kebangkitan seorang wanita yang awalnya terkenal sebagai pembuat onar, pecundang yang tidak memiliki sihir dan juga memiliki hati yang sangat jahat. Ia mendapatkan hukuman penggal akibat dari perbuatannya selama ia hidup. Tidak hanya membuat onar dimana - mana, namun ia juga mencoba meracuni sepupunya karena dendam, melihat sepupunya telah mengambil pria yang ia cintai selama ini.Namun tepat ketika sebelum ia dieksekusi ia mengetahui sebuah rahasia besar, yang mana sebenarnya itu adalah sebuah permainan yang di rancang oleh sepupunnya sendiri untuk menjebak dirinya dan juga keluarganya. Namun, takdir pun berpihak padanya, ia kembali hidup ketika dirinya berusia 15 tahun. Dapatkah ia membalaskan dendamnya? dapatkah ia bangkit dari ketepurukkan yang ia alami? akankah ia dapat melawan takdir? akankah ia dapat merubah nasibnya di kehidupan ke dua ini, yang dari seorang sampah yang tidak memiliki sihir menjadi orang yang berguna dan hebat?. SELAMAT DATANG DI NOVEL "KEMATIAN SANG ANTAGONIS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiki Adysti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Angela
“Tengah memikirkan apa?”, Suara dalam dan dingin yang tak asing pun terdengar dari arah belakang Fiona.
Fiona menoleh ke belakang dan mendapati sosok Lucius tengah berdiri dengan bersedekap memasang wajah penuh selidik.
“Guru, taukah anda bahwa mengagetkan seseorang bukanlah hal yang baik?”.
“Begitukah? Sayangnya hal tidak terlalu buruk untukku. Melihat wajah kagetmu itu juga menjadi penghiburan bagi ku”.
“Huh!! Tidak tahu malu”, ucap Fiona yang kembali melihat ke arah Wiliona yang kini masih bertengkar.
“Pertengkaran kekasih kah?”, tanya Lucius.
“Tidak ada urusan dengan Guru”, ucap Fiona.
“Juga tidak ada urusan denganmu bukan?”, timpal Lucius.
“Ada. Dia adalah orang yang pernah melecehkan saya”, sembari menunjuk ke pria yang ada di bawah mereka, tatapan Fiona kini sangat dingin.
“Apa yang barusan kau katakan?”, tiba – tiba hawa dingin menusuk kekulit membuat Fiona bergidik ngeri.
Ia langsung berpaling melihat laki – laki yang ada di sampingnya. Tatapannya kini dingin dengan raut wajah yang juga tidak kalah dingin. Entah mengapa ada perasaan aneh yang di rasakan oleh Fiona saat ini yang tak tahu apa.
“Guru, biarkan saya yang mengurus hal ini”, ucap Fiona mengetuk tangan Lucius yang tengah mencengkeram besi balkon.
Melihat wajah serius Fiona, akhirnya Lucius pun menarik kembali kekuatannya dan mengangguk. “Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Kau punya aku yang selalu mendukungmu”, ucap Lucius yang membelai puncak kepala Fiona.
“Baiklah, aku akan pergi karena ada urusan. Kau jaga diri baik – baik”. Setelah mengucapkan hal tersebut Lucius pun menghilang darisana seperti tidak pernah ada dirinya jika Fiona tidak mencium aroma cendana yang khas dengan Lucius.
“Tunggu!! Cendana. Bukankah orang yang tempo kemari datang ke kamarku memiliki aroma cendana? Mungkinkah dia? Tapi mengapa? “ Fiona pun mencoba untuk menyingkirkan pemikiran tersebut.
“Sudahlah,, sekarang saat nya aku untuk memberi pelajar pada anak dari Marquez itu”. Ucap Fiona.
****
“Harap anda sadar posisi anda Tuan Muda. Saya tidak akan tinggal diam dengan perlakuan anda yang semena mena kepada saya”. Ucap Wiliona.
“Hahahhaa. Apa kau pikir aku datang saat ini karena tanpa rencana yang matang? Siapa yang akan mengatakan bahwa vaku memaksamu. Aku hanya akan mengatakan bahwa kita memiliki rasa suka satu sama lain dan tidak ingin terpisahkan. “, ucap laki – laki itu.
“Hei.. tidak tahu malu juga ada batasnya. Bukan begitu?”, suara lembut Fiona pun terdengar dari belakang keduanya.
Mendengar suara itu sontak mereka berdua berbalik dan mendapati sosok yang familiar baginya.
“No..nona Fiona. “, ucap mereka sembari memberi hormat.
“Apa yang anda lakukan disini Tuan Idiom ? Bukankah pestanya ada di dalam? “, tanya Fiona.
“Se..sebenarnya saya ada janji dengan Nona Wiliona di taman ini. Jadi kami berdua berada disini sekarang?”.
“Oh.. jadi kau pikir aku tuli? Aku bisa mendengar perdebatan kalian meski aku masih di atas balkon. “, ucapan Fiona ini langsung membuat lidah Idiom beku.
“Katakan Tuan Muda Farent, hukuman apa yang anda terima jika saya melaporkan kejadian ini kepada Marquez. Belum lagi nama kediaman Marquez akan turun ketika orang – orang mengerti bagaimana sikap anak laki – laki Marquez yang memiliki sikap penyiksa dan pemaksa seperti ini”, ucap Fiona. .
“I..Ini.. hanya kesalahpahaman. Mohon Nona jangan salah faham”, kilahnya.
“Salah paham?”, ucap Fiona dengan nada tinggi.
“Brrruk”, suara lutut bertemu dengan tanah pun terdengar.
“NONA Fiona,, maafkan saya kali ini”, suara tiba -tiba Idiom Pun terdengar.
“Tuan Farent, kenapa anda meminta maaf pada saya? Bukankah seharusnya anda meminta maaf pada nona yang di samping saya ini?”, ucap Fiona.
“Nona Wiliona, saya minta maaf atas kelancangan saya malam ini”, ucap Idion sembari bangkit dari tanah membungkuk sembilan puluh derajat.
Wiliona pun mengangguk tanpa mengucapkan kata – kata.
“Saya harap ini kali terakhir anda mengganggu Nona Wiliona”, ucap Fiona penuh nada peringatan.
“Ba..baik Nona Fiona. Kalau begitu saya akan kembali ke dalam”, ucapnya sembari memberi hormat dan langsung pergi dari arah sana.
“Untuk saat ini aku akan melepaskanmu dulu. Akan ku tagih hutang itu perlahan demi perlahan”, ucap Fiona sembari menatap punggung Idiom yang perlahan menghilang.
“Anda tidak apa – apa?”, pertanyaan Fiona membangunkan lamunan Wiliona. Setelah sadar dari lamunannya, ia pun langsung mengucapkan terimakasih.
“Terimakasih Nona Fiona. Anda adalah penyelamat saya”, ucapnya sembari memegang kedua tangan Fiona. Terlihat ada binar di kedua mata Wiliona yang kini tengah menatap Fiona.
Fiona sempat terkejut dengan sikap yang ditunjukkan oleh Wiliona. “Sebenarnya saya tidak melakukan apapun”, ucap Fiona.
“Tidak. Bagaimana anda bisa mengatakan begitu. Anda telah menolong saya dari serigala berbulu domba itu”, ucap Wiliona.
“Ah.. bukan apa – apa”, ucap Fiona.
“Bagaimanapun saya akan selalu mengingat pertolongan anda malam ini. Ahk... Saking senangnya saya lupa memperkenalkan diri secara resmi. Perkenalkan, Saya Wiliona Landburgh senang bertemu dengan anda Nona Fiona”, ucapnya sembari membungkuk.
Fiona mundur selangkah dan juga memperkenalkan dirinya. “Saya Fiona Landergei. Senang bertemu dengan anda Nona Wilioona”, ucapnya.
“Astagaa.. anda benar – benar seperti peri. Saya tidak menyangka bahwa saya bisa berkenalan secara pribadi dengan anda. Suatu kehormatan bagi saya”, ucap Wiliona.
“Jika begitu, bagaimana jika kita berbincang sembari ke tempat pesta. “, ajak Fiona.
Mereka pun berbincang di sepanjang jalan menuju tempat pesta. Dari sana Fiona mengetahui bahwa kepribadian Wiliona adalah orang yang hangat namun terlihat dingin bagi orang tak tidak dekat dengannya. Wiliona bahkan mengajak Fiona untuk datang ke pesta teh yang akan ia adakan.
“Ah.. akhirnya kita sudah sampai di tempat pesta. Agak tidak nyaman jika kita berdua masuk bersama”, ucap Fiona.
“Baiklah. Sampai bertemu kembali Nona Fiona, saya akan mengirimkan undangan kepada anda sesegera mungkin”, ucap Wiliona yang diangguki oleh Fiona.
Ketika masuk ke dalam pesta pun, Fiona langsung mendatangi kakak – kakaknya yang saat ini tengah berkumpul bertiga. Tak jauh dari sana gerombolan para nona pun tengah berbisik – bisik. Terlukis di dalam wajah mereka bahwa sebenarnya mereka ingin mendekati para Tuan Muda kediaman Duke, namun karena aura yang diberikan ketiga Tuan Muda itu sedang tidak baik tentu para nona hanya dapat mengamati dan enggan untuk mendekat.
Angela yang melihat Fiona masuk pun membeku seperti ia tengah melihat hantu.
“Bagaimana mungkin ?”, ucapnya sembari terkejut.