Aila. Seorang gadis muda yatim piatu ... Yang harus menghadapi dilema dengan dua pilihan sulit dalam hidupnya.
Aila di hadapkan dengan sebuah perjodohan dengan CEO muda kaya raya, Fakhri ... Putra sahabat karib Almarhumah Ibunya. Namun sebuah rintangan besar ada di depan Aila, jika Ia memilih Fakhri, lantaran sudah ada sosok Naira yang telah menempati lebih dulu ruang di hati Fakhri.
Sementara di sisi lain ada Ardan, seorang sahabat yang diam-diam menaruh rasa pada Aila.
Siapa kiranya yang akan dipilih Aila sebagai jodohnya?
Siapa yang akan dijadikan Aila sebagai pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VirentaNita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Selalu Indah
Lama, Fakhri terdiam mematung dengan Raka digendongannya.
Sesaat kemudian Ia mulai mengernyitkan dahinya, merasa heran sekaligus penasaran dengan kehebohan di rumah yang telah cukup lama Ia tinggalkan.
Akhirnya, setelah cukup lama mempertimbangkan ucapan Ibunya beberapa hari yang lalu, Fakhri meneguhkan hatinya untuk kembali ke kediaman kedua orang tuanya. Demi masa depan Raka.
Namun kini Ia justru dibuat bingung dengan suara keributan yang berasal dari dalam rumah.
Hingga beberapa saat kemudian kedua matanya terbelalak lebar, melihat Ibunya yang diseret paksa keluar dari dalam rumah oleh beberapa orang berseragam polisi.
"Tega kamu Pa ... Kamu bahkan melaporkanku, istrimu sendiri!" teriak Erna sembari terus meronta.
"Fakh ... Fakhri ...."
Hingga sedetik kemudian nafas Erna bagai tercekat di tenggorokan, mengetahui putra kesayangannya itu telah berdiri di hadapannya. Tepat di pintu masuk rumah.
"Ada apa ini Ma?"
"Pa?"
Fakhri yang semakin kebingungan bertanya sembari menatap bergantian mama dan papanya.
Sedang Erna hanya tertunduk lesu, tanpa berani lagi menatap wajah putranya. Ia sadar jika setelah ini putranya itu justru akan menatapnya dengan penuh kebencian setelah tahu alasan Ia ditangkap polisi.
Erna yang sejak tadi merontapun kini menurut ketika petugas dari kepolisian memintanya terus berjalan dan masuk ke dalam mobil.
"Ada apa ini sebenarnya Pa?"
"Mengapa Mama ditangkap polisi?"
Fakhri menatap bingung Papanya yang justru menatapnya dengan perasaan bersalah.
"Masuklah dulu Fakhri ... Berikan Raka pada pelayan dan Papa akan menjelaskan semuanya.'
Fakhri menurut, diberikannya Raka pada pelayan kemudian mengekori Papanya yang telah berjalan terlebih dulu.
Hingga beberapa saat kemudian kedua tangan Fakhri mengepal erat dengan kedua bola mata yang memerah.
Menahan amarah sekaligus kesedihan dalam waktu bersamaan. Emosinya menjadi berkecakmuk tak karuan setelah mendengar penjelasan dari mulut papanya.
Ya, Fakhri baru saja mengetahui sebuah fakta yang sangat mengejutkan.
Erna lah dalang dibalik kematian Naira. Hingga Papanya yang kemudian tak sengaja mengetahui sendiri kebenarannya kemudian mengambil tindakan dengan melaporkan istrinya itu ke pihak berwajib.
"Mengapa Mama setega itu ...." lirihnya kemudian dengan nada syarat emosi.
"Maafkan Papa Fakhri,"
"Papa pun tidak menyangka jika Mama mu bisa bertindak sekejam itu ...."
"Sudahlah Pa, ini bukanlah salah Papa." sela Fakhri.
"Kembalilah ke rumah ini Fakhri ... Papa membutuhkanmu disini,"
"Jangan lagi memutuskan pergi karena fakta ini,"
"Mamamu telah mendapatkan balasan dari apa yang Dia telah lakukan."
*-*-*
Aila menatap sendu batu nisan di hadapannya. Sebuah batu nisan bertuliskan nama Ardan dengan tanah yang masih basah dan bertaburan bunga.
Kedua kelopak mata Aila terlihat sembab, namun Ia terlihat lebih tegar.
Aila telah mampu menerima kenyataan jika Ardannya telah tiada.
Ya, tubuh Ardan telah diketemukan dalam keadaan tidak bernyawa.
"Kamu jahat Ardan ... Kamu pergi sebelum Aku mengatakannya,"
"Aku mencintaimu Ardan,"
"Aku mencintaimu,"
"Apa Kamu mendengarku sekarang?"
"Bukankah kata itu yang selalu ingin Kamu dengar sejak dulu?"
"Lalu mengapa Kamu pergi dan tidak menungguku mengucapkan kata itu ...."
Aila terus berbicara sendiri sembari mengusap batu nisan Ardan.
Hingga rengkuhan kedua tangan Sumi yang sejak tadi setia menemani di sisinya kembali menyadarkannya.
"Ayo kita pulang Non." ajak Sumi yang disambut dengan anggukan kepala oleh Aila. Hingga detik kemudian keduanya melangkah pergi meninggalkan area pemakaman yang telah sunyi sepi.
END
Note : Terkadang harapan tak selalu sejalan dengan apa yang diharapkan.
seru pas diawal aja cerita dipologami, ini kan ganti cerita masak cuma dikit doank episodenya...
uda lama nggu akhirnya cm gini doank
Udh q boom like juga,
Jangan lupa mampir novelku yang lain
Love revenge, Obsesi
Tinggalin jejak juga 👍👍
Nuhun 🙏
mampir juga donk ke crt aku..
WHEN KAMA MEET SUTRA
aq tgg ya ka 🤗
ngk sabar nungguin kelanjutann kisah fahri dan aila