"Kau adalah milikku! Kau sudah membuatku tertarik menjadikanmu kekasih ku, jadi kau harus tahu diri dan jangan coba-coba untuk melarikan diri!" Lennox menangkup wajah gadis cantik itu, lalu mencium bibir ranumnya dengan seduktif.
Memiliki seorang kekasih yang merupakan seorang mafia bukanlah hal yang indah dan mudah seperti sebuah kisah cinta dongeng Cinderella yang diceritakan!
Dia adalah putra salah satu mafia terbesar yang ada. Dia terus memaksaku untuk menjadi kekasihnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dnrfitri_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Mata dingin milik Lennox tetap tertuju pada wajah Serena yang tampak gelisah.
"Semua peralatan yang ada di ruang musik ini adalah barang yang ku beli sendiri, kecuali piano yang baru saja kau hancurkan." Mata Lennox melirik kesal pada piano di samping Serena.
"Piano itu dibelikan ibuku saat usiaku masih sepuluh tahun. Sampai sekarang piano itu masih menjadi barang terpenting dalam hidupku, karena itu adalah barang peninggalan mendiang ibuku. Tapi sekarang kau menghancurkannya. Kau kembali melakukan kesalahan yang sangat fatal, Serena," kata Lennox dengan serius.
Serena tercenung. Tubuhnya mulai mengkerut ketakutan kali ini. Tatapan sang boss mafia itu membuat Serena panik setengah mati.
Timbul ketakutan andai Lennox kembali menyentuhnya secara kasar dengan pemaksaan seperti kemarin siang di markasnya.
"A-aku-"
"Aku akan pergi dengan Kathleen, lalu kami akan pulang larut malam. Istirahatlah di kamarmu sampai aku pulang. Karena kau akan terima hukumanmu setelah aku kembali ke mansion." Suara dingin Lennox membuat sekujur tubuh Serena merinding.
Mata Serena terbelalak kaget. Kali ini hukuman apa lagi yang akan diberikan pria itu padanya?
"Kau tidak bisa menghukum ku! Aku tidak bersalah!"
"Aku yang bisa menentukan kau bersalah atau tidak," balas Lennox datar. "Kathleen, ayo berangkat sekarang!" ajak Lennox sambil melangkah mendahului Kathleen.
"Baik, Tuan." Kathleen mengangguk pada Lennox yang melangkah keluar dari ruang musik.
Sebelum pergi, Kathleen menoleh pada Serena dan melemparkan senyum liciknya.
"Selamat menunggu hukuman dari Lennox. Sampai jumpa, Serena! Lennox mengajakku pergi ke luar, sementara kau kekasihnya, hanya akan tetap terkurung di dalam mansion ini."
"Kau sangat licik," cetus Serena merapatkan bibir.
"Aku hanya tidak suka Lennox memiliki tawanan wanita lain selain aku di mansionnya yang dijadikan ratu dan diberikan status istimewa. Maaf, aku tidak bisa membiarkan Lennox menunggu lama. Dah!" dengan senyum tanpa dosa, Kathleen melambaikan tangan kanannya pada Serena.
Kedua tangan Serena terkepal kuat di sisi tubuh. Rasanya ia ingin sekali menjambak rambut Kathleen yang sudah berani memfitnahnya.
"Malam ini hukuman apa lagi yang akan Lennox berikan padaku?" gumam Serena dengan wajah gelisah.
...***...
Jam di dinding menunjukan pukul dua belas malam. Serena baru saja akan memejamkan mata dan bergulung di bawah selimut.
Namun, matanya langsung kembali terbuka saat pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Siapa?" Serena bergegas mengubah posisinya menjadi duduk dan bertanya dengan setengah berteriak.
Saat daun pintu itu terbuka, Serena meremas tangannya dengan cemas. Benaknya berpikir jika yang datang adalah Lennox. Dia sempat berpikir jika itu benar Lennox, dia tidak mungkin mengetuk pintunya, pintunya selalu terbuka tanpa aba-aba.
Syukurlah dugaan Serena meleset. Ternyata Vika yang masuk dan langsung menghampirinya.
"Tuan Lennox baru saja pulang. Beliau menyuruh Nona untuk pergi ke ruang musik," ucap Vika dengan wajah datar.
"Sekarang? Tapi ini sudah tengah malam. Dan aku sangat mengantuk."
"Ini perintah dari Tuan Lennox." Vika menegaskan nada bicaranya.
Mengingat Lennox bisa saja mendatanginya ke kamar dan menghukumnya dengan lebih kejam, membuat Serena menghembuskan napas pasrah.
"Baik. Aku akan ke sana sekarang."
Vika tersenyum sangat tipis. Pelayan itu tetap berdiri di tempatnya dan menunggu Serena turun dari ranjang.
Dengan gaun malam yang terkesan seksi dan tipis, Serena merasa risih saat harus berjalan-jalan menyusuri setiap lorong mansion Castro.
Tapi apa boleh buat. Semua gaun malam yang ada di lemari itu hampir sama. Mungkin Lennox memang sengaja ingin agar tawanan wanita sepertinya berpakaian seksi setiap saat.
"Memang dasar iblis mata keranjang!" Serena memaki dalam hati.
"Masuklah! Tuan Lennox sudah menunggu anda di dalam," kata Vika sambil mempersilakan Serena untuk membuka pintu.
Sedangkan pelayan itu pun menarik diri dari sana dan meninggalkan Serena.
Sesaat Serena menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Sebelum kemudian Serena memantapkan hati untuk membuka pintu ruang musik tersebut dan masuk ke dalamnya.
Benar saja. Lennox sudah duduk menunggunya di depan piano.
Piano? Ya! Entah ke mana perginya piano rusak itu? Kini sebuah piano baru dengan warna yang sama sudah berada di depan Lennox. Lennox hanya duduk dan menatap piano itu dengan tatapan lurus.
"Kemarilah! Tutup pintunya dan mendekat padaku!" perintah Lennox tanpa menoleh sedikit pun pada Serena yang berdiri ragu di dekat pintu.
Serena mengangguk samar, menutup rapat pintu ruang musik itu, lalu melangkah pelan menuju tempat di mana Lennox duduk.
Serena memilih berdiri menjaga jarak. Berjaga-jaga jika Lennox melakukan hal yang tidak diinginkan terhadapnya.
"Sesuai perkataanku, malam ini aku akan memberimu hukuman."
Barulah sekarang Lennox mengangkat wajahnya, mengarahkan pandangannya hingga kedua bola matanya beradu pandang dengan bola mata Serena.
"Kau sudah siap untuk hukumanmu, Serena?"
Tubuh Serena menegang. Tangannya yang meremas ujung gaun malamnya itu kini berkeringat dingin dan cukup gemetar.
Sialnya, Serena tidak bisa menyembunyikan ketakutannya dari pandangan Lennox.
Mata pria itu tampak puas menikmati gurat ketakutan dari mimik wajah Serena.
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚌𝚞𝚖𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚊𝚠𝚊𝚕 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚑𝚒𝚛 𝚌𝚎𝚝𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚕𝚊𝚖𝚋𝚊𝚝🙏 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 thor