Cinta? Apakah rasa itu akan hadir? Padahal posisinya hanya pengganti kakaknya sebagai pengantin pria, terlebih pernikahan itu juga karena perjodohan tidak ada istilah mengenal apalagi pacaran.
Namanya Azzam, dia sosok yang berhati lembut, tidak dingin bagaikan es dan salju.
Lalu, akankah cinta itu tumbuh bersamaan dengan interaksi yang sering ia lakukan bersama istrinya? Terlebih istrinya belum menginjak usia 20 tahun.
"Dasar pedofil" begitulah kalimat yang sering keluar dari mulut istrinya.
Kelanjutkan kisahnya? stay tuned ajaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Introspeksi Diri
“Mai, kayaknya kita harus pindah ke rumah baru secepatnya. Kalo bisa sekarang juga!” ucap Azzam setelah selesai menyuapi Maira. Hari ini Maira sarapan di kamarnya, Azzam dengan kelemah lembutannya melayani Maira dengan sepenuh hati. Maira masih sedikit trauma dengan kejadian semalam, hampir saja kehormatannya direnggut oleh pria-pria tak bermartabat itu. Maira menangis sesungukan lagi. Azzam merengkuh tubuh Maira, dia berikan pelukan kehangatan pada Maira.
“Mai… kamu jangan sedih lagi kakak akan selalu ada buat kamu” Azzam memegang tangan Maira berusaha meyakinkan wanita itu untuk tidak terus larut dalam kesedihan.
“Mai… kakak mau kok jadi donatur biar kita bisa naik ke Rinjani” pancing Azzam, tetapi Maira belum berhenti menangis.
“Maiiii apa kamu dengerin kakak?”
Maira mengangguk pelan, matanya sudah sembab sejak semalam dia baru bisa tidur setelah solat subuh tapi kembali terbangun setengah jam berikutnya. Azzam sangat tidak bisa melihat wanitanya menangis, kelemahannya ada pada Maira.
“Kaa-kk… Maa-afin Maira yaaa… Haa-rusnya ak-ku dengerin kakak… Ma-aafin Maira kak” wajah Maira dipenuhi air mata. “Kak.. Maira janji, Maira akan intropeksi diri! Jangan tinggalin Maira kakk…” Maira menangis kembali, dia sadar dia bersalah. Andai saja waktu bisa diputar ulang mungkin dia akan bersikap lebih baik pada suaminya.
“Engga Mai kakak ga akan ninggalin kamu. Maafin kakak… Maaf Mai seharusnya kakak ga ketiduran… kakak minta maaf” Azzam menyesali keteledorannya.
“Kak Maira hauss….. “ ucapnya dengan suara serak. Azzam buru-buru mengambil minum di atas nakas dan memberikannya pada Maira, Maira meneguknya sampai tandas tidak ada yang tersisa. “apa kita bisa pergi sekarang kak?”
“Eh… iya Mai, kita ke rumah mama dulu ambil barang-baarang kamu di mobil kakak. Kakak juga belum tau alamat rumah baru kita”
“Ayo kak…” Maira sudah beranjak dari kasurnya.
“Apa kamu ga mau mandi dulu?”
“Bahkan aku sudah berendam dan memberishkan diri dari jam 4 sampai subuh… aku ingin menghilangkan bekas tangan laki-laki itu yang sudah memegang ku” Azzam diam, tidak tahu jawaban apa yang harus diberikan pada Maira. “Sudahlah kak ayo… semoga saja rumah pilihan mama benar-benar tepat”
“Kamu ga mau untuk sekedar cuci muka?”
“Iya kak Maira cuci muka dulu… nanti kita pamit dulu ya kak sama bunda” Azzam mengangguk, lalu membereskan barang-barang yang akan dibawa ke rumah barunya. Termasuk oleh-oleh yang belum Maira bagikan pada teman-temannya.
***
Objek yang pertama kali mengalihkan perhatian Maira setelah memasuki gerbang rumah Efendi ada di samping taman. Pandangannya tidak lepas dari rumah pohon yang ada di sana. Azzam melirik Maira, ternyata wanita itu tetap fokus pada objek yang sedang diamatinya.
“Mai, kamu mau masuk ke sana?” Azzam menunjuk rumah pohon yang sedari tadi dipandangi Maira.
“A-pa aku boleh masuk kak?” tanya Maira sedikit ragu, Azzam mengangguk mantab.
“Tentu saja boleh… bahkan kamu bisa tidur di sana kalo mau”
“Eh.. apa ada kamar tidur atau ranjang di sana?” Azzam mengangguk, membuat Maira semakin takjub.
“Kak… ayo bermalam di sana!” Ajak Maira, yang dijawab dengan senyuman dan anggukan oleh Azzam. Syukurlah sepertinya suasana hati wanita itu sudah lebih baik. Mereka keluar dari mobil dan menuju rumah pohon itu terlebih dahulu.
Maira memandangi rumah pohon itu dengan kekaguman, dia menghirup udara dari sana, merasakan nikmatnya menghirup udara segar. Menetralkan pikiran yang sudah menggangunya. Dia mulai menapaki tangga dan diikutioleh Azzam. Mukanya sudah kembali berseri-seri, seperti tidak ada beban yang menggangu pikirannya.
“Kamu senang Mai?” tanya Azzam yang sudah duduk di kursi rotan samping Maira. Maira memberikan senyum terbaiknya pada Azzam, Azzam ikut senang. “Kamu mau masuk ke dalam?”
“Iya kak… “ Azzam beranjak dari duduknya dan mengambil kunci yang ditaruh di kotak yang tertempel di dinding kayu. Dia membuka pintu rumah pohon itu dan mempersilahkan Maira untuk masuk. Sungguh, itu lebih dari ekspektasinya. Maira melonjak-lonjak kegirangan, ada ranjang tidur yang muat untuk 2 orang dengan jendela besar di belakangnya, mungkin jika dibuka hembusan angin sepoi-sepoi akan masuk ke sana dan membuat nyaman untuk tidur. Dinding kayu itu ditempeli berbagai lukisan keindahan alam, dan poto-poto masa kecil Azzam dan Adnan. Disudut ruang itu masih ada batang serta daun pohon yang tetap ada dan sofa serta meja yang dijadikan alas untuk tatakan televisi. Ketika Maira membuka jendela yang berada di belakang ranjang, angin berhembus masuk dan mata Maira langsung diarahkan pemandangan dedaunan dan taman yang berisi berbagai macam bunga.
“Maa sha Allah kak… ini indah banget. Tapi kalo tata letak ranjang ini dipindah ngadep ke taman kayaknya lebih bagus lagi kak”
“Tapi kalo ngadep ke taman jadi aneh dong Mai…”
“Ehmm iya juga sih… atau ranjangya di kesampingin aja deh. Eh mending ga usah di kesampingin kak… diganti aja ranjangnya, pakek yang polos ga ada sandaran kepala ranjangnya” Azzam tampak berpikir, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya, sepertinya ide Maira benar juga.
“Nanti deh kakak bilang ke mama.. sampe lupa belum nyapa mama, ayok Mai ke rumah dulu”
“Ahh iya, maaf ya kak. Tapi nanti malam jadi tidur di sini kan?” tanya Maira memastikan.
“Iya… kita masuk dulu nanti kalo udah solat isya kita ke sini”
Akhirnya mereka keluar dari rumah pohon itu, lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum… ” ucap Azzam dan Maira berbarengan lalu masuk ke dalam rumah.
“Waalaikum salam… wah menantu mama dateng ke rumah” mama Retna menyambut Maira dengan pelukannya.
“Jadi Azzam ga dipeluk juga ma… Azzam sukses loh sidangnya”
“Ah… iya mama sampai lupa kalo punya anak laki-laki… “ mama Retna beralih memeluk Azzam. “Selamat ya sayang atas sidangnya… semoga ilmu mu bermanfaat” imbuh Mama Retna sembari mengacak-acak rambut Azzam.
“Maaa Azzam udah gede bukan anak kecil lagi, mama mah bikin malu Azzam… tuh liat Maira ketawa-ketawa” Azzam menunjuk Maira yang sudah menahan tawanya.
“Zam kamu ke atas dulu gih… mama pinjam istrimu bentar”
“Eh mama mau ngapain?"
“Mau ngajarin dia bikin rendang, biar kamu betah makan di rumah. Ayok sayang ke dapur” mama Retna mengait lengan Maira menuntunnya menuju dapur, Azzam tentunya mengekori kedua wanita itu.
“Nah… sini sayang pakek celemeknya dulu” mama Retna memakaikan celemek pada Maira. “Sekarang kita siapin bahannya… kamu di rumah sering masak?” mama Retna mengambil bahan-bahan di kulkas. imbuh mama Retna, dan Maira mengngangguk.
“Bunda sering ngajak Maira masak di dapur… jadi Maira juga udah biasa masak kalo bunda lagi sakit atau pergi”
“Waah… Azzam beruntung dapet istri kaya kamu” Maira menyunggingkan senyum, jika diingat sebenarnya itu tidak sesuai.
“Bukan kak Azzam yang beruntung ma… tapi Maira, ka Azzam baik banget sama Maira tapi Maira malah suka egois. Maaf yaa maa Maira belum bisa jadi istri yang baik buat kak Azzam…” bunda merangkul pundak Maira.
“Kalian sama-sama beruntung, dan sekarang Maira sedang berproses untuk menjadi istri yang baik buat Azzam. Yaudah yuk kita mulai masaknya” Mama Retna mengambil bumbu-bumbu halus dan memasukkannya pada belender.
“Mah… kenapa ga diuleg aja? Maira bisa kok nguleg bumbunya, mungkin cita rasanya bakalan beda”
“Waaah Zam istri kamu memang top” Mama Retna menoleh ke belakang dan mengajungkan kedua jempolnya.
Aku harus menebus kesalahan ku pada kak Azzam, semoga saja hasilnya tidak mengecewakan, batin Maira dalam hatinya.
“Ma ini cabenya juga ikut diuleg langsung?” tanya Maira, dan dijawab dengan anggukan.
“Kamu uleg bawang putihnya dulu sayang, terus bawang putih, sama cabenya. Nanti kamu pisahin dulu biar gampang nguleg bumbu lainnya kaya jahe, pala, kapulaga… mama meras santan dulu” Maira mengannguk mengerti lalu menguleg bawang putih terlebih dahulu sesuai anjuran mama Retna. Setelah selesai menguleng bumbu-bumbu itu Maira menyiapkan panci.
“Ah iya lupa serai sama lengkuasnya belum maira geprek… dimana ya maa kok Maira belum lihat” mama Retna menghampiri Maira dan benar ternyata dia lupa menaruh kedua bumbu itu di meja dapur.
“Sebentar sayang mama ambil di kulkas dulu” Mama Retna lalu mengambil bahan yang kurang itu.
“Mama santannya udah selesai di peras semua?”
“Udah sayang kamu masukin dulu semua bumbunya ke panci” Maira menuruti perintah mertuanya. Kemudian mama Retna menuangkan santan yang sudah dia peras dari parutan kelapa. Setelah itu Maira menyalakan kompor dan mulai mengaduk-aduk isi panci itu. Sementara mata Azzam mengekori pergerakan Maira yang sedang berkutat dengan bumbu-bumbu rendangnya di dalam panci.
“Mai.. mau kakak bantu?” tawar Azzam yang melihat tangan Maira sudah mulai lesu mengaduk-aduk santan dan bumbu di panci.
“Kamu masukin dagingnya Zam ke panci! Nih dagingnya udah selesai mama cuci” mama Retna memberikan setengah baskom daging yang sudah terpotong-potong dan dibersihkan pada Azzam.
“Kalo tangan kamu pegel kakak aja yang gantiin…” Maira menggeleng keras, dia tidak mau mambuat Azzam kerepotan lagi.
“Udah kak, kakak duduk tenang aja yaa di kursi. Nanti kalo udah mateng kakak yang pertama cobain rendang buatan Maira” Maira mengibaskan tangannya menyuruh Azzam kembali duduk di kursi.
“Waah Mai… baunya udah kecium, airnya juga udah mulai nyusut” ucap mama Retna dengan menyunggingkan senyum. “Padahal abang sama papanya lebih suka makan ayam pop daripada rendang, mungkin dia nurun mama”
“Ehmmm apa kak Azzam turunan minang asli ma?” tanya Maira sambil terus mengaduk rendangnya. Dia memang belum mengetahui apapun tentang Azzam, kecuali dengan S2 dan rajinnya dia beribadah. Hanya itu yang Maira tahu, selebihnya Maira tidak tahu.
“Engga… Azzam itu minang campuran. Mama asli orang Bukit Tinggi, kalo papanya orang Palembang. Tapi pada intinya dia turunan orang Sumatera haha…” Maira manggut-mangut, bahkan dia baru tahu kalau Azzam itu orang Sumatera. Maira pikir Azzam keturunan orang jawa seperti dirinya.
“Mama ke kamar bentar ya sayang kalo kalian mau makan duluan gapapa jangan nunggu mama” Maira mengangguk lalu mama Retna meninggalkan Maira dan Azzam di dapur.
Tak lama rendang Maira benar-benar matang, airnya sudah menyusut dan berubah menjadi kumpulan minyak. Hal itu tentunya karena santan kelapa. Maira mematikan kompornya dan memindahkan rendang itu pada piring besar.
Saat piring itu ditaruh tepat di depan Azzam dia langsung menelan ludah. Sepertinya rendang itu benar-benar menggugah seleranya.
“Kakak mau makan sekarang?” tawar Maira pada Azzam, dia mengganguk.
“Oke sebentar Maira siapin piring dulu. Kakak mau diambilin nasi berapa centong?”
“Terserah kamu aja Mai… kita makan berdua yaa”
Maira berlalu meninggalkan Azzam dan mengambil piring serta nasi yang ada di penanak nasi. Maira kembali dengan membawa nasi yang siap dimakan untuk tiga orang.
“Sepertinya kakak lapar… tapi Maira ga yakin sama rasa rendangnya. Bentar Maira pisah dulu nasinya”
“Kok dipisah?” tanya Azzam, padahal dia menyuruh Maira untuk makan sepiring berdua.
“Nanti kalo kurang nambah lagi dari sini… biar engga bolak-balik juga. Kakak mau minum apa?”
“Air dingin aja Mai…” Maira mengambil air dingin yang ada di kulkas dekat dengan meja makan.
“Hmmm” Azzam menghirup bau yang keluar dari rendang buatan Maira. Tak lama mama retna ikut bergabung di meja makan.
“Gapapa kamu layani Azzam aja, mama bisa ngambil sendiri kok” Maira mengganguk menuruti perintah mertuanya.
“Mai… kok pakek sendok si? Pakek tangan aja lebih nikmat”
“Eh emangnya kakak udah cuci tangan? Ini juga mau ngambil rendang kak bukan buat makan” Azzam menahan malu, sudah dua kali dia salah paham pada Maira.
“Ii-ni mau cuci tangan kok…” Azzam berjalan ke wastafel dan memncuci tangannya dengan sabun di sana.
“Bismillahirrahmanirrahim…”ucap Maira dan Azzam berbarengan., kemudian memasukkan makanan itu ke dalam mulut mereka masing-masing. Mama Retna yang melihat itu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia belum mencoba rendang buatan Maira karena menungu anaknya terlebih daahulu untuk mencobanya.
“Onde mandeeee lamak banaaa…. Maiii ini enak banget huaaa nandingin buatan mama deh. Mama kalo masak rendang ga pernah di uleg” ucap Azzam setelah selesai mengunyah makan pertamanya.
“Bukan itu kali Zam… mungkin Maira ngasih bumbu cinta di dalam masakannya” ucap mama Retna meralat ucapan Azzam. Sementara Maira sudah tetunduk, tersipu malu. Sementara Azzam sudah kegirangan dan ber-iyes ria dalam hatinya. Tak butuh waktu lama mereka menyelesaikan makan pertamanya.
“Tambuah ciek!” Maira mengerutkan keningnya karena tidak tahu arti ucapan Azzam, sedangkan mama Retna tersenyum senang.
Sepertinya putraku sudah benar-benar kasmaran, batin Mama Retna.
“Dia minta nambah Mai…” Maira ber-oh lalu mengambil piring nasi yang sudah dipisahkannya tadi.
“Kamu ga makan lagi Mai?” tanya Azzam sebelum menyantap makan keduanya. Maira menggelengkan kepalanya.
“Assalamualaikum…” ucap seseorang dari ruang tamu yang bisa terdengar sampai ruang makan.
“Ma kayanya ada tamu.. aku samperin dulu yaa” tawar Maira dan dijawab anggukan oleh mertuanya. Dia mencuci tangannya di wastafel dulu lalu beranjak menuju ruang tamu.
***
Hai haiii team yes Azzam Maira.
Happy Saturday semoga suka yaaa
Menerima kritikan dan saran 🙏