Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.
NO PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keadilan sang Kaisar
Kereta berukir emas dengan delapan ekor kuda siap mengantar Mikayla —atau yang sekarang bernama Chaterine— juga Aidenloz menuju Eroshvent. Di atas kereta tersebut terdapat panji-panji Erosh yang berkibar gagah saat ditiup lembut oleh angin. Istana Aldergo mendadak dingin karena mereka tahu, mereka sudah melakukan kesalahan besar karena ketergesa-gesaan.
Nyatanya Aidenloz sudah menyiapkan segalanya untuk Chaterine, orang yang sama dengan Mikayla yang selama ini dikenal sebagai putri pertama Duke of Stanley.
Di sisi lain, sebenarnya cara pintas bisa saja Armovin lakukan dengan membunuh Mikayla dan ketakutan mereka akan sirna. Namun hal itu tidak mereka lakukan sebab resiko yang akan ditanggung sangatlah besar, bisa-bisa tidak ada satupun yang akan sudi menyelamatkan mereka bahkan dewa sekalipun. Membunuh calon istri kaisar yang sah sama saja dengan pengkhianatan besar karena hal tersebut bisa mempengaruhi benua lain yang juga dalam cakupan kepemimpinan Eroshvent.
Claude sudah pulang kemarin. Jadi hanya dirinya dan Mi— Chaterine yang kembali hari ini. Ah, bersama Alphair juga. Pedang milik Armovin pun sudah dikembalikan dengan hormat disertai permintaan maaf sedalam-dalamnya. "Dua hari lagi aku menunggu tanggung jawab darimu, Raja Eliot."
Raja Eliot mengangguk mantap. Segala konsekuensi akan diterimanya dengan lapang dada. "Saya akan membawa orang-orang saya yang ikut serta atas kejadian ini."
"Ah iya, jangan lupa ajak juga penyihir-penyihir yang berani menyerang calon permaisuri saat merebut pedang Armovin," ucap Aidenloz sesaat kemudian ia memasuki kereta kuda yang di sana Chaterine juga sudah menunggunya. Tak lama kereta tersebut mulai bergerak meninggalkan Aldergo.
"Masalah sudah selesai, kan?" Aidenloz menyandarkan tubuhnya pada salah satu bantalan tepat di seberang Mikayla.
"Sebenarnya masih ada beberapa."
"Oh ya?" Jawab Aidenloz, "Apa itu?"
"Bukannya Armovin belum dihukum?" jawab Mikayla polos.
"Ah, benar juga. Mereka paling bersalah di sini," gumam Aidenloz setuju. "Atau kau sendiri yang akan memberikan hukuman pada mereka?"
"Semuanya ku serahkan padamu," jawab Mikayla kemudian tersenyum tipis. "Tapi jika kau tidak keberatan ... tolong izinkan aku yang mengurus Lady Rosella. Aku masih berhutang janji dengannya."
Aidenloz mengangguk setuju. "Hanya itu?"
Mikayla tersenyum lebar. "Mana pernah aku meminta banyak-banyak padamu?"
Aidenloz meraih tangannya. "Padahal aku suka saat kau meminta banyak hal."
"Benarkah?" ide bagus terlintas di benak Mikayla. "Kalau begitu aku akan meminta sesuatu padamu."
"Apa itu?"
"Ini bukan permintaan, tapi tantangan," ucap Mikayla. "Sebelum menjalankan tugas tanpa akhir, aku menantang mu untuk bisa membuatku melupakan status sebagai permaisuri dalam seminggu. Apa kau bisa?"
"Mudah saja," sahut Aidenloz santai. "Aku akan mengabulkannya. Tapi nanti, setelah kita resmi menjadi Kaisar dan Permaisuri Erosh."
...----------------...
Suara rantai yang bergesekan dengan lantai bergema memenuhi ruangan remang-remang tempat para tahanan tinggal. Raja Armovin, putra mahkota Danial, Duke of Stanley, Marquess Torand, juga Count Williams —kerabat Marquess Torand yang ikut terlibat— dipaksa berjalan menuju ruang pengadilan dengan pakaian kotor dan rantai sebesar pergelangan tangan wanita melilit di sekitar leher hingga kaki mereka. Puluhan —bahkan ratusan— pengawal berjaga-jaga penuh untuk hari ini sebab yang akan diadili bukanlah orang dari kalangan biasa melainkan petinggi di Armovin.
Aidenloz menduduki kursi teratas. Maniknya menghunus tajam. Marah dan kecewa menjadi satu dalam dirinya.
"Selamat, Peterson kau berhasil mencoreng nama leluhurmu yang bersusah payah memimpin Armovin selama ratusan tahun," ucap Aidenloz sarkas, "Menculik putri dewa selama belasan tahun, menghalangi kehendak dewa, hampir menjadikan wanita kaisar sebagai pengantin putra mahkota Armovin, dan yang terpenting ... kau dalang kedua di balik kejadian ini."
"Atas kejahatanmu, jabatan raja Armovin selamanya akan dicabut hingga seluruh keturunanmu tidak akan pernah merasakan kemewahan lagi akibat perbuatan kakeknya."
"T-tolong, Yang mulia. Jangan buat keturunan saya menderita seperti kakeknya yang bodoh ini." Mohon Peterson berderai air mata.
"Apa kau ingin tahu, Peterson. Mengapa istri juga putra-putri mu yang tidak terlibat dalam kasus ini tidak ikut diadili?"
Dalam hukum Erosh, siapa pun yang bersangkutan dengan penjahat, maka ia akan dihukum walau dengan hukuman yang lebih ringan. "Itu permintaan dari calon permaisuri-ku. Lady Chaterine. Oleh sebab itu bersyukurlah karena aku tak membabat habis semua klan Stamford-mu."
Peterson tertunduk. Ia tak lagi melayangkan protes. Diam-diam dirinya mengucap syukur sebab orang terdekatnya tidak terseret dalam masalah yang ia timbulkan. Mengikuti perintah Dewa Armor yang sekarang juga di hukum di pengadilan langit ... menjadi penyesalan terdalamnya.
"Aku juga menjatuhkan hukuman salib sampai mati padamu."
"Kau, Danial." Aidenloz menatapnya sinis. Pria seperti ini ... berani-beraninya hampir membuat wanitanya mati mengenaskan hanya karena ia lebih memilih wanita lain. "Sejak awal kau memang tidak tahu apa-apa, namun kesalahanmu tidak bisa dimaafkan olehku karena kau berkomplot dengan Marquees Torand untuk menghabisi calon permaisuri dan hampir menewaskannya di hutan Augoria."
"Kau akan dihukum mati di tiang gantung besok hari di balai kota Eroshvent."
Danial terlalu syok, wajahnya pucat pasi. Ia tak berkata apa-apa dengan tatapan kosong. Ia tidak bisa membela diri sebab seluruh bukti sudah berada di tangan Kaisar.
"Marquees Torand, kejahatanmu adalah membantu pangeran menjalankan kejahatannya dan kau juga berani mengibaskan pedang dan membunuh permaisuri." eja Aidenloz geram. "Marquess, gelarmu serta seluruh harta dan kastil Marquess akan ditarik. Aku menjatuhkan hukuman berupa potong tangan padamu, lalu dibunuh seminggu kemudian."
Marquess tiba-tiba limbung dan bersujud lemah. Tubuhnya bergetar hebat dipenuhi peluh ketakutan. "Kaisar, hamba memohon ampunan mu. Tolong ampuni saya, tolong ampuni saya yang pernah gelap mata ini!"
"Dengan tangan itu kau hampir membunuh Lady Chaterine," ucap Kaisar dingin. "Katakan, kebaikan mana yang harus dipertimbangkan agar bisa mengampunimu?"
"Kau pernah menyelundupkan tanaman terlarang ke dalam negerimu, kau juga pernah menaikkan pajak pertanian Armovin hingga mencekik rakyat dengan nominalnya yang diluar akal sehat, kau juga memangkas sepertujuh biaya peternakan Armovin bagian Utara yang diberikan pemerintah Erosh untuk keuntungan pribadi. Katakan, bagian mana yang bisa meringankanmu dari hukum yang sudah berlaku sejak pemerintahan leluhurku?"
Tubuh Marquess menegang. Ia tidak bisa lagi mengelak.
"Hukumanmu harusnya lebih dari ini," ucap Aidenloz tanpa belas kasih. "Aku memberikan hukuman tambahan untuk Marquess Torand yang banyak merugikan Armovin."
"Setelah mati, mayatnya akan dibiarkan terbuka sebagai santapan gagak."
Bulu kuduk semua orang yang mendengarnya ikut berdiri.
"Dan yang lain...." Aidenloz memerhatikan beberapa orang lagi yang rata-rata hanya menjadi sesuruhan para bangsawan sialan itu. "Setelah ini kalian akan ditenggelamkan ke laut lepas."
Aidenloz menyeringai. Itulah resiko jika berani bermain-main dengan sang Kaisar.