Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.
Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Duaaarrrr......
Suara guntur terdengar sangat keras namun tidak membuat Aini terkejut. Sebaliknya Aini terkejut mendengar kata kata Rama..
"Apa maksud kamu sayang?" Tanya Aini
"Oh nggak, nggak....saya hanya bilang saya pria paling beruntung memiliki kamu sayang " Kata Rama mengalihkan pembicaraan
Aini tersenyum kaku, beberapa hari ini dia sudah melihat perubahan pada diri suaminya. Cara Rama menatap Dewi, dulu sekali tatapan itu hanya untuk dirinya. Tujuh belas tahun Aini hanya melihat dia di mata suaminya. Tapi kini... ?
"Saya ke toilet sebentar sayang, udah kebelet" Kata Aini
Aini memilih ke toilet dalam ruang kerjanya, dia juga melewati ruangan tempat Dewi bekerja.
"Jadi orang nggak waras yang kamu hindari itu Rama ya ?" Tanya Deni
"Apaan sih di bahas itu lagi?"
"Hahaha.. Sorry.. Sorry, saya cuman mikir kok bisa dia juga lewat jalan sungai kecil itu?"
Kening Dewi berkerut.
"Kamu penasaran ya? Tanya aja langsung ke orangnya. kamu kan kenal dia juga, dekat malah"
"Nggak lah, ada istrinya "
Dewi diam dan memilih sibuk dengan pekerjaannya
"Atau mungkin si Rama membuntuti kamu sayang..?"
Dewi merasa kesal,ia membanting sedikit kasar ponselnya
"Sajak kapan kamu suka kepo kayak gini Den? Mau bagaimanapun Rama sampai ke jalan sungai kecil saya nggak perduli. Itu nggak penting untuk saya"
Di balik pintu Aini berdiri mematung mendengar obrolan Dewi dan Deni.
"Jadi sejak tadi dia bersama Dewi di gubuk itu? Apa yang sudah mereka lakukan? " Batin Aini.
Aini merasakan sesak di dadanya dengan cepat Aini berlalu pergi dari tempat itu. Aini masih ingin mendengar lagi pembicaraan mereka namum Aini sudah melihat beberapa orang sedang menatap dirinya yang berdiri menguping pembicaraan orang lain. Aini melihat ke arah tempat dia datang memastikan Rama tidak menyusul dirinya karena pergi terlalu lama.
Aini kembali menuju meja tempat Rama berada.
"Kamu baik baik aja kan ?" Tanya Rama
"Hm.. Ya saya juga sakit perut jadi lama" Jawab Aini
Ada sesuatu yang bergetar dalam hati Aini " haruskah saya ragu pada ketulusan Rama?" batin Aini menatap Rama
"Tapi ada sesuatu juga yang berubah pada dirinya" batin Aini lagi.
"Sayang.....hey .. Sayang... kamu kenapa? Kamu beneran baik baik aja? " Aini sama sekali tidak mendengar Rama memanggil dirinya
"Ehh.. Iy... Iya sayang,saya baik baik aja kok "
"Kamu lagi mikiran apa sampai nggak denger saya panggil ? " Tanya Rama
"Saya cuma mikir, kenapa kita nggak adopsi anak mbak Tiara aja " Kata Aini
"Anak mbak Tiara? Kok berubah, bukannya kita udah sepakat mau mengadopsi salah satu anak anak Dewi, saya lagi coba mendekati Dewi. Kamu kan tau itu Ni? " Kata Rama yang merasa aneh dengan perubahan istrinya yang tiba-tiba saja
"Hummm ya cuman kelamaan, sampai hari ini kita bahkan nggak tau Dewi mau apa nggak. Melihat kita aja dia nggak respon sama sekali " Sahut Aini
Rama menarik nafas panjang, sedikit kesal dengan keras kepala istrinya.
"Kita hanya perlu menunggu, kenapa harus anak mbak Tiara kalau saya juga punya anak kandung yang bisa saya rawat" Jawab Rama tanpa perduli dengan perubahan raut wajah Aini.
Aini terkejut mendengar ucapan Rama
"Kenapa ngomong kayak gitu sayang?"
"Kamu nggak bisa bersabar, semua butuh proses. Nggak semudah itu. Kamu minta anak mbak Tiara pun belum tentu dikasih begitu aja"
"Kenapa nggak di kasih ?"
Sebuah senyum sinis terukir di bibir Rama
"Kamu mungkin lupa gimana dulu kamu menghina kak Aji. Bahkan di saat mereka menikah kamu masih mengatakan bahwa mbak Tiara memiliki nasib yang buruk karena menikahi pria pincang " Kata kata Rama membuat Aini terdiam.
"Terus sekarang kamu mau mengadopsi anak mbak Tiara?" Rama tertawa, dia merasa lucu dengan permintaan istrinya. Dia tahu bagaimana sifat istrinya yang sebenarnya. Orang lain mungkin melihat bahwa Aini memiliki hati yang baik, Ya Aini sangat pandai menutupi sifatnya yang sebenarnya. Kata kata Aini kadang malah menyakiti orang lain.
Salah satunya Tiara kakaknya sendiri, dia sering mengatakan kekasihnya kakak nya itu tidak normal berjalan. Kasihan kalau sampai kakaknya memiliki suami yang tidak sempurna seperti Aji.
Seperti itulah kata kata Aini, Rama juga mengingat ketika dia mengantarkan Aini pertama kali gabung dalam perkumpulan di komplek tempat mereka tinggal, di saat awal-awal menikah.
Aini bahkan terang terangan mengatakan kalau rumah tempat mereka berkumpul sangat jorok dan dia tidak bisa minum dengan wadah seperti itu.
Rama menarik nafas panjang,.dia menggenggam tangan istrinya.
"Dewi juga sudah punya suami, kamu nggak harus berpikir yang jauh. Ok ". Genggaman tangan Rama semakin erat.
Pukul lima sore Dewi kembali ke rumahnya, saat memasuki ruang depan Dewi mendengar Randi sedang menerima telpon
"kamu nggak perlu khawatir gitu sayang, saya nggak mungkin suka sama Dewi. Kalau emang perasaan itu ada. udah dari dulu. Mungkin saya nggak perlu nikah sama kamu" Dewi berdiri mendengar Randi yang sedang bicara di telepon
"Kamu fokus aja dengan program hamil mu agar bisa memberi cucu untuk mama sama papa " Dewi tertawa kecil mendengar Randi mengatakan cucu.
"Bermimpi aja terus" Batin Dewi
"Mariam, sayang kamu dengerin saya dulu, saya di sini karena saya nggak mau Dewi curiga. Kamu ingat kan apa kata ibu? Dewi nggak boleh tahu dulu tentang pernikahan kita "
Dewi melangkah perlahan lahan kembali keluar, ia sengaja membunyikan bel motor agar Randi tau dia pulang.
Tak lama kemudian Dewi melihat Randi sudah keluar rumah dengan senyum di bibirnya
"Kamu baru pulang sayang? Loh baju kamu kok beda?".
"Saya kehujanan tadi pas mau ke tempat kerja, saya pesan baju sama teman untuk ganti "
"Oh ya udah, masuk yuk.. Saya udah masak untuk makan malam kita "
"Tumben banget kak ?" Alis Dewi terangkat
"Nggak apa-apa kan sesekali manjakan istri?"
Dewi hanya mengangguk
Randi hanya menatap punggung Dewi yang berlalu masuk kedalam kamar mereka. Detakan jantungnya semakin terasa saat melihat Dewi.
Entah apa yang akan terjadi jika Dewi dan Mariam tau dengan perasaannya yang sebenarnya.
"Gini amat rasanya sembunyikan perasaan ini " Randi membatin.
Randi melihat lagi pesan masuk dari Mariam, Randi hanya membaca lalu menutup kembali aplikasi WhatsApp nya.
Dewi keluar dari kamar, Arumi sudah di meja makan bersama Randi. Seperti biasa..Yan akan makan sendiri setelah mereka selesai makan.
"Ibu, Tadi di sekolah ada om om sama tante tante yang cariin Arumi. Mereka menggunakan mobil, Kayaknya suami istri deh bu" Kata Arumi
"Cariin adek? emang adek kenal mereka ?" Tanya Dewi dan di jawab dengan gelengan kepala Arumi.
"Ya kata temen temen mereka malah nungguin Arumi, cuman kan Arumi lagi ikut ibadah sekolah Bu jadi Arumi nggak tau siapa mereka" Terang Arumi.
"Siapa ya ?".
"Mereka nggak ngomong apa-apa gitu sama adek ?" Sambung Randi
"Arumi nggak ketemu mereka Yah, nggak ngomong apa-apa mereka cuman bilang ke teman teman Arumi mau ketemu Arumi,. kebetulan Naya yang mereka temui duluan" kata Arumi lagi
"Oh iya Arumi lupa, kata Naya kalau si om itu mirip kak Yan Bu " Dewi dan Randi sama sama diam dan menatap satu sama lain. Mereka tau siapa yang Arumi maksud.
Dewi tak ingin Arumi curiga, dia tersenyum
"Dek...lain kali,.siapapun itu kalau adek nggak kenal nggak usah temui ya "
"Arumi pikir dia mungkin keluarga kita Bu karena kata Naya wajahnya mirip kakak " Kata Arumi lagi
"Iya dek, banyak kok dek yang punya wajah mirip lagi. Tu adek kan lihat artis artis aja ada yang wajah mereka mirip kayak kembar tapi ternyata mereka nggak punya hubungan darah sama sekali " Terang Dewi sabar.
Randi menatap istrinya yang memberikan penjelasan kepada Arumi. Ada rasa kagum pada Dewi yang memiliki kesabaran. Dia tidak marah marah atau langsung melarang Arumi bertemu si om om itu karena Dewi tau itu pasti Rama.
"Iya ibu....nanti kalau dia datang lagi adek nggak mau temuin dia. Untung aja tadi nggak ketemu "
"Iya sayang.. Jangan di temui dan jangan mau kalau di ajak kemana mana ya" kata Dewi lagi
Kemudian mereka melanjutkan makan, Dewi merasa harus mencegah Rama melakukan ini. Dia tidak mau Rama menemui anak anaknya. Apalagi Arumi sama sekali tidak mengenal dirinya.
Dewi merasakan tangannya di genggam oleh Randi, Dewi membalas dengan senyuman.
"Ayah, ibu Arumi udah kenyang. Arumi ke kamar duluan ya mau kerjain tugas "
"Iya dek " Randi yang menjawab
Setelah Arumi menghilangkan ke dalam kamarnya, Dewi mendengar suara pintu kamar di buka
Kening Dewi berkerut, tumben sekali Yan keluar kamar di saat Randi di rumah.
"Kak.. Kakak mau makan ?" Tanya Dewi
Yan diam, dia duduk di kedua orangtuanya. Tatapan matanya langsung tertuju pada Dewi.
"Bu.. Saya nggak suka laki laki itu datang mencari saya di sekolah. Siapapun dia saya nggak perduli " Ujar Yan
"Apa maksud kamu kak ?" Tanya Dewi belum mengerti.
"Teman teman saya mengatakan kalau seorang pria datang ke sekolah dan menemui kepala sekolah , ia ketemu kepala sekolah karena ingin bertemu saya bu"
Dewi terkejut, ia mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.
"Saya juga nggak mau dia mencari Arumi, pulang sekolah tadi Arumi juga kasih tau saya kalau dia di cari sama pria itu. Malah Arumi bilang wajahnya mirip saya "
Dewi dan Randi semakin terkejut, Randi terkejut dengan keberanian ayah kandung Yan yang mencari mereka sampai ke sekolah. Dewi terkejut karena Rama sampai mencari Yan ke sekolahnya
"Ibu tau, bahkan dia berani ngomong kalau dia tu Ayah kandung saya " Kata Yan
"Apa.....?"
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Up lagi ya readers 😘😘