Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Kecewa
"Don, bagi duit buat beli beha!"
Doni belum juga melepas sepatu kerjanya tapi Nita dengan santainya sudah menodongnya untuk meminta uang.
"Gue tuh baru nyampai rumah lho, Nit! Bikinin teh dulu kek atau apa kek, bukan langsung main todong kayak preman gitu!"
"Itu teh tinggal dituang, makanan juga udah aku siapin, manja amat sih segala-gala minta diladeni!" omel Nita sambil meraup camilan dalam toples.
Doni melirik kesal, sejak Nita hamil kemolekan tubuhnya perlahan memudar. Berat badannya naik secara drastis karena napsu makannya semakin menggila seiring bertambah usia kehamilannya.
"Behaku tuh udah sesek semua, rasanya ngap banget kalau dipakai buat bernafas! Kamu nggak ngrasain sih gimana perjuangan ibu hamil itu!" Nita semakin mengoceh membuat kuping Doni semakin panas.
Doni sudah menyisihkan sebagian pendapatannya untuk Nita, uang sebanyak itu harusnya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga plus kebutuhan kehamilan Nita itu.
"Kan aku juga udah kasih kamu nafkah, uang segede itu masa nggak cukup?" tutur Doni mencoba bersabar.
"Sepuluh juta dan semua-semua aku yang harus nanggung! Susu bumil aja udah berapa, Don!" ketus Nita sambil melirik Doni judes.
"Gue dulu mempunyai kesepakatan dengan Amel, kalau gue bakalan ngasih nafkah ke dia sebesar itu! Kalau Amel bisa kenapa lo nggak bisa?" Doni mulai terpancing dengan emosi Nita.
"Itu kan kesepakatan lo sama dia! Gue nggak mau lo sama-samain sama dia! Kenapa sih suka sekali ngebandingin gue sama dia! Gue bini lo sementara dia hanya mantan lo!" Nita berteriak kesal membalas teriakkan Doni tadi.
"Ash, emang lo beda ama dia! Mau dibandingin seperti apa juga lo beda jauh ama dia! Brengsek, gue jadi males diem di rumah!"
Tanpa mengganti pakaian kerjanya Doni memilih pergi meninggalkan rumah dan memacu mobilnya tak tentu arah.
Pernikahan Doni dan Nita baru terjadi tak lebih dari dua bulan, tapi prahara rumah tangga mereka bahkan telah mulai sejak mereka menikah waktu itu.
"Brengsek, brengsek!" Berulang kali Doni memukul kemudi mobilnya untuk melampiaskan amarahnya sambil menjalankan mobil itu tanpa tujuan.
Doni baru terhenyak saat dia menyadari keberadaannya. Dia telah sampai di dekat perumahan tempat Amel tinggal.
Doni berhenti sejenak dan menimbang. Pada akhirnya Doni tetap masuk ke dalam perumahan itu untuk sekedar melihat rumah Amel.
Doni merasa hanya dengan melihat rumah itu, segala emosi dan bebannya bisa sedikit terurai.
Doni berhenti tak jauh dari rumah itu. Keningnya berkerut saat melihat lampu di rumah itu semuanya menyala.
"Amel ada di rumah? Dia udah pisah rumah sama si Revanoll?" gumam Doni dengan perasaan bahagia.
Revanoll adalah nama yang disematkan Doni untuk suami Amel itu. Saking benci, kesal dan kecewanya Doni karena Revan mencuri Amel dari sisinya.
"Bang, beli, Bang!" teriak Amel ke penjual mie tektek yang lewat di depan rumahnya.
"Eh Neng Amel! Balik rumah lagi, Neng?" sapa abang penjual tek-tek itu ramah.
"Iya, Pak! Aku sama suamiku tinggal di rumah ini!" Amel tersenyum sampai mata sipitnya tinggal segaris doang.
"Wah Abang jadi hepi nih, langganan Abang balik lagi!" Si Abang mulai meracik bahan untuk membuat mie kesukaan Amel.
"Satunya biasa, satunya lagi nasgor cabe satu ya, Bang!" pesan Amel berdiri di samping si Abang sambil memperhatikan si Abang memasak.
"Ney..." Revan muncul dari dalam rumah.
"Ini suamiku, Bang!" Amel mengenalkan Revan kepada Abang itu.
"Wah, suami Mbak Amel ganteng!" puji si Abang sambil tangannya cekatan menyiapkan pesanan Amel.
Amel kembali tertawa sambil Revan memeluk leher Amel dari belakang.
"Kalau nggak ganteng, aku juga nggak mau!" bisik Amel yang hanya bisa didengarkan oleh Revan.
"Jago banget ngegombal sekarang!" bisik Revan tepat di telinga Amel yang membuat Amel merinding dibuatnya.
Si Abang senyum-senyum sendiri menyaksikan kemesraan itu.
Berbeda dengan Doni yang dibuat meradang dengan pemandangan di depannya itu.
"Apa sih kelebihan si Revanoll itu dibandingin gue yang asisten manager sampai Amel kelihatan bucin gitu! Pengangguran, nggak ada kerjaannya sama sekali! Paling dia gantungin hidup sama Amel!" omel Doni dengan wajah tegangnya.
Doni masih terus menatap kebersamaan Amel dan Revan. Sampai Doni melotot tak percaya saat Revan mengeluarkan dompetnya dan membayar makanan itu.
"Cuman empat puluh ribu doang, gue juga mampu kali!" celetuk Doni ke dirinya sendiri.
Doni memperhatikan keduanya sampai mereka masuk kembali ke rumah itu.
Doni menyaksikan bagaimana Revan memperlakukan Amel dengan manis. Revan bahkan rela mondar-mandir membawakan dua piring pesanan mereka ke dalam rumah, lalu Revan pula yang mengunci pintu gerbang itu.
Doni meletakkan keningnya ke atas kemudinya. Dia kecewa karena telah mengecewakan Amel hingga Amel terlepas dari genggamannya.
Andai saja waktu bisa diputar, Doni ingin merubah semua tingkah lakunya kepada Amel.
Doni pasti akan lebih pengertian, sayang dan meratukan Amel. Tapi sayang waktu tetap berjalan sesuai detaknya tanpa bisa diputar ke belakang lagi.
Demi menekan rasa kecewanya itu Doni memilih meninggalkan rumah itu dan melanjutkan perjalanan ke rumah orang tuanya.
Begitu tiba di sana, Doni disambut wajah jutek mamanya. "Kenapa kamu? Berantem lagi?" tanya Asri melihat wajah kusut anak lelakinya tersebut.
"Pusing, Ma!" adu Doni.
"Lagian kamu tuh bodonya kebangetan, Don! Udah bagus-bagus dapet Amel yang mapan, eh malah milih perempuan nggak jelas kayak gitu!" Asri bukannya khawatir tapi malah mengomeli Doni yang...memang bodoh sih.
Doni hanya bisa menundukkan kepalanya dalam karena memang apa yang diucapkan mamanya itu benar adanya.
"Doni tuh bingung, Ma! Uang sepuluh juta di tangan Nita kenapa nggak jadi apa-apa ya?"
"Ya istrimu itu boros sih, nggak mau masak, segala makanan dibeli, namanya juga jajan pastilah uang segitu nggak cukup!" omel Asri ikutan kesal dengan tingkah menantunya yang sangat kelewatan di mata Asri itu.
Tak hanya sekali atau dua kali Asri memergoki Nita itu menghambur-hamburkan uang Doni untuk jajan dan membeli barang yang tak begitu penting.
"Kamu harus bisa mendidik istrimu dengan baik, jangan sampai sifat buruknya itu berkelanjutan sampai anak kalian lahir!" tegur Asri lagi.
"Apa nanti kalau anak Doni udah lahir, Doni ceraiin aja si Nita ya, Ma? Siapa tahu nasib baik berpihak sama Doni dan Doni bisa bersama-sama lagi sama Amel!"
"Terserah sih, Mama setuju aja sama keputusan kamu, karena Mama juga males lama-lama lihat istri kamu yang malas dan boros itu!" ucap Asri santai.
Doni tersenyum karena mamanya ternyata masih sepeduli itu terhadapnya meskipun Doni sempat mengecewakannya.