Mereka dijodohkan oleh sang Kakek sejak kecil dan direstui oleh kedua orang tua. Setelah dewasa, mereka tidak setuju dijodohkan dan melarikan diri sebelum pertunangan dilangsungkan, karena sudah punya kekasih.
Hanya berbekal sisa tabungan semasa kuliah dan sedikit keberanian, mereka lari dari rumah, meninggalkan proses pertunangan demi sang kekasih. Namun sangat menyakitkan, saat tahu kekasih mereka telah berpaling..
》Mungkinkah mereka terus berlari atau kembali pada keputusan orang tua?
》Mungkinkah ada kesempatan kedua untuk melanjutkan proses perjodohan sang kakek?
Ikuti kisahnya di Novel "SECOND CHANCE"
Selamat membaca.
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Menghadapi 3.
...~•Happy Reading•~...
Maya yang sedang memperhatikan sekitar, sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Philemon. Suatu pemikiran yang sangat dewasa dan matang sebagai pria yang belum menikah.
"Philee, maaf, ya. Aku ngga sempat bertanya kemarin. Apakah kau lebih tua dariku?" Maya bertanya demikian, karena cara pemikiran yang tidak biasa di usia sepertinya.
"Yang pasti, aku lebih tua sekitar 4 tahun darimu. Menurut Kakek, kau lahir aku sudah hampir 4 tahun. Ada masalah dengan itu?" Tanya Philemon serius, sambil melirik Maya di sampingnya.
"Astagaaa, aku sangat tidak sopan, panggil namamu saja. Abis kau terlihat seusiaku." Maya tertegun lalu menutup mulutnya dengan tangan. Dia menyangka Philemon seusianya, karena terlihat lebih muda dari Aldo.
"Ngga usah diganti panggilannya. Aku suka dengan itu, jadi jangan dirubah lagi. Kalau dengar nama itu, aku tau, kau yang panggil." Philemon berkata serius, karena dia suka dengan cara Maya memanggilnya demikian.
"Berarti orang tuamu tahu beda usia kita, ya. Apa mereka bisa terima, dengar aku panggil nama saja?" Maya masih memikirkan soal pantas dan tidak pantas.
"Pasti tahu. Kau lahir perempuan, baru dijodohkan. Jika laki-laki, mungkin lain lagi ceritanya. Ngga usah dipikirkan, selama aku sendiri ngga keberatan. Kau tinggal menyesuaikan saja dalam kondisi tertentu." Philemon jadi mengerti maksud Maya.
"Tinggalkan soal usia. Kita kembali pada tujuan kita ke Cengkut hari ini. Aku sengaja mengajakmu sekarang, karena kita akan sibuk kerja sepanjang minggu depan. Kita baru punya waktu di akhir pekan seperti kemarin." Philemon menjelaskan beberapa rencana yang akan dilakukan.
"Iya, aku mengerti. Aku sendiri sedang merapikan keuangan pabrik, jadi agak sibuk jika di hari kerja." Maya menjelaskan dan mengakui kebenaran yang dikatakan Philemon.
Sebelum masuk ke kota Cengkut, Philemon menepi sebentar untuk sarapan yang disediakan Bibinya Maya agar bisa sarapan di jalan. Supaya mereka bisa konsentrasi untuk beribadah.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di halaman sebuah Gereja kecil di pinggiran kota Cengkut. Dimana Gereja tersebut adalah tempat Philemon dan keluarganya beribadah.
Saat masuk ke dalam gereja, mereka menjadi perhatian jemaat yang sudah hadir. Orang tua Philemon yang sudah hadir, terkejut melihat Philemon dan Maya masuk Gereja bersama-sama. Tirsa dan orang tuanya yang sudah hadir, lebih terkejut lagi melihat Philemon hadir bersama wanita lain.
"Tenang saja untuk beribadah, ngga usah lihat siapa pun." Philemon menggenggam tangan Maya yang agak dingin, karena melihat banyak mata memandang mereka. Maya hanya bisa menggangguk mengiyakan, mengerti maksud Philemon.
~*
Selesai Ibadah, tanpa menunggu orang tua Philemon, mereka segera meninggalkan halaman Gereja. Philemon mengajak Maya langsung pulang untuk menghindari interaksi dengan yang lain, agar mereka tidak membuat kegaduhan di halaman Gereja atau menjawab pertanyaan orang-orang yang mengenal Philemon.
"Philee, kita sudah membuat orang ngga happy hari ini. Terutama wanita itu, serem banget tatapannya. Jika tatapannya ibarat pisau, aku sudah tertusuk berkali-kali. Lebih sangar dari wanita roda 4 itu." Maya berkata dalam mobil, saat mereka menuju rumah Philemon.
"Yaa, seperti itu. Makanya aku agak emosi, jika Ibu mengizinkan dia ada di sekitarku. Menurut Ibu, dia wanita yang lembut dan berpendidikan tinggi, jadi pantas menjadi istriku yang suka kasar dan panasan." Philemon mengiyakan ucapan Maya dan memberitahukan alasan Ibunya.
"Kau tidak seperti itu. Sejak kita bertemu dan sudah seperti sekarang, aku jadi bisa bedakan antara kasar dan tegas. Mungkin kesan pertama, kasar. Tapi jika sudah kenal, ya, tidak. Dalam kondisi tertentu, kita harus tegas." Maya berkata serius, mengingat sikap Philemon padanya, sejak awal dan juga sikapnya saat mulai bekerja dan harus tegas pada orang yang lakukan kesalahan.
"Ya, seperti yang sering dikatakan. Tak kenal, tak sayang. Sudah mengenal, makin disayang." Maya berkata demikian, karena itulah yang dirasakan kepada Philemon.
"Thank you." Ucap Philemon sambil memegang tengkuk Maya dengan sayang.
"Kita bertemu dengan orang tuaku dulu. Kita lihat reaksi mereka. Jika tidak menerimamu dengan baik, kau kembali ke mobil dan biarkan aku yang bicara dengan orang tuaku." Philemon menyampaikan rencananya, karena dia tidak enak Maya melihat atau mendengar sesuatu yang tidak enak diucapkan orang tuanya.
Philemon sudah melihat sikap orang tua Maya yang tidak menerima dengan sikapnya, tapi tidak mengucapkan sesuatu. Itu lebih baik, karena kata-kata yang kasar bisa melukai hati dari pada sikap tidak suka.
"Iya, aku akan menyapa saja, sambil lihat situasi. Aku belum terlalu kenal orang tuamu, jadi ngga berani mengatakan sesuatu. Nanti bukannya jadi baik, malah makin rumit." Maya mengerti maksud Philemon dan dia sudah menetapkan hati untuk mendukung rencana Philemon demi mereka bisa bersama.
"Mari, masuk." Philemon membuka pintu mobil dan mengajak Maya turun. Sambil memegang tangan Maya, Philemon berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Ini, pegang kunci mobil, mungkin akan diperlukan." Philemon berkata sambil menyerahkan kunci mobil ke tangan Maya.
"Orang tuamu sudah sampe rumah?" Maya heran melihat sudah ada mobil di halaman rumah Philemon.
"Iyaa. Tadi aku sengaja jalan memutar dikit, agar mereka tiba di rumah lebih dulu. Biar mereka berdoa dengan tenang, sebelum bertemu kita." Philemon menjelaskan maksudnya, mengapa dia sedikit memutar jalan untuk kembali ke rumahnya.
"Kau anaku, tapi sangat tidak tau malu dan mempermalukan orang tuamu." Bentak Ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga. Ibu Philemon makin emosi melihat Philemon mengajak Maya datang ke rumah mereka.
"Selamat pagi Om, Tante." Sapa Maya sambil meletakan kedua tangannya di dada. Dia tidak mau mengulurkan tangan untuk salim, agar tidak membuat kecewa jika tidak ditanggapi. Philemon kembali memegang tangan Maya, saat mendengar bentakan Ibunya.
"Duduk, K'may..." Philemon menunjuk salah satu kursi yang ada dalam ruang keluarga, lalu dia duduk di sampingnya.
"Mengapa aku harus malu dan apa yang aku lakukan, hingga membuat Ayah dan Ibu malu?" Tanya Philemon serius, sambil melihat kedua orang tuanya bergantian.
"Semua orang di kota ini sudah tahu dia menolakmu, tapi kau malah membawanya ke sini? Kau lupa yang terjadi dan apa yang dia lakukan padamu dan keluarga kita? Setelah tahu, kau seperti itu dengan segala yang kau punya, baru datang mendekatimu?"
"Setelah tau orang yang dia kejar, mengecewakan dan tidak ada apa-apanya dibadingkan denganmu, baru mau terima perjodohan itu?" Ibu Maya mengatakan apa yang ada dalam pikirannya, tanpa melihat perubahan wajah Philemon dan Ayahnya. Sedangkan Maya hanya diam menunduk.
Bagi Ibu Philemon, Kakek Philemon sudah tidak ada, jadi tidak perlu mempertahankan perjodohan yang diadakan Kakeknya. Philemon tidak perlu menepati apa yang direncanakan antara dua keluarga. Karena Maya tidak terima dan merusak perjanjian para Kakek dengan kabur dari rumah.
Sedangkan Maya terus berdoa dan berusaha mengendalikan emosi dan mulutnya untuk tidak membalas ucapan Ibu Philemon. Walau semua yang dikatakan Ibu Philemon tidak benar, hanya berupa tuduhan. Tapi dia membiarkan Philemon yang menghadapi Ibunya.
Philemon merapatkan duduknya mendekati Maya, lalu melingkarkan tangannya ke bahu Maya dan mengusapnya pelan. Dia berharap itu bisa menenangkan Maya dan juga meminta dia bersabar.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
apa lemon nanti pria yang dijodohkan sama kamaya