Novel ini lanjutan dari novel "TOUCH YOUR HEART" jadi jika ingin nyambung, bisa mampir dulu ke novel Author yang itu.
Nizar adalah seorang pilot muda yang tampan, kehidupan Nizar seakan kiamat kala melihat kedua orang tuanya meninggal secara bersamaan. Hidup Nizar seakan hampa bahkan sifat Nizar pun berubah menjadi dingin, cuek, dan juga galak.
Nizar dan adiknya Haidar harus melanjutkan hidup meskipun terasa sangat sulit tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Hingga pada akhirnya, seorang wanita cantik tiba-tiba hadir di kehidupan Nizar dan memporak-porandakan perasaan Nizar.
Siapakah wanita cantik itu? apakah wanita itu mampu mengembalikan semangat hidup Nizar atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 Penyesalan
Dewa melirik ke arah Nizar. "Sedang apa kamu di sini?" geram Papa Dewa.
"Jangan macam-macam, Nizar adalah orang yang sudah menemukan Binar," sahut Mama Yulia.
"Kamu harus berhati-hati Yulia, dia tahu jika Binar anak orang kaya maka dari itu dia mendekati Binar dan berusaha mengambil perhatian keluarganya," ucap Papa Dewa.
Nizar mengerutkan keningnya, dia merasa lucu dengan ucapan Dewa. Begitu pun dengan Yulia yang merasa jika mantan suaminya itu tidak tahu apa-apa.
"Tahu apa kamu mengenai Nizar? justru saya akan menjodohkan Binar dengan Nizar," sahut Mama Yulia.
"Tidak, saya sebagai Papanya tidak rela jika Binar menikah dengan seorang sopir. Mau dikasih makan apa Binar, palingan yang ada dia akan numpang hidup pada Binar," tolak Papa Dewa.
"Kamu tidak berhak lagi dengan kehidupan Binar, lebih baik kamu fokus saja dengan keluarga barumu itu. Dan sekarang saya sudah sehat, jadi hak asuh Binar saya ambil dan Binar akan tinggal bersama saya," tegas Mama Yulia.
Tidak lama kemudian, Binar mulai sadar. "Mas Nizar," lirih Binar.
"Iya, ini aku Binar," sahut Nizar dengan segera menghampiri Binar.
"Aku ingin pulang, Mas," lirih Binar.
"Tenang, kamu sudah pulang dan sekarang kamu sudah berada di rumah sakit," sahut Nizar.
"Sayang, ini Mama," ucap Mama Yulia.
"Mama....Pak Suga, mana?"
"Ini saya Nona, apa Nona butuh sesuatu?" tanya Pak Suga.
Binar menggelengkan kepalanya, ternyata yang Binar tanyakan hanya Nizar, Suga, dan juga Mamanya. Sedangkan Dewa, sama sekali tidak Binar tanyakan membuat Dewa yang berada di sana merasakan ngilu.
"Sayang, Papa juga ada di sini," ucap Papa Dewa mendekati Binar.
Binar langsung memalingkan wajahnya. "Anda lebih baik pergi dari sini, aku tidak mau bertemu dengan anda lagi. Bukannya anda sudah tidak menganggap aku sebagai anakmu, jadi aku pun sudah ikhlas jika namaku dihapus dari kartu keluargamu," ucap Binar.
"Binar, maafkan Papa, Papa tidak bermaksud seperti itu," mohon Papa Dewa.
"Sudah puluhan kali anda minta maaf tapi puluhan kali juga anda menyakiti aku. Bahkan anda tidak peduli dengan perasaan aku, yang anda pikirkan hanya istri dan anak-anak tiri anda. Sekarang aku beritahu, jika yang berusaha membunuh aku itu adalah si Virlo jadi kalau anda tidak bisa memasukan dia ke penjara maka biar aku sendiri yang seret dia," ucap Binar.
Dewa terdiam membisu. "Pak Suga!" panggil Binar.
"Iya, Nona," sahut Pak Suga.
"Tolong suruh orang itu keluar dari sini, aku tidak mau bertemu lagi dengan dia," seru Binar.
Suga pun mengangguk. "Tuan dengarkan 'kan apa yang dikatakan Nona Binar, apa Tuan bisa keluar sekarang juga? jangan sampai saya menyeret anda keluar dari sini!" tegas Pak Suga.
"Kamu sudah berani kepada saya, Suga!" bentak Papa Dewa.
"Maaf Tuan, sekarang bos saya hanya Nona Binar dan Nyonya Yulia jadi selain itu bukan bos saya," sahut Pak Suga.
Dewa mengepalkan tangannya, lalu dia pun keluar dari ruangan rawat Binar. Hati Binar sudah membantu untuk Dewa, tidak ada penyesalan sekali dalam diri Binar justru sebaliknya, Dewa yang saat timbul perasaan menyesal. Dewa pun segera pulang, sesampainya di rumah terlihat anak-anak dan istrinya sedang duduk di ruang tengah.
"Papa, cepat sekali sudah pulang lagi?" tanya Mama Dona.
"Kemas barang-barang kalian semua," ucap Papa Dewa.
"Hah, maksud Papa apa?" tanya Virlo tidak mengerti.
"Ini sudah bukan rumah Papa lagi, karena rumah ini sekarang sudah menjadi milik Binar dan Yulia jadi mereka meminta waktu 3 hari dari sekarang supaya kita meninggalkan rumah ini," sahut Papa Dewa.
"Apa? terus kita harus tinggal di mana?" tanya Mama Dona panik.
"Nanti Papa cari rumah baru buat kita," sahut Papa Dewa.
"Tapi rumahnya harus sama seperti ini ya, Pa. Vero gak mau kalau rumahnya lebih kecil daripada rumah ini," rengek Veronika.
"Sepertinya Papa tidak bisa membeli rumah seperti ini lagi karena kita harus bisa memanfaatkan uang. Papa sudah tidak punya perusahaan karena itu sebagian besar milik Yulia, saham Papa di sana cuma sedikit," jelas Papa Dewa.
"Apa? Mama tidak mau ya, sampai diledekin sama teman-teman Mama. Masa tiba-tiba Mama harus turun derajat sih, si Yulia pasti semakin bahagia melihat Mama sengsara. Memangnya Papa tega melihat Mama jadi bahan ledekan Yulia!" geram Mama Dona.
"Ma, kita harus sadar diri sekarang. Apalagi Vero harus menjalani cuci darah seumur hidup dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kemarin-kemarin Atta masih bisa membantu kita karena dia pacarnya Vero tapi sekarang Atta sudah membatalkan pernikahannya dengan Vero, otomatis sekarang kita harus irit dalam keuangan," kesal Papa Dewa.
"Tapi Pa----"
"Jangan banyak protes, lebih baik sekarang kalian kemas barang-barang kalian," ucap Papa Dewa sembari melengos pergi.
"Kurang ajar, mereka semakin menjadi-jadi. Mama memang benar, seharusnya kemarin-kemarin Virlo langsung saja lenyapkan Binar," geram Virlo.
"Pokoknya kita harus lenyapkan Binar dan Yulia, supaya kehidupan kita tidak sengsara lagi," ucap Mama Dona.
"Vero gak mau pindah rumah Ma, Vero sudah nyaman tinggal di sini," rengek Veronika.
***
Malam pun tiba....
"Nizar, lebih baik kamu pulang saja sepertinya kamu sudah kecapean seperti itu," ucap Mama Yulia.
"Tidak apa-apa, Tante. Nizar kuat kok," sahut Nizar.
"Tidak, pokoknya sekarang kamu pulang dulu untuk istirahat, besok kamu boleh ke sini lagi," ucap Mama Yulia kembali.
Nizar terdiam sejenak, dia melihat ke arah Binar yang sudah terlelap itu. "Ya sudah, Nizar pulang dulu besok pagi Nizar ke sini lagi," ucap Nizar.
Yulia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Nizar pun akhirnya memutuskan untuk pulang dan istirahat.
"Nyonya tidurlah, biar Nona Binar saya yang jaga," ucap Pak Suga.
"Baiklah."
Yulia pun mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang di samping Binar. Suga duduk di samping Binar dan memperhatikan Binar dengan seksama. Entah kenapa hatinya begitu ngilu melihat keadaan Binar, dia merasa sudah gagal menjaga Binar.
Menjelang tengah malam, Binar mulai membuka matanya. Dia terbangun di tengah malam karena merasakan haus, tapi betapa terkejutnya Binar saat melihat Suga sedang membenarkan selimut Mamanya. Suga begitu sangat perhatian kepada Yulia membuat Binar sedikit menyunggingkan senyumannya.
"Sepertinya aku sangat bahagia jika Pak Suga mau menjadi Papa aku," batin Binar.
Binar menunggu sampai Suga selesai, dia tidak mau mengganggu atau pun mengagetkan Suga takutnya Suga malu. Setelah Suga membenarkan selimut Yulia, dia pun duduk di sofa dan Binar pura-pura tertidur lagi. Binar merasa sangat bahagia, memang saat ini Binar sangat mengharapkan Suga mau menjadi Papanya.
ngakak banget ya ampun sama nasibnya si Dewa 😂😂