🏆 JUARA FAVORIT PEMBACA LOMBA "PENGKHIANATAN" SEASON 2 🏆
Qiana dan Emir sudah menjalin hubungan selama 12 tahun dan rencana mereka akan menikah tahun depan. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendatangi pernikahan Zeline, sahabat baiknya. Ternyata yang menjadi mempelai laki-laki adalah Emir.
Dunia Qiana terasa hancur saat tahu kalau dirinya sedang hamil anak Emir. Sementara laki-laki itu tidak mau mengakuinya. Akibat kejadian itu sang ibu meninggal karena gagal jantung.
Di tengah keterpurukan itu datang penolong yang selalu memberikan penyemangat, yaitu Keenan seorang office boy. Pemuda ini sering membantu Qinan secara diam-diam. Apalagi saat Emir ingin kembali merebut hati Qiana dan Zeline ingin selalu berusaha menghancurkan kehidupannya.
Siapakah Keenan itu?
Apakah Qiana akan mendapatkan kebahagiaan setelah datang banyak cobaan yang menderanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Bara Berhasil Kabur
Bab 34
Bara berlari di lahan perkebunan atau hutan, karena banyak sekali pohon-pohon. Laki-laki tua itu memilih lari di tepi hutan di samping jalan, agar tidak terlihat oleh kedua penjahat tadi. Selain itu, nanti jika ada orang, dia bisa minta tolong.
Entah sudah berapa jauh Bara berlari menelusuri jalan, tetapi tidak ada seorang pun atau kendaraan yang berpapasan dengannya. Hari juga sudah menjelang sore dan matahari mulai menuju peraduannya. Namun, tekadnya untuk menyelamatkan Qiana dan Shaka sangat besar, jadi dia terus berlari. Terdengar suara bunyi mesin kendaraan, maka Bara melihat dan menelisik apa orang yang naik motor itu adalah penjahat tadi atau bukan.
"Tolong! Tolong! Berhenti!" Bara melambaikan tangannya kepada pengendara itu sambil berlari mengejar kendaraan beroda dua itu. Bagaimanapun juga itu adalah satu-satunya kesempatan yang dia punya untuk bisa kembali ke kota dan mencari keberadaan putri dan cucunya yang dibawa oleh penjahat.
Orang yang menunggangi si kuda besi, menghentikan lajunya. Lalu, melihat ke arah Bara yang berlari sambil terengah-engah.
"Tolong, aku! Aku korban penculikan. Putri dan cucu aku juga tidak tahu saat ini sedang berada di mana. Aku harus lapor polisi agar secepatnya mereka bisa membantu keluarga aku," teriak Bara dengan nada putus-putus karena kehabisan napas.
Laki-laki yang masih duduk di jok kursi motornya, memindai Bara. Dia takut kalau orang yang tadi berteriak dan minta tolong kepadanya adalah komplotan begal. Namun, melihat penampilan Bara yang acak-acakan dengan luka di kedua pergelangan tangannya membuat laki-laki merasa simpati kepada Bara.
"Bapak dari mana?" tanya si pengengdara.
"Saya diculik, begitu juga dengan putri dan cuci saya. Aku harus secepatnya menolong mereka," jawab Bara dengan jujur.
"Kalau begitu bapak cepat naik!" perintah laki-laki itu kepada Bara dan langsung melajukan lagi motor itu dengan cepat karena waktu sebentar lagi akan malam.
***
Qiana mencoba untuk tenang, karena jika dia panik otaknya akan susah untuk berpikir. Perempuan itu menarik napasnya dalam-dalam lalu kembali tidur di atas ranjang begitu pintu terbuka, matanya terpejam pura-pura masih tidak sadarkan diri. Hal ini lah yang terpikirkan oleh dia saat ini. Dengan kedua tangan terikat, mana mungkin bisa melawan seorang laki-laki yang postur tubuh lebih tinggi dan besar, serta tenaga lebih kuat.
"Masih belum sadar juga, ya? Apa mereka memukul dengan keras sampai seperti ini?"
Qiana berusaha untuk bernapas senormal mungkin, saat merasa laki-laki itu berdiri di samping ranjang. Perempuan itu yakin kalau dia juga sedang melihat dirinya saat ini.
"Cantik. Beruntung sekali aku dapat uang dan wanita cantik begini. Nyonya Zeline memang tidak tanggung-tanggung kalau memberikan hadiah," kata si Bang Jago bermonolog.
Jantung Qiana berdebar kencang, antara marah dan takut. Marah kepada Zeline yang sudah menjadi otak dari kejahatan ini. Takut kepada laki-laki yang sedang bersama dengannya, apalagi dia terdengar suka kepada dirinya.
'Gawat. Apa yang harus aku lakukan?' batin Qiana.
'Keenan, tolong aku!' teriakan hati Qiana.
***
Keenan memantau rumah Zeline, meski sudah ditunggu lama, wanita itu tidak keluar dari rumah orang tuanya. Hati sudah petang dan dia belum juga mendapat kabar dari orang-orang yang diperintahkan untuk menelusuri kota dan mencari Bara maupun Qiana.
Handphone Keenan berbunyi, dengan sigap dia menggeser tombol hijau. Tanpa dia tahu siapa yang sudah menghubunginya.
"Halo," sapa Keenan.
"Ken, ini Ayah." Ternyata Bara adalah orang yang sudah menelepon dirinya saat ini.
"A–ayah! Ayah sedang berada di mana sekarang?" tanya Keenan dengan senang, tetapi ada rasa cemas dan takut.
"Apa Qiana dan Shaka sedang bersama dengan Ayah juga?" Keenan memberondong beberapa pertanyaan sekaligus.
"Ayah sekarang sedang berada di apartemen bersama beberapa orang keamanan. Qiana dan Shaka tidak bersama dengan Ayah. Sepertinya kita sengaja dipisahkan oleh para pelaku," jawab Bara.
"Apa Ayah ingat bagaimana wajah di pelaku?" tanya Keenan.
"Iya, Ayah masih ingin wajah mereka berdua,". jawab Bara.
"Bagus. Aku ke sana sekarang. Kita langsung ke kantor polisi untuk memberi tahu ciri-ciri para pelaku," ucap Keenan.
Lalu, Keenan pun menyuruh anak buahnya untuk mengawasi rumah Baron. Dia yakin kalau Shaka sedang bersama dengan Zeline saat ini.
***
Apakah Qiana bisa selamat dari sekapannya itu? Apa para pelaku akan tertangkap? Ikuti terus kisah mereka, ya!
knapa yg musuhin Qiana jd 2 gini?
Qiana, kuat ya...
tggu saja