NovelToon NovelToon
Pelayan Antagonis

Pelayan Antagonis

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:528.6k
Nilai: 5
Nama Author: KOHAPU

🍂 Mencintaimu bagaikan bunga liar.
Terinjak tapi tetap bertahan.
Terbawa angin, namun tetap merindu.
Akarku tidak kuat, mahkotaku tidaklah cantik.
Namun kala hujan yang aku cintai menangis merindukanku.

🍂Kala itulah aku rela mati, hanya demi memeluk hujan.

Setiap kata yang dituliskan Edward dalam buku jurnalnya. Pria yang hanya mencintai satu orang sepanjang hidupnya.

----------
Warning!
🍀Novel ini bertema isekai (masuk ke dalam dunia novel)
🍀Buatan seorang amatir yang setelah sekian tahun iseng menulis, belum ahli juga.
🍀Mempunyai banyak kekurangan, jadi maklumi saja.
🍀Novel ini mengandung gula berlebih, bawang berlebih, terkadang menbuat tensi naik. Tidak aman bagi para jomblo dan pemilik penyakit tertentu.
🍀Copy paste tewas!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Blood

"Kakak?" Seperti biasanya, suara ketukan yang terjadi setiap malamnya. Pemuda itu berdiri di sana kemudian tersenyum padanya.

"Aku tidak bisa tidur." Hanya itulah alasan yang diucapkan olehnya.

Rachel membuka pintu, seperti biasanya juga dua orang remaja itu berbaring di tempat tidur yang sama, menatap ke arah langit-langit ruangan.

"Kak, menurutmu Alira orang seperti apa?" tanya Rachel memulai pembicaraan.

Edward tiba-tiba memeluknya."Dia hanya manusia. Daging yang kebetulan dapat hidup dan berjalan."

Rachel menelan ludahnya, benar-benar jawaban yang mengerikan seakan nyawa manusia tidak ada harganya. Dirinya perlahan membalas pelukan Edward."Kakak, nyawa manusia itu berharga."

"Aku tau, nyawa manusia itu berharga. Karena itu aku hanya akan melenyapkan, orang-orang yang menganggu keluargaku." Kalimat dari Edward, menggigit bahu Rachel.

"Sakit!" geramnya mendorong kepala Edward.

"Aku sedang bicara serius. Ingat! Kakak tidak boleh membunuh orang sembarangan. Jika kakak melakukannya aku akan membencimu." Tegas Rachel.

"Baik, aku akan menganggap nyawa manusia berharga. Tapi aku ingin belajar berciuman lagi." Kalimat tanpa dosa penuh senyuman. Benar-benar menyebalkan bukan?

"Tida mau!" Rachel mengenyitkan keningnya, menolak.

Dua orang yang sama-sama berbaring menatap ke arah langit-langit ruangan. Tidak ada kalimat yang terucap beberapa saat. Segalanya dalam keheningan terlarut dalam fikiran mereka masing-masing.

"Edward...ini kalau, kalau aku berumur pendek---" Kalimat Rachel disela.

"Umurmu tidak akan pendek. Karena aku akan melakukan apapun agar kamu menua bersamaku. Mati di saat yang sama denganku." Hanya itulah kata yang keluar dari mulut Edward. Dirinya kembali ditarik, dipeluk lebih erat daripada biasanya.

"Setidaknya kamu harus memiliki teman atau kekasih. Tidak boleh hanya terpaku padaku. Aku hanya ingin bilang itu, lagipula aku masih muda, umurku masih panjang." Rachel terkekeh.

Namun Edward hanya diam.

"Kakak, maksudku Edward..." panggil Rachel kala tidak menemukan jawaban.

"Aku akan memiliki kekasih dan teman lain. Jangan cemas..." dustanya.

Hingga pada akhirnya Rachel memejamkan matanya, mulai tertidur setelah mengatakan segalanya. Segalanya akan baik-baik saja, itulah anggapannya.

"Rachel, tidak akan ada orang lain diantara kita." bisiknya lebih jujur kala menyadari Rachel tertidur.

*

Sementara di tempat lain.

Flint merobek amplop berisikan surat yang tidak dibacanya, kemudian membakarnya. 8 tahun ini entah berapa lembar surat yang dikirimkan pada putrinya.

Menghela napas berkali-kali, ini hanya anak kecil, mungkin itulah yang ada di fikirannya mengingat usia Alfred Russell dan Rachel yang sama 16 tahun.

"Surat itu untuk Rachel bukan? Sudah 8 tahun, kenapa tidak diberikan saja." Furran menghela napas kasar.

"Pernah mendengar drama Romeo dan Juliet? Keluarga Montague dan Capulet, dua keluarga yang selalu berselisih paham. Akhir mereka tragis bukan? Karena itu lebih baik dari awal Rachel tidak mengenal Alfred Russell." Senyuman memuakan terlihat di wajah Flint, dirinya benar-benar tidak menyukai ini entah kenapa. Membayangkan meja makan malam tanpa kehadiran Rachel, senyuman yang tidak akan terlihat lagi di wajah Edward.

"Itu dua keluarga besar. Sedangkan dalam keluarga Russell hanya tersisa Gordon yang mengikuti segala kehendak tuan mudanya. Di pihak Snowden hanya ada anda. Fikirkan baik-baik jika perjodohan dengan dalih aliansi bisnis ini dapat sampai ke tahap pernikahan, apalagi ada keturunan keluarga Russell yang terlahir. Sudah dipastikan tidak akan ada persaingan bisnis lagi. Tidak ada yang berani bersaing dengan kalian di dalam dan luar negeri." Saran realistis dari Furran, untuk menghindari saingan bisnis yang memang kerap mengadu domba mereka.

"Kamu fikir aku berada di posisi yang berbeda dengan Gordon? Edward tidak menyukai ini dari awal. Mungkin dia ingin adiknya selamanya tidak menikah." Flint menghela napas kasar.

"Ketika tuan muda besar nanti mungkin tuan muda sendiri yang akan mendukung hubungan Rachel dan Alfred Russell." Furran tersenyum meletakkan beberapa berkas di atas meja.

"Aku tidak ingin Rachel memasuki keluarga Russell. Mungkin setelah dewasa nanti, agar Alfred Russell tidak mengganggunya. Aku akan mencarikan jodoh yang baik untuknya. Seseorang dengan latar belakang yang baik." Flint menghela napas kasar, walaupun sejatinya tidak rela melepaskan Rachel. Tapi seiring bertambahnya usia, Rachel akan menyukai seseorang suatu hari nanti. Dan lebih baik orang itu bukan Alfred Russell, keluarga Russell yang sudah bagaikan musuh bagi Flint.

"Sebenarnya aku memikirkan hal lain, akan lebih bagus jika Edward menyukai Rachel. Tapi dia hanya menganggap Rachel pelayan. Rachel baginya hanya budak yang mengikuti semua perkataannya." Keluh Flint terdiam memikirkan segalanya.

*

Tidak selamanya Edward berada di sampingnya. Rachel menyadari segalanya, memakan makanannya dengan tenang di area cafetaria sekolah. Tidak ada satu anakpun yang bersedia duduk dengannya. Ini karena satu orang, karena Edward.

Srak!

Prang!

Seseorang menumpahkan makanan pada pakaian Alira dengan sengaja. Sedangkan Alira hanya menunduk.

"Jangan sok kecantikan! Herry menolakku, mengatakan dia menyukaimu! Aku sudah 3 tahun mengejarnya tapi dia malah mengatakan menyukaimu!?" Bentak seorang siswi. Siswi yang sering mencari gara-gara di sekolah ini.

"A...aku tidak tau, maaf...aku bahkan tidak mengetahui siapa yang bernama Herry." Kalimat yang diucapkan Alira dengan air mata yang mengalir. Sungguh indah mengundang simpati. Dengan cepat semua orang yang berada di area cafetaria berkerumun mendengar keributan.

"San! Apa-apaan ini!? Aku menolakmu karena kamu kasar! Bukan hanya karena aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Alira!" Pria yang bernama Herry itu segera menarik tangan wanita yang sebelumnya menyiram Alira dengan makanan.

Beberapa orang bersimpati, memberikan saputangan. Bahkan memberikan minuman pada Alira.

"Kamu tidak apa-apa kan?"

"Padahal kamu tidak salah, jangan menangis ya?

Banyak lagi kata simpati yang mereka ucapkan. Segala hal yang membuat Rachel berfikir, jika malaikat seperti Alira yang mengalaminya itu adalah musibah. Sedangkan jika dirinya yang mengalami itu adalah karma.

Mengapa? Karena dirinya pernah mengalami hal yang lebih buruk. Disiram dengan air dingin ketika konsentrasi buang air besar, tas yang digantung pada pohon tinggi, ditampar, juga pernah. Tapi tidak ada orang yang membantunya sama sekali. Apa ini perasaan iri pada pemeran utama?

Jika difikirkan sekali lagi, hanya Edward yang membantunya saat itu. Memberikan jaket padanya, mengancam akan menghancurkan hidup orang yang menyiram dirinya, memanjat pohon mengambilkan tas miliknya. Tentang tamparan? Rachel tidak pernah cerita, karena tidak ingin Edward menbuat masalah lagi.

Tapi dirinya benar-benar kagum dengan Alira. Pesona pemeran utama wanita yang cantik dan baik hati. Walaupun dirinya sudah berusaha tapi mendapatkan teman adalah hal yang sulit. Seandainya Query ada disini, bagaimana kabarnya saat ini?

Makan seorang diri tanpa peduli atau mendekati Alira. Hanya mengagumi calon pengantin Edward di masa depan dari jauh.

Sedangkan Alira masih menangis."Aku tidak apa-apa..." pemeran utama wanita yang cantik dan lugu.

Namun, ada takdir yang tidak dapat dihentikan. Peristiwa berdarah akan tetap terjadi di sekolah ini.

1
Susiana Susi
top
YeYen
💪😍
✨Susanti✨
ternyata tragis juga nasib Lydia
✨Susanti✨
apa ga pake nyanyi sekalian, biar feel-nya dapet kayak film India
✨Susanti✨
semoga ga sad ending
✨Susanti✨
🤣🤣🤣
✨Susanti✨
Rachel, itu query yg udah ga gemoy lagi
✨Susanti✨
mencegah adanya aliansi pernikahan bisnis 🤣
✨Susanti✨
untung Rachel Ndak keselek roti
✨Susanti✨
ini flashback masa kecil yg aku suka selain karya kakak yg lain
✨Susanti✨
aku penasaran, apa author ini kelahiran 90an 🤗
karena film sailormoon adanya ditahun-tahun itu
✨Susanti✨
apa query itu Alfred Russel?
Iin Istiana
cerita yg bagus
Pingkan Mamangkey
entah sudah berapa kali bolak-balik baca Novel ini semoga ada kisah anak² Edward dan Alfred. Semangat thor 💪
Pingkan Mamangkey
Alfred kamu nantangin 🤣🤣🤣
YunaD
woi🤣
YunaD
kayak suami istri
Pingkan Mamangkey
Novel yang sangat bagus dan sangat mendidik
Pingkan Mamangkey
🥺🥺🥺
Yulia pacar Jin
BELUM BACA DI JUDUL INI SIHH TAPI OPENING NYA AJA UDAH NGAKAKKK...BARU KALI INI SUKA BGT ADA PENULIS YANG MENYUMPAHI KALAU ADA YANG COPY PASTE TEWASSS...😭🙏🏼
SUKAAA NIHH GAYA AUTHORR NYAAA🫶🎀❣️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!