Katanya kisah cinta masa SMA itu paling sulit dilupakan, apakah mitos itu berlaku untuk Raina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NRH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lian berulah kembali.
Keesokan harinya di sekolah...
"Rain, kamu udah tau Lian masuk rumah sakit?" teriak Joday saat aku hendak menaruh tasku di kursi.
"Hah?? Lian kenapa?" tanyaku.
Entah kenapa setelah putus kemarin sore, aku jadi ingin membalas perlakuannya yang menganggapku seperti orang asing. Aku juga akan membiasakan diri memanggil namanya lagi seperti dulu...
"Itu semalem dikeroyok begal, pulang kerja" jawab Joday.
"Mana bisa hal kaya gitu terjadi ke kamu? Bukannya kamu jago berkelahi? Masa ngelawan begal aja kamu gak bisa? Kenapa bisa aku gak tau hal ini? Kamu bahkan gak ngabarin aku? Oh ya... Aku lupa kita udah putus...
"Oh" jawabku singkat.
Yogo dan Roby keheranan dengan responku yang dingin, mereka akhirnya menanyakan keputusan yang kami ambil kemarin.
"Mau gimana lagi? Putus jalan terbaaik ko" jawabku.
Yogo dan Roby sempat memintaku untuk ikut menjenguk Lian kerumah sakit. Tapi, aku masih belum bisa melihat wajahnya.
"Kalian aja! Aku ada les!" jawabku.
Rayka malah ikut dengan Yogo dan Roby, padahal sudah kubilang jangan. Rayka malah bersikeras ikut karena mau tau kondisi Lian.
"Nanti aku kabarin ke kamu deh gimana keadaan Lian" katanya saat menaiki motor Yogo untuk pergi ke rumah sakit bersama teman-teman sekelas kami yang ikut.
"Gak usah ngapain?" jawabku.
"Iyadeh iya aku gak akan ngabarin" ledek Rayka.
Aku lalu pergi les dengan Reksa dan the regens yang lain. Mereka terlihat mengkhawatirkan keadaanku saat itu, padahal aku sudah mencoba sebaik mungkin untuk terlihat "baik-baik saja".
"Kalau kamu lagi mau cerita, apapun itu sedih senang kesel cerita aja na... Jangan dipendem sendiri" kata Nesty padaku.
Aku cuma bilang aku gak apa-apa...
Setelah les selesai, kami berenam pergi makan bakso di kedai favorit kami... Selama menunggu pesanan, aku memainkan hapeku..
Kebetulan ada update'an dari sosmed Rayka.
"Lian GWS :)" dengan foto Lian yang terbaring di ruang inap.
Kondisi Lian cukup mengkhawatirkan. Mukanya penuh luka lebam, bahkan pelipis matanya seperti bekas darah mengering. Aku terkejut saat pertama kali melihat fotonya.
"Gimana bisa seorang Lian bonyok?" batinku.
Sebenarnya saat itu jauh di lubuk hatiku, aku mau menelpon Lian. Menanyakan kondisinya, menjenguknya ke rumah sakit bahkan menemaninya semalam suntuk.
"Lian pasti sendiri kan malam ini? Apa dia minta temenin Bibi?" pikirku.
Tak lama akupun memutuskan untuk menelpon ke nomor Bibi. Bibi pasti tahu kronologisnya bagaimana...pikirku.
"Halo bi, bibi dimana? Dirumah sakit ya? Bi ini Raina, tolong jangan kasih tau Lian kalo aku nelpon ya..." kataku.
"Iya neng nana, bibi lagi nunggu Lian dirumah sakit. Nih ada temen sekelasnya juga yang nengok. Neng nana kemana, kenapa gak ikut?" jawab Bibi.
"Iya bi aku ada les, bi kenapa Lian bisa kaya gitu?" tanyaku.
"Gini neng Nana, semalem Lian gak kerja katanya mau keluar cari angin... Lama gak pulang-pulang, bibi sampe ngantuk nunggunya...Eh pas jam 1 malem bibi dapet telpon dari polisi katanya Lian digebukin di jalan" jelas Bibi.
"Ohya neng bibi bisa minta tolong gak?"...
"Minta tolong apa bi?" tanyaku...
"Bibi ada pengajian malam ini, neng nana bisa jagain Lian gak ya sampe jam 9 aja" pinta Bibi.
"Duh bi, gimana ya? Yaudah deh bi nanti aku usahain minta izin sama orang tua aku dulu" jawabku.
"Oke neng, kabarin bibi ya"...
Bibi sepertinya belum tahu kalau aku dan Lian sudah putus hubungan. Buktinya, bibi masih minta aku bergantian menjaga Lian karena bibi punya kepentingan lain.
"Ibu kira-kira izinin aku gak ya keluar malem? Tapi aku kan cuma mau jenguk Lian!" gumamku.
The Regens menyadari kegelisahanku, mereka lalu berkomentar.
"Rain, kenapa sih?" tanya Aisya.
"Iya kek gelisah gitu deh" jawab Pia.
"Iya nih cerita dong!" sahut Reksa.
"Itu,... Kalian kan tahu aku udah putus sama Lian, tapi Lian sekarang dirawat dirumah sakit terus asisten rumahnya Lian bilang minta aku jagain Lian karena malem ini dia ada pengajian... Gimana ya menurut kalian?" jelasku.
Sebenarnya, kalau aku bertanya ke hatiku yang paling dalam sudah jelas jawabannya "aku mau jagain Lian". Tapi aku juga belum bisa menganggap Lian seperti layaknya "teman". Aku masih takut membayangkan, bagaimana canggungnya kami saat bertatapan bahkan mengobrol... Aku masih belum siap...
"Jenguk aja rain, kata kamu dia sendirian kan di Bandung? Kasian juga kalo malam ini dia gak ada yang jaga" kata Reksa.
"Iya rain, lagian besok kan libur! Bilang aja ke orang tua kamu, kalo kamu ngerawat temen sakit yang orang tuanya jauh. Dia ngekos hidup sendirian dan kasian. Pasti diizinin deh" saran Pia.
"Hahaha kalo urusan ngayal ide-ide minta izin ke ortu sih, Pia paling jago ya kasih ide! Hahaha" ledek Aisya.
Akhirnya, kamipun pulang setelah kenyang makan bakso.
Sesampainya dirumah ....
Aku menceritakan semua kejadian yang dialami Lian tanpa bermaksud berbohong. Lalu, aku juga meminta izin pada Ibu untuk menjenguk Lian sehabis maghrib nanti. Ibu malah jawab "izin ke ayah sana!"....
Sebenarnya aku takut kalo harus minta izin ke Ayah, karena Ayah termasuk tegas dan paling tidak suka kalau anak perempuannya keluar malam.
"Yah, plis izinin ya? Teteh kan cuma mau jenguk temen... Lagian temen teteh kasian deh yah, orang tuanya jauh di kalimantan... Jadi teteh sama temen-temen yang lain mau jenguk dia, bawain makanan gitu yah... Boleh ya yah?" rengekku.
"Teteh pulang jam berapa nanti?" tanya Ayah.
"Jam 9 juga teteh udah dirumah ko janji deh!" kataku.
"Yaudah boleh, hati-hati bawa motornya!" kata Ayah.
Setelah mendapat izin untuk menjenguk Lian, aku merasa sedikit lega. Tapi, aku masih belum bisa membayangkan bagaimana reaksi Lian saat tahu aku menjenguknya sendirian.
"Kenapa gak jenguk tadi siang bareng yang lain? Ah pasti Lian mikir yang aneh-aneh deh" batinku.
Satu jam sebelum maghrib...
Bibi menelponku menanyakan apakah aku bisa dititipi Lian sebentar malam ini, dan aku jawab "Iya bi aku bisa, tolong smsin nama sama nomor ruangannya ya"...
Ibuku ternyata sudah memasak makanan untuk Lian, sementara aku meminta beberapa buah-buahan segar yang ada didalam kulkas untukku bawa kerumah sakit.
"Bawa aja teh yang banyak!" kata Ibu.
"Gak usah banyak-banyak ah berat?" gerutuku.
Sesampainya dirumah sakit...
Aku sempat bertemu dengan Bibi di lobby dan bibi bilang kalau Lian lagi tidur habis minum obat.
"Neng titip ya nanti jam 7, tolong bangunin soalnya jadwal periksa sama dokter" katanya.
"Oke bi" jawabku.
Akupun sudah tiba didepan ruangan tempat Lian dirawat. Entah perasaan canggung macam apa yang ada dalam diriku sekarang, aku sangat takut sekali ketika akan masuk kedalam.
Aku mengumpulkan keberanian sebanyak mungkin, sebelum akhirnya aku membuka pintu kamar Lian.
Betapa terkejutnya aku saat melihat kondisi Lian yang ada dihadapanku sekarang. Wajahnya banyak luka, darah kering dan tangannya sepertinya diperban juga. Keadaan Lian benar-benar buruk.
Mata Lian tertutup oleh rambutnya yang sudah mulai panjang. Sementara kedua tangan dan kakinya seperti masih kaku dan sulit digerakkan, aku bisa melihatnya setiap kali Lian bergerak. Seperti ada rasa sakit yang membatasi gerakannya.
"Coba kemarin kita gak putus ya yan, mungkin malam itu kamu lagi dirumah aku ngerjain tugas. Bukannya keluyuran cari angin sampe digebugin gini" batinku.
Tak lama Lian terbangun, matanya masih tertutup tapi mulutnya berbicara. "Bi, tolong ambilin minum" katanya dengan suara yang lemah.
"Bentar aku ambilin" kataku.
Lian terlihat kaget saat melihat aku ada di kamarnya. Dia seolah tidak percaya bahwa bukan bibi yang menjaganya saat itu.
"Nih, kamu bisa bangun sendiri?" tanyaku sambil memberikan segelas air putih.
"Rain, kamu kenapa bisa disini?".... Bibi mana?" tanya Lian...
"Udah nanti aja ceritanya, Lian minum dulu" kataku sambil membantu Lian mengangkat badannya untuk duduk.
Kelihatannya seluruh badan Lian sakit karena ketika hendak duduk saja, Lian seperti kesusahan dan sesekali dia merintih kesakitan.
"Bibi ada pengajian, bibi telpon aku tadi siang minta aku tungguin kamu disini sampe dia pulang" jelasku.
"Makasih ya rain... Maaf lagi-lagi Lian repotin kamu" katanya sambil menatap mataku.
Mendengar Lian bicara begitu, hatiku rasanya sakit.
"Aku mau memeluk Lian, aku mau bilang kalau aku khawatir. Aku mau menanyakan banyak hal ke Lian tentang kejadian kenapa dia bisa dipukuli sampai masuk rumah sakit begini. Aku mau Lian tahu kalau aku gak bener-bener minta putus" gumamku.
"Kamu udah makan? Kata bibi nanti jam 7 jadwalnya kamu periksa ya?" tanyaku.
"Belum, soalnya makanan rumah sakit gak enak" gerutunya.
Akupun mempersiapkan peralatan makan untuk menyuapi Lian. Meski Lian menolak, aku tidak peduli. Lian harus makan masakan Ibu. Dia harus tau bahwa di dunia ini, sekalipun dia jauh dari Papa dan Mamanya... Setidaknya dia masih punya orang yang bisa dia andalkan..
lanjuutttt
ditunggu feedbacknya 😍
ditunggu kunjungannya di :
CAHAYA YANG HILANG
TERJEBAK DALAM PERNIKAHAN SEMU