Musim 1 (1-103) Musim 2 (104-226) Musim 3 (227-310)
Kisah cinta yang telah terjalin sekian lama, tiba-tiba harus kandas di tengah jalan, setelah seorang lelaki lain merenggut kehormatan sang kekasih dan membuatnya mengandung benih dari lelaki tersebut.
Rencana pernikahan mereka terpaksa pupus begitu saja karena sang kekasih mau tidak mau harus dinikahi dan menjadi istri dari lelaki yang telah menodainya, demi masa depan anak dalam kandungannya.
Bagaimanakah akhir kisah mereka? Akankah takdir berpihak pada cinta keduanya ataukah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisha Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 MEMBUKA HATI
"Jangan bersedih lagi, Ga."
"Dan jangan lagi membuatku khawatir, Ra."
Yoga mengambil tangan Nara yang masih terus mengusapi wajahnya. Menyatukan jemari tangan mereka hingga saling bertautan, lalu mencium punggung tangan istrinya dengan mata terpejam, diiringi doa-doa panjang yang terus diucapkannya dalam hati, memohon kesehatan dan kesembuhan untuk wanita tercintanya.
Di saat sedih seperti ini, sikap Nara yang manis dan lembut padanya, membuat Yoga melambungkan bahagianya yang tak terkira. Hanya perhatian kecil dari Nara pun, telah bisa membuatnya terus memupuk harapan, Nara akan membuka hati untuk dirinya, walau entah kapan saat yang dinantinya itu akan tiba.
"Kata Ardi, kamu terlalu banyak pikiran sehingga berpengaruh pada kondisi kandunganmu."
Nara diam, menundukkan padangannya ke bawah, ke arah perutnya yang mulai terasa lebih baik dari sebelumnya.
(Maafkan Ibu ya, Nak. Ibu sudah membuatmu ikut merasakan kesedihan Ibu...)
"Aku mohon, utamakan kesehatanmu, Ra. Jika ada yang membuatmu tidak nyaman, katakan saja padaku."
"Apa pun itu, jangan menyimpan bebanmu sendirian lagi. Ada aku bersamamu, yang akan selalu siap menjadi tempatmu berbagi."
(Mengapa semakin lama, sikap dan perhatiannya semakin membuatku nyaman dan selalu ingin merasakan kenyamanan itu? Inikah dirinya yang sebenarnya, seperti yang sering diceritakan oleh Bibi Asih dan Pak Budi?)
Yoga membawa tangan mereka ke atas perut besar Nara, dengan tetap saling bersentuhan. Diciumnya puncak perut itu dan mengusapi dengan lembut seperti kebiasaannya setiap hari.
"Sehat-sehat bersama Ibu ya, Nak. Ayah akan selalu menjaga kalian, membahagiakan kalian dan memberikan yang terbaik untuk kalian. Ayah sangat menyayangi dan mencintai kalian berdua!"
Tanpa mereka sadari, Ardi sudah masuk dan berdiri di samping tirai, menyaksikan interaksi dua anak manusia di hadapannya, yang dilihatnya telah mulai saling memberikan sinyal cinta.
"Ehmm...! Maaf aku harus mengganggu dulu, karena Nara akan dipindahkan ke ruang perawatannya."
Nara menarik tangannya menjauh dari tangan Yoga yang masih berada di atas perutnya. Yoga sendiri dengan tenangnya hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri.
Bunga datang membawa sebuah kursi roda untuk Nara, tapi Yoga dengan sigap memposisikan diri untuk menggendong Nara.
"Tidak perlu menggunakan itu. Aku sendiri yang akan membawa istriku ke ruangannya. Bantu saja untuk memegang cairan infusnya!"
Bunga menoleh menatap Ardi untuk meminta persetujuan. Ardi mengangguk dan memberi jalan pada kekasihnya untuk mengambil cairan infus yang tergantung pada tiangnya.
Setelah semuanya siap, dengan hati-hati Yoga mengangkat tubuh Nara dan mendekapnya di depan dada dengan erat. Nara menyamankan posisinya dengan melingkarkan tangannya di leher lelaki itu. Mereka kembali menyatukan pandangan dalam diam yang penuh makna.
Yoga mengikuti langkah kaki Ardi diikuti Bunga dan keluarga Nara yang sebelumnya menunggu di luar ruang penanganan.
Nara ditempatkan di lantai dua klinik ternama milik Ardi. Dia menempati salah satu ruangan paling berkelas dari semua ruangan yang tersedia.
Pelan-pelan Yoga menurunkan Nara di atas tempat tidur, lalu menyelimutinya hingga menutupi bagian perutnya. Bunga menggantungkan kantong cairan infus di tiang yang tersedia, memastikan aliran sudah lancar dan teratur, kemudian mundur dan pamit keluar lebih dulu untuk mengurusi pasien yang lain.
"Kita lihat dulu perkembangan kondisi Nara untuk beberapa hari ke depan. Kalau semuanya membaik dan bagus secara keseluruhan, bisa dilanjutkan pemulihannya di rumah."
Ardi juga berpesan agar Nara menjaga kondisi hatinya, tidak berpikiran terlalu berat dan menjaga emosinya.
Setelah memastikan semuanya, Ardi pun pamit untuk kembali ke ruangannya, mengingat dia sudah meninggalkan ruang prakteknya cukup lama, demi mengutamakan permintaan sahabatnya yang tidak pernah bisa dibantah oleh siapa pun.
Nara ditemani oleh kedua orangtuanya dan Indra, sementara Yoga pamit ke luar ruangan untuk menghubungi Pak Budi agar segera mengantarkan beberapa barang keperluan untuk Nara dan dirinya.
Di saat Bapak, Indra juga Yoga sedang pergi ke musholla klinik di lantai bawah, Nara menceritakan semua kesedihannya pada Ibu.
"Aku harus bagaimana, Bu? Dokter Ardi berpesan agar aku bisa menjaga emosiku dan tidak berpikiran hal-hal yang berat. Tapi melihat Alan bersama wanita lain dan terlihat begitu dekat dan akrab, hatiku sangat sedih dan terluka. Aku kecewa dengan sikapnya yang sudah mengabaikan aku, Bu."
"Apa kamu masih mencintainya, dan cemburu melihatnya bersama wanita lain?" Tanya Ibu.
Nara bingung harus menjawab apa. Dia rasa dia masih mencintai Alan seperti dulu. Tapi apa yang terjadi akhir-akhir ini saat dirinya berdekatan dengan Yoga, apakah itu juga dinamakan cinta? Apakah dia juga sudah mulai mencintai suaminya itu? Atau hanya sekedar perasaan nyaman karena perlakuan baik lelaki itu terhadapnya?
"Sulit untuk melupakan orang yang sudah menetap di hati kita sangat lama, Bu. Lima tahun aku dan Alan bersama, berbagi suka duka, dari kami bertemu saat baru lulus kuliah, masih tergantung pada orangtua hingga sama-sama mendapatkan pekerjaan dan mulai mempersiapkan semuanya untuk masa depan kami. Semua itu sangat sulit untuk tidak aku ingat lagi, Bu."
Ibu memahami perasaan putri satu-satunya itu. Dia bisa merasakan sulitnya Nara jika harus melupakan Alan juga rasa cintanya pada Alan. Tidak hanya Nara, bahkan Ibu dan Bapak pun masih sangat menyayangi calon menantunya tersebut.
Tapi mereka juga harus melihat dan menerima kenyataan yang ada, jika sekarang sudah ada Yoga yang hadir menjadi anggota baru dalam keluarga mereka, dengan status sebagai menantu mereka, suami dari Nara.
"Ibu tidak memintamu untuk melupakan Alan, tapi cobalah membuka hatimu untuk Yoga."
Nara menatap Ibu tak mengerti. Membuka hati untuk Yoga? Apa maksud Ibu?
"Kalian sudah menikah, wajar jika Alan menjauh dan mungkin dia juga tengah belajar untuk membuka hatinya untuk wanita lain. Apa kamu ingin, dia menunggumu terus dan sendirian di sana hanya demi menunggumu yang sudah hidup bersama lelaki lain dan menjadi milik lelaki lain? Bukankah itu egois namanya?"
Nara terkesiap mendengar penuturan Ibu. Semua yang dikatakan Ibu memang benar. Dia akan menjadi seorang yang egois jika berharap Alan akan terus menunggunya, sementara dia sendiri sudah terikat dengan Yoga dan mungkin akan selamanya demikian.
Tidak mungkin Yoga dan dirinya akan berpisah atau memikirkan tentang perpisahan, sementara tak lama lagi hubungan mereka akan terikat semakin erat dengan kehadiran anak di antara mereka, yang harus mereka rawat dan besarkan bersama-sama.
"Ibu tidak memintamu untuk melupakan perasaanmu pada Alan. Tapi lupakan harapanmu untuk bisa kembali padanya karena itu sama saja kamu sudah berharap buruk untuk pernikahan kamu sendiri. Apa kamu berpikir untuk bercerai darinya?"
Lagi-lagi Nara merasa tertohok dengan ucapan Ibu. Dia ingin menghancurkan pernikahannya sendiri, dengan berharap untuk bisa kembali bersama Alan?
(Tidak! Aku tidak menginginkan itu!)
"Tidak, Bu. Aku tidak mau pernikahanku hancur. Aku tidak mau kehilangan Yoga. Aku tidak ingin berpisah darinya, Bu. Aku menc......."
Ucapan Nara terputus dan tertahan di ujung pelepasan. Tanpa sadar dia hampir saja mengakui perasaannya terhadap Yoga. Dia tidak mengerti mengapa kata-katanya mengalir begitu saja keluar dari mulutnya, seolah itu ungkapan dari hati kecilnya yang terdalam.
"Ehmm..., maksudku, aku sudah merasa nyaman bersamanya. Aku mulai terbiasa dengan sikap dan perhatian yang selalu ditunjukkannya padaku."
Bagiamanapun caranya berkilah dan menutupi perasaannya, tidak mungkin dia bisa membohongi Ibunya sendiri. Tanpa dia ucapkan dan tanpa dia jelaskan pun, Ibu sudah bisa menebak isi hati Nara, sekalipun dia menyangkal dan tidak ingin mengakuinya.
"Bukalah hatimu untuk Yoga. Cobalah untuk menerimanya masuk ke dalam hatimu. Rasakan kehadirannya di dalam sana dan resapilah apa yang kamu rasakan dengan keberadaannya di dalam hatimu. Maka kamu akan mengetahui jawaban yang sesungguhnya atas perasaanmu kepadanya."
"Dengan demikian, kamu akan mengetahui perasaanmu pada mereka berdua, dan bisa bijaksana dalam mengambil keputusan untuk masa depanmu sendiri."
Tanpa Nara dan Ibu ketahui, dari balik pintu yang sedikit terbuka, seseorang mendengarkan pembicaraan mereka dan mengetahui semua isi hati Nara yang ditujukan untuk Yoga, suaminya.
(Ternyata benar, hatimu telah berpaling dariku, Ra. Cintamu mulai tumbuh untuk dirinya. Kamu hanya ingin bersamanya dan tidak lagi mengharapkan kehadiranku kembali dalam hidupmu...)
Lelaki itu urung masuk untuk menemui Nara. Dia berbalik dan melangkah gontai meninggalkan ruang perawatan wanita yang masih dicintainya itu.
Tapi baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram lengannya dan menariknya dengan paksa untuk menjauh dari keramaian, menuju sebuah lorong kosong di ujung koridor.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
.
nyeseknya gak kuat
sampai bab ini aku bacanya nangis terus,cinta segitiga yang menyayat hati