Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Mobil hitam yang biasa mengantarnya melaju stabil di tengah lalu lintas kota yang padat. Samira duduk di kursi belakang, ponselnya berada di tangan, sementara pikirannya sibuk menyusun agenda rapat siang nanti.
Ia masih harus menjaga citra sebagai perempuan yang belum bisa melihat dengan sempurna, sehingga sesekali ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tampak pasif.
“Apakah masih lama?” tanya Samira di tengah-tengah perjalanan.
“Kita akan sampai kantor sekitar dua puluh menit lagi,” ujar sopirnya dari depan.
“Baik,” jawab Samira tenang. “Pelan-pelan saja, tidak perlu terlalu terburu-buru.”
Hujan semalam menyisakan aspal yang sedikit licin. Kendaraan di depan mereka bergerak lambat, membuat mobil harus beberapa kali mengurangi kecepatan. Tak ada yang aneh saat itu, hingga dalam hitungan detik, semuanya berubah.
Brakkk!
Benturan keras dari belakang membuat tubuh Samira terdorong ke depan. Sabuk pengaman menahannya tepat waktu, tetapi kepalanya tetap terasa pening sesaat. Suara gesekan logam dan teriakan klakson terdengar bersahut-sahutan.
Sopirnya sigap memutar setir dan menginjak rem dengan terkendali, menjaga agar mobil tidak oleng ke kendaraan di depan. Ban berdecit di atas aspal basah sebelum akhirnya mobil berhenti di bahu jalan.
Napas Samira memburu.
“Bu Samira!” Sopirnya segera menoleh panik. “Ibu tidak apa-apa? Ma-maafkan saya. Saya kurang berhati-hati,” katanya takut dan panik. “Ibu baik-baik saja?”
Beberapa detik pertama terasa seperti ruang hampa. Jantungnya berdetak keras di telinga. Tangannya gemetar saat ia membuka sabuk pengaman.
“A-aku tidak apa-apa,” jawabnya, meski suaranya tidak setenang biasanya.
Ia membuka pintu dan turun dari mobil dengan langkah sedikit goyah. Udara pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Beberapa pengendara lain memperlambat laju untuk melihat apa yang terjadi.
Bagian belakang mobil mereka ringsek cukup parah. Bumper pecah, lampu belakang hancur, dan kap bagasi sedikit terangkat tidak rata. Mobil yang menabrak mereka berhenti beberapa meter di belakang, bagian depannya juga rusak.
Sang sopir segera menghampiri Samira. “Ibu yakin tidak terluka? Apakah perlu saya memanggil ambulance?” tanyanya panik, melihat Samira yang memegangi kepalanya.
Namun, Samira menggeleng, mencoba mengatur napasnya. “Tidak, tidak apa-apa … aku hanya terkejut. Kau baik-baik saja, kan? Tidak ada yang terluka?” tanyanya balik mengkhawatirkan sang sopir.
Tangannya masih bergetar. Bukan semata karena benturan, tetapi karena satu pikiran yang tiba-tiba muncul dan sulit diabaikan.
Apakah kejadian tadi adalah benar-benar kecelakaan?
Ia mengeluarkan ponselnya dengan jari yang masih sedikit kaku. Nama pertama yang ia tekan adalah Rayhan.
Panggilannya langsung diangkat pada dering pertama, seolah Rayhan memang selalu siap untuknya.
“Samira?”
“Aku … mobilku baru saja ditabrak dari belakang,” ucapnya, berusaha menjaga suara tetap stabil.
“Apa?!” Nada Rayhan langsung berubah tegang. “Kau berada di mana sekarang? Apa kau terluka? Tu-tunggu aku di sana! Aku akan segera datang!”
Samira menggeleng. “Tidak. Aku baik-baik saja. Hanya mobilnya yang rusak.”
Di seberang sana terdengar suara mesin mobil menyala.
“Kirim lokasimu sekarang juga. Aku akan langsung ke sana sekarang.” Rayhan sudah siap mengemudikan mobilnya.
“Rayhan, tenang. Aku tidak apa-apa,” katanya pelan. “Aku akan tetap ke kantor.”
Setelah menenangkan Rayhan sebentar, Samira langsung menelepon Indira.
“Indira, mobilku ditabrak di jalan.”
“Apa?!” Suara Indira tak kalah panik. “Bagaimana bisa? Kau … kau baik-baik saja, kan? Apakah kau terluka?”
“Tidak. Tapi aku ingin kita membahas ini. Ada yang terasa janggal.” Ia menutup telepon dan menatap mobilnya lagi.
Benturannya cukup keras untuk disebut kecelakaan biasa, tetapi tidak cukup untuk membuat mobil kehilangan kendali sepenuhnya. Seolah-olah ada seseorang yang hanya ingin memperingatkannya.
Samira menoleh pada sopirnya. “Pak, tolong urus mobilnya dan langsung bawa ke bengkel resmi. Jangan kembali ke kantor dulu.”
“Baik, Bu. Lalu Ibu—”
“Aku akan naik taksi saja.”
Sopir itu tampak ragu, tetapi akhirnya mengangguk.
Dua puluh menit kemudian, Samira melangkah masuk ke lobi kantor dengan taksi daring. Wajahnya sudah kembali tenang, meski sisa ketegangan masih terasa di dadanya.
Indira sudah berdiri di dekat pintu masuk, menunggunya dengan wajah cemas. “Samira!” Ia langsung menghampiri. “Kau sungguh baik-baik saja? Bagaimana jika ke rumah sakit dulu? Barangkali ada cedera atau mungkin kau merasa agak sakit?”
Samira tersenyum tipis. “Tidak perlu, bahkan tidak ada lecet sedikit pun. Percayalah, aku baik-baik saja.”
Indira meneliti wajahnya, seolah memastikan sendiri. “Aku hampir terkena serangan panik saat mendengarnya. Kau yakin sungguh baik-baik saja?”
Samira mengangguk yakin. “Ayo ke ruanganku,” ujar Samira pelan. “Kita tidak bisa membahas ini di sini.”
Di dalam ruangan yang tertutup rapat, suasana berubah lebih serius. Samira duduk di kursinya, sementara Indira berdiri di depannya dengan tangan terlipat.
“Menurutku ini bukan sekadar kecelakaan,” kata Samira akhirnya.
Indira mengerutkan kening. “Maksudmu? Ada seseorang yang ingin mencelakaimu?”
“Benturannya cukup keras untuk menakuti, tapi tidak sampai membuat mobil kami hilang kendali. Seperti memang disengaja oleh seseorang.” Samira mulai berpikir keras.
Indira terdiam. “Kau pikir ada yang ingin menyerangmu begitu? Dengan menciptakan kecelakaan yang seolah tak sengaja itu? Apakah ini mungkin dari orang-orangnya?”
“Entahlah, aku juga belum memastikannya,” jawab Samira pelan.
Sejak restrukturisasi besar-besaran di perusahaan, ia memang tahu ada pihak yang tidak senang. Namun tanpa rekaman dashcam, tanpa saksi yang jelas, dan tanpa bukti kuat, semua itu hanya dugaan.
“Kita harus cek CCTV jalan dan identitas pengemudinya,” ujar Indira tegas.
Samira mengangguk. “Tapi jangan gegabah. Kalau ini memang disengaja, mereka pasti tidak akan bergerak ceroboh.”
Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Rayhan masuk dengan napas sedikit terengah, jasnya masih belum sepenuhnya rapi. Wajahnya tampak pucat, bukan karena marah, melainkan karena takut.
Tanpa berkata apa-apa, ia langsung menghampiri Samira dan memeluknya erat. Pelukan itu begitu tiba-tiba dan kuat hingga Samira terdiam sesaat. Ia bisa merasakan detak jantung Rayhan yang cepat di dadanya.
“Kau benar-benar tidak apa-apa?” tanyanya dengan suara yang terdengar rendah dan serak. Ia
“Aku baik-baik saja,” jawab Samira lembut.
“Aku hampir kehilangan akal saat kau mengabariku,” lanjut Rayhan, masih belum melepaskan pelukannya. “Aku pikir—”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Samira perlahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan itu. Untuk sesaat, rasa takut yang tadi ia tahan kembali menyeruak. Ia tidak menyadari betapa tipis jarak antara selamat dan terlambat.
Indira berdehem pelan.
Rayhan tersadar dan segera melepaskan pelukannya, sedikit canggung. “Maaf,” gumamnya singkat.
Namun sorot matanya tetap tajam saat menatap Samira, seolah memastikan perempuan itu benar-benar baik-baik saja.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Rayhan kemudian, nadanya berubah serius.
Samira menjelaskan kronologi singkatnya. Rayhan mendengarkan dengan rahang mengeras.
“Ini bukan kebetulan,” katanya pelan. “Terlalu tepat waktunya, dan seperti katamu, insiden ini terasa janggal.”
Indira mengangguk. “Kami juga berpikir begitu. Tapi belum ada bukti pasti.”
Rayhan berjalan mondar-mandir sebentar sebelum berhenti di depan meja. “Siapa saja yang punya alasan untuk menakutimu?”
Nama-nama mulai bermunculan di benak mereka, mantan petinggi yang dipecat, pihak-pihak yang dirugikan oleh audit internal, bahkan kemungkinan ancaman yang belum terlihat.
Samira menarik napas panjang. “Kita tidak boleh panik. Tapi kita juga tidak boleh lengah.”
Rayhan menatapnya dalam-dalam. “Mulai sekarang, pengamananmu harus ditambah. Aku tidak akan bisa tenang jika meninggalkanmu seorang diri. Hal buruk lainnya bisa saja terjadi.”