NovelToon NovelToon
I Chose The Villain'S Side

I Chose The Villain'S Side

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Antagonis / Elf / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kakama

Di Elderys, artefak kuno menjaga keseimbangan dunia, dan Avelyn Veyla Du Calveros, pewaris keluarga Duke dengan mana langka, adalah kuncinya.

Namun ia dijebak tunangannya sendiri—retaknya artefak, krisis antar-ras yang semakin meletus, dan akhirnya dunia menudingnya sebagai penyebab kehancuran, hingga ia dibunuh oleh orang yang paling dipercayainya.

Terbangun kembali pada beberapa tahun sebelum pertunangan, Avelyn bersumpah kali ini ia akan menjadi villain. Tidak tunduk pada aturan, tidak peduli pada orang lain, dan tidak akan lagi menjadi baik…

Jika dunia ingin musuh, maka ia akan menjadi musuhnya. Dengan senang hati

Namun, di dunia yang terus menuntutnya menjadi penyelamat, mampukah Avelyn benar-benar menjadi villain?

Akankah Avelyn berhasil menjadi villain yang ia impikan, atau justru kembali terjerat oleh takdir yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 - Pingsan

Langkah kaki Noah dan Edric perlahan menjauh, menyisakan keheningan di koridor yang megah itu. Mireya dan Seraphine yang sedari tadi berdiri kaku di belakang, akhirnya menghela napas lega. Mereka pun pergi, membiarkan tuan dan nona nya disana.

Begitu suara langkah kaki mereka menghilang, tangan Orpheus yang sedari tadi bertengger di bahu Avelyn akhirnya terlepas.

Avelyn segera melangkah mundur, menciptakan jarak di antara mereka. Ia memeluk kotak kue curiannya erat-erat, menatap Orpheus dengan mata menyipit penuh kecurigaan.

"Apa maksud Anda tadi, Yang Mulia?" tanya Avelyn, suaranya rendah dan penuh peringatan. Namun pikirannya masih belum fokus, dia masih tenggelam dalam bayang-bayang masa lalu.

 "Sejak kapan Anda peduli jika ada orang yang menatap saya? Bukankah Anda tidak akan mencampuri urusan saya?"

Orpheus menatapnya lekat-lekat. Untuk sesaat, Avelyn bisa melihat kilatan sesuatu di mata pria itu—sesuatu yang terasa lebih gelap, protektif, dan sama sekali tidak sesuai dengan citra "tunangan palsu yang acuh tak acuh".

"Aku tidak peduli pada siapa pun yang menatapmu, Avelyn," jawab Orpheus pelan, langkahnya mendekat lagi, memegang dagu Avelyn, memaksa Avelyn untuk menengadah agar bisa menatap matanya. "Tapi aku tidak suka ketika seseorang lupa pada tempatnya. Kau adalah tunanganku. Di atas kertas, di depan Kaisar, dan di depan seluruh Elderys... kau adalah milikku. Dan aku tidak akan membiarkan Earl baru yang terlalu bersemangat itu melupakan fakta tersebut. dan sepertinya kalian punya cerita sendiri yang aku tidak ketahui…. benar bukan?"

Avelyn terdiam, kata-kata itu menggantung di udara. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena takut, tapi karena intensitas yang tiba-tiba dipancarkan oleh pria di hadapannya. Pertanyaan Orpheus ini tepat sasaran, Avelyn semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.

"Jadi," lanjut Orpheus, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang membuat Avelyn ingin memukulnya, "habiskan kue curianmu di kamar. Dan jangan berharap kisahmu dengan Noah akan berlanjut"

Tanpa menunggu balasan, Orpheus berbalik dan berjalan  meninggalkan Avelyn yang berdiri terpaku di koridor, memeluk kotak kue, dengan wajah yang campur aduk antara kesal, bingung, dan sedikit... panas.

Tatapan Avelyn kosong, dia bahkan tidak bisa mengerti dan mendengar dengan jelas apa saja yang diucapkan oleh Orpheus. Kenangan di kehidupan lalu seolah menarik paksa kesadaran nya.

Mireya dan Lucien mendekat, mereka memanggil-manggil Avelyn, namun ia tetap tidak bergeming.

“Nona,” Lucien menyentuh pundak Avelyn.

Kesadarannya kembali sejenak, “ Ah iya, ada apa? Eh? kemana Yang Mulia?”

Mireya dan Lucien melihat satu sama lain. “Sebenarnya apa yang anda pikirkan nona?”

Ya, apa yang dia pikirkan sebenarnya. hal itu juga ingin Orpheus ketahui, dia tidak benar-benar pergi. Orpheus masih berada di ujung sana memperhatikan semuanya secara diam-diam.

Avelyn menggelengkan kepalanya, wajahnya terlihat sangat pucat. “Tidak apa-apa, ayo”

Avelyn memberikan kotak kue itu pada Mireya, dia sudah tidak memiliki selera untuk memakannya.

Namun, baru beberapa langkah Avelyn berjalan, tiba-tiba ia terhenti begitu saja.

“Nona, ada apa?” tanya mireya.

“Mirey? apakah rumah ini bergoyang? kenapa rasanya semua benda ini bergoyang-goyang?” ucapnya sambil menyentuh kepalanya.

Mireya mengerutkan keningnya dan melihat sekitar, “tidak nona, semuanya tampak baik-baik saja. Apakah anda…Nona!”

Suasana berubah panik saat tiba-tiba Avelyn duduk di lantai, hidungnya juga mengeluarkan darah.

“Nona! Apa yang terjadi?!” Mireya segera mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan darah yang keluar dari hidung Avelyn.

“Aku baik-baik saja, jangan khawatir…..”

Bruk!

Avelyn terjatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri.

“nona!! Lucien tolong panggilkan tuan hellios, cepat!”  Mireya menangis dengan sangat panik sambil berusaha membangunkan Avelyn.

Lucien mengangguk. “Kita harus membawanya ke kamar terlebih dahulu!”

Mireya mengangguk. Lucien hendak membawa Avelyn, tapi belum sempat ia menyentuhnya, tangan seseorang menyentuh pundaknya seolah menghentikannya.

“Biar aku saja, kau panggilah Helios kemari.”  Lucien mengangguk dan segera berlari untuk menjemput Heliios.

Tangan Orpheus terasa besar dan hangat saat ia dengan mudah mengangkat tubuh Avelyn yang tiba-tiba lemas itu. Ia tidak membuang waktu. Dengan langkah panjang dan tegas, ia membawa Avelyn menyusuri koridor menuju kamarnya.

Ia membaringkan Avelyn dengan sangat hati-hati di atas kasur empuk berlapis sutra. Wajah Avelyn yang biasanya penuh dengan ekspresi menantang atau senyum sinis nan palsu, kini tampak pucat pasi dan rapuh. Ada sedikit noda darah kering di sudut bibirnya yang membuat dada Orpheus terasa sesak.

“Apa yang sebenarnya kau lakukan pada dirimu sendiri, Avelyn?” batin Orpheus, jari-jarinya tanpa sadar terulur untuk menyapu helai rambut yang menempel di dahi wanita itu.

Belum lama ia berdiri di sana, pintu kamar terbuka dengan tergesa-gesa. Lucien muncul, diikuti oleh Tuan Helios, tabib sekaligus ahli sihir penyembuh terbaik di Astrea.

"Yang Mulia!" Helios segera berlutut di sisi tempat tidur, tangannya yang terampil langsung memeriksa Avelyn.

Mireya, yang mengikuti di belakang dengan wajah basah oleh air mata, berbisik gemetar, "Dia tiba-tiba berkata rumah ini bergoyang, Yang Mulia. Lalu... lalu darah itu keluar dari hidungnya."

Helios mengerutkan kening, cahaya sihir di tangannya berkedip tidak stabil. Ia memeriksa lebih dalam, bahkan membuka sedikit kelopak mata Avelyn dan meraba lehernya. Keheningan di ruangan itu terasa mencekam.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, Helios akhirnya menarik tangannya dan berdiri, menghela napas panjang.

"Bagaimana kondisinya, Helios?" tanya Orpheus, suaranya rendah namun sarat dengan tekanan yang membuat udara di ruangan terasa berat.

"Dia tidak dalam kondisi yang cukup berbahaya, Yang Mulia. Tapi kondisinya... tidak wajar," jawab Helios dengan nada serius. "Ini bukan sekadar pingsan karena kelelahan atau kurang makan. Ada disonansi mana yang sangat kuat di dalam tubuhnya."

"Disonansi mana?" Orpheus menyipitkan mata.

"Ya. Tubuh nya menunjukkan tanda-tanda bahwa ia baru saja memaksakan penggunaan sihir atau menahan beban sihir yang jauh melampaui kapasitas normalnya, hal ini biasanya dipicu oleh tekanan emosional yang ekstrem," jelas Helios, menatap Orpheus lekat-lekat. "Apakah ada sesuatu yang terjadi dan dipikirkan belakangan ini olehnya, Yang Mulia?"

Orpheus terdiam, kata-kata Helios menghantamnya seperti palu godam.

Tekanan emosional.

Ia teringat pada tatapan kosong Avelyn saat Noah pergi. Ia teringat pada sikap Avelyn setelah bertemu Noah.

"Apa yang harus dilakukan?" tanya Orpheus, suaranya kehilangan semua arogansi yang biasa ia tunjukkan.

"Berikan dia ramuan penstabil mana ini," Helios menyerahkan botol kecil berisi cairan biru bercahaya kepada Mireya. "Biarkan dia minum sedikit demi sedikit saat ia sadar. Dan Yang Mulia..." Helios menunduk hormat, "Ia butuh ketenangan untuk beberapa saat. Jangan biarkan siapa pun, memberinya tekanan emosional lebih lagi dalam waktu dekat. Jika 'bendungan emosi' itu jebol sepenuhnya, konsekuensinya bisa fatal bagi jiwa dan juga tubuhnya."

"Aku mengerti. Terimakasih Heliios.”

“Permisi, Yang Mulia.” Hellios pergi meninggalkan ruangan setelah memberikan beberapa ramuan lainnya pada Mireya.

“Kalian keluarlah, tinggalkan kami," perintah Orpheus.

"Yang Mulia, tapi—" Mireya terlihat ragu.

"Aku yang akan menjaganya, jadi pergilah," potong Orpheus, tatapannya tidak meninggalkan wajah Avelyn sedetik pun.

Mireya dan Lucien saling berpandangan, lalu membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan pelan.

Kini, hanya ada Orpheus dan Avelyn di dalam kamar itu. Orpheus menarik kursi dan duduk di tepi tempat tidur. Ia mengambil kain basah dari baskom di meja samping, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, ia mulai membersihkan sisa darah di wajah Avelyn. Juga membersihkan tangannya dengan lembut.

"Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian." bisik Orpheus pelan, suaranya serak.

Tiba-tiba, alis Avelyn berkerut dalam tidurnya. Bibirnya bergerak pelan, mengeluarkan gumaman yang hampir tidak terdengar.

Orpheus mendekatkan telinganya.

"...lepaskan aku Noah, kumohon..."

Jantung Orpheus berhenti berdetak sejenak.

Noah?

Pria itu menatap wajah wanita yang sedang tertidur itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ada misteri besar yang tersembunyi di balik mata tajam Avelyn selama ini, dan untuk pertama kalinya, Orpheus menyadari bahwa "tunangan palsu" yang ia anggap remeh ini mungkin sedang berjuang melawan sesuatu yang jauh lebih gelap daripada sekadar intrik bangsawan.

Ia menggenggam tangan Avelyn yang dingin, menepuknya pelan.

"Kembalilah padaku, Avelyn," ucap Orpheus, sebuah harapan yang ia buat bukan sebagai Archduke, melainkan sebagai Orpheus. "Aku akan melindungimu apapun yang terjadi."

1
Indah Onyell17
kok g up ya
Indah Onyell17
up yang bnyakkk thorrr
Yue Li MZy
cemburu bila bos,Gengsi² nya Orpheus ditinggikan setinggi langit 🤣🤣
Indah Onyell17
up bnyak toer
Anime aikō-kā
p
Cty Badria
up y semangat ya ni beri hadia/Rose/
↳。˚ 🖇️')auh∆di♪♪⁠┌┘⁠♪
Entah bagaimana kelanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!