NovelToon NovelToon
Permainan Takdir

Permainan Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Cintamanis / CEO / Tamat
Popularitas:5.9M
Nilai: 5
Nama Author: el nurmala

Seorang anak yang mana kehadirannya tidak dikehendaki oleh ayahnya sendiri hanya karena ia terlahir sebagai anak perempuan.

Meydina namanya. Seorang anak yang semasa kecilnya tidak dianggap keberadaannya, kini telah tumbuh menjadi gadis cantik yang sederhana.
Pekerjaannya mempertemukan Meydina dengan seorang pria tampan dan gagah bernama Maliek Putra Bramasta yang merupakan atasannya.

Bagaimana kelanjutan hubungan mereka bila ternyata Meydina dan Maliek ada ikatan saudara?

Bagaimana pula kehidupan Meydina setelah ia disia-siakan?

Apakah hubungan ayah dan putrinya itu akan membaik seiring berjalanya waktu?

--------------

Cerita ini hanya fiksi, jika ada nama, tempat, dan kejadian yang serupa, itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

rahasia Anita

Happy reading.....

"Badr Salman?" ucapnya lirih.

***

"Hei, kau! kemari! apa ini?" tanya Salman pada tukang kebun.

"Itu batu, Tuan," sahut pria itu dengan raut wajahnya yang mulai ketakutan.

"Aku tahu ini batu. Apa kau pikir aku bodoh?" bentak Salman.

"Ma,, maaf, Tuan." Ia semakin menggigil ketakutan. Aura tuannya memang sanggup menciutkan nyali orang-orang di hadapannya.

"Sejak kapan ini ada disini?" tanya Salman.

"Itu sudah ada saat saya tiba disini, Tuan."

"Kau tidak tahu apa ini?"

"Awalnya saya tidak tahu."

"Awalnya? itu artinya sekarang kau tahu?" Salman merasa geram pada tukang kebun itu yang dianggapnya berbelit-belit.

"Iya. Pelayan yang sudah pulang beberapa tahun lalu mengatakan bahwa saya harus merawatnya dengan sangat baik."

"Apa maksudmu? Bicara yang benar!" hardik Salman.

"Menurut pelayan itu, disitu nyonya menguburkan janinnya setelah ia pulang dari rumah sakit saat mengalami keguguran."

"Nyonya? Apakah itu Anita?" gumamnya lirih.

"Pergilah! lanjutkan pekerjaanmu." titahnya pada pekerja itu.

Sekali lagi Salman berjongkok, menatap onggokan tanah yang tadi disebut sebagai pusara oleh tukang kebunnya.

Badr?? Bukankah itu nama untuk anak laki-laki? Bila benar ini pusara janin Anita yang gugur, mengapa istrinya itu memberikan nama laki-laki? Ada apa ini? Apakah Anita menyembunyikan sesuatu darinya?

Rentetan pertanyaan melintas dalam benak Salman. Ia ingat betul hasil USG yang di berikan Anita saat itu menyatakan janin yang dikandung perempuan. Tidak mungkin Anita melakukan hal yang sama dengan Lucy, memanipulasi hasil USG. Anita tahu benar keinginannya memiliki seorang putra.

Perlahan tangannya bergerak mengusap batu itu. Dadanya terasa sesak dengan mata yang berkaca-kaca. Salman segera bangkit untuk berdiri agar tidak larut dalam perasaan yang menyesakkan dadanya itu. Di ambilnya ponsel dari sakunya.

📱 "Aldo, apa semua sudah kau siapkan?"

📱 ".........."

📱 "Hmm. Baiklah."

Tut.. Tut... Salman menutup panggilannya.

Sebelum melangkah meninggalkan taman itu, sekali lagi ditatapnya pusara itu dengan perasaan sedih.

"Ibumu berhutang penjelasan padaku," ucap Salman lirih.

***

Al-Azmi Corp, merupakan perusahaan besar yang sangat termashur dinegara timur tengah. Perusahaan tersebut hampir menguasai seluruh aspek kehidupan.

Salman Al-Azmi merupakan pemegang saham terbesar di perusahaan itu, hampir sembilan puluh persen saham Salman ada disana. Sisanya adalah milik ayahnya yang kini jatuh pada Ahmed Al-Azmi, adiknya.

"Salman, kau memanggilku? ada apa?" tanya Ahmed.

"Untuk sementara, kau ambil alih tugas-tugasku disini. Aku ada urusan lain," ucap Salman datar.

"Ada masalah apa? dan foto siapa itu?" Ahmed memperhatikan Salman yang menatap beberapa foto yang tergeletak diatas meja kerjanya.

"Anita??" ucap Ahmed dengan raut wajah terkejut, saat memperhatikan satu foto yang kini dalam genggamannya.

"Tunggu, wanita ini mirip dengan Anita. Tapi aku yakin dia bukan Anita. Siapa dia?" tanya Ahmed bingung.

"Menurutmu?" sahut Salman, membuat sang adik semakin bingung.

"Aku akan meninggalkan negara ini untuk beberapa waktu kedepan. Kupercayakan semua padamu. Asistenku Sami yang akan membantumu."

"Baiklah," jawab Ahmed.

Ia merasakan sikap Salman tidak seperti biasanya, nada suaranya pun terdengar sedikit bergetar.

"Boleh aku tahu siapa dia?" tanya Ahmed sekali lagi.

"Ayolah, Salman. Sekali ini saja, jangan menutupi perasaanmu. Apa kau tidak merasa lelah dengan tingginya egomu itu?"

"Berhentilah bertanya! Aku hanya ingin kau melakukan tugasmu dengan baik." Salman meninggikan suaranya.

Ahmed hanya bisa menghela nafas panjang. Ia merasa kasihan pada Salman. Kakaknya itu memiliki segalanya, kecuali sesuatu yang disebut kebahagiaan.

"Apa dia keponakanku? Salumi-mu? bila itu benar, jangan ulangi kesalahanmu yang dulu. Kumohon Salman! Kau sudah tidak muda lagi, turunkanlah egomu itu! Laki-laki ataupun perempuan, seorang anak tetaplah anak, darah daging kita."

Salman hanya terdiam dengan mata yang masih menatap foto Meydina.

"Sepertinya dia gadis yang baik, tentu saja karena Anita ibunya wanita yang sangat baik, benar kan? Akan menyenangkan bila gadis secantik dia menjadi rekan kerja ku disini," goda Ahmed, ia tersenyum melihat Salman yang menatap geram atas ucapannya.

***

Pagi ini, Maliek sudah berada dirumah Meydina. Ia akan mengantar Meydina ke kampus untuk pertama kalinya.

Ia sedang menemani ibu Anita minum teh. Seorang asisten rumah tangga dikirim mama Resty ke rumah Meydina. Setiap harinya, wanita itu datang pagi-pagi dan pulang pada sore harinya.

"Terima kasih untuk semuanya nak Maliek," ucap ibu Anita.

"Tidak usah sungkan, Bu," jawab Maliek.

"Ibu tidak tahu dengan cara apa membalas kebaikan kalian pada ibu dan Meydina," ucapnya lagi.

"Hmm nikahkan saja aku dengan anak gadismu, Bu," gumam Maliek dalam hati.

Kringg.... Kriingg....

Telepon rumah berbunyi.

Anita menggerakkan kursi rodanya untuk menganggkat panggilan tersebut. Maliek yang ditinggal sendirian, memutuskan masuk ke kamar Meydina.

"Ayo dong sayang, cepetan!" bisik Maliek yang sudah merangkul Meydina dari belakang.

Meydina yang baru saja selesai memakai sweaternya pun terkejut. Cepat-cepat ia menjauhkan diri dari Maliek.

"Iiih, gimana kalau ibu lihat?" ucap Meydina khawatir.

"Nggak akan, ibu sedang menerima panggilan telapon," ucap Maliek, yang sudah menarik pinggang Meydina kedalam dekapannya.

Meydina terlihat gugup.

Seakan ingin menggoda, Maliek dengan sengaja menatap intens pada gadis itu.

Perlahan, wajah Maliek semakin mendekat pada wajah Meydina yang sudah merona. Dengan cepat, Maliek meraup bibir Meydina.

Meydina yang tidak menyangka Maliek akan sangat agresif kewalahan menyeimbangkan diri. Hampir saja ia terjengkang, bila Maliek tak segera menegakkan badannya. Semakin lama, ciuman mereka semakin memanas. Meydina sudah tak sekaku dulu lagi, ia mulai bisa membalas setiap l*****n dari bibir Maliek.

Tanpa sadar tubuh Maliek semakin condong kearah Meydina. Mau tak mau untuk menyeimbangkan dirinya, Meydina melangkah mundur perlahan. Maliek semakin memperdalam ciumannya. Tubuhnya semakin mendorong Meydina.

Sadar akan Meydina yang bergerak mundur, sebelah tangan Maliek bergerak meraba mencari sesuatu untuk menopang. Mereka sangat menikmati ciuman panas pagi ini, hingga tidak sadar Meydina bergerak mundur kearah tempat tidur. Dan.....

Bugh....

"Aaww!!!" pekik Meydina meringis.

Tubuh Maliek yang memeluknya dengan sebelah tangan menindih keras di atas tubuhnya. Maliek segera bangkit saat menyadari Meydina yang meringis.

"Ssa,, sa,, sayang, maaf!" Maliek merasa bersalah, ia segera medudukkan tubuh Meydina.

"Sakit banget, ya?" tanya Maliek dengan raut wajah khawatir. "Bagian mana yang sakit? Ini? atau ini?" Maliek mengusap-usap punggung, turun ke pinggang, melingkar kedepan, lalu keatas.

"Iish!!" Meydina menepis tangan Maliek yang bergerak hendak mengusap bagian dadanya.

"Sorry, Mey. Beneran nggak maksud," ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya karena melihat Meydina yang membulatkan mata kearahnya.

"Masih sakit?"

Meydina yang melihat kekhawatiran dari sorot mata Maliek, mengulumkan senyuman. Tentu saja hal itu membuat Maliek kebingungan. Namun tak lama, ia pun terlihat menahan tawa.

"Sakit, tau! Malah ketawa," gerutu Mey.

1
Jenni Susi
baca ulang😄
Endang Sulistia
bagus ceritanya
Endang Sulistia
Alvin sama kayak ayahnya Evan...celup duluan sblm nikah
Endang Sulistia
anita udah rindu bnget Ama mas fahrinya ..
Endang Sulistia
Fahri suami dan ayah yg baik....
Endang Sulistia
baguslah dah bertindak si Salman...daripada diem diem aja..
Endang Sulistia
dasar pelit....
Endang Sulistia
kenapa si Anton g dimusnahkan Ama si Salman..kan jadi parasit sekarang...
Endang Sulistia
Salman dah tau ada ular di rumahnya masih aja g di usir...
Endang Sulistia
kenapa gak si usir si Lucy nya Salman bego....
Endang Sulistia
🤣🤣🤣👍👍👍
Endang Sulistia
kepedean...
Endang Sulistia
pak Bram sama namanya dengan nma ayahnya malik Thor...
Sri Ariyanti
good story
momtikita
Luar biasa banget ceritanya
Mugi
gabut nih,,baca ulang lg ahh
Airin Moo
aku suka cerita setiap babnya😍
baru nemu novel kayak gini biasanya setiap bab alur dan penulisannya seakan berada cerita in,,,semangat thor💪🏼💪🏼
kirim bungga sekobong❤️❤️
Vivo Smart
tapi nggak kamu sayangi sejak kecil padahal dia nggak salah apa-apa, padahal dia buah cinta mu dgn istrimu
Vivo Smart
tu tau
orang baru aja jadian lagi sayang sayangnya kok mau dipisahin 😁
Vivo Smart
(ada ya sahabat nggak tau sama adik sahabatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!