NovelToon NovelToon
WHO IS THE FEMALE LEAD??

WHO IS THE FEMALE LEAD??

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Cintapertama / Tamat
Popularitas:886.8k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Novel ini menceritakan tentang sebuah pencarian pemeran utama wanita yang sesungguhnya di dalam kisah ini.

Akankah kisah ini menjadi milik Kirana, wanita cantik dan baik hati dari keluarga biasa yang kehadirannya di tolak mentah-mentah oleh keluarga Theo, pria yang begitu mencintai Kirana.

Ataukah menjadi milik Anya, wanita yang tak kalah cantiknya pilihan keluarga Theo.

Ceritanya menjadi rumit saat Theo di pertemukan dengan wanita yang mirip dengan almarhum Anya di saat dia sudah bahagia bersama Kirana dan buah hati mereka.

Setelah tiga tahun Anya meninggal. Pertemuan Theo dengan wanita itu membuat semua yang awalnya baik-baik saja menjadi berantakan. Terlebih keadaan wanita itu yang membuat Theo merasa ada yang salah dari tewasnya Anya.

Apa yang terjadi sebenarnya??
Apa yang Theo lewatkan selama tiga tahun ini??
Lalu bagaimana nasib Kirana dan rumah tangganya saat di guncang badai??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memberitahu Anya

Setelah kalimat Anya yang sedikit menyinggung Theo tadi, pria itu memilih diam dan tak membahasnya lagi. Meski Theo tak melihat gurat kemarahan di wajah Anya. Tapi di mata Theo, Anya sedikit mengeluarkan kepedihannya lewat kata-kata tadi.

Mereka melanjutkan jalan-jalan mereka di waktu sore hari itu. Memang dasarnya tempat itu adalah salah satu tempat dengan tujuan terbesar di kota istimewa itu, maka tak heran jika tampak begitu ramai.

Theo mengajak Anya masuk ke salah satu toko batik modern. Di sana sudah terpajang ratusan model serta berbagai jenis batik modern yang tak kalah berkualitasnya dari batik tradisional.

"Selamat datang Pak, ada yang bisa saya bantu??" Pegawai itu mungkin tau jika Anya buta makanya dia memilih menyapa Theo.

"Saya mau cari baju buat Mama saya. Tapi tolong bantu sahabat saya saja, dia yang lebih tau tentang Mama saya" Ucap Theo melirik Anya yang tak bereaksi apapun ketika dia menyebutnya sebagai seorang sahabat.

"Baiklah kalau begitu, mari saya bantu Bu"

Anya mengangguk lalu mengikuti langkah kaki karyawan tadi. Begitupun Theo yang selalu memperhatikan langkah Anya.

Entah apa yang sedang di bicarakan Anya dan karyawan tadi, tapi mata Theo terus tertuju pada Anya. Dia seolah-olah terpaku pada satu wanita itu hingga suara di sekelilingnya menghilang begitu saja.

Salah sebenarnya, jelas apa yang dilakukan Theo itu salah. Tapi dia tidak tau bagaimana cara dia membentengi hatinya itu.

"Kak!!"

"Kak Theo!!" Panggil Anya lagi karena Theo tak kunjung menjawab.

"Ah iya Anya, kenapa??" Theo benar-benar mengutuk dirinya sendiri. Pikirannya itu melayang jauh kemana-mana.

"Yang ini gimana?? Bagus nggak buat Mama??"

Karyawan tadi segera menunjukkan dress yang di pilih Anya.

"Bagus, aku suka. Saya mau yang ini mbak"

"Baiklah Pak, saya bawa ke kasir ya?? Atau ada yang lain lagi??"

"Saya mau cari tas anyam Mbak, di sini ada juga kan??" Anya ingat jika Vega waktu itu tertarik dengan tas anyam plastik yang sekarang telah di buat dengan berbagai model yang sangat cantik.

Mungkin itu hadiah yang tepat untuk wanita yang telah ia anggap seperti Ibu kandungnya sendiri. Kalau tas-tas mahal dan bermerk pasti Vega sudah punya lusinan di rumah. Namun kalau tas sederhana seperti itu, mungkin Vega belum punya.

"Ada Bu, mari saya tunjukkan"

"Iya ayo Mbak" Anya tampak antusias bahkan tanpa sadar dia mengulurkan tangannya pada karyawan tadi. Padahal sebelumnya Anya tidak pernah meminta bantuan orang lain.

Tanpa Theo sadari bibirnya pun ikut melengkung membentuk senyuman karena melihat Anya seperti itu.

Mereka berdua akhirnya memutuskan pulang setelah matahari terbenam. Anya juga tidak mau di ajak untuk makan di luar karena mungkin Anya tidak mau merepotkan Theo dengan alasan Anik pasti sudah masak di rumah.

Theo tak memaksa, yang ia lakukan saat ini adalah membuat Anya nyaman tanpa tekanan darinya.

"Jadi minggu depan kamu pulang ke Jakarta Kak??" Tanya Kirana setelah mobil Theo berhenti di depan rumahnya.

"Belum tau Anya"

"Loh, kan Mama Vega ulang tahun. Terus hadiahnya gimana??"

"Emm, Anya"

"Ya??" Anya sedikit menoleh pada Theo meski pandangan matanya tak tertuju pada pria itu.

"Sebenarnya, besok Kirana mau datang ke sini. Katanya dia mau ketemu sama kamu. Nggak papa kan?? Nanti hadiahnya di bawa Kirana ke Jakarta buat Mama" Theo sebenarnya sudah sejak tadi ingin mengatakan hal itu pada Anya, tapi entah kemana perginya keberanian Theo itu.

Theo tampak memperhatikan Anya yang terdiam sambil sedikit mengigit bibir bawanya.

"En-nggak papa dong Kak. Kan aku juga udah lama nggak ketemu sama Kirana. Kepingin ngobrol juga"

"Tapi beneran nggak papa??" Theo sebenarnya tidak mau mempertemukan dua wanita yang mengguncang dunianya itu. Tapi dia tidak bisa menolak Kirana.

Dirinya memang pantas mendapat predikat pria paling tidak tegas tahun ini.

"Iya nggak papa Kak. Ya udah ya aku turun dulu. Hadiah dari aku sekalian kamu bawa aja nanti takutnya malah lupa"

"Tunggu An.." Ucapan Theo terhenti karena Anya sudah terlanjur keluar dari mobilnya.

Tapi buru-buru Theo turun untuk mengejar Anya. Entah mengapa firasatnya mengatakan jika saat ini Anya pasti sakit hati dengan dirinya yang malah mendatangkan Kirana kepadanya.

"Anya, aku minta maaf. Aku.."

"Kak, aku lelah. Aku ingin mandi dan langsung istirahat. Kalau kamu mau masuk dulu, masuk aja nggak papa kok. Ada Mbak Anik juga, pasti dia udah siapin makan malam. Tapi aku ke kamar dulu, kepalaku sedikit pusing"

Tanpa membiarkan Theo menahannya lagi, Anya buru-buru masuk ke dalam rumah. Bahkan dia sempat menabrak vas bunga besar yang tepat berada di sisi pintu.

"Huuhhh...aku benar-benar gila!!" Theo mengacak rambutnya dengan kasar.

"Halo Ma??"

Theo akhirnya memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon dari Mamanya setelah beberapa hari sempat mengabaikannya.

Meski waktu itu sempat kesal dengan Mamanya, tapi dia menuruti apa kata Anya untuk tidak menyalahkan siapapun atas kebohongan mereka selama ini.

"Theo, baru saja Kirana menemui Mama. Katanya dia besok mau ke Jogja menemui Anya. Apa benar begitu??"

"Iya Ma"

"Apa kamu sudah gila Theo, membawa Kirana bertemu dengan Anya tentu semakin memperburuk keadaan. Kamu tidak tau bagaimana perasaan Anya nanti kalau dia sampai bertemu dengan Kirana, istri dari laki-laki yang dicin..." Vega terdengar menahan ucapannya.

"Laki-laki yang apa Ma?? Yang dicintai Anya begitu Maksud Mama??"

"K-kamu sudah tau??"

"Iya Ma, Theo sudah tau kalau Anya mencintai Theo. Tapi mau bagaimana lagi Ma?? Theo sudah ada Kirana dan Azka. Memikirkan hal ini saja kepalaku sudah hampir meledak Ma" Ungkap Theo frustasi.

"Apalagi memikirkan keadaan Anya saat ini, itu semua semakin membuat ku hampir gila Ma. Dia tetap tidak mau melakukan operasi pada matanya sedangkan dia terus menahan rasa sakit. Maka dari itu, Kirana mencoba datang ke sini untuk mengajak Anya bicara dari hati ke hati. Siapa tau Anya mau berubah pikiran Ma. Jujur Theo dan Kirana tidak bisa hidup tenang kalau Anya belum bisa melihat lagi"

"Ya sudah terserah kalian, tapi Mama mohon jangan sakiti putri Mama terlalu dalam"

Tut....

Theo berdecak karena Mamanya memutus panggilannya begitu saja. Sebesar itukah rasa sayang Mamanya pada Anya hingga begitu mengkhawatirkan perasaan Anya di banding kebahagiaan keluarga putranya sendiri.

Theo kembali menoleh pada pintu rumah Anya yang masih terbuka. Tapi dia akhirnya memilih pergi dari sana.

Bukan hanya hati dan pikirannya yang lelah, tapi tubuhnya pun sama. Theo pikir sekarang beristirahat di hotelnya akan lebih baik sebelum besok kembali menghadapi situasi yang semakin rumit.

1
Rafiii Rafi'a
😭😭😭😭😭
flufery⋆
Vindy swecut
kereeenn banget ceritanya thor...❤️❤️❤️❤️
Vindy swecut
greget banget am kelakuan mereka berdua...tapi ini yg bikin candu...😆😆
Linda Liddia
Udah anya pilih aja Zaky yg tulus bgt sama kamu..Bodoh aja kamu mau nerima si Theo lg
Endang Sulistia
bagus ceritanya thor
Endang Sulistia
habislah kau tiang..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
hati-hati kau bob...😄😄😄
Endang Sulistia
padahal dah di bilang kalo itu zina,.masih aja ngeyel si kirana
Endang Sulistia
ngadu jalur langit ya theo
Endang Sulistia
mantap zak...
Endang Sulistia
bisa tolong zak..tampol pala si Theo
Hana Nisa Nisa
😭😭😭😭😭😭
Nursina
seru banget lanjutkan
Anita Candra Dewi
tp masak digituin kirana ga merasakan apa2?
Parlindungan Pangab
penghianat juga mba anik mau di titipi bunga oleh theo
Dewi Hutabarat
Luar biasa
Dewi Hutabarat
Lumayan
Jie Fitri
Luar biasa
Delfianti
di novel ini Kirana yg selalu mendapat perhatian dari kawan2nya. sedangkan Kanaya berjuang sendiri. athur tak adil.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!