Di desa Harapan Kahuripan, ada dua hal yang tidak boleh dilakukan oleh anak-anak.
Pertama, jangan main dengan Muhammad Syukur. Karena selain bocah berusia lima tahun itu sangat nakal, Syukur lahir dari wanita mati tidak wajar yang sempat menjadi kuntilanak. Ditakutkan, mama dari Syukur datang menuntut balas jika anaknya diusik.
Sementara larangan yang kedua, jangan pernah main ke Hutan Tua karena bocah mana pun yang main ke sana pasti tidak pernah selamat!
Namun di suatu sore menjelang petang, Syukur dan keenam temannya nekat memasuki Hutan Tua. Kejadian mencekam diwarnai pertumpahan darah benar-benar terjadi. Satu persatu dari mereka ditemukan mati. Hanya ada dua anak yang selamat. Anak pertama adalah Ibrahim dan terkenal sangat alim. Sementara satunya lagi merupakan Syukur!
Sebenarnya, apa yang terjadi? Karena semenjak itu juga, Ibrahim jadi sakti dan bisa menyembuhkan banyak penyakit dengan cara di luar nalar!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertumpahan Darah dan Nyawa (1)
“Kau jatahku ... karena kau juga andil dalam melukai anakku!” ucap suara kuntilanak Echa yang masih mengendalikan Syukur.
Selain menatap takut Syukur yang dari tubuh saja jauh lebih kecil darinya, kuntilanak ibu Rokayah juga berangsur mundur. Mundur, dan terus mundur, sebelum akhirnya tubuhnya mentok bersandar pada pohon beringin besar di belakangnya.
Dunia seorang Asnawi yang sampai detik ini masih mengendalikan Ibrahim, mendadak berputar lebih lambat. Selain itu, jantung Ibrahim juga menjadi berdetak lebih cepat. Tatapannya menyisir sekitar, dan entah kenapa, ada rasa tidak yakin yang menuntunnya untuk secepatnya kabur dari sana. Padahal, formasi kekuatan yang Asnawi bangun masih dalam keadaan lengkap. Ada kuntilanak raksasa ibu Rokayah dan tugasnya mengalahkan kuntilanak Echa. Sementara para kurcaci jelas akan memperkuat kekuatan Asnawi sendiri selaku penciptanya.
“Tidak usah kabur. Kali ini, semua nyawa dan kekuatan harus aku pertaruhkan agar aku bisa hidup abadi penuh kekuatan!” batin Ibrahim tetap maju menghadapi Athan. Ia meraih keris yang terselip di balik punggungnya, kemudian mengeluarkannya dari rumah kerisnya. Penuh emosi, ia menatap Athan yang juga masih menatapnya penuh kekesalan.
Tak jauh dari keduanya, kuntilanak ibu Rokayah makin tersudut. Sadar dirinya tak mungkin kembali mundur, kuntilanak ibu Rokayah yang sebelumnya sudah sampai refleks menoleh ke belakang dan itu pohon beringin besar, memilih kabur. Ia terbang, tapi Syukur juga langsung menyusul terbang!
Begitupun dengan Athan, bocah itu tak takut meski Ibrahim sudah langsung mencoba menusuk mata kanannya.
“Kau hanya manusia biasa dan aku pasti bisa membun.uhmu dengan mudah! Bocah sepertimu tak mungkin bisa melukai apalagi membunu.hku. Meski di garisan takdirku, namamu ada sebagai pemb.unuhku!” tegas Asnawi yang kemudian tersenyum sengit kepada Athan. Ia merapatkan jarak mereka kemudian mengerahkan kedua tangannya untuk secepatnya menusuk mata kanan Athan.
Seolah merasakan kesulitan yang Athan rasakan, Syukur yang sudah sempat terbang layaknya kuntilanak, segera turun dengan cepat. Syukur mengambil alih golok di tangan kanan Athan dan awalnya tertancap ke tanah, sementara tangan kiri Athan masih bertahan menahan kedua tangan Ibrahim yang mengerahkan keris untuk menusuk mata kanannya.
Syukur yang mengambil alih goloknya, berangsur memegangnya menggunakan kedua tangan. Setelah kembali terbang melesat ke atas, Syukur dengan segera turun kemudian menebas leher Ibrahim dan menjadi tujuan fokus kedua mata sekaligus fokus kehidupannya.
“Craaaaaatttttt!” Darah segar Ibrahim menyiram wajah Athan.
Dalam sekali tebas, Syukur sungguh bisa membuat kepala Ibrahim lepas dari tubuh. Namun, kepala Ibrahim yang terkapar di tanah malah tertawa pongah.
“Kau pikir kau bisa menghabi.siku?” ucap kepala Ibrahim kepada Syukur yang tampak kecewa bahkan heran. Ia yakin, kenyataan itu terjadi lantaran bocah yang dikendalikan kuntilanak Echa itu gagal mengeksek.usinya.
“Kenapa begini?” lirih kuntilanak Echa.
“K—Kurrrrr! T—Tolong!” ucap Athan masih ditahan kedua tangan Ibrahim.
Tubuh termasuk tangan Ibrahim masih mencoba menusuk mata kanan Athan. Benar-benar tidak ada perubahan. Karenanya, Syukur nekat menebas kedua tangan Ibrahim menggunakan golok yang ia pegang menggunakan kedua tangan. Namun apa daya, meski kedua tangan Ibrahim memang jadi terpisah dari lengan di tengah darah segar yang mengucur, kedua tangan itu tetap berfungsi! Kedua tangan itu tetap mencoba menusu.k mata kanan Athan. Ujung keris milik Asnawi yang dikendalikan kedua tangan Ibrahim, sungguh sudah ada di pelupuk mata Athan!
Kuntilanak Echa yang mengendalikan Syukur mulai kehabisan ide. Kuntilanak Echa bingung sebingung-bingungnya. Fatalnya, selain kuntilanak raksasa ibu Rokayah juga mendadak turun mencek.iknya, para kurcaci juga mengepung Syukur maupun Athan. Termasuk juga dengan Ibrahim yang tubuhnya kembali menyatu di tengah tawa penuh kesombongan yang terus menyertai.
Di tengah situasi mencekam yang melanda, tangan kanan Athan berusaha meraih golok di tangan Syukur. Ia menoleh dan membuatnya bertatapan dengan Syukur, “Satu-satu. Penggal kepalanya dan jangan biarkan tubuh maupun kepalanya menyentuh tanah! Dan ingat, jatah utama kamu itu menghabi.si kuntilanak ibu Rokayah!” lirihnya, dan memang sampai terdengar Asnawi. Namun, Asnawi yang bisa mengembalikan tubuh Ibrahim layaknya tak terjadi apa-apa, hanya menertawakannya.
Tangan kanan Athan yang sudah memegang golok, dengan asal menyabetkan benda sangat tajam itu ke keberadaan kurcaci yang mengepungnya. “Kekuatan kalian sudah tidak ada, jadi ini memang saatnya kalian hancu.r!” batinnya yang kemudian berhasil menghantam leher seorang kurcaci.
Darah segar langsung muncrat dari leher sang kurcaci. Awalnya Ibrahim atau itu Asnawi, makin tertawa puas. Namun lantaran kepala kurcaci tersebut tetap melotot tanpa tanda kehidupan lagi. Bahkan tubuh kurcaci yang kehilangan kepala juga berakhir terjatuh. Kenyataan tersebut benar-benar membuat Ibrahim yang dikendalikan Asnawi, syok.
Ibrahim menatap tak percaya apa yang terjadi. Baik itu kurcaci yang akhirnya tumbang, maupun Athan yang masih menatapnya tajam tanpa banyak perubahan. Karena sampai saat ini, kedua tangan Ibrahim masih mencoba menusuk mata kanan Athan!