Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Perjalanan pulang terasa cukup panjang bagi Nara. Setelah beberapa hari menikmati suasana tenang di Bali, kembali ke rutinitas terasa sedikit aneh. Namun saat mobil yang membawa Nara akhirnya berhenti di depan rumah, Nara justru merasa lega.
Rumah itu masih terasa sama seperti terakhir kali Nara tinggalkan, tenang, rapi, dan terasa nyaman.
Begitu pintu rumah terbuka, Nara langsung melangkah masuk lebih dulu. Ia menaruh tasnya di sofa ruang tamu lalu berjalan menuju ruang tengah. Baru beberapa langkah, Nara tiba-tiba berhenti.
Matanya langsung tertuju pada beberapa koper besar yang sudah berjajar rapi di dekat tangga.
Nara berkedip beberapa kali.
“Itu….” Nara berjalan mendekat dengan langkah cepat, lalu membuka salah satu koper.
Benar saja. Isi koper itu adalah barang-barang yang ia beli di Jepang beberapa waktu lalu, pakaian, tas kecil, beberapa kosmetik, sampai oleh-oleh yang bahkan sempat Nara pikir mungkin akan terlambat sampai.
“Seriusan sudah sampai?” gumam Nara pelan.
Nara membuka koper lain. Isinya juga sama. Semua barangnya tersusun rapi seperti saat terakhir kali Nara kemas.
Arkan yang baru saja masuk ke dalam rumah melepas jaket dengan santai, seolah tidak ada hal yang aneh.
Nara menoleh cepat. “Koper ini dari Jepang?”
Arkan menatapnya sekilas.
“Iya.” jawab Arkan santai
Nara masih terlihat tidak percaya. “Semua sudah sampai?”
Arkan mengangguk ringan. “Sudah dari kemarin.”
Nara langsung menutup koper itu dengan wajah puas. Senyum lebar muncul di wajahnya.
“Cepat juga.” kata Nara.
Arkan berjalan melewati Nara menuju dapur untuk mengambil air minum.
“Memang sudah dijadwalkan.” kata Arkan.
Nara menyilangkan tangan sambil memperhatikan koper-koper itu lagi. Ia benar-benar merasa puas.
Selama ini ia tidak pernah terlalu memikirkan soal pengiriman barang. Biasanya selalu ada drama, barang terlambat, hilang, atau datang dalam kondisi tidak sempurna. Tapi kali ini berbeda. Semua sampai lebih dulu bahkan sebelum ia pulang.
Nara berjalan mengikuti Arkan ke dapur.
“Kinerja suamiku bagus juga,” kata Nara santai.
Arkan yang sedang menuang air hanya mengangkat alis. “Bagus juga?” tanya Arkan.
Nara mengangguk serius. “Iya. Barang dari Jepang sampai lebih cepat dari aku.”
Arkan meneguk airnya dengan tenang. “Itu hal biasa.”
Nara langsung menggeleng. “Tidak biasa.”
Arkan menatap Nara sebentar. “Kenapa?”
Nara bersandar di meja dapur sambil menatap suaminya. “Biasanya kalau kirim barang dari luar negeri itu ribet. Kadang lama, kadang hilang.”
Arkan mengangguk pelan. “Itu kalau kirim biasa.”
Nara mengerutkan kening. “Memangnya kamu pakai apa?”
Arkan menjawab dengan santai, “Logistik perusahaan.”
Nara langsung menatapnya tajam. “Perusahaanmu juga punya logistik?”
Arkan terlihat berpikir sejenak. “Beberapa.”
Nara menutup wajahnya sebentar dengan kedua tangan. Beberapa detik kemudian ia menurunkan tangannya dan menghela napas.
“Kadang aku lupa kalau aku menikah dengan orang yang… terlalu kaya.” kata Nara yang membuat Arkan tersenyum tipis.
Nara lalu menunjuk ke arah ruang tengah. “Tapi aku suka bagian ini.”
“Bagian apa?” tanya Arkan.
“Barang belanjaanku selalu sampai dengan selamat.” kata Nara , Arkan tertawa kecil. Nara ikut tersenyum.
Nara kembali melihat koper-koper itu dengan ekspresi puas. Di dalam hatinya ia benar-benar merasa senang. Semua barang yang ia pilih dengan hati-hati selama di Jepang akhirnya sampai dengan aman.
Namun lebih dari itu, ada satu hal yang membuatnya semakin yakin. Menikah dengan Arkan mungkin penuh kejutan. Kadang mengejutkan, kadang membuatnya tidak percaya. Tapi sejauh ini, satu hal tidak pernah berubah. Semua hal yang menyangkut Nara selalu Arkan urus dengan sangat baik.
Nara kemudian duduk santai di sofa ruang tamu setelah selesai memeriksa koper-kopernya. Rumah terasa tenang, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar lembut. Setelah beberapa hari bepergian, akhirnya ia bisa benar-benar bersantai.
Nara mengambil ponselnya yang tadi ia letakkan di meja. Tepat saat itu, ponselnya berdenting. Satu pesan masuk. Nama Sandra muncul di layar.
Nara langsung membuka pesan itu. Biasanya kalau Sandra mengirim pesan seperti ini, pasti ada sesuatu yang menarik, atau lebih tepatnya, sesuatu yang sedang ramai dibicarakan. Dan benar saja. Sandra tidak mengirim teks apa pun, hanya sebuah gambar tangkapan layar dari sebuah berita online.
Nara memperbesar gambar yang dikirim Sandra, judulnya langsung membuat alis Nara terangkat.
“Seorang Influencer Ternama Ternyata Hamil dan Menyembunyikan Kehamilannya. Siapa Ayah dari Anak Karina?” Di bawah judul itu terdapat foto seorang wanita yang sangat dikenal publik yaitu Karina, seorang influencer yang cukup terkenal di media sosial. Wajahnya sering muncul di berbagai iklan, acara fashion, dan konten gaya hidup.
Namun yang membuat berita itu semakin ramai adalah kalimat di bawahnya. “Nama seorang pengusaha muda kini dicurigai sebagai ayah dari anak yang dikandung Karina.”
Nara membaca artikel itu lebih teliti. Isi beritanya penuh dengan spekulasi. Tidak ada bukti yang jelas, hanya dugaan dari beberapa akun gosip yang mengaku pernah melihat Karina bersama seorang pria kaya beberapa bulan lalu.
Nara sedikit mengernyit. Ia tahu bagaimana dunia influencer dan media gosip bekerja. Kadang berita bisa membesar hanya karena satu foto atau satu rumor kecil. Namun tetap saja, berita seperti ini pasti akan langsung viral. Apalagi jika menyangkut seseorang yang terkenal.
Ponsel Nara kembali berdenting. Kali ini pesan dari Sandra muncul di bawah gambar yang tadi ia kirim.
“Kamu lihat ini?” isi pesan dari Sandra.
Nara mengetik balasan singkat. “Baru lihat.” dan Nara menekan tombol kirim.
Beberapa detik kemudian Sandra langsung membalas lagi. “Ini lagi rame banget sekarang.”
Nara kembali melihat gambar berita itu. Nama Karina memang sangat terkenal. Pengikutnya di media sosial mencapai jutaan. Kontennya selalu tampil sempurna, cantik, glamor, penuh gaya hidup mewah. Berita seperti ini tentu akan langsung menjadi bahan pembicaraan.
Nara menggulir layar ponselnya lagi. Di bawah artikel itu ada beberapa potongan komentar dari netizen yang semakin membuat rumor berkembang. Ada yang menebak-nebak siapa pengusaha muda yang dimaksud. Ada yang mengaitkannya dengan beberapa pria terkenal. Ada juga yang bahkan sudah mulai menyebarkan teori sendiri.
Nara menghela napas pelan. “Netizen memang cepat sekali,” gumam Nara.
Arkan yang sedang berjalan melewati ruang tamu menoleh sedikit. “Kamu bicara apa?” tanya Arkan.
Nara mengangkat ponselnya. “Berita gosip.”
Arkan tampak tidak terlalu tertarik.
“Siapa lagi?” tanya Arkan.
Nara membaca lagi judul berita itu sebelum menjawab, “Influencer. Namanya Karina.”
Arkan tidak memberikan reaksi khusus. Ia hanya berjalan menuju dapur seperti biasa.
Namun Nara masih memperhatikan layar ponselnya. Ia memperbesar bagian artikel yang menuliskan kalimat itu lagi.
“Seorang pengusaha muda dicurigai sebagai ayah dari anak yang dikandung Karina.”
Nara mengerutkan kening sedikit. Berita itu memang tidak menyebut nama siapa pun secara langsung. Namun kalimat seperti itu jelas sengaja dibuat untuk memancing spekulasi. Dan biasanya, jika rumor seperti ini sudah mulai viral, tidak akan butuh waktu lama sampai nama seseorang benar-benar terseret.
Ponsel Nara kembali berbunyi. Sandra mengirim pesan lagi.
“Ini maksud Karina apa yah?”
Nara berpikir sebentar sebelum menjawab. Nara memang sempat curhat ke Sandra soal Karina.
Belum sempat membalas, pesan dari Sandra kembali masuk, “Katanya pengusaha yang dimaksud itu orang yang cukup terkenal juga.”
Nara tidak langsung membalas. Matanya masih tertuju pada gambar berita itu. Di dalam hati Nara, ia hanya berharap satu hal. Semoga saja rumor ini benar-benar hanya gosip internet biasa. Karena kalau sampai nama seseorang benar-benar disebutkan, berita seperti ini biasanya akan berubah menjadi jauh lebih besar. Dan dunia internet tidak pernah benar-benar ramah pada skandal seperti ini. Apalagi Karina memiliki banyak fans, pasti fans akan menganggap apa yang terjadi pada Karina adalah hal normal.