Semoga kisah nikah dadakan Atun Kumal dekil, dan Abdul kere menang judi 200 juta ini menghibur para readers sekalian...🥰🥰🥰
Happy reading....!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duduk melamun
"Aku lebih baik disini saja Mas." jawab Atun pelan, tidak mau mengulang pertengkaran yang tadi membuat pipinya sakit bahkan terasa panas hingga saat ini.
"Ngapain kamu di sini Tun? Tidak usah sok perhatian dan terlalu baik kepada emakmu. Apakah yang dilakukan emak tirimu di masa lalu belum cukup untuk membuat jarak di hatimu kepadanya? Ingat Tun, kamu itu sangat tersiksa sebelum menikah dengan aku."
Atun mendongak wajah suaminya yang dulu begitu hangat, manis dan menenangkan. Entah mengapa sekarang menjadi berkebalikan. Jika dulu ia sangat merasa bahagia menatap wajah pria satu-satunya yang dicintai itu, namun sekarang tidak. Hatinya berdenyut nyeri mengingat pukulan tangan Abdul yang menyakitkan hati. Belum lagi permasalahan di rumah besar tadi masih menggantung. Dia tidak tahu bagaimana kebenarannya, tapi hatinya sudah sangat curiga.
"Ingat Tun, aku ini suamimu. Jangan membantah jika aku memintamu pulang!" kesal Abdul tak juga mendapatkan jawaban.
"Aku ingat Mas! Tentu saja aku selalu ingat. Tapi untuk saat ini aku mau di sini dulu sampai Emak sadar. Lagipula, kita tidak bisa pulang bersama dalam keadaan hati sama-sama kacau begini. Aku tidak ingin bertengkar lagi."
Meskipun nadanya lebih tenang, namun hatinya berkecamuk, Atun pula tidak meninggikan suaranya, walaupun emosinya masih tersisa.
"Kamu tidak mau pulang?" Abdul bertambah kesal.
"Lama-lama, kamu itu menjengkelkan! Melihat wajahmu membuat aku semakin emosi saja, jadi bernafsu untuk memukulmu lagi!" geram Abdul, ia mengepalkan tangannya.
"Kalau begitu, mas Abdul pulang saja."
Atun berbalik meninggalkan Abdul, ia tak peduli suaminya itu sangat kesal. Menuruti Abdul pun hasilnya akan sama saja. Atun takut malah akan lebih parah.
"Kurang ajar kamu Tun. Sejak kapan kamu sudah menjadi perempuan pembangkang!" teriak Abdul.
Atun tak peduli, hingga akhir Abdul memilih pergi, entah pulang ke rumahnya, atau malah pulang ke rumah mewah milik bosnya, Atun tidak tahu.
Atun memilih duduk sendiri di samping gedung klinik. Selain memikirkan emak, ia juga butuh waktu sendiri untuk memikirkan hidupnya yang tidak ada senang-senangnya.
"Awal menikah kamu begitu baik sama aku Mas, tapi kenapa sekarang ini kamu malah sering marah-marah."
Memetik daun-daun dan membuangnya sembarangan. Atun menatap hampa kepada pohon-pohon kerdil di halaman klinik tersebut, pikirannya menerawang jauh, kacau, tidak tahu arah dan tujuan. Bahkan hamparan langit yang cerah menjadi kelabu di matanya. Bintang yang bertaburan pun hanya seperti kerikil yang tidak ada indah-indahnya.
"Tun, mending kamu masuk. Di sini banyak nyamuk." panggilan Ammar terdengar di telinganya.
Atun menoleh, sang kakak ipar berdiri melihatnya dari pintu masuk klinik, Ammar menjulurkan kepalanya di sana.
"Iya Mas." jawab Atun, masih enggan beranjak. Ia melanjutkan lamunannya lagi.
"Kok ya Mas Abdul tega sama aku." gumamnya lagi, kali ini ia berbicara kepada pohon kedondong yang sebagian daunnya sudah habis karena tangan Atun yang memetik dan membuangnya sejak tadi.
"Kalau memang mas Abdul tidak melakukan kesalahan, harusnya ia tetap di sini, menemani aku, menenangkan aku." gerutunya lagi.
"Apakah kamu yakin Abdul selingkuh sama si Wina?" tanya Rara, tiba-tiba saja perempuan itu sudah berdiri di belakang Atun.
"Ngagetin aja Mbak!" kesal Atun.
"Tun Kamu harus tahu, kalau laki-laki itu tidak ada yang setia. Tidak ada!"
Perempuan yang berkulit putih bersih itu duduk di samping Atun, tidak seperti biasanya dia hanya bisa berkata ketus terhadap semua orang, kali ini lebih lembut.
"Ada lah Mbak, tidak semua." sahut Atun setengah mendesah berat.
"Kata siapa?" tanya Rara menoleh Atun adik bungsunya itu.
"Ya ada Mbak." Sahut Atun lagi, ia hanya menyangkal tapi tidak tahu harus mencontohkan kepada siapa.
"Tidak ada Tun. Coba kamu lihat Mas Bima, kamu tahu sendiri kalau suamiku itu sangat tidak setia." ucap Rara dengan terlihat hampa.
"Ya tidak semua laki itu tidak setia Mbak. Hanya saja, kita terlalu sering bertemu dengan pria yang seperti itu. Atau mungkin sudah takdir kita untuk tidak jauh-jauh dari mereka." kata Atun.
"Justru karena itu Tun, aku jadi semakin yakin kalau semua laki-laki itu tidak setia. Contoh utamanya saja, bapak kita!" Rara menggeleng pelan.
Atun pun mendesah lagi, tentu saja dia tahu itu. Bahkan Rara dan Ajeng itu menjadi saudari seayah karena emak Rodiah merebut bapaknya. Atun ikut menggelengkan kepala kali ini.
"Kamu marah begitu juga tidak ada gunanya tahu! Yang ada Abdul semakin membenci kamu. Karena kalau laki-laki sudah menyukai perempuan lainnya, maka sesempurna apapun kamu, tetap saja ada yang mengalahkan mu Tun." ucap Rara menunjuk bahu Atun, sedikit menekannya agar adik bungsunya itu meyakini ucapannya.
Kini Atun tersenyum kecut, ia memperhatikan kakak tertuanya itu dengan seksama. Dari ujung kepala hingga ujung kaki semuanya tampak sempurna. Tubuh yang putih mulus berisi, postur sang kakak pun tak kalah sempurna, tinggi dan selalu berpakaian bagus, rapi dan cantik sekali.
Lalu ia menilik diri sendiri. Penampilannya sungguh menyedihkan dengan kaos oblong sudah lapuk, dan celana jins yang juga sudah lapuk, warna saja sudah tak jelas, antara biru dan abu-abu. Atun sendiri tidak bisa menggambarkannya.
"Dengan Mbak Rara saja aku seperti majikan dan pembantu. Apalagi dengan perempuan yang merupakan atasan Mas Abdul. Tentu saja akan terlihat seperti Upik abu." Atun bergumam di dalam hati, sambil sesekali menertawai diri sendiri.
"Aku bertahan karena aku tidak mau miskin Tun, yang terpenting bagiku Mas Bima masih memberiku uang, juga status pernikahan yang jelas. Kalau dia mau selingkuh ya terserah, yang terpenting tidak di bawa di depanku." Rara pun tersenyum getir mengakui semua itu kepada Atun.
"Tapi rasanya sakit Mbak, membayangkannya saja aku sangat sedih." sahut Atun pelan sekali.
"Ya, Itu aku Tun. Kalau kamu kan beda lagi. Aku tidak bisa menyamakan aku dan kamu. Lagipula Abdul begitu beringas kalau sedang marah, aku ngeri melihatnya." ucap Rara.
Atun mengangguk. Andai saja dulu itu dia tidak terburu-buru untuk mengajak Abdul kawin lari, mungkin ini semuanya tidak akan terjadi. Begitu sesalnya di dalam hati.
"Wina itu, seorang janda yang sudah punya anak satu. Aku tidak tahu dia itu jandanya sejak kapan, orang aku juga baru di komplek situ."
"Mbak kenal dia?" tanya Atun, menoleh kakak iparnya itu.
Rara mengangguk. "Dia juga ikut arisan komplek, setiap hari Minggu ke dua dalam satu bulan." jelas Rara.
"Besok Minggu Mbak?" tanya Atun, wajahnya sedikit sumringah mendengar cerita sang kakak.
"Iya. Besok arisan di rumah ku."
Atun menyunggingkan senyumnya, dia tahu bagaimana cara mengungkapkan kecurigaannya terhadap Abdul. Kalau dipaksa, tentulah hanya bertengkar pada akhirnya, mana mungkin laki-laki akan mengakui begitu saja.
btw smg kk thor ttp lnjut dan smgt nukis meski sibuk juga