"Aku Eve, akan ku pastikan kamu ada di genggamanku, Kak"
.
.
.
Bagaimana kisah Revalina Diharjo mengejar cinta Sahabat Kakaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Katakan kamu juga merindukan aku
Arya sedang berbincang dengan sahabat nya dan saling melempar candaan, saat sebuah panggilan masuk ke hapenya.
Arya kehilangan senyum saat melihat siapa yang membuat panggilan. Dia menolak panggilan itu. Sempat Lelaki itu melirik ke arah dimana tadi dia menyapa Papa dan Mama Dimas.
'Tidak ada di sana sudah.. ' Batin Guru yang banting setir menjadi Pengusaha itu.
Ponsel Arya kembali bergetar. Arya memutuskan untuk mengganti hapenya ke mode diam, sehingga Dia tidak lagi tahu ada yang sedang menelpon.
Pukul 11 malam, Tamu di rumah Keluarga Dimas telah bubar. Hanya tersisa Empat sekawan yakni Dimas, Bagas, Arya dan Arkana, ditambah dengan Raja. Mereka tengah memperbincangkan isu yang sedang hangat belakangan ini.
"Dimas .. Raja.. Kalian melihat Eve?!".
Mama datang tergesa - gesa menghampiri kedua putranya yang masih mengobrol, di belakangnya ada Papa yang sibuk menelpon, dengan wajah khawatir.
"Bukan kah tadi Eve di dalam, Ma? ". Kedua kakak beradik itu segera berdiri, dan menghampiri Mama.
"Dia tidak ada dimanapun.. Ya ampuun, dimana anak itu?".
Mama menekan pelipisnya. Pusing dan khawatir menjadi satu.
"Sebentar Dimas telpon orang rumah, siapa tahu Dia pulang ke sana, Ma..".
"Mau apa dia pulang ke sana? Semuanya di sini loh, Dim.. !".
Walaupun demikian, Dimas tetap menelpon satpam di rumahnya. Hasilnya, tidak ada Eve di sana.
Sementara itu, Raja menelpon Tania, sahabat Eve. Namun tidak ada jawaban. Diapun mengirim pesan ke Tania, barangkali nanti gadis teman Eve itu menjawab saat membuka ponselnya.
Tamu terakhir yang tadi masih mengobrol terdiam dengan pikirannya masing - masing.
Arya yang tadi mendapatkan telpon bertubi dari Eve, membuka ponselnya. Ada delapan puluh lima panggilan tak terjawab dari Eve. Tidak ada pesan apapun yang dikirim gadis itu, hanya panggilan yang tidak dia jawab. Melihat kekhawatiran di keluarga Sahabatnya, Arya memutuskan untuk ikut menghubungi Eve. Panggilan itu menyambung, namun tidak dijawab. Akhirnya Lelaki itu memutuskan mengirim pesan.
'Eve, Kamu dimana? Jangan membuat Papa dan Mama khawatir ! '
'Kurangi kebiasaanmu yang pergi tanpa pamit ! '
Dua pesan telah Arya kirim. Salah satu kebiasaan Eve yang membuat Arya kesal. Tidak di sekolah, tapi di luar sekolah juga.
'Dasar gadis itu '.
Melihat kondisi keluarganya yang tidak kondusif, Dimas meminta sahabatnya yang masih disana untuk pulang saja.
"Gua cari dia di sepanjang jalan nanti, Dim.. Semoga adek lo cepet ketemu yaa.. Tapi feeling gua, dia ada di rumah sahabatnya..". Arka menepuk pundak Dimas, sebelum berpamitan pulang. Bagas dan Arya pun turut berpamitan.
Sementara itu, Gadis yang tengah dicari oleh keluarganya, sedang berjalan memasuki halaman rumah seseorang. Seseorang yang tadi dia telpon berkali - kali namun tidak mengangkat. Karena kecewa, Eve memutuskan untuk menunggu Lelaki itu di rumah ini. Dia yakin sekali bahwa Kak Arya nya akan menginap di tempat ini. Ada hal gila yang dibayangkannya tadi, memeluk Lelaki itu dengan penuh kenyamanan.
Eve sudah menapakkan kakinya di teras rumah. Cahaya remang di teras, menyamarkan keberadaan Eve di rumah itu.
Gadis itu duduk di sebuah bangku panjang, dia melirik ponselnya yang berulangkali menampilkan panggilan masuk dari keluarganya.
Sebuah mobil tampak memasuki area pelataran rumah Arya. Eve gegas menegakkan tubuhnya, setelah sebelumnya dia berbaring, karena lelah. Eve menunggu mobil itu datang, dan akhirnya harapannya terwujud.
Arya yang baru turun dari mobil, tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya. Dia berjalan menuju rumah sambil melihat ponselnya. Di mobil tadi, Dia mengirim pesan ke Tania, muridnya yang juga merupakan sahabat Eve. Seperti kata Arka tadi, feeling nya juga mengatakan bahwa gadis itu ada di rumah Tania.
"Kak Arya??".
Suara dari sudut temaram mengejutkan Arya, hingga ponsel yang dipegangnya jatuh.
"Eve? Itu kamu?". Arya mendekat ke arah suara, dan setelah dia menajamkan matanya, memang benar itu gadis yang sedang membuat khawatir orang satu rumah.
Arya memegang pundak Eve dengan keras, dan mengguncang nya.
"Bagaimana bisa kamu di sini, Revalinaa??? Keluargamu mencari mu !! Ya ampuun ".
Eve hanya bungkam. Dia justeru langsung menangis. Jantungnya terasa seperti diremas, sakit.
Arya beralih mencari ponselnya yang tadi terjatuh. Sialnya, ponsel itu malah mati.
"Jangan cengeng Ev ! Ayo Kakak antar kamu pulang ! ".
Arya menyeret lengan Eve dengan keras. Sementara itu gadis itu berontak tidak mau jika harus pulang ke rumah. Bayangan pelukan hangat dari Arya sudah di depan matanya.
"Sakit kak lenganku !". Lirih Eve kesakitan. Arya mencengkeram begitu keras. Refleks karena kesal dan khawatir di satu waktu.
Arya berhenti mencoba menyeret Eve. Cekalan tangannya terlepas dari lengan Eve.
"Hubungi keluargamu untuk menjemput disini, Ev ! ". Pinta Arya setelah mengumpulkan kesabarannya.
Ditengah temaram lampu, Arya bisa melihat Eve menggeleng.
Tanpa Arya duga, Eve bergerak cepat memeluknya. Pelukan yang sangat erat. Pelukan rindu dari seseorang yang merasa ditinggalkan, tanpa sempat berpamitan.
Arya membeku. Pelukan ini entah mengapa terasa berbeda. Dia pernah memeluk Eve saat menenangkan gadis itu, namun ini?
Eve menyandarkan kepalanya ke dada Arya, Dia mencari tempat ternyaman nya disana. Dia bisa mendengar jantung Arya yang berpacu cepat, sama dengan dirinya. Aroma Arya yang sangat dia rindukan, akhirnya tercium juga.
"Katakan kamu juga merindukan aku, Kak.. Please..". Eve membisikkan kalimat lirih ke arah jantung Arya berada.
"Ini tidak benar Ev ! Jangan seperti ini ". Arya m3ndesah frustasi. Berusaha mengurai pelukan Eve. Namun rupanya gadis yang menurutnya sedang kerasukan itu, begitu kuat sekarang.
"Balas pelukanku, Kaak ". Pinta Eve sekali lagi. Dia tidak mendapat balasan kata rindu dari mulut Arya. Namun detak jantung tak beraturan yang sama - sama dialami, bagi Eve cukup menjawab bahwa Lelaki itu juga merindukannya.
"Aku dari awal mencintai kamu kak.. Sekarang pun masih begitu.. Harusnya Kakak memilih Aku, bukan orang lain.. Apakah aku terlalu buruk di mata mu?".
Eve berbisik lirih. Wajahnya mendongak, menatap wajah tampan Arya yang nampak tegang. Eve tersenyum lembut. Dia merasai wajah Arya dengan telapak tangannya. Mata Eve terpejam, mencoba mengingat wajah itu, dan menggambarkannya di otaknya.
Eve kembali membuka matanya. Hal gila mulai terbayang di otaknya, setelah tadi pelukan hangat, kini bayangan kecupan bibir Arya begitu menggodanya.
Eve mengingat film romantis yang selalu ditontonnya bersama Tania, jika sedang bosan belajar. Eve mempraktekkannya sekarang.
Gadis itu mengalungkan tangannya ke leher Arya, dengan susah payah di berjinjit, agar mengimbangi tinggi badan Arya.
Akhirnya sebuah kecupan kaku mendarat di bibir Arya dari seorang Gadis Remaja yang katanya mencintainya dan ingin memilikinya. Arya merasa dirinya brengs3k, karena ada sudut hatinya yang menginginkan hal itu.
.
.
.
Stay tune yaaa ..