Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.
Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.
Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.
Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.
Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 13. Cabang Sumatera
“Aku nggak enak dilihat keluarga Mas,” tegurku dengan menurunkan tangannya dari sana.
Aku mencoba mengalihkan perhatiannya. “Ini rumah ayah, Mas?” Aku sedang mengubrak-abrik emailku, sambil menyesapi pod kesukaanku.
“Ini rumah warisan, tak pernah bagi waris juga. Jadi ya siapa aja yang mau nempati. Sebenarnya rumah ayah tuh bukan di sini, mungkin sekitar tujuh jam perjalanan dari sini ke rumah ayah. Cuma…” Ia melirikku, suaranya menurun.
Sepertinya ia mengajak mode gosip.
“Pas kakek buyut sama nenek buyut sakit, saudara kembar ayah pada lempar tangan untuk ngurusin mereka secara langsung, dengan alasan pekerjaan. Kan ayah nggak nganggur juga, ayah juga kerja. Tapi karena ayah kerjanya banyak di ladang, bukan area kantornya. Jadi ayah yang dibilang ‘kau kan di rumah terus, boyong aja anak istri kau ke sini untuk nemenin ayah sama ibu’. Ditambah lagi, ibu itu pure ibu rumah tangga biasa tanpa punya usaha sampingan apa-apa. Sampai kakek buyut sebelum meninggal tuh bilang, anak yang paling nggak berguna ini ternyata anak yang selalu ada dan siaga. Ayah dari muda kasus aja soalnya, sekolah pun nggak jelas ijazahnya. Nggak taunya malah ayah yang malah ngurusin orang tua sampai tiadanya,” ungkapnya dengan suara lirih.
Ternyata kekayaan tak menjamin semuanya aman ya? Aku jadi memikirkan masa tuaku.
“Memang kakek buyut sama nenek buyut nggak punya anak perempuan?” tanyaku dengan memperhatikannya dari samping. “Kalau di kampungku sih, biasanya anak perempuan yang ditekan saudara lain untuk ngurusin orang tua.” Karena itulah yang aku rasakan juga.
“Ada satu, ngurusin sama ibu. Rumahnya masuk gang ini. Ngebuka lahan rumahnya. Dekat, bisa bolak-balik. Adik laki-laki ayah pun ada, dekat juga di sini. Ngebuka lahan juga rumahnya, gang yang sama.” Ia menunjuk ke arah kiri.
“Cuma nggak nginep, jadi nggak full ngurusin. Adik yang perempuan alasannya bagi waktu dengan suaminya, adik yang laki-laki alasannya kerja cari nafkah. Intinya, karena ayah selalu di rumah. Kerja cuma bolak-balik ladang aja, jadi dikira nganggur dan dikira nggak punya kewajiban. Kita keterusan di sini, soalnya ayah punya ladang baru juga di sini. Jadi kan mesti fokus ngolah tanah dan segala macam pembibitan. Ayah nanya masalah rumah ini gimana kalau aku beli aja, ke saudaranya tuh. Orang pada kaya-kaya semua ya, jadi jawabnya tinggal tempati aja daripada tak terurus,” ujarnya dengan mata yang seperti memperhatikan situasi.
Aku manggut-manggut mengerti, jadi sekarang rumah ini ditempati keluarga kecil kakeknya mas Barraq intinya.
“Fina dilepas keknya dia mampu. Bukan cuma stabil, coffee shop di Jawa udah kek di atas angin. Kamu bisa nggak bikin coffee shop di sini kek gitu juga? Nanti Mas ngobrol sama ayah masalah penggajian. Soalnya daerahnya lebih luas, ditambah lagi jarak coffee shop satu ke coffee shop lain jauh betul,” ucapnya dengan memperhatikan ponselnya.
Aku melirik ke arah ponselnya, ternyata ia tengah fokus pada laporan yang aku kirimkan. Aku bergegas mengirimkan laporan tersebut ke email kakeknya mas Barraq, agar beliau pun bisa memahaminya lebih dulu.
“Aku nggak punya temen di sini. Aku butuh batu loncatan untuk numpang nama dan numpang viral.” Karena menurutku sosial media sangat berpengaruh.
“Nikah sama keluarga ini, Mas contohnya. Viral pasti, apalagi kamu istri orang kan? Apa nggak jadi perbincangan satu provinsi kita ini?” celetuknya dengan gelak tawa renyahnya.
Ringan sekali ia bicara.
“Keluarga Mas lah yang viral, bukan coffee shopnya,” timpalku sedikit ketus.
“Soalnya di sini yang paling tertinggal, padahal di sini kopinya berasal. Pulau Jawa sama Batam, udah tuh cabang yang tak ada tandingannya. Kalau boleh sombong, sampai sepuluh tahun lagi pun nggak akan goyah,” tuturnya dengan menscroll sosial medianya.
Ia pun influencer yang cukup banyak pengikutnya, setara sepertiku. Cuma ia ditambah kasus, jadi ia jadi bahan perbincangan pengikutnya.
Entah sanjungan atau entah komentar asal bunyi saja. Tapi banyak yang mengomentari, katanya ‘nggak masalah nyimeng juga, dimaklumi kok. Asalkan orangnya bang Barraq’. Ia sudah seperti Jefri Nichol untuk para pengikutnya.
Meski ya memang, aku dan dirinya belum centang biru. Karena memang tidak setara dengan artis.
“Ya nanti tunggu ayah dulu, aku pengen tau juga maunya kek gimana. Soalnya bisa dibilang, aku udah ngerasa nggak menantang lagi di sana. Aku bosan dengan aktivitasnya, monoton,” ungkapku jujur.
Bayangkan saja selama dua tahun aktivitasku begitu-begitu saja, ya memang ada tambahan kesibukan sedikit sejak mas Barraq diminta pulang oleh keluarganya. Tapi aku bisa mengatasinya dan tidak membuat mentalku goyah.
“Pasti karena pengen ketemu sama Mas tiap hari kan? Makanya juga apa, udah nikah aja sama Mas,” ucapnya dengan tawa membahana.
Aku meliriknya dan tersenyum miring. “Jadi udah percaya kalau aku istri orang?” tanyaku lirih dan mendekat ke telinganya.
Ia menoleh mendadak, membuat wajahku dan wajahnya begitu tanpa sekat. “Mas tetap nggak peduli soal itu. Selagi bisa dihamili, kenapa nggak?” ujarnya dengan hembusan napasnya yang terasa menerpa wajahku.
Aku memundurkan kepalaku. Aku lupa ia bajingannya, aku lupa ia keparatnya, aku lupa ia biang keroknya.
Ia cekikikan puas, sepertinya ia puas melihat ekspresi kagetku. Tentu saja aku kaget di kalimat terakhirnya itu.
Sekarang aku mengerti bagaimana dia dengan ambisinya.
“Dea…” panggil ayah tiba-tiba.
Aku menoleh ke arah suara itu berasal, ayah ada di teras rumah dengan seonggok bayi yang bersandar di bahunya.
“Sini aja ke dalam, banyak nyamuk. Ada yang mau Ayah obrolin,” serunya dari sana.
“Iya, Yah.” Aku melangkah pergi membiarkan mas Barraq yang buru-buru membereskan satenya.
Aku mulai memasuki rumah yang megah dan wanginya seperti berada di mall besar ini. Segar dan ringan.
“Sini, Dek,” ajaknya sambil terus melangkah.
Kami sudah melewati ruang tamu besar ini, hingga berhentilah beliau di ruang keluarga yang sofanya dikumpulkan di bawah tangga. Namun, di ruang keluarga ini terhampar permadani yang indah dan besar dengan beberapa laki-laki bertelan**** dada di atasnya.
Mereka tengah tidur mendengkur dengan beberapa anak kecil di sekelilingnya. Ada yang anteng bermain ponsel, ada yang tengah makan cemilan dan ada yang sedang bermain-main dengan saudaranya yang lain.
“Maaf ya? Udah pada tidur mak bapaknya soalnya, kasian tak ada yang jaga,” ujarnya dengan duduk di sudut yang memiliki tempat untuk kami.
“Iya, nggak apa.” Aku memakluminya.
Bayi yang disandarkan di bahunya itu diturunkan, kemudian diayunkan perlahan dengan posisinya yang tetap duduk dengan ponsel yang menyala itu. Bayi itu masih terjaga, matanya terbuka dan sepertinya ia tidak berniat untuk tidur dalam waktu dekat ini.
“Katanya di Jawa kurang menantang, Yah,” ujar mas Barraq tiba-tiba dengan melewati kami.
Sepertinya, ia akan menaruh satenya terlebih dahulu.
Ayah tersenyum sekilas, kemudian menunjukkan ponselnya dengan layar yang diperbesar.
“Nah, kalau gitu aturlah seluruh cabang yang di Sumatera setara dengan yang di Jawa.”
Glek.
Mas Barraq mengatakan hanya di provinsi ini, tapi kenapa ayah malah meminta cabang satu pulau bisa stabil?
“Satu provinsi dulu ya, Yah? Satu provinsi aja delapan kota loh di Medan itu,” rengekku mencoba mengambil ibanya.
Ayah nampak berpikir, kemudian menganggukkan kepalanya beberapa kali.
“Kalau aku bisa kasih sesuai apa yang ayah harapkan, apa imbalan untuk aku?” Aku merasa tertantang di sini.
Namun, ayah malah bertepuk tangan sekenanya dengan wajah sumringah.
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠