NovelToon NovelToon
ELKAN: Menaklukkan Hati Sedingin Es

ELKAN: Menaklukkan Hati Sedingin Es

Status: tamat
Genre:Suami ideal / Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Mafia / Tamat
Popularitas:59.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kiky Mungil

Kabur dari rumah demi menghindari perjodohan gila yang direncanakan oleh pamannya membawa Kelaya sampai disebuah desa yang sangat jauh dari rumahnya, hingga ia berakhir pingsan di sebuah rumah di tengah hutan yang ternyata adalah milik seorang lelaki.

Ide gila muncul saat mengetahui lelaki itu masih melajang dengan wajah yang cukup menarik sebagai seorang peternak juga pengrajin kayu, dan minim bicara, membuat Kelaya mengajaknya menikah dan nekat menjebak lelaki itu agar mereka dinikahkan secara paksa oleh masyarakat setempat.

Ide itu muncul sebagai upaya mencegah pamannya untuk menjodohkannya kembali dan lagi pula Kelaya menyukai lelaki itu.

Masalahnya, lelaki itu bagaikan musim dingin yang panjang dan terlalu misterius. Rasanya Kelaya ingin menyerah saja untuk meluluhkan hati dingin lelaki itu.

Apakah Kelaya akan benar-benar menyerah apa lagi setelah mengetahui sebuah rahasia yang disembunyikan lelaki itu? Atau bertahan sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut

Sepertinya pagi datang lebih cepat, rasanya Elkan baru saja terlelap ketika dia mendengar suara berisik dari luar kamarnya. Ah, padahal ini adalah tidur terbaik dan ter-nyenyak-nya sepanjang dia hidup. Dia baru ingat ada seseorang yang tak seharusnya ada di rumah ini.

Ah, sial! Hatinya menggerutu. Dia terpaksa bangkit dari kasur, melepaskan Kelaya yang meringkuk nyaman dalam pelukannya. Dia kecup sebentar kening perempuan itu sebelum bangkit dan mengenakan pakaian.

"Apa yang kau lakukan di dapur ku?" Suara datar dan dinginnya membuat Dio yang sedang mencari sesuatu di dalam kabinet dapur hampir menjatuhkan panci yang baru saja ditemukannya.

"Astaga, kau membuat jantungku ketakutan." Dio memegangi dadanya. Wajahnya tidak lebih baik dari semalam. Lebam pada wajahnya mulai berubah warna menjadi keunguan, dan membuat sebagian wajahnya bengkak. "Aku mencari mie instan. Apa kau tidak punya makanan instan? Aku sangat lapar, wajahku sakit, aku harus isi perut supaya bisa minum obat pereda nyeri. Apa kau punya obat pereda nyeri?"

"Ck, sungguh merepotkan." Cetus Elkan, tapi kakinya bergerak menuju kabinet yang lain dan membuka sebuah kotak penyimpanan dimana makanan instan disimpan di dalam sana. Dan ke lemari lainnya untuk memberikan obat pereda nyeri.

"Wah, rupanya benar apa kata Aya-"

Elkan melotot.

"Eh, maksudku, kata Kelaya, kau punya hati yang hangat sehangat matahari pagi."

"Sekali lagi bicara, aku akan menambah lebam pada wajahmu."

Dio buru-buru menutup bibirnya dan bersikap seolah dia mengunci bibir dan membuang kuncinya.

Elkan melengos untuk memasak air panas, kegiatan paginya membuat kopi selalu tidak pernah dia lewatkan. Sementara Dio mulai membuat mie instan sambil bersenandung pelan meski dengan bibir tertutup rapat, dan itu sungguh membuat jengkel.

Elkan membatalkan kegiatannya untuk membuat kopi, dia segera menghubungi Haru dan terang-terangan bicara di depan Dio.

"Cepat kau ke sini sekarang, bantu aku buang seekor bakteri." Elkan melirik tajam pada Dio yang malah ditanggapi dengan cengiran lebar.

"Apa itu temanmu yang kemarin tidak menahanmu saat kau menghajarku?" tanya Dio dengan santai sembari menuangkan mie beserta kuahnya ke dalam mangkuk yang sudah diisi dengan bumbu instannya.

"Hm,"

"Senangnya bisa bernostalgia lagi."

"Kau tidak waras?"

"Hahaha! Kalau aku waras, aku pasti sudah mengadukan pada Kelaya apa yang kalian lakukan padaku. Beruntunglah karena aku tidak waras." Dio duduk di depan Elkan, mulai meniupi mie yang ditariknya dengan garpu. Asap mengepul seiring dengan tiupannya.

Elkan menatap tajam pada pria yang sedang berusaha menyeruput mie nya dengan susah.

"Kenapa kau tidak adukan perbuatan ku kepada Kelaya?"

"Biar apa?" Dio balik bertanya. "Apa kau pikir aku orang yang licik? Sepertinya, kau harus belajar untuk tidak terlalu mencurigai semua orang. Aku murni hanya ingin berteman. Aku tidak suka menjadi provokator."

Elkan masih menatap tajam pria di depannya itu yang terlihat menyedihkan ketika wajah bengkaknya harus berusaha menyeruput mie instan berkuah panas.

"Nanti kau ikut dengan Haru, dia akan mengantarmu ke klinik dan membantumu menemukan perampok itu sekaligus membawamu kembali ke tempatmu."

Dio melepaskan kembali mie yang sudah berhasil ditangkap dengan giginya ke dalam mangkuk hingga kuahnya sedikit mencemari permukaan meja.

Elkan mengernyit geli.

"Orang itu sungguh akan membantuku?"

"Hm,"

"Kalau begitu, boleh aku tinggal di sini saja?"

"Kau ingin mati?"

"Siapa yang ingin mati?" Suara Kelaya membuat kedua pria itu menoleh serempak ke arah pintu dapur, dimana satu-satunya perempuan di bawah atap itu menatap mereka dengan tatapan curiga.

Dio menunjuk Elkan.

Elkan menepis tangan Dio.

Kelaya membuang napas berat, dia kembali melangkah, Elkan sudah siap untuk menggendong Kelaya lagi, tapi tangan perempuan itu mengisyaratkan kalau dia sudah baik-baik saja.

"Kenapa wajahmu semakin bengkak?" Kelaya meringis melihatnya.

"Karena tidak ada yang mengobati ku semalam." jawab Dio dengan nada sedih yang dibuat-buat.

"Apa tidak sebaiknya kita mengantar Dio ke klinik?" Kelaya menoleh pada suaminya.

"Aku sudah menghubungi Haru. Sebentar lagi dia datang dan membawanya pergi."

"Ke klinik?" Kelaya bertanya sekaligus menegaskan.

"Iya."

Kelaya menyunggingkan senyum, lalu kembali melihat Dio yang masih kesulitan mengunyah mie instannya yang tak lagi hangat.

"Lihat, kan, suamiku orang yang sangat baik." ujar Kelaya dengan rasa bangga.

"Iya, iya, tapi barusan saja dia ingin membunuhku karena aku ingin tinggal disini."

"Kalau itu aku juga setuju dengan suamiku."

"Astaga, kalian kenapa begitu kejam pada korban perampokan seperti aku?" Ucap Dio dengan nada yang penuh drama.

"Lagian untuk apa kau tinggal di sini? Nanti aku akan minta Haru untuk membawamu ke tempatmu."

"Tidak bisa." jawab Dio dengan nada frustasi. "Kunci hotel, paspor, dompet, data diri, semuanya ada di dalam ranselku yang dirampok itu."

"Sena akan membantumu mencari pelaku dan barang-barangmu." kata Elkan dengan nadanya yang datar tapi cukup membuat Kelaya dan Dio menatapnya bingung.

"Sena bisa melakukannya?" Kelaya bertanya.

"Siapa Sena?" Dio bertanya.

Elkan lebih memilih menjawab pertanyaan istrinya ketimbang pria yang telah mengganggu harinya.

"Dia bisa melakukannya." Elkan bangkit seraya mengusap puncak kepala Kelaya. "Aku akan membuatkanmu sarapan."

"Kau akan masak? Tahu begitu aku tidak membuat mie instan." ujar Dio.

Elkan menganggap tidak mendengar suara pria itu. Dia mulai menyiapkan bahan-bahan masakan tanpa menghiraukan ocehan Dio tentang betapa tidak sehatnya mengisi perut dipagi hari dengan semangkuk mie instan.

"Bagaimana bisa kau bertemu dengan pria galak dan dingin itu, sih?" tanya Dio pada Kelaya setelah ocehannya tidak ada sahutan dari Elkan.

"Aku kabur dari rumah karena dijodohkan dengan kakek tua yang sudah punya cucu seusiaku, dan aku menyelinap ke dalam gudang itu, dan pingsan disana. Besoknya kami menikah."

"Wah, itu gila!"

"Yah, terkadang hidup memang sering dikejutkan dengan hal-hal gila yang tidak terduga." Ucap Kelaya dengan sangat santai, tapi sebuah senyuman menghiasi wajahnya. Ia teringat bagaimana pagi itu Elkan sangat ingin membuat Kelaya pergi. Tapi kini pria itu justru yang menginginkannya tetap tinggal.

"Benar juga. Siapa yang akan menyangka kita bertemu lagi dan lagi, bahkan di saat wajah tampanku babak belur seperti ini."

Kelaya mendesis, menatap Dio dengan tatapan sinis.

"Omong-omong kenapa kau mengembalikan ponsel yang aku belikan?" Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada dan intonasi paling santai sedunia, tapi mampu membuat kepala Elkan menoleh diiringi dengan tatapan tajam.

"Aku mengembalikan ponselmu?" Kelaya balas bertanya dengan nada heran. Dia melihat pada Elkan yang langsung menghindari tatapannya.

"Iya," jawab Dio. "Kupikir kau sudah setuju untuk bekerja denganku."

"Tidak akan ada yang bekerja untukmu, terutama istriku." ucap Elkan dengan tegas. Dia menghadap Dio dengan pisau yang menuding wajah Dio, "Sebaiknya setelah ini, kau tidak akan muncul lagi di hadapanku atau pun di hadapan Kelaya."

"Aku tidak bisa janji. Karena, manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan juga yang menentukan, apa kau tidak pernah mendengar istilah bijak itu?"

Sungguh, Elkan menyesal tidak menghabisi pria itu ketika bisa.

"Apa kau harus selalu memancing emosi suamiku?" Kelaya juga ingin sekali menggetok kepala Dio.

"Astaga, tidak. Aku hanya mengatakan hal yang benar. Kita sebagai manusia memang hanya bisa berencana, bukan?"

"Ya kau memang benar, kalau begitu habiskan saja makanan mu, Tuan Bijak, suamiku tidak suka ada makanan yang mubazir."

Setelah menyelesaikan sarapannya yang harus selalu diselingi celetukan bikin kesal, akhirnya Haru datang bersama Sena dan membuat pagi Elkan kembali diisi dengan kericuhan yang membuat ketentraman paginya lenyap. Situasi ini membawanya de javu seperti saat Kelaya pertama kali datang ke hidupnya.

Haru sudah langsung memelototkan matanya dan insting untuk menyerang langsung ditunjukkan jika saja Sena tidak memiting lehernya, Dio pasti sudah babak belur lagi dihajarnya.

"Kenapa mahkluk ini ada di sini?!"

"Kau mengenalnya?" Kelaya malah jadi bingung. Bukan kah ini kali pertama Haru dan Dio bertemu?

"Tentu saja dia mengenalku, dia yang mengembalikan ponselmu kepadaku." jawab Dio sambil sembunyi di belakang punggung Kelaya.

Elkan hanya bisa pasrah jika setelah ini dia akan disidang oleh istrinya akibat perbuatannya yang main hakim sendiri.

"Kapan?"

"Kemarin, saat aku sedang menunggumu di kios, mereka mendatangiku."

"Mereka?"

"Suamimu dan temannya itu. Apa kau yakin akan membiarkan orang itu membawaku ke klinik? Bukan membawaku ke jurang?"

.

.

.

Bersambung~~>>

1
Mrs. Ketawang
Dio itu Zeon
Mrs. Ketawang
kaaannn Dio itu penjahat😡
Mrs. Ketawang
keren ceritanya..👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Mrs. Ketawang
jurigen bgt kalo Dio musuh dlm selimut
Mrs. Ketawang
Dio nih misterius
Mrs. Ketawang
siapa sbnarnya si Dio ini,sok knal sok dekat bgt sama Kelaya😏
Mrs. Ketawang
mau di peluk jg sama bang Elkan😍😍
Mrs. Ketawang
lagi sweet"nya😍
Dio ganggu aja😁
Mrs. Ketawang
Bagus ceritanya...
pemilihan kata"nya jg indah...
knp baru nemu cerita sbagus ini😁👍🏻👍🏻
Mrs. Ketawang
WOUW....baru pertama ketemu lgsung ngajak nikah aja nih Kelaya🙈
Nelita Nopitasari
penuh teka teki🤔
Youleannaa
bagus ,,,
Desty Winianti
padahal ceritanya bagus..tp yg.baca cuma sedikit....mungkin blum pada Nemu. ini novel
Lovely Shihab
Tegang, seru, romantis n keren, dikemas apik ma author. Keren kamu thor, the best 👍👍👍👍
Lovely Shihab
Paling benci lihat orang keras kepala. Disuruh dirumah aja tetep keluar
apajalah
👌👌🍂👌🍂🍁
apajalah
bravo🍂🍁🍂🍁🍂👌👌👌
Yustika PAMBUDI
sepertinya cinta segitiga Dio, elkan dan pacarnya yg meninggal ya... ?
Siska Febriana
Dio itu ya Zeon
Lastri Naila
ceritanya bagus sekali...untungnya aq senang dgn novel yg tamat jd gak nunggu nunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!