Kecelakaan mengerikan membuat Pelangi Jingga Cakrawala lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup dan harapan akan mimpinya menjadi seorang balerina terkenal. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.
Sebagai terapis andal, Lentera Bentang Nirbatas yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi bocah itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Pelangi yang penuh amarah, perlahan-lahan Lentera mampu membuat Pelangi mau membuka diri.
Hal itu membuat Rimba Fajar Cakrawala jatuh hati pada Lentera. Akankah Rimba mampu meyakinkan jika cinta yang ia tawarkan bukanlah atas balas budi karena telah membuat anaknya bisa berjalan lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Pelangi tidak protes atau keberatan ketika ia tahu Papanya keluar kota, ia tetap menjalani harinya dengan riang. Pagi harinya ia sekolah, setelah itu bermain bersama Lentera sambil memperlanjar jalannya hingga ia tertidur, dan sore hari ia pergi ke tempat les.
Berbeda halnya dengan Lentera yang namapak galau, sebab ini sudah hari ke tiga sejak Rimba pergi, Rimba belum juga pulang. Padahal Rimba mengatakan hanya akan pergi selama dua hari. "Semua pria sama saja," gerutunya, ia menendang batu taman untuk meluapkan rasa kesalnya. Lentera merasa tidak ada gunanya berada di rumah Rimba, pria itu sibuk dengan urusannya dan hanya meneleponnya untuk menanyakan keadaan Pelangi tanpa memberitahu kapan dia pulang, sementara Pelangi pun sibuk dengan aktivitasnya. "Jika nanti Pelangi sekolah, aku akan seperti kucing peliharaan di rumahan ini..."
"Kucing peliharan yang sangat menggemaskan," sahut Rimba, tiba-tiba saja dia muncul tanpa Lentera sardari, dan sudah berdiri di belakangnya.
Seketika Lentera langsung mengenali suara itu, ia pun langsung menoleh. "Se-sejak kapan kau berada di belakangku?" tanyanya tergagap, wajahnya memerah seperti buah tomat karena menahan malu. "Apa saja yang sudah kau dengar?"
Rimba menggeleng. "Tidak ada," jawabnya sebari tertawa.
"Dasar menyebalkan," Lentera membuang wajahnya. 'Biarlah, toh memang kenyataannya seperti itu,' batinnya.
"Kecantikanmu bertambah dua kali lipat saat kau marah," ucap Rimba. "Tapi mari bantu aku untuk tidak terus terpesona padamu karena aku punya sesuatu yang harus aku tunjukan padamu." Rimba mengulurkan tangannya ke arah Lentera.
Lentera masih menatap Rimba dengan kesal, tapi rasa penasarannya, membuatnya menerima tangan Rimba dan ikut bersamanya. "Mau kemana? Aku hanya pakai daster dan tidak pakai makeup..." protesnya.
"Seluruh makhluk di bumi ini tahu kau tetap cantik walau tanpa polesan makeup," Sebelum Lentera kembali mengomel Rimba melepas jasnya dan memakaikan di pundak Lentera. "Pakai ini saja, tidak ada waktu untuk ganti baju karena sebentar lagi Pelangi pulang les." ia membukakan pintu mobil untuk Lentera.
"Tak perlu memujiku setinggi langit hanya karena kau tak mau memberiku waktu untuk berdandan," gerutu Lentera, sembari masuk ke mobil.
Rimba tertawa mendengar omelan Lentera, setelah menutup pintu mobil, ia memutar dan masuk ke mobil. Rimba mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju kantornya.
"Kita di mana?" Lentera menatap ke atas gedung pencakar langit yang ada di hadapannya, namun mobil yang membawanya terus melaju melewati gedung utama, lalu masuk ke basement.
"Yang tadi itu gedung utama kantorku, tapi sekarang kita langsung ke gudang bawah tanah," terang Rimba, mobilnya terus melaju di lorong bawah tanah, hanya ada lampu-lampu kuning kecil yang menempel di dinding lorong tersebut.
Rimba meraih tangan Lentera yang mulai di banjiri keringat dingin, ia tahu wanita itu mulai ketakutan. "Jangan takut sayang, aku tidak akan pernah menyakitimu."
"Tapi kenapa kau bawa aku ke tempat gelap ini?" Lentera berusaha melepaskan tangannya, jantungnya berdegup kencang, bayangan akan kejadian di hari ia di perkosa terus berkelebat dalam ingatannya.
"Kau akan tahu setelah kita masuk," Rimba memarkirkan kendaraannya tepat di depan sebuah pintu di sudut ruang bawah tanah itu.
Suasana nampak remang-remang, tubuh Lentera gemetar begitu hebatnya. "A-aku tidak mau turun, aku mau pulang," pintanya lirih.
"Sayang, percayalah! Aku tidak akan pernah menyakitimu, ada sesuatu yang ingin aku tunjukan di dalam," tangan Rimba terulur untuk menenangkan Lentera, namun Lentera malah memukulnya. "Aku mau pulang Rimba!!" teriaknya histerisnya, Lentera menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku mau pulang Rimba..."
"Baiklah jika kau tidak ingin bertemu Sinar di dalam," Rimba kembali menyalakan mesin mobilnya.
Begitu mendengar Sianr ada di dalam, Lentera langsung menurunkan tangannya dari wajahnya. "Sinar ada di dalam? Kau menyekap adiku?" mata Lentera melotot, seketika wanita itu berubah menjadi seperti srigala yang menakutkan.
"Aku tidak menyekapnya," Rimba mencoba menenangkan Lentera. "Dia baik-baik saja di dalam. Jika kau tidak percaya silahkan kau masuk ke dalam dan memastikannya," ucapnya dengan tegas, sembari kembali mematikan mesin mobilnya.
"Tapi kenapa kau bawa adikku kemari? Kenapa tidak di rumah saja?"
"Jawabannya ada di dalam," Rimba keluar dari mobilnya, kemudian ia memutar dan membukakan pintu mobil Lentera. "Ayo lah keluar," ia mnegulurkan tangannya.
Dengan ragu-ragu, Lentera menerima uluran tangan Rimba. Lentera menggenggam erat tangan Rimba, berjalan menuju pintu. "Kau tidak perlu cemas, di dalam bukan hanya ada Sinar, tapi ada Daddy dan juga Jagat," sembelum meraih knop pintu Rimba menujuk ke arah mobil Jagat dan Daddynya yang terparkir agak jauh dari mobilnya.
Lentera sedikit bernapas lega melihat mobil Jagat dan Lintang, tapi kepalanya masih di penuhi dengan tanda tanya mengapa Rimba membawanya ke ruang bawah tanah.
Cahaya terang terpancar dari dalam ruangan ketika Rimba membuka pintu, Lentera menyipitkan matanya karena silau cahaya lampu itu. Namun ia berusaha menatap satu persatu orang-orang di ruangan itu. Banyak orang yang tak ia kenal berseragam hitam-hitam layaknya seorang bodyguard berbaris di dekat dinding, sementara Jagat, Lintang, dan Sinar..... Sinar langsung berlari ke pelukan Lentera.
"Kakak.... Huhu..." Sinar memeluk Lentera dengan erat, gadis itu menagis di pelukan Lentera, hingga membuat Lentera panik dan bingung. "Kamu kenapa, Dek?" tatapannya tertuju pada Rimba yang berdiri di sampingnya.
"Apa dia menyakitimu?" Lentera mengelus Sinar dengan lembut namun matanya melotot pada Rimba, kemudian beralih ke Jagat.
Sinar menggelengkan kepalanya. "Tidak, mereka sama sekali tidak menyakitiku," ia menongak menatap Lentera dengan iba. "Kenapa selama ini Kakak tidak pernah cerita jika kakak di perkosa oleh bajingan itu?" tangan Sinar menujuk pada seseorang yang duduk di kursi dengan dei kelilingi para pria berseragam hitam.
Jagat membuka penuntup wajah pria itu agar Lentera bisa melihat ayah tiri yang telah memperkosanya saat SMA.
"Andai saja Kakak cerita semuanya, aku tidak akan sudi menerima uang dari keluarga bajingan itu," Sinar masih terisak, tatapan benci dan jijik tertuju pada ayah tirinya.
Lentera terpaku menatap pria yang telah memperkosanya, tubuhnya kembali gemetar dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Melihat pria itu ia membuat perutnya terasa mual, dadanya begitu sesak. "Kak, tenanglah. Kakak Lentera aman bersama kami." ucapan Sinar cukup ampuh untuk menenagkan Lentera.
berakhir bahagia utk semuaa..lentera juga sudah berhasil mngatasi trauma atas sentuhan laki2...
terimakasih Kak Irmaa utk karyanya..
mohon maaf baru bs menyelesaikan bab ini hingga akhir..🙏
Kau harusnya bs bangkit melawan traumamu dan jangan berpikiran buruk terus. Jika Pelangi saja bs smbuh dan bangkit..kaupun harusnya jg bisa.
Apalagi jika pelaku adalah org terdekat..alhasil mereka tdk mau mengungkapkan dan melaporkan ke Polisi.
Peraayaan ulang tahun Pelangi
Hamilnya Rembulan
dan akhirnya Lentera mau menerima lamaran Rimba dengan restu Senja..🥰🥰🥰
semoga tak ada lagi halangan utk mererka smua
Tak mungkin kan Eyang merusak kebahagiaan Pelangi...😉