*Sekuel dari cerita "Ada pelangi sehabis hujan"
Juna, seorang pria yang sangat menggilai pekerjaan, hari-harinya hanya dilalui dengan pekerjaan. Baginya pekerjaan adalah hal yang terpenting dalam hidupnya setelah keluarganya.
Orang tuanya berusaha mencarikan jodoh untuknya. Tapi, setiap wanita yang datang untuk dijodohkan padanya semuanya gagal. Menurut Juna wanita itu tidak ada yang menarik baginya. Padahal wanita yang dijodohkan padanya wanita yang cantik dan tampak seksi.
Wanita seperti apa yang dapat menaklukkan hati Juna? Seorang pria yang menggilai pekerjaan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilda ellen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penembakan
Kini Icha dan kedua sahabatnya itu keluar dengan menggunakan pakaian biasa mereka. Icha dan Isabella juga sudah membersihkan wajah mereka dari riasan makeup mereka.
Icha langsung mendekati Juna, sambil membawa buku-buku yang ingin dipelajarinya. Karena dia harus mempersiapkan dirinya untuk rapat dengan para pemegang saham.
"Bagaimana apa masih ada yang belum kamu mengerti, Cha?" tanya Juna ketika Icha sudah duduk didepannya.
"Tidak kak! Aku sudah mengerti semua! Tapi, aku tidak tahu, apakah nanti bisa menangani perusahaan papa?" ucapnya dengan suara pelan.
Juna masih bisa mendengar apa yang diucapkan Icha.
"Pasti bisa! Yakinlah! Jika kamu mengalami kesulitan, kamu bisa bertukar pikiran dengan kakak!" ucap Juna sambil menatap Icha.
Icha yang mendengar ucapan Juna, langsung merasa tenang. Dia tidak tahu entah kenapa setiap mendengar ucapan Juna, membuat dia merasa lebih tenang.
***
Setelah menghabiskan waktu membaca bukunya dan berkas-berkas selama satu jam, membuat Icha mulai bosan. Dia melihat kearah Juna yang duduk didepannya, masih sibuk dengan gadget tablet nya. Icha tahu saat ini Juna pasti memeriksa pekerjaannya.
Icha juga melihat sekelilingnya nya, para pegawainya sebagian sudah ada yang pulang karena sif mereka yang habis dan sebagian lagi melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan para sahabatnya itu sudah pulang setengah jam yang lalu karena sudah merasa lelah. Hanya ada pengunjung toko kuenya saja yang duduk disekitar mereka.
"Kak Juna tidak balik? Ini sudah sore!" ucap Icha. Juna langsung menghentikan kegiatannya.
"Kamu sudah siap? Kalau sudah siap, kakak akan mengantar kamu pulang!" ucap Juna sambil menatap Icha.
Icha pun langsung mengangguk kepalanya. Dia memang ingin pulang. Dia ingin beristirahat, karena rasa lelah sudah menghinggapinya. Apalagi dia kakinya saat ini perlu istirahat, akan bat terlalu lama mengucapkan sepatu high heels.
Icha pun langsung masuk kedalam, mengambil barang-barangnya yang perlu dibawanya pulang.
***
Saat Icha ingin masuk kedalam mobil Juna, tiba-tiba seseorang dari jarak agak jauh. Dua orang yang memakai helm, mereka menatap Icha dengan tajam. Dan salah satu dari mereka, yang duduk dibelakang mengambil pistol yang sudah disiapkan nya, pria itu langsung mengarahkannya ke Icha.
Dor...
"Ah..." jerit Icha dengan keras.
Pelurunya tidak mengenai Icha. Pelurunya meleset mengenai pintu mobil Juna. Icha langsung masuk kedalam mobil Juna. Tidak hanya Icha saja yang kaget Juna dan orang-orang yang ada disekitar mereka juga kaget mendengar suara letusan pistol.
Kedua orang yang ingin membunuh Icha langsung lari, karena mereka takut ketahuan. Tapi ada beberapa orang yang melihatnya dan langsung mencatat plat kereta itu.
"Icha kamu tidak apa-apa?" tanya Juna kuatir ketika Icha sudah berada dalam mobilnya sambil melihat tubuh Icha.
"Tidak apa-apa, kak!" ucap Icha. Juna bisa melihat wajah Icha saat ini pucat.
"Mbak Icha tidak apa-apa?" tanya salah satu karyawan yang sudah berada di samping mobil Juna.
Ternyata para karyawan dan pengunjung yang mendengar suara tembakan, mereka langsung berlari ke dekat Icha.
"Tidak apa-apa" jawab Icha dengan lemas.
"Kamu yakin?" tanya Juna dengan cemas.
"Iya, kak! Sekarang aku hanya mau pulang!" ucap Icha.
"Baiklah, aku akan mengantar kamu pulang!" ucap Juna.
"Tolong perhatikan semuanya, ya Rin! Nanti aku akan kabari!" ucap Icha, ketika dia melihat Ririn yang kini sudah disampingnya.
"Iya, mbak!" ucap Ririn.
***
Didalam mobil, Icha terus menatap ke depan. Dia terus teringat dengan kejadian yang menimpanya tadi.
"Cha, bagaimana kalau kamu tinggal dirumah kakak?" tanya Juna sambil menatap Icha.
Mendengar pertanyaan Juna, Icha melihat kearah Juna.
"Tidak perlu, kak! Aku tidak apa-apa!" jawab Icha.
"Tapi, Cha!"
"Semuanya akan baik-baik saja, kak! Aku baik-baik saja!" Icha memotong ucap Juna.
Icha tahu saat ini Juna pasti kuatir padanya. Tapi, dia tidak ingin membuat Juna celaka. Karena, dia yakin kalau dia bersama Juna, pasti orang tersebut pasti akan mencelakai Juna.
Akhirnya mereka sampai di rumah Icha. Sebelum turun, Icha ingin menyampaikan sesuatu pada Juna.
"Terimakasih, kak! Maaf, kak! Mulai saat ini kita tidak perlu ketemu dulu. Terimakasih untuk semuanya! Maaf!" ucap Icha.
Mendengar ucapan Icha membuat Juna kaget. Dia tidak menyangka, Icha tidak mau ketemu dengannya. Juna langsung menarik tangan Icha, sebelum Icha keluar dari mobilnya.
"Kenapa, Cha? Apa ada yang salah?" tanya Juna dengan bingung.
"Tidak, kak! Maaf!" ucap Icha sambil menarik tangannya dari tangan Juna.
Juna hanya bisa diam saja. Dia bingung apa yang harus dilakukannya. Dia tidak bisa tidak melihat Icha. Karena, perasaannya dengan Icha saat ini bukan lah rasa kagum. Dia sudah yakin, kalau dia telah jatuh cinta pada Icha.
Juna hanya bisa melihat kepergian Icha.
***
Didalam kamar, Icha langsung mengambil bajunya. Dia ingin merendamkan tubuhnya dengan air hangat.
Didalam bathub Icha terbayang dengan wajah Juna yang sedih dan bingung ketika mendengar ucapannya. Sebenarnya, Icha berat mengatakannya. Karena dia merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.
Tapi, kalau Juna tetap di sisinya, pasti membuat Juna dalam bahaya. Karena setiap dia bersama dengan Juna, kalau ada terjadi sesuatu pasti Juna selalu menolong dirinya, tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri.
Icha tidak mau Juna terluka lagi karena dirinya. Apalagi kalau Juna terluka, pasti keluaga nya juga akan terluka dan sedih.
"Maaf, kak!" gumam Icha sambil menutup wajahnya dan langsung menenggelamkan tubuhnya kedalam air.
***
Juna sampai dirumahnya, saat dia masuk kedalam rumah, dia melihat kedua orang tuanya sedang duduk diruang tengah. Dia mengabaikan orang tuanya yang menyapanya, karena pikirannya terus ke Icha.
"Kenapa dengan Juna, pa?" tanya Rani ketika melihat putranya sangat lesu.
"Papa tidak tau! Mungkin dia lagi banyak kerjaan!" ucap Ray papanya Juna.
Mereka hanya menatap punggung putra mereka saja yang pergi langsung naik keatas begitu saja.
***
Kini Juna langsung merebahkan tubuhnya dia tempat tidurnya. Saat dia ingin menutup matanya, dia langsung teringat kejadian yang menimpa Icha dan ucapan Icha yang mengatakan mereka tidak perlu ketemu lagi.
"Ah...!" jerit Juna yang langsung bangkit dari tidurnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Juna tidak bisa mengabaikan begitu saja. Dia tidak mungkin membiarkan Icha dalam bahaya. Juna langsung mengambil hpnya. Dia menelpon Satria dan yang yang lainnya. Dia ingin meminta solusi dari para sahabatnya itu.
***
Kini Juna berada dirumah Gio, begitu juga para sahabatnya sudah berkumpul.
Juna langsung memberi tahu apa yang terjadi pada Icha dan juga mengatakan tentang Icha supaya mereka tidak ketemu dulu.
"Mungkin dia kuatir kalau kakak akan dalam bahaya!" ucap Maya.
"Benar, aku yakin itu. Dia terpaksa mengatakan seperti itu pada kamu, Jun!" timpal Satria.
Juna hanya diam saja apa yang diucapkan, sahabatnya dan adik nya itu.
"Lebih baik kamu harus tetap memantaunya, buat beberapa bodyguard untuk menjaganya dari jauh!" ucap Gio.
Mendengar ucap Gio, membuat Juna langsung menatap Gio. Dia pun langsung menganggap dirinya bodoh. Karena tidak memikirkan hal itu tadi.
***
jangan sampai dia berhasil dsn merusak semuanya....
pernikahan icha dan juna
icha untuk kali ini saja jangan protes ya...
walaupun kamu jago karate tapi kamu tetaplah seorang gadis...yg butuh perlindungan
ahhhh jangan sampai icha diculik ya....
khan mau married sama kak juna
jangan bilang kalau dia jahat
yg sangat berat dan taruhannya nyawa...