Vika gadis ceria dan sedikit tomboy jatuh cinta pada Ihsan yang merupakan teman kecilnya.
Vika terpaksa harus memendam rasa sukanya pada Ihsan karena ada begitu banyak hal yang membuat mereka tak bisa bersama.
Penasaran ....
yuk simak kisah lengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Maelani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
SELAMAT MEMBACA
Vika begitu kesal saat Iksan menarik paksa tangannya dan memaksanya untuk naik mobilnya.
"Iksan lepasin tangan gw,sakit tau" Vika terus berontak.
"Masuk Vika, loe pulang bareng gw, bisa gak sih loe nurut sedikit" ucap Iksan kesal.
"Ih.. apa-apaan sih loe, loe tuh bukan siapa-siapa gw, dan loe gak ada hal buat nagtur gw" ucap Vika kesal.
"Vika plisss, nurut lah kali ini aja, lagi juga tadi tante Iren nitipin loe sama gw" ucap Iksan.
Dari depan pintu begitu banyak mata memandang kearah mereka.
Rany begitu marah karena Iksan telah mempermalukan didepan teman-temannya.
Dengan langkah cepat Rany menghampiri mereka.
"San, jadi gara-gara cewe ini loe ninggalin gw, dan loe cewe norak loe pikir dengan loe jadi kurus loe bisa lebih cantik dari gw" ucap Rany penuh dengan amarah.
Kaysa yang tidak terima sahabatnya dimaki-maki oleh Rany langsung menghampiri Rany.
" Gak salah ngomong loe, coba loe ngaca dari mana loe dibilang cantik? perlu lu inget ya Rany percuma lu cantik karena di dempul tebel hati loe aja dari dulu tuh udah jelek banget, dan gw heran Sam loe San kok kuat ya sama cewe kaya gini bertahun-tahun" ucap Kaysa kesal.
Rany yang tidak terima di maki-maki oleh Kaysa langsung membalas perkataan Kaysa.
"Kay, udah lah jangan di lanjutin malu tuh,ayo pulang aja" ajak Vika.
"Renn loe masih mau kan anterin gw pulang" tanya Vika pada Darren yang asik jadi penonton.
"Tentu sayang, siapa juga yang nolak, waktu loe masih gendut aja gw mau anterin loe pulang apalagi sekarang udah cantik" jawab Darren sambil bercanda.
"Vika loe pulang sama gw" Iksan menarik tangan Vika saat Vika hendak kembali menuju mobil Darren.
"Loe urus deh tuh cewe loe San, gw bareng Darren aja" ucap Vika kesal.
Tanpa basa basi Iksan langsung membopong tubuh Vika layaknya karung beras dan memasukkannya kedalam mobilnya.
Setelah menutup pintu mobil dan menahannya dari luar agar Vika tidak melarikan diri.
"Kay, kalo loe mau bareng gw cepet naik,kalo gak ya loe bareng si Darren aja"ucap Iksan.
Tanpa banyak bicara Kaysa pun langsung masuk naik kedalam mobil Iksan.
Vika yang kesal dengan sikap Iksan tadi hanya diam saja.
Ia merasa begitu malu dan takut jika nanti teman-temannya akan menilainya sebagai perebut pacar orang.
Hening, itulah yang terasa di dalam mobil Iksan.
"Vika..."
"Vika...loe dengar kan" panggil Iksan.
"Diem deh San, gw lagi males ngomong sama loe"
"Gw cuma mau minta maaf Vik soal yang tadi, gw tau loe marah" ucap Iksan.
"Udah tau gw lagi marah, malah ngomong terus" ucap Vika kesal
Iksan hanya tersenyum mendengar ucapan Vika.
Hanya suara musik yang sengaja Iksan setel agar suasana tidak terlalu sunyi.
Begitu mereka tiba, Vika langsung turun dari mobil Iksan tanpa sepatah katapun.
Iksan yang tau jika Vika sedang marah akibat ulahnya hanya membiarkan saja Vika masuk kedalam rumahnya lalu disusul oleh Kaysa.
Mama Iren yang kebetulan belum tidur melihat gelagat yang tidak menyenangkan diwajah putri kesayangannya.
"Kay..."panggil Mama Iren saat Kaysa hendak menyusul Vika kedalam kamar.
"Iya tante" jawab Kaysa sambil menghampiri mama Iren.
"Gimana acara reuniannya, kok kayaknya Vika lagi ngambek ya?" tanya Mama Iren
"Iya tante, Vika lagi kesel sama Iksan" jawab Kaysa.
Kaysa pun menceritakan semuanya kepada Mama Iren lalu setelah itu ia menyusul Vika kedalam kamarnya.
Saat Kaysa masuk ia melihat Vika yang sudah berganti pakaian dan sedang merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Vik, loe gak apa-apa kan?" tanya Kaysa
"Gw cuma kesel aja Kay, makin sebel gw sama dia" jawab Vika.
"Udah jangan terlalu dipikirin, mending kita istirahat aja yuk"
Vika hanya mengangguk lalu tidak lama kemudian keduanya pun sudah tertidur pulas.
Pagi pun tiba, Kaysa pun pamit pulang karena sudah dua hari ia tinggal dirumah Vika.
Saat menunggu tukang ojol pesanan Kaysa tiba mereka berdua duduk diteras.
Saat melihat Iksan keluar rumah,Vika pun langsung bangun dan berniat masuk kedalam rumahnya.
"Vika..gw mau ngomong" teriak Ikhsan.
"Gw gak mau ngomong sama loe" jawab Vika lalu masuk kedalam rumah dan kebetulan ojol pesanan Kaysapun tiba.
Vika hanya melihat dari balik jendela saat Kaysa naik keatas motor dan perlahan meninggalkan rumahnya.
Saat itu juga Vika langsung menutup pintu dan menguncinya.
Mama Iren yang melihat itu hanya tersenyum.
"Kenapa di kunci sih Vik?" tanya mama Iren pura-pura tidak tahu permasalahan antara Vika dan Iksan.
"Gak apa-apa mah, biar gak ada tamu aja, masih pagi juga" ucap Vika yang langsung meninggalkan mamanya.
Hampir seharian Vika tidak mengijinkan mamanya untuk membuka pintu, ia tidak mau bertemu Iksan dulu sampai rasa kesalnya hilang.
Beruntung Ujang menelpon Vika dan mengajaknya bercanda hingga ia pun melupakan sejenak rasa kesalnya pada Iksan.
Ujang juga memperhatikan pesanan telur asin yang begitu banyak dan ia sangat butuh bantuan Vika.
"Asikkk kita bisa banyak uang dong ya Jang" ucap Vika kegirangan.
"Ya gak juga neng"
"Lah kok gak sih, kan banyak pesenan artinya banyak uang dong" ucap Vika
"Iya bener, tapikan pesenannya belum di buat, jadi belum ada uang atuh" jawab Ujang dari seberang sana.
"Kok belum dibikin sih, kenapa?" tanya Vika
"Aa keteteran atuh neng kalau sendirian,makanya neng cepet kesini bantuin aa"
"Dih bilang aja minta bantuan" jawab Vika lalu tidak lama kemudian terdengar suara Ujang yang tertawa.
Karena terlalu serius Vika tidak tahu jika Mama Iren menguping pembicaraan mereka.
Ada rasa senang dan sedih saat mama Vika tau jika Vika akan segera kembali ke Bandung.
Pian yang memang belakangan ini sedang sibuk hingga jarang berbicara dengan Kakanya merasa begitu menyesal tidak dapat menemani sang Kaka saat berada di rumahnya.
Malam itu rencana Vika akan minta ijin pada mamanya untuk kembali ke Bandung besok.
Namun saat melihat wajah mamanya ia merasa tidak tega.
Mama Iren yang tau jika Vika akan kembali besok terlihat begitu sedih.
Setelah makan malam mama Iren langsung pamit masuk kedalam kamarnya dengan alasan sedikit tidak enak badan.
Semalaman Vika tidak dapat tidur dengan nyenyak karena ia memikirkan alasan apa yang harus ia utarakan ke mamanya.
Disatu sisi ia rindu dengan Ujang, nenek Dilla dan juga suasana di kampung.
Dilain sisi ia juga tidak tega dengan mamanya yang harus ia tinggalkan.
Mama Iren nampak termenung dimeja makan sambil menunggu Vika untuk sarapan bersama.
Tetttttt
Suara bel rumah Vika berbunyi, dengan rasa malas mama Iren pun berjalan menuju pintu dan saat akan membuka pintu "jangan dibuka mah, itu pasti Iksan" teriak Vika dari ujung tangga dan hanya terlihat kepalanya saja.
"Kenapa sayang, ini kan tamu"
"Paling juga Iksan, Vika belum mau ketemu dia" jawab Vika.
Mama Iren pun mengintip dari celah jendela dan ternyata benar Iksan sedang berdiri didepan pagar rumahnya.