Akia tengah lari dari Ayahnya, yang menikah lagi pasca kepergian Ibunya. Kia bersembunyi dan bekerja di sebuah Rumah sakit sebagai seorang perawat disana. Akia dipertemukan oleh seorang pasien dengan trauma kecelakaan yang menyebab kan pengelihatan nya hilang.
Bisma Guntur Prayoga. Seorang pria yang harusnya menjadi ahli waris untuk hotel besar milik Ayahnya, justru memiliki nasib tragis dengan harus kehilangan cahaya dari matanya.
Kedua dipertemukan dalam sebuah instiden, ketika Kia dituduh akan mencelakai Bisma. Padahal, itulah yang membuat Bisma sadar dari tidur panjangnya selama ini.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akan kan mereka akan bersatu, dan Kia menerima Bisma sebagai pengisi cahaya dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayang? Apaan sayang!
"Aku, boleh ikut ke kantor?" tanya Bisma pada Daksa. Ia yang baru saja di bantu sahabatnya untuk mandi dan berpakaian, lantas Daksa harus mencari pakaian lain untuk mengganti yang telah tersedia.
"Tumben? Di kantor banyak pekerjaan. Aku tak dapat menemani secara maksimal, kau akan bosan nanti." balas Daksa, merapikan pakaian Bisma yang lebih formal dari sebelumnya.
"Aku akan diam." dan ucapan itu lah, yang selalu menggetarkan hati Daksa. Ketika Bisma melemah dan menyadari akan kesakitan yang Ia alami saat ini.
"Haisssh! Baiklah, kau akan ikut. Nanti ada pertemuan juga di cafein resto. Kau akan ku ajak, dan mereka adalah klien lama kita."ucapan Daksa melengkungkan senyum Bisma. Memang Ia sangat bosan kali ini, dan ingin keluar meski terbatas. Dan ajak Daksa, bagai sebuah angin segar baginya.
Daksa membawa Bisma keluar. Mengiringnya dari belakang yang berjalan dengan tongkatnya. Menuruni setiap anak tangga yang ada. Oma sekar tampak menyambut di bawah, menatap keduanya dengan raut wajah penuh haru karena kekompakan keduanya.
"Sayang, sudah mandi?" tanya Oma, meraih tangan Bisma dan mengajaknya duduk bersama. Daksa segera ikut, dan duduk diantara. Keduanya.
Bisma mengatakan rencananya hari ini. Ia akan ke kantor lagi bersama Daksa untuk pekerjaan nya. Oma lagi-lagi tak bisa melarang, apalagi dukungan Daksa diantara mereka.
"Oma hanya bisa titip kamu sama Dia. Kamu jangan nakal, dan jangan buat Daksa sibuk. Hari-harinya sudah begutu sibuki, di tambah kamu." cecar sang oma.
Bisma hanya diam dan mengangguk, lalu melahap sarapan nya sedikit demi sedikit.
"Kia, Sayang. Bangun, Nak." Mama Lisa masuk ke kamar Kia, membujuknya agar segera bangun. Mungkin obrolan kedua insan itu semalam tak ingat waktu, hingga Kia tidur kemalaman.
"Jam berapa?" tanya Kia, menggeliatkan tubuhnya.
"Jam Delapan. Kenapa Kia bangun telat? Begadang?" Mama Lisa sembari berjalan membuka horden kamar Kia, membuat gadis itu menutup mata nya karena silau.
"Ayah bilang, mau ajak Kia makan siang di restaurant. Sekalian ajak Kia bertemu dengan rekan bisnisnya."
"Jadi, mau jodohin sama orang lain?" pertanyaan Kia mulai sinis.
"Mama ngga tahu, Sayang. Mama ngga berani terlalu memcampuri Ayahmu. Kamu tahu sendiri Ayahmu bagaimana. Maaf," jujur sang mama pada Kia. Ia pun diam, berdiri dari tempat tidur dan segera meraih handuknya untuk mandi. Mama Lisa meninggal kan nya setelah itu, dengan sebuah pesan yanh terucap dari bibirnya. Meski Kia tak menjawabnya sama sekali.
Dengan malas. Lagi dan lagi Kia turun dan menemui Mama Lisa yang tengah mempersiapkan makan siang untuknya. Kia pun duduk dan menikmati semuanya dalam segala diam, menghabiskan lalu kembali naik lagi layaknya seorang pengangguran tanpa pekerjaan.
"Kia jam berapa ke kantor Ayah?"
"Katanya jam makan siang? Kan baru selesai sarapan," balasnya tanpa menoleh, menaiki setiap anak tangga yang ada.
Kia kembali rebah, diam sendiri di kamarnya yang sepi. Dan memang begitu sepi sendiri, yang bahkan Ia begitu enggan hanya untuk bersuara saat ini. Frustasi, dengan segaka yang Ayahnya atur untuknya. Seakan ingin berteriak dan melawan semua yang ada, pergi sejauh mungkin tanpa pernah Ayahnya temukan selamanya.
Tapi kemana?
Itu pertanyaan yang ada di benak Kia saat ini. Setidaknya harus jauh dari sang Ayah, dan pergi dari semua peraturan yang dibuatnya. Mengekang dan membunuhnya secara perlahan, meski berbalut kata sayang.
"Sayang apaan., sayang? Bunuh aja sekalian deh, biar nyusul Ibu." kesal nya.
koq rubah² mulu