Seorang pemuda yang misterius menyamar menjadi laki-laki culun, bertemu dengan gadis yang sedikit manja dan baik hati.
"Diam jangan bergerak nanti bakal aku lepaskan kalau kamu nurut."
"Afkar!" jerit Regita kaget.
"Shuttt..diam jangan teriak nanti orang tuamu dengar"
"Kenapa loe bisa masuk ke sini?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VivianaRV, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMG 34
Waktu terus berputar jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh saat ini Afkar sudah berada di depan apartemen Regita, saat ini dia menunggu Regita yang sedang turun dari unitnya. Lima belas menit menunggu akhirnya batang hidung Regita terlihat, Afkar sudah memberi tahu letak mobilnya jadi Regita langsung menuju ke tempat mobil terparkir.
"Kenapa loe cepat banget datangnya tadi loe sampai di sini jam setengah tujuh, jadi buru-buru kan gue make-upnya."
"Walaupun buru-buru kamu tetap cantik kok Git."
"Gombalan loe terlalu pasaran Afkar sama seperti ucapan buaya-buaya di luar sana."
"Dan aku bukan buaya, aku ngomong sesuai dengan yang aku lihat saat ini" mendengar itu membuat pipi Regita merah seketika.
"Ini jadi berangkat enggak?" tanya Regita mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jadi dong, kamu udah siapin list yang akan kamu beli di sana?"
"Sudah dong tenang saja gue bakal menguras habis saldo ATM kamu" ucap Regita diakhiri tawa.
"Ok malam ini aku akan kabulkan semua permintaan kamu."
"Beneran nih?" Afkar hanya mengangguk.
Sesampainya di mall mereka berjalan-jalan terlebih dahulu, "kamu mau beli apa dulu nih?" tanya Afkar.
"Gue mau beli skincare dulu kebetulan skincare gue tinggal sedikit" mereka masuk ke store skincare langganan Regita.
"Totalnya berapa mbak?" tanya Regita.
"Satu juta dua ratus lima puluh ribu kak" saat Regita akan mengambil uangnya Afkar menghentikannya.
"Biar aku aja yang bayar, ingat kita ke sini karena ajakan aku kan dan aku akan membayar semua belanjaan" Afkar mengeluarkan kartu dari dompetnya.
Saat sudah berada di luar store Regita berhenti sejenak, "Kalau seperti ini gue jadi enggak enak deh sama loe."
"Udah sih enggak apa-apa lagian enggak sering juga kok."
"Tapikan itu cukup mahal."
"Enggak usah terlalu di pikirkan Regita kalau cuman nominal segitu aku sangat mampu membayarnya, udah sekarang kamu mau apalagi?"
"Kita beli ice cream aja yuk."
"Iya pesan aja nanti aku yang bayar" Regita memesan dua ice dengan rasa berbeda yang satunya rasa coklat untuk dirinya sedangkan yang satunya lagi rasa vanilla untuk Afkar.
"Nih buat loe."
"Loh kan aku enggak pesan, udah buat kamu aja semuanya."
"Ini terima saja lagian kalau gue makan ice cream terlalu banyak gigi sama kepala gue bisa sakit."
"Lalu kenapa kamu membeli ice cream? seharusnya kamu membeli yang lain saja."
"Gue pengen aja lagian kalau cuma satu enggak bakal buat gigi sama kepala aku sakit kok, tenang aja" Regita memberi ice cream itu kepada Afkar, dengan terpaksa dia menerimanya sebenarnya dia kurang terlalu suka dengan ice cream.
"Gimana enak kan?"
"Enak kok" jawab Afkar sambil tersenyum.
"Kita duduk di sana yuk enggak enak kalau makan sambil berdiri" Afkar menurut dan mengikuti Regita.
"Senang deh bisa makan ice cream lagi."
"Emang kamu jarang makan ice cream?"
"Jarang banget apalagi kalau ada emak pasti langsung di omelin."
"Apa karena habis makan ice cream kamu jadi sakit?"
"Iya benar banget dan itu salah satu hal yang di takuti sama emak."
"Terus kenapa kamu ngajak aku makan ice cream? kamu enggak takut sakit?"
"Kalau cuma makan segini gue tidak apa-apa, eh Afkar kita kalau seperti ini kayak lagi kencan ya."
"Ekhm... enggak tuh."
"Kalau misalnya ini kencan sebenarnya tidak apa-apa sih."
"Enggak ini hanya jalan-jalan biasa tidak lebih" Afkar berusaha menutupi kegugupannya dengan menoleh ke sembarangan arah.
"Oh iya? baiklah kalau begitu" ucap Regita lesu.
"Habis ini kita mau kemana lagi Git?"
"Bagaimana kalau ke taman bermain aja pasti di sana saat ini ramai."
"Ya sudah ayok kalau begitu, ini kamu cuma beli itu saja tidak ada yang lain?"
"Enggak ini aja udah kok, loe enggak mau beli sesuatu gitu?"
"Enggak ada, ayok kita ke taman bermain" mereka kembali menaiki mobil menuju taman yang berada di dekat apartemen Regita, setelah memarkirkan mobilnya mereka turun dan melihat keadaan taman bermain yang terdapat banyak manusia berlalu-lalang.
"Wah ramai sekali."
"Kamu jangan jauh-jauh dariku, sini genggam tanganku jangan sampai kamu lepas dan terlepas ya" mereka bergenggam tangan dengan erat lalu masuk ke dalam taman hiburan.
"Kamu mau mencoba apa?"
"Gue pengen masuk rumah hantu sepertinya seru."
"Memang kamu tidak takut masuk ke sana?" tanya Afkar memastikan.
"Agak takut sih tapi sedikit tapikan di sana nanti ada loe, loe mau kan masuk ke rumah hantu?" Regita agak meringis.
"Ayok kita masuk ke sana sebelum itu aku beli tiketnya dulu ya" Sesudah tiket di dapatkan mereka berdua masuk, di dalam sana Regita terus merangkul dan mencengkram tangan Afkar dengan kuat.
"Arghhh...kenapa loe munculnya mendadak sih seharusnya ada pemberitahuan dulu dong" omel Regita pada beberapa hantu yang mengagetinya.
"Nanti kalau di kasih tahu ya enggak seram Regita" ucap Afkar menimpali.
"Tapikan gue jadi takut, emang loe enggak takut Afkar?"
"Enggak biasa aja tuh aku mereka itu biasa saja" tiba-tiba dari arah belakang Regita ada hantu tuyul yang memegang tangan Regita, sontak saja Regita langsung menjerit dengan sekuat tenaga dan memeluk Afkar dengan sangat erat hingga Afkar sedikit susah untuk bernafas.
"Afkar ayo kita keluar dari ini gue udah enggak kuat kalau ini di lanjut terus bisa-bisa gue ngompol karena ketakutan di sini" Regita mulai merengek-rengek dan menarik Afkar agar segera keluar.
"Huft... akhirnya kita keluar juga dari situ gue udah kapok masuk ke dalam situ besok-besok lagi gue enggak mau masuk ke situ."
"Kenapa sih Git kamu sampai sebegitu takutnya yang jadi hnatu di dalam manusia bukan hantu beneran."
"Ya tapikan dandanan mereka juga sama menakutkan."
"Ayo kita cari minum lalu cari tempat duduk buat nenangin diri kamu" mereka duduk di tempat yang sedikit jauh dari keramaian.
"Habis ini mau naik apalagi?" tanya Afkar.
"Nanti dulu gue aja belum tenang habis masuk dari rumah hantu."
"Nih minum ini, aku cuma tanya siapa tahu kamu sudah ada yang pengen di coba."
"Sepertinya melukis bukan pilihan yang buruk."
"Tapi di sana rata-rata anak kecil bukan orang dewasa."
"Ya tidak apa-apa kita ke sana lagian juga tidak ada larangan orang dewasa untuk mencobanya" Regita kembali bersemangat dan menarik tangan Afkar.
Setelah di beri pewarna dan alat melukis mereka duduk di bangku yang sudah di sediakan. "Sini Afkar loe mau coba gambar enggak? ini seru banget loh bisa ngingetin dengan masa kecil kita."