NovelToon NovelToon
Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Spiritual / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mel Rezki

Apa yang menyebabkan mereka melakukan perbuatan laknat itu? Hingga Anisa hamil di luar nikah, padahal mereka dikenal pribadi yang soleh dan solekha.

Naas menimpa Faisal Mubarak tunangan sekaligus lelaki yang telah menghamilinya meninggal dunia karena tersengat listrik. Hingga kondisi yang begitu mendesak bunda Rosmawati ibu dari Faisal memutuskan untuk menikahkan Panji Alam Darmawan dengan Anisa.

Sebagai bentuk bakti kepada ibunda, Panji menerima keputusan ibunda untuk menikah dengan calon adik iparnya. Walaupun dengan berat hati dan terpaksa pernikahan itu berlangsung.

Akankah ada benih cinta di antara mereka? Karena Panji juga memiliki kekasih hati yang juga luar biasa baiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel Rezki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Vano mendengus kesal dan meraup mukanya dengan kasar. Ada rasa sakit yang menusuk hatinya dan benar-benar sakit dibanding saat cintanya ditolak Anisa.

"Anisa menikah dengan kakak nya Faisal karena Anisa tengah mengandung anak Faisal," terang Tika.

Seperti ada petir yang tiba-tiba menyambar Vano. Dia diam mematung serasa mati rasa.

"Anisa hamil?" Vano mengulang pernyataan Tika tidak percaya apa yang dikatakannya.

"Aku juga sangat terkejut mendengar kehamilan Anisa. Kita tahu bagaimana karakter Anisa, keseharian Anisa dan sampai sekarang aku masih belum yakin Anisa bisa terjerembab dalam lembah kekhilafan oleh setan terkutuk."

"Tidak mungkin! Mana mungkin Anisa berbuat seperti itu!" kekeh Vano.

"Tapi bagaimana lagi Van, kamu tahu kan setan itu selalu menggoda manusia. Bahkan manusia yang dikatakan soleh atau solekha pun tidak ada jaminan untuk tidak digoda setan, malah setan yang menggoda levelnya lebih tinggi, menyesuaikan keimanan orang yang digodanya."

Vano diam. Masih saja belum percaya mendengar penuturan dari Tika.

"Artinya, keterpaksaan menikah itu yang menyebabkan Anisa masa bodoh telah diselingkuhi lelaki brengsek itu?!"

"Anisa malah merasa yang menjadi wanita perusak hubungan orang."

"Anisa beranggapan seperti itu?"

Tika mengangguk.

"Dia...Dia benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh! Mau apapun keadaannya dia kan istri sah di mata hukum maupun agama."

"Aku sudah peringatkan itu." ucap Tika.

"Aku selalu berusaha mengubur perasaanku padanya. Bahkan setelah kita lulus aku sudah sama sekali tidak kontak dengan dia tapi kenapa dia tiba-tiba hadir dalam hidupku?" batin Vano.

Tika menatap lekat Vano yang sedang memejamkan matanya dan menekan pangkal tulang hidung. Terlihat ada hal berat yang membebani pikirannya.

"Kamu masih peduli dengan Anisa. Kamu masih mencintainya Vano?" batin Tika dan hati Tika bisa ditebak bagaimana sakitnya walaupun mulutnya pernah berucap untuk merelakan Vano dengan Anisa ataupun wanita lainnya asal Vano bahagia dan mencoba membuka lembar baru untuk menerima kenyataan.

...****************...

Anisa menatap pergelangan tangan, waktu sudah menunjukkan pukul 15.50. Dia sudah terlihat rapi. Sesekali mata Anisa menatap keluar teras berharap orang yang ditunggu segera tampak.

Bip.

Klakson mobil yang baru masuk ke garasi rumah membuat Anisa bangkit dari duduknya.

Wajahnya menampilkan senyum mana kala lelaki yang ditunggunya keluar dari balik pintu mobil.

"Arlan tidak ikut Kak?" tanya Anisa karena hanya mendapat Panji yang keluar dari mobil.

Panji mengangguk.

"Aku mandi dan ganti baju dulu," ucap Panji dan kakinya melangkah masuk.

Lima belas menit Panji sudah keluar dengan kemeja pendek dipadu celana panjang, penampilannya lebih fresh dengan rambut yang diberi gel rambut.

Anisa diam menatap pria yang muncul dari arah dalam.

"Kalau kamu hanya diam di situ kapan perginya?!" ketus Panji tanpa menunggu reaksi Anisa.

Anisa merasa ucapan Panji menyindirnya karena mulutnya memang tanpa sadar hanya menganga menatap Panji.

"Tunggu Kak," seru Anisa berlari kecil mengejar Panji.

"Sudah ku peringatkan jangan lari," geram Panji kakinya berhenti melangkah dan tubuhnya memutar.

Bugh.

Tubuh Anisa menabrak Panji. Kalau saja tangan Panji tidak cekatan meraih tubuh Anisa sudah dipastikan dia terjatuh.

Mata Panji melotot menatap lekat ke arah Anisa dan Anisa hanya nyeringis dengan menangkupkan kedua tangannya.

"Ma...,"

"Jangan bilang maaf kalau kamu selalu mengulang kesalahan yang sama," potong Panji lalu melepas tangannya dari tubuh Anisa setelah Anisa berdiri secara sempurna.

Panji sudah duduk di jok kemudi Anisa juga mendudukkan pantatnya di samping kemudi.

Setelah mereka memasang seat-belt mobil itu melaju menuju klinik 'Keluarga Sehat Ibu dan Anak'.

"Sudah aku daftarkan via online. Kita langsung duduk di kursi tunggu." ujar Panji setelah mereka sampai di klinik dan memasuki ruang tunggu.

Anisa mengiyakan ucapan Panji.

Tidak selang berapa lama nama Anisa terdengar dari suara soundspace di klinik ruang tunggu. Anisa segera masuk ke ruang perawatan, Panji juga ikut masuk tapi agak ragu karena ini yang pertama kalinya dia mengantar Anisa periksa hingga masuk ke ruang perawatan.

"Nyonya Anisa?" Dokter memastikan dan Anisa mengangguk dengan melayangkan sebuah senyuman.

"Silahkan ukur berat badan," ucap dokter dengan menunjuk alat penimbangan."

"Empat puluh sembilan, bagus tiap bulan mengalami kenaikan," ujar dokter setelah melihat angka yang tertera dalam timbangan.

"Langsung berbaring di ranjang ibu," sambung dokter.

Anisa menurut, lengannya kini dipasang tensimeter. "Bagus juga 110/80. Biasa tekanan darahnya kisaran angka 100 ya Bu?"

"Ya Dok," jawab Anisa.

"Atasannya tolong disibak ya," pinta bu dokter.

Anisa merasa ragu karena ada Panji di depannya. Artinya kalau bajunya disibak Panji dapat melihat perutnya.

"Maaf ya," ujar Bu dokter dan tangan kanannya yang menyibak baju itu hingga perut Anisa yang mulus dan mulai berisi terpampang jelas di mata Panji.

Dokter memberi gel pada permukaan perut Anisa kemudian meratakan gel itu dan mulai menggerakkan transducer di perut Anisa agar objek semakin jelas.

Anisa dan Panji menatap layar monitor yang menampilkan makhluk hidup di perut Anisa.

"Semuanya terlihat bagus Bu, Ini kepala bayi, kaki, tangannya," ucap Bu dokter dengan memberi tanda silang di bagian yang dia tunjukkan.

Anisa tersenyum menatap bayinya yang terlihat di layar monitor. Ada rasa haru dalam diri melihat makhluk kecil itu.

"Insya Allah normal semua," lanjut bu dokter kemudian membersihkan gel yang ada di perut Anisa dan menutup kembali bajunya.

Anisa nampak merapikan pakaiannya lalu turun dari ranjang dan duduk di kursi depan meja kerja dokter, Panji juga ikut duduk di sebelahnya.

"Usia kehamilan Ibu Anisa sudah masuk 16 minggu. Artinya kehamilan ibu memasuki trimester kedua. Keluhan selama satu bulan terakhir apa Bu?"

"Anisa menggeleng, aku tidak merasakan keluhan apapun Dok," jawab Anisa.

"Oh ada Dok, indera penciuman jadi sensitif Dok. Normal tidak kalau mencium aroma wangi sampai berasa tidak sadar diri?" tanya Anisa.

"Tidak sadar diri maksudnya pingsan?"

"Mengejar orang yang menurut dia itu wanginya enak. Setelah terkejar dia nempel dan mendengus membaui wangi itu," sela Panji yang akhirnya bersuara.

Dokter tersenyum melihat ekspresi raut wajah pasangan suami-istri di depannya.

"Kalau yang dikejar itu suami sendiri tidak apa-apa tapi kalau yang dikejar suami orang bisa ditipuk sama istrinya," jawab Bu dokter masih melayangkan senyum.

"Itu Kak dengerin, tidak apa-apa. Jadi wajar ya Dok?" Anisa merasa menang mendengar jawaban dokter.

Dokter mengangguk, "Selama masa kehamilan itu memang banyak perubahan pada ibu hamil, ini faktor hormon. Salah satunya ya ini, indera penciuman menjadi sensitif. Selain itu juga perasaan ibu juga sering sensitif, bapak harus perhatikan itu ya," ujar bu dokter dan pandangannya mengarah ke Panji.

Panji membalas dengan senyum.

"Asupan gizi selalu diperhatikan. Selain itu, tolong psikis bayi dan ibu bayi juga perlu diperhatikan. Usia kehamilan 16 minggu itu indera pendengaran bayi sudah mulai bisa berfungsi. Bapak bisa memberi rangsangan dengan mengelus perut ibu, mengajak ngobrol si bayi. Itu semua sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang bayi."

Panji lagi membalas dengan senyum.

"Saya rasa cukup, ada hal yang akan ibu atau bapak tanyakan?"

"Tidak Bu," jawab Anisa.

"Resepnya silahkan diambil di ruang farmasi. Semoga bayi dan ibunya selalu sehat. Silahkan periksakan kembali di bulan depan dan terima kasih."

"Terima kasih juga Bu Dokter, assalamualaikum," pamit Anisa dan Panji mengekor di belakang.

Pukul setengah 8 mereka baru sampai di rumah. Setelah mereka mampir untuk makan malam dan Anisa menyempatkan diri untuk menunaikan salat fardhu.

Anisa melangkah ambil air wudu kemudian mempersiapkan diri untuk salat isya. Rakaat demi rakaat dia tunaikan, ditutup dengan dua salam. Anisa menengadah berdoa memohon banyak hal pada Sang Mahakuasa. Selesai berdoa Anisa merapikan mukena dan mengenakan kembali jilbabnya.

Tubuh Anisa langsung dia baringkan di ranjang tidur karena merasa begitu lelah. Terlihat Panji yang baru keluar dari toilet kamar dia juga langsung menuju ranjang.

"Auw...," jerit Anisa tiba-tiba.

"Ada apa Nis?" khawatir Panji hingga bangkit dari rebahan.

Anisa nyeringis "Tidak apa-apa Kak, hanya kaget dan geli tiba-tiba perutnya berdenyut, mungkin si adek lagi gerak," ucap Anisa.

Panji mengempas napas pelan nampak lega tidak ada hal yang dikhawatirkan.

"Ini...ini, ini Kak gerak lagi," seru Anisa dan reflek tangan Panji dia tarik untuk meraba perutnya yang berdenyut.

"Ya kan Kak?" antusias Anisa tanpa sadar membuat laki-laki yang masih dipegang tangannnya dan meraba perutnya menjadi berdebar dan sulit mengartikan semua rasa.

Panji menampilkan senyum. Benar ada gerakan di perut Anisa walaupun gerakan itu tidak terlalu kuat. Gerakan dari makhluk kecil yang ada di perut gadis yang ada di hadapannya.

Panji menatap intens gadis yang dikatakan ingusan olehnya. Senyum yang tercetak di wajah Anisa, sesekali menampakkan barisan gigi yang putih dan rapi sungguh pemandangan yang membuat Panji bahagia.

"Bagiamana bisa kamu melakukan ini semua Anisa? Membuat ku tersenyum ketika ku merasa penat, membuat ku merasa tidak sepi ketika ku butuh teman bicara, membuat aku merasa marah, benci, kesal dalam waktu bersamaan. Semua rasa bercampur menjadi satu. Mengapa kamu hadir dalam hidupku Anisa?" Monolog batin Panji dan matanya tetap terpaku menatap raut wajah Anisa yang masih tersenyum kegirangan.

malam menyapa🤗. Siapkan like, komen, vote dan hadiah ya...segera kirim ke author 🤭🙏.

Dukungan kalian adalah penyemangat ku🥰😍

1
Nhimasera Sera Sera
Luar biasa
Mel Rezki: terima kasih Kak 🙏
lanjut novel Kak Mel lainnya 😍😘
total 1 replies
arzetti azra
Kecewa
arzetti azra
Buruk
Marhainun Tanjung
bagus banget cerita nya.
Mel Rezki: terima kasih Kak, lanjut novel lainnya kak Mel , karena ustadz aku cacat
total 1 replies
Lismawati Salam
Luar biasa
nesya
knp Nisa hrs ninggalin anak nya sih. hrs nya kan dia tetap bersama anak nya, berjuang demi anak nya, Krn itu adalah harta yg paling berharga yg di tinggalkan oleh Faisal sbg tanda cinta mrk, meskipun kehadirannya mgkin akibat dr ketidak sengajaan.
nesya
akhirnya kebaikan, ketulusan dan keceriaan Nisa mampu merobohkan dinding keegoisan nenek panji.
nesya
di hati panji itu sdh tumbuh benih-benih cinta utk Nisa, tp dia masih blm menyadari itu, makanya dia sll berusaha menyangkal kl perasaan gelisah di hatinya itu cm di karenakan rasa kepedulian aja.
nesya
sdh mulai tumbuh benih-benih kebucinan dlm hati panji buat Anisa. sm spt kata pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino, cinta itu bs tumbuh lantaran terbiasa bersama.
nesya
jd serba salah buat panji. tp Panji bnr" laki-laki yg baik dan tulus, meskipun dia nikah terpaksa, tetap sj sikapnya terhadap Anisa sgt bertanggung jawab sbg seorang suami. dia begitu perhatian dan melindungi Anisa. mgkin kesalahan panji dlm hal ini cm satu, wkt dia sampai di rmh nya, knp dia tdk langsung menemui Tiwi utk menjelaskan masalah yg sebenarnya, hingga tak sampai timbul kesalah fahaman diantara mereka berdua. tp siapa yg tahu dgn rencana author, mgkin sj pd akhirnya panji mmg lah jodoh anisa., dan bkn Tiwi.
Medy Jmb
Mau nikahin Tiwi yg penyakitan, nyerein Nisa? cuma di dunia novel
Medy Jmb
menghempaskan Thor bukan mengempaskan
yoona
udah jadian aja bah/Facepalm/
Sumi Ati
masih menyimak.
Elvira Juned
Gk adil bagi Panji menikah dgn Anisa utk menutup aib sama aja mereka sekeluarga menipu semua org, dan memakaikan BIN atau BINTI utk anaknya Faisal dan Anisa kelak
Mmh Astri
👍👍👍👍👍👍👍👍🥰🥰🙏
Mel Rezki: lanjut baca novel kak Mel yang lainnya 🙏
total 1 replies
Mmh Astri
👍💪
Mmh Astri
💪💪💪💪👍🙏🥰
Indah Safitri
Luar biasa
MIZI ZESHIKUMEZI
owo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!