NovelToon NovelToon
DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:510.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khintannia Viny

Siapa yang tidak mengenal Karren Adibrata, cucu perempuan yang berasal dari keluarga Kalandra Adibrata, keluarga yang terhormat dan sangat di segani oleh siapapun.

Karren adalah wanita cantik nan sexy yang saat ini berada di bangku kuliah semester enam.

Karren memiliki pekerjaan sampingan menjadi model iklan untuk mengisi kekosongannya.

Karren bisa dengan mudahnya membuat laki-laki memujanya dan bertekuk lutut kepadanya.

Namun berbeda dengan Gibran, laki-laki tampan yang berprofesi sebagai dosen di kampusnya.

Gibran sama sekali tidak tertarik dengan kecantikan Karren, justru Gibran selalu menghindar jika bertemu dengan Karren entah apa sebabnya.

Bagaimana kelanjutan kisah Karren dan Gibran? Apakah Gibran akan terus menjauhi Karren atau Gibran akan terpikat dengan pesona Karren dan menuntun Karren untuk menjadi lebih baik lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khintannia Viny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 (AKTING)

Para laki-laki segera menghampiri Karren untuk membantunya, sedangkan Gibran terus berjalan tanpa memperdulikan kerumunan laki-laki yang heboh di belakangnya.

“Ren, lo ga apa-apa?”

“Ren, lo kenapa?”

“Gue antar ke klinik yuk.”

Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar dari para laki-laki yang sekarang sedang mengerubungi Karren.

“Kepala gue pusing nih, gue minta tolong panggilin mas,, eh pak Gibran dong.” Ucap Karren dengan suara yang di lemas-lemaskan.

Semua orang hanya saling melihat satu sama lain sambal mengerutkan keningnya.

“Kenapa harus panggil pak Gibran Ren? Bukannya yang lo butuhin sekarang itu dokter ya?” Tanya salah satu laki-laki yang mau membantu Karren.

Mendengar para laki-laki yang ada di sekitarnya terus bertanya membuat Karren kesal dan dia tidak bisa memasang wajah lemas lagi, kali ini wajah Karren sudah kesal karena mereka terlalu mengulur waktu.

“Mereka ga ada niatan pergi gitu? Banyak nanya banget bias-bisa mas Gibran keburu sampe kelas.” Batin Karren di dalam hatinya.

“Pak Gibran itu tetangga gue, jadi biar dia aja yang bawa gue ke klinik.” Ucap Karren.

“Gue bisa kok gendong lo sampe klinik Ren.” Ucap salah satu laki-laki yang ada di sana.

Glek!! Seketika wajah Karren langsung melongo, dia tidak menyangka kalau ada orang yang berpikiran untuk menggendongnya.

“Please, gue cuma mau pak Gibran aja, tolong panggilin ya, gue udah ga kuat banget nih.” Ucap Karren yang memasang wajah memelas agar ada orang yang merasa iba dengannya.

Di dalam hati Karren, dia ingin sekali meminta bayaran yang banyak kepada Darren karena sudah membuatnya harus berakting dengan totalitas seperti itu.

“Tunggu, gue panggilin pak Gibran dulu.” Ucap salah satu laki-laki yang ada di sana.

Mendengar hal itu membuat Karren bernafas lega karena akhirnya ada juga orang yang peka dan mau memanggilkan Gibran untuknya.

Laki-laki itu berlari mengejar Gibran yang tadi baru saja berjalan menuju ruangannya.

“Pak! Pak Gibran!!” teriak laki-laki itu.

Melihat namanya di sebut membuat Gibran yang baru membuka ruangannya langsung menoleh dan mengerutkan keningnya saat melihat mahasiswanya berlari.

“Ada apa? Kenapa kamu sampai berlari seperti itu?” Tanya Gibran.

“Pak tolong pak…” ucap mahasiswa tersebut sambal terengah-engah karena berlari kencang.

“Tolong apa?! Kamu kenapa?!” ucap Gibran yang ikut khawatir karena melihat mahasiswanya sampai berlari meminta tolong padanya.

“Bukan saya pak, tapi Karren, dia..” belum sempat mahasiswanya berbicara, namun Gibran sudah menutup kembali pintu ruangan yang tadi dia buka dan segera berjalan dengan cepat.

“Di mana Karren?” Tanya Gibran.

Mahasiswa tadi merasa aneh karena dia belum mengatakan apapun malah Gibran sudah berjalan dengan cepat seperti itu, tapi ya sudahlah yang penting Karren segera di bawa ke klinik.

“Di koridor lantai bawah pak.” Ucap mahasiswa itu.

Tanda di duga, Gibran segera memberikan tas kerjanya kepada mahasiswa tadi dan berlari dengan kencang.

“Loh pak, ini tasnya gimana?” Tanya mahasiswa itu.

“Titip dulu, tolong bawa ke kelas 2.4 terimakasih.” Ucap Gibran dengan berteriak.

Mahasiswa itu hanya melongo melihat Gibran yang sudah berlari menjauh.

“Kenapa harus sepanik itu sih? Padahal Karren cuma pusing aja, apa jangan-jangan pak Gibran juga fans nya Karren ya?” gumam mahasiswa itu sambil menggelengkan kepalanya.

Tidak lama kemudian, Gibran tiba di tempat Karren yang sudah di kerumuni banyak orang.

Gibran segera masuk ke dalam kerumunan sampai dia melihat Karren yang sudah lemas sedang bersandar di pundak seorang laki-laki yang menopang tubuhnya.

“Permisi, biar saya saja.” Ucap Gibran yang langsung menarik Karren dan meraih kepala Karren dari bahu laki-laki itu.

Dengan perasaan tidak rela akhirnya laki-laki itu berdiri dan membiarkan Gibran menopang tubuh Karren.

“Karren, kamu kenapa?” Tanya Gibran.

“Kalian semua bisa bubar dan masuk ke kelas masing-masing!” tegas Gibran kepada semua orang yang masih mengerumuni Karren.

Akhirnya semua orang bubar sambil berseru karena tidak rela meninggalkan Karren begitu saja.

Sedangkan Gibran tidak ingin tubuh Karren di lihat dan di sentuh laki-laki manapun.

“Karren, kamu sakit?” Tanya Gibran.

“Kepala aku pusing banget mas, padahal tadi pagi baik-baik aja.” Ucap Karren dengan lemas.

“Ayo ke mobil saya, saya punya beberapa obat-obatan di mobil.” Ucap Gibran.

Karren hanya mengangguk dengan tangan yang masih memegang keningnya.

“Kamu bisa jalan Karren?” Tanya Gibran.

Mendengar pertanyaan itu membuat Karren seketika memiliki pikiran yang licik.

“Mumpung sudah seperti ini, sebaiknya aku pakai buat cari kesempatan juga ah.” Batin Karren dengan senyum tipis yang tidak bisa di lihat Gibran.

“Kayaknya aku ga kuat berdiri deh mas, pusing banget kepala aku.” Ucap Karren.

“Yaudah ayo biar aku gendong.” Ucap Gibran yang langsung menggendong Karren.

Semua perhatian tertuju kepada Gibran dan Karren saat ini, mereka pun saling berbisik saat melihat kedekatan Gibran dan Karren yang seperti itu.

Karren bersembunyi di dada Gibran sambil tersenyum senang, walaupun sudah pernah di gendong Gibran tapi saat itu dia sedang mabuk dan tidak terasa apa-apa, sedangkan saat ini Karren sangat senang merasakan di gendong oleh tubuh Gibran yang kekar.

Gibran membuka pintu mobil dengan kesusahan, lalu dia segera mendudukkan Karren di kursi belakang, sedangkan Gibran segera mengambil air mineral dan juga obat pusing dari bagasi mobilnya.

“Ini minumlah.” Ucap Gibran sambil memberikan obat dan air mineral kepada Karren.

“Terimakasih mas.” Ucap Karren sambil mengambil obat dan air mineral yang di berikan Gibran.

Namun Karren tidak langsung meminum obat itu, sebaliknya dia hanya menatap obat yang ada di tangannya dengan perasaan yang campur aduk.

Dia merasa bersalah karena sudah berbohong tentang sakitnya, dia juga tidak mau meminum obat itu karena dia memang tidak pusing, tapi kalau dia tidak minum obat itu maka Gibran akan curiga dengannya dan aktingnya yang sudah bagus itu akan sia-sia.

“Karren? Kenapa ga di minum obatnya?” Tanya Gibran membuat Karren terkejut.

“Ah iya mas, aku jarang minum obat jadi takut pahit hehe.” Ucap Karren berbohong.

Karren terpaksa harus meminum obat itu agar Gibran tidak mencurigainya, walaupun sebenarnya Karren takut kalau dia akan keracunan karena meminum obat padahal dia tidak sakit.

“Sudah mas.” Ucap Karren sambil tersenyum.

“Kalau kamu masih pusing mending pulang aja.” Ucap Gibran.

“Emang kalo aku pulang, kamu ga akan ngambil nyawa aku?” Tanya Karren.

“Maaf Karren, tapi peraturannya memang harus menggunakan surat dokter baru nyawa kamu ga hilang.” Ucap Gibran.

Mendengar ucapan Gibran membuat Karren berdecak kesal, Gibran memang tidak ada toleransinya sama sekali, padahal Gibran melihat sendiri kalau Karren sedang tidak berdaya saat ini, tapi masih harus surat dokter baru nyawanya tidak hilang.

“Temani aku di sini dulu sebentar, jangan masuk ke kelas dulu.” Ucap Karren.

1
Al.Ro
Luar biasa
Ethie Nurhayati
ceritanya sangat menarik saya suka
Indri Suliaswati
baru mau baca 😁
Nuri 73749473729
kok sdh tamat... lagi dong jangan lupa extra partnya
Srilestari Asyiah Fitri Cienulingga
yah😢😭😭
kok tamat si thor😢 kan masih belum rela🤭🤭
semangat up date karya barunya ya🥰🥰❤❤
Tifani Putri
jangan lama" upnya kak nanti jln ceeitanya lupa
rachma yunita
lagi thor up nya..
Sefti Dwi Andini
yang banyak dong thor up nya.
sangking lama nya up sampai lupa bacanya.
semangat thor
Rizki Umami17
Alhmdllh akhirnya dpt notifikasi juga,,trma ksih kak sdh up hari ini
Rizki Umami17
saran aja kak autor,,mending nyelesain ceritanya karen dan pak gibran dulu kak,,setelah itu baru alya biar gk gntung gitu ceritanya,,semngat berkarya kak
Ifa Ajaa
kq lama gk up lagi thor
rahayu
sarah jangan pernah menilai seseorang dr coverny, blm tentu km lebih baik dr yg km hina sarah
Qaisaa Nazarudin
Astaga benar2 kayak jalang..😩😩
Qaisaa Nazarudin
Adtaga🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Qaisaa Nazarudin
Rubahlah cara pemakaian kamu dan juga jgn sok kecentilan kayak cewek murahan,napa,,kayak barang obralan sana sini..🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🙄
Qaisaa Nazarudin
Sholat,,Tapi pakaian tidak menutup aurat,Malah seakan mengundang maksiat,Astaga Karren 🤦🏻‍♀️
rahayu
subhanalah gantengny kebangetan thot
yulianti 1707
baguss dan ga bikin bosan
Nuri 73749473729
alhamdulillah akhirnya up jugaa.... jangan lama2 thorr
Khodijah Dijah
mauuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!