapmu kayak patung es” kataku mengejek.

“ Hmm” guman Elgartara.

“ Mengapa kau tidak mengatakan ini padaku?” tanyaku penasaran.

“ Dia tidak penting jadi tidak perlu dibahas” kata Elgartara cuek.

“ Kata orang kalau kau membencinya maka kau akan mecintainya. Siapa tahu kamu akan mecintai Olivia?” tanyaku.

Aku pernah membaca novel roman yang isinya mengenai benci terus jadi cinta. ‘Apa mungkin penulis memasukkan unsur ini dalam novel?’ pikirku. Aku membayangkan pertekaran-pertekatan kecil menyelimuti mereka. Hal ini terlepas pada fakta Olivia berkencan dengan om-om.

Sesuatu yang keras menyentuh dahiku. Aku merintih kesakitan melihat tajam kearah pelaku.

“ Jangan membayangkan yang aneh-aneh” kata Elgartara.

“ Aku tidak membayangkan yang aneh-aneh.. hanya membayangkan kamu sama Olivia saja” kataku jujur. Satu jari mendarat dikeningku. Aku mengusap keningku yang sedikit sakit.

“ Itu tidak mungkin” kata Elgartara tegas. Bunyi telepon Elgartara berdering kali ini Elgartara mengangkatnya.

“ Halo mr. Jo” kata Elgartara ramah. Elgartara memiringkan kepalanya padaku.

“ Cepat masuk... angin malam tidak baik” kata Elgartara lembut. kemudian Elgartara melanjutkan pembicaraannya dengan klainnya.

Aku masih belum beranjak kedalam yang mendapat tatapan tajam dari Elgartara. Aku hanya bisa menghelan nafas masuk kedalam. Aku masuk kedalam kapal dengan langkah kesal ‘bagaimana bisa semua rencanaku gagal... aku tidak bisa salah langkah atau nyawaku melayang... karena aku tidak memiliki tameng kuat melawan Elgartara” pikiranku yang dipenuhi pesimis.

“ Melisa..” panggil seseorang dengan nada lembut.

Aku menoleh mendapati wanita yang masih awet muda. Wanita anggun yang penuh pesona.

“ Ada apa tante” tanyaku.

“ Ikut tante” kata Ibu Elgartara mengandeng

Ibu Elgartara membawaku kekamar pribadinya. Kemudian beliau mengambil foto pernikahannya.

“ Melisa.. hari ini tante sangat senang.. karena kamu bakal menjadi bagian dari keluarga kami” kata Ibu Elgartara dengan tangis haru.

Aku merasa binggung harus merespon bagaimana. Aku tidak ingin menyakiti hatinya tapi aku juga tidak ingin terikat dengan Elgartara.  Aku mengusap air mata ibu Elgartara dengan senyuman.

“ Walaupun begitu pernikahan sangat berat... menjaga keruntuhan rumah tangga paling utama... sikap kalian berdua sangat bertolak belakang namun bisa saling melengkapi satu sama lain... Elgartara akan semakin mencintaimu kelak saat kalian resmi menikah” kata ibu Elgartara bahagia.

‘aku tidak peduli’ ingin rasanya bilang seperti itu. Aku tidak ingin menikah dengan Elgartara atau siapapun. Aku masih ingin bersenang-senang dan menikmati hidupku.

Aku tidak ingin terikat terlebih dahulu karena aku masih muda. Masih banyak hal yang ingin aku coba. Aku belum menorehkan prestasi didunia hanya rumor buruk yang beredang tentangku. Aku ingin menampar hatersku dengan prestasi.

Aku membuat gestur mengantuk untuk melarikan diri. Aku menambahkan gerakan lelah dengan sedikit memijit bagian leherku.

“ Melisa kalau capek tidurlah... ini sudah larut... tante akan bercerita lain kali” kata ibu Elgartara khawatir

“ Terimakasih tante” kataku.

Aku pergi dari kamar ibu Elgartara dengan wajah lelah. Saat aku sudah berada diluar senyum menghiasi bibirku.

“ Lebih baik aku nikah sama oren daripada sama Elgartara” gumanku.

“ Oren seekor hewan” kata seseorang dari belakang. Aku menoleh mendapati Elgartara yang sedang bersandar di dinding.

“ Terus” kataku ketus

“ Kau tidak bisa menikah dengan hewan” kata Elgartara santai.

“ Itu hanya perumpamaan betapa aku membencimu” kataku kesal.

“ Aku juga mencintaimu” kata Elgartara tulus.

“ Aku bilang aku membencimu” kataku kesal.

“ Benci artinya benar-benar cinta” kata Elgartara

“ Singkatan dari mana” kataku tidak percaya

“ Dari hati.. sudah malam... tidurlah” kata Elgartara lembut sambil mengacak-gacak rambutku. Aku membenarkan rambutku dengan jariku. Wajahku ditekuk dengan bibir manyun.

Aku berjalan memasukki kamarku dengan hati bimbang. Aku memejamkan mata menuju alam bawah sadar. Aku melihat Melisa sedang menyisir Toto dengan lembut.

“ Hah... mengapa Elgartara tidak menyerah saja...” kataku berbaring didekat Toto. Aku merasa lemas seharian harus memutar otak.

Toto menjilatiku dengan lidah kasarnya memintaku untuk semangat. Aku merasa geli dengan tindakan Toto. Aku memberikan usapan pada bulunya sebagai tanda cintaku.

“ Itu tidak ada dalam kamus Elgar” kata Melisa singkat.

“ Maka Elgartara akan menghambat pergerakanku...” Kataku lesu.

“ Bukankah kamu bilang akan memanfaatkan Elgar” kata Melisa.

“ Bukan ini yang kuinginkan... aku memanfaatkannya untuk memancing Olivia disekolah saja.. diluar itu aku tidak mau berurusan dengannya. Apalagi ternyata dia bosku.. ASTAGAAA” kataku mengeluh.

“ Kamu sangat membencinya?” tanya Melisa hati-hati.

“ Iya” kataku tegas.

“ Mengapa padahal kalian baru beberapa bulan kenal dengan Elgartara terlebih kamu menyukai tampangnya?” tanya Melisa penasaran.

“ Elgartara memang tampan tapi menyebalkan... aku masih ingat bagaimana dia menghinaku, merendahkanku, bahkan mefitnahku atas sesuatu yang tidak kulakukan” kataku marah menginggat kejadian episode 1 sampai 7.

“ Astaga... ternyata kamu tidak melupakan kejadian yang sudah berlalu padahal Elgartara mulai berubah” kata Melisa menasehati.

“ Apa maksudmu? saat dia masuk kedalam danau kemudian bilang aku mencintaimu terus dia menjadi suci tampa dosa gitu? Hahahaha.. semua orang bisa melakukannya” kataku remeh.

“ Memang susah berbicara dengan orang yang mengunakan otak dibandingkan hati... aku berharap salah satu dari Elgar, kak Rayhan atau Alex bisa membuka hatimu” kata Melisa.

“ Mengapa membawa-bawa mereka?” tanyaku tidak paham.

“ Karena mereka memberikan sinyal ketertarikan padamu” kata Melisa menjelaskan.

“ Itu tidak mungkin... tidak ada bukti bahwa mereka tertarik padaku” kataku cuek.

“ Hahahahaha.. sudah kuduga seorang Lisa pasti akan berbicara begitu.. harus ada bukti” kata Melisa mengejekku.

“ Memang sepertimu yang percaya omong kosong dari mulut lelaki” kataku kesal. Melisa tidak peduli dengan ejekkanku melajutkan menyisir bulu Toto.

 

Keesokan harinya asap membumbung tinggi tercium bau harum makanan. Melisa berada didapur bersama para koki dan ibu Elgartara. ibu Elgartara membanggunkan Melisa pagi-pagi untuk mengajariku memasak.

Melisa sebagai anak muda tidak bisa menolak apalagi ini ilmu. Melisa mengikuti intruksi yang diberikan ibu Elgartara. ibu Elgartara dengan sabar mengajariku. Kami sudah selesai dengan masakan yang sudah matang. Tinggal memberikan hiasan kecil untuk memberi keindahan. Selanjutnya segera dihidangkan.

Semua orang berkumpul dimeja makan. Makanan datang kami segera menikmati makanan dalam diam. Setelah menyicipi makanan ibu Elgartara meminta komentar. Aku telah berganti jiwa dengan Melisa merasa ragu dengan hasil masakan Melisa.

“ Ini masakan Melisa bagaimana rasanya” kata Ibu Elgartara semangat.

“ Enak sekali masakan putriku” kata ayah memujiku.

“ Makasih ayah” kataku senang.

“ Enak.. hanya saja sedikit asin” komentar ayah Elgartara.

Aku memakan masakan yang kubuat sendiri. Satu suapan masuk kedalam mulutku. Aku segera menelannya kemudian meminum air digelas hingga tandas. Tindaknku membuat semeja menahan tawa kecuali Elgartara yang tertawa lepas.

“ Itu sangat asin.. bukan sedikit asin” kataku mengomel.

“ Dasar Melisa bukan buat makanan tapi buat racun” kataku mengomel tidak karuan. Aku kesal Melisa merusak awal hariku dengan makanan asin. Aku merasa sedih dengan kemampuan patnerku yang mendekati nol.

“ Kurasa kau harus ikut les memasak” kata Elgartara menyarankan.

“ Tidak... terimakasih” kataku langsung menolak.

“ Ayah rasa belajar masak bisa meningkatkan kemampuanmu” kata ayah menyetujui saran Elgartara.

“ Seperti ayah bisa memasak saja” kataku menyindir. Ayah bungkam seribu bahasa mendengar sindiranku.

“ Melisa ini baru pertama kalinya kamu memasak nanti kalau sudah terbiasa masakanmu pasti melebihi koki bintang lima” kata ibu Elgartara menyemangati.

“ Kalau bisa masak itu bisa hemat pengeluaran” kata Elgartara

“ Orang bisa masak atau gak bisa memasak itu akan sama saja kalau sudah memengang uang yang jumlahnya pas-pasan” kataku ketus yang dibalas gelegan kepala Elgartara.

“ Melisa... sifat boros bisa diminimalis melalui hal-hal kecil seperti memasak. Kita hanya perlu mengeluarkan uang untuk membeli bahan saja... itu lebih hemat” kata Elgartara menasehati.

“ Lalu memangnya aku mau menikah denganmu?” tanyaku kepada Elgartara.

Seluruh pasang mata melihat kearah kami dengan pandangan bertanya. Aku melihat Elgartara tampak sedikit panik. Aku meneruskan saja perasaan terpendamku.

“ Aku menikah denganmu karena kamu tampan dan kaya kalau tidak maka akan kutinggal kau ditrotoar jalanan supaya kamu bisa mati membusuk” kataku menatap kebencian pada Elgartara.

“ Untungnya aku punya segalanya jadi kau tidak bisa melakukannya” kata Elgartara angkuh.

“ Untuk sementara iya tapi kita tidak tahu kedepannyakan” kataku mengejek.

“ Aku akan tetap diatas” kata Elgartara sombong.

Kami menatap bagaikan musuhan. Orang tua kami menatap sebaliknya mereka berpikir kami sedang mengakrapkan diri.

Terutama ibu Elgartara yang membayangkan punya cucu dari dua orang yang sedang bertengkar.

Sedangkan Melisa tertawa atas cita rasa masakan yang dibuatnya. Melisa tidak menyesal telah memasukkan 1 toples garam kedalam masakannya. Melisa memikirkan membuat sebuah masakan dimana campuran antara keju, coklat, pare, apel, durian, nangka, telur, ayam kedalam sup lodeh.

“ Pasti menajupkan semua orang akan bolak-balik kekamar mandi” kata Melisa yang tersenyum jahat. Tota yang medengar rencana jahat majikannya hanya bisa bersabar. Toto merasa tidak kuat memiliki majikan yang otaknya telah bergeser 90 derajat dari asalnya.

 

Aku melihat satu unit mobil hitam terparkir rapi. Aku masuk kedalam mobil dengan cepat kemudian disusul Elgartara. Aku melotot tidak suka dengan tindakannya.

“ Mengapa kamu masuk?” tanyaku ketus.

“ Sekolah” kata Elgartara singkat

“ Keluar.. ini mobil yang mengantarku kesekolah” usirku

“ Ini mobilku” kata Elgartara

“ Bukan mobilmu warna putih bukan hitam” kataku

“ Aku membelinya memakai uangku” kata Elgartara

“ Baiklah” kataku beranjak pergi namun pintu mobil sudah terkunci.

“ Loh.. kok macet” gumanku kesal.

“ Itu terkunci otomatis” kata Elgartara santai.

“ Keluarkan aku dari sini!” perintahku kepada Elgartara.

“ Tidak bisa karena kita berangkat sekolah bersama” kata Elgartara cuek.

“ Anda salah makan” kataku menghina Elgartara.

“ Aku habis makan makanan rasa garam buatan Melisa” kata Elgartara santai.

‘Skak mat’

Satu kata yang mewakili keadaanku sekarang. Aku menghelan nafas panjang untuk mengendalikan emosiku. Tiba-tiba mobil berjalan melambat seperti siput.

“ Ada apa pak?” tanyaku penasaran.

“ Sepertinya macet non” kata pak supir.

“ Aduh telat” kataku cemberut.

Aku tidak mau mendengarkan ceramah atau dihukum. Aku juga tidak bisa bolos sekolah karena hari ini pembagian tema festival. Tiba-tiba Elgartara keluar mobil saat mobil kami benar-benar tidak bisa bergerak. Elgartara membuka bagasi mobil mengeluarkan sebuah sepeda lipat.

“ Ayo” kata Elgartara santai. Aku turun dari mobil menuju Elgartara.

“ Kau punya satu sepeda lagi?” tanyaku

“ Tidak.. cepat naik nanti terlambat” kata Elgartara.

Aku duduk dibelakang dengan Elgartara yang mengayuh. Kami berjalan dijalur pesepeda.

“ Jarak kesekolah masih lumayan jauh jadi nanti kita gantian saja” kataku menawarkan diri. Aku tidak bisa menjadi beban bagi Elgartara.

“ Tidak.. aku kuat membawamu ke sekolah bahkan keliling dunia” kata Elgartara ranyah.

‘Entah mengapa aku merasa Elgartara merasa senang’ pikirku.

“ Candamu garing” kataku menangapi perkataan Elgartara.

“ Setidaknya meningkat” kata Elgartara percaya diri.

“ Apa maksudmu?” tanyaku

“ Aku bukan lagi patung es atau kulkas dua belas pintu” kata Elgartara yang berhasil membuatku tertawa. Aku memang sering menghinanya dengan kata itu.

“ Benar... sedikit sekali...” kataku membalas.

“ Diantara skala 1 sampai 10 aku menempati angka berapa?” tanya Elgartara.

“ 0,25” kataku cepat.

“ Itu bahkan jauh dari angka 1” kata Elgartara terkejut.

“ Itu berdasarkan intensitas kata yang kamu keluarkan dalam satu jam” kata mengira-ira.

“ Itu maksud akal” kata Elgartara menanggapi.

Aku melihat adanya gerombolan orang dengan pemadam kebakaran, polisi lalu lintas dan ambulan sedang melakukan evakuasi. Aku melihat terjadinya kecelakaan lalu lintas yang parah dijalan tol.

“ El... lihat” kataku mengarahkan jari telunjukku kearah kecelakaan.

“ Ada kecelakaan kita lihat” kataku kepada Elgartara. Elgartara menghentikan sepeda. Aku segera turun menghampiri area kecelakaan.

“ Ada apa?” Tanyaku kepada salah satu warga.

“ Ada kejar-kejaran antar mobil dengan geng. Kemudian ada truk datang salah satu dari geng montor kehilangan keseimbangan yang membuat Truk menghidar mengakibatkan truk oleng. Truk akhirnya terbalik dengan beberapa mobil dibelakang truk menabrak trik karena tidak bisa mengerem” kata salah satu warga menjelaskan.

“ Bagaimana keadaannya?” tanyaku penasaran.

“ Supir dan pengendara mobil lainnya selamat dengan luka ringan sedangkan satu orang dari geng montor dibawa kerumah sakit dengan luka-luka sedang.” kata salah satu warga.

“ Syukurlah” kataku lega.

“ Ayo nanti telat” kata Elgartara lirih.

Aku memberikan ucapan terimakasih dan pamit kepada salah satu warga yang bersedia membeberkan informasi. Aku penasaran siapa korban kecelakaan ‘ geng itu hanya dua IZ atau BS? Tapi kurasa BS karena Elgartara tampak santai’.

Kami sampai disekolah sudah telat 15 menit. Bu Tia menjaga gerbang dengan galak membuat semua orang merinding sedangkan aku muak. Aku bersyukur berangkat bersama Elgartara karena dia bisa membawaku masuk. Sehingga aku tidak perlu perang omongan dengan ayam tak berotak.

‘Tapi enak ayam beneran’pikirku.

Aku berjalan masuk kedalam gedung dengan diam. Elgartara berubah menjadi kulkas dua belas pintu. Aku memutar bola mataku melihat tindakan Elgartara yang aneh. Aku masuk kedalam gedung terlebih dahulu. Tiba-tiba sebuah tangan menarikku kebelakang. Tanganku menatap dada bidangnya. Sebuah air turun kebawah dengan deras. Aku shock dengan apa yang barusan terjadi.

Aku akan basah kuyup bila terkena air. Aku mencium bau sabun dengan air yang keruh mengalir dilantai. Aku mendongkrak untuk melihat pelakunya. Aku melihat amarah yang terukir dalam sorot matanya. Kebencian yang semakin besar menumpuk dikedua bola mata.

Aku melihat Olivia yang sengaja menyiramku dengan air bekas pel. Ekspresi terkejut terukir diwajahnya tidak singkron dengan sorot mata kesal. Aku semakin merapatkan badanku dengan badan Elgartara untuk membakar api cemburu Olivia.

***

1
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Hikam Sairi
mampir
Sulati Cus
bagus walaupun ada typo tp ak suka, sukses buat othor
Inonk_ordinary
wooooowww syukaaaaaa
Arshyla_17
Seru bgt deh... Semoga Slalu semangt ya author😊
est
suka
est
😭 aku sedih thor melisa ma cogan yg baik aja jgn ma di gara2 apa kek
Silvya Devy
Karyamu luarbiasa Thor. 😘😘😘😘
Fikayra
Sumpah ceritanya suka bikin nyesek tp aku suka banget alurnya. . aku bacanya smpe maraton 2hr dari awal sampe selesai sumpah banjir air mata, melisa bener2 wanita tangguh bahkan dy bisa jungkir balikin kehidupan elgartara dari yg gk paham akan kisah hidup melisa smpe sebuah kebenaran membuat penyesalan dihidup elgartara. .perjuangan elgartara dan melisa bener2 nguras emosi dan banjir air mata. .👍🏻👍🏻👍🏻
Hasan
maaf thor bukannya sewaktu sebelum menempati tubuh melisa tuh jiwa lisa lg mengambil s2 ya jd kok setelah menempati tubuh melisa yg seharusnya msh sekolah pinternya jd berkurang jauh ya? 🤔🤔
Ida Blado
org sakit hati yg stres itulah reyhan,,,kasihan kmu
Ida Blado
q pikir bkl bisa nampar reyhan dgn fakta,,,, ternyata mlh nangis bombay,,cemen
Ida Blado
lalu apa gunanya vidio yg tersebar itu kalau gk bisa jdi bujti,,, di sini keprofesionalnya si penulis di pertanyakan
Ida Blado
sukurin loe El,,, bahagia gue loe sakit hati 😂
Ida Blado
di sini mulai aneh,bagaimana bisa org udah mati masih menempati tubuhnya.melisa oke krn dia transmigrasi,,, lah melisa yg asli kn udah mati,kok masih nempatin tubuhnya,,,konyol
Ida Blado
cerita ini sebenernya bagus andai alurnya ttp stabil,,,,namun di part2 berikutnya sgt di sayangkan,dimana melisa yg di fitnah dn gk bisa m^nunjukan bukti alias banyak drama.terlebih jdi buronan dn perusahaan bpk'a bermasalah,,, nah di situpah alurnya amburadul jauh dri ekspektasi.
Eka Maulidia
p
Sri Rahayu
seruuu.....
Yaya Cici
seneng nya
Siti Nurain
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!