Pernikahan Kenan dan Calista selalu dibayang-bayangi oleh kesalahan masa lalu Kenan pada Olivia, adik kandung Calista. Kenan yang beberapa bulan sebelum menikah dengan Calista salah memasuki kamar Olivia dan menyangka wanita yang tidur adalah Calista yang akhirnya membuat Olivia hamil. Lima tahun kemudian Kenan akhirnya bercerai dengan Calista, lalu menikah dengan Olivia. Calista yang dendam pada Olivia lalu menikah dengan Leo, tunangan Olivia yang dia rebut. Namun perjalanan rumah tangga Calista tidaklah mudah dan selalu dibayangi oleh dosa masa lalu yang telah mereka lakukan. Bahkan Calista juga dimadu dengan sekretaris Leo yang bernama Giselle meskipun akhirnya Leo dan Giselle bercerai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Berisik
Leo lalu mengambil kertas milik Ramon yang terjatuh. "Ramon, ini milikmu?" tanya Leo. Ramon begitu gugup melihat kertas yang berisi tes kesuburan milik Calista kini dipegang oleh Leo. Secepat kilat dia langsung mengambil dari tangan Leo sebelum dia membukanya.
"Iya Pak Leo," jawab Ramon sambil mengambil kertas itu.
"Tampaknya kertas itu begitu penting bagimu? Kau terlihat begitu gugup Ramon."
"Emh iya Pak, saya hanya takut kertas itu hilang, karena kertas itu berisi catatan medis milik ibu saya."
"Oh, jika kertas itu begitu penting, lain kali sebaiknya kau lebih berhati-hati Ramon."
"Oh iya Pak, terimakasih banyak."
"Sama-sama, ini sudah malam, saya pulang dulu. Istri saya pasti sudah menunggu di rumah."
"Iya Pak."
"Brengsek kau Leo, sebelum kau mengenal Calista aku sudah lebih dulu menikmati tubuhnya," gumam Ramon sambil tersenyum kecut disertai seringai tipis di wajahnya.
Leo meninggalkan Ramon kemudian berjalan menuju ke basemen tempat dia memarkirkan mobilnya. Saat akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba seorang wanita tampak berdiri di depannya. "Selamat malam, Pak Leo," kata wanita itu.
"Giselle, apa yang kau lakukan di sini?"
Giselle lalu menyunggingkan senyum sambil berjalan mendekat pada Leo. "Apa maksudmu memecat diriku? Apakah ada kesalahan yang pernah kulakukan padamu?"
"Tidak Giselle, kau tidak pernah memiliki kesalahan apapun padaku."
"Lalu kenapa kau memecat diriku begitu saja tanpa alasan yang jelas?"
Leo lalu tersenyum. "Giselle, maaf aku sudah bosan denganmu."
DEGGGGG
Giselle begitu terkejut mendengar kata-kata Leo, hatinya begitu sakit hingga air mata pun mulai mengalir di pipinya. "Jadi selama ini kau hanya mempermainkanku?"
Leo lalu tersenyum. "Tentu, apa aku pernah bilang padamu jika hubungan kita adalah hubungan yang serius? Giselle come on, aku hanya ingin bersenang-senang denganmu, seharusnya kau sadar akan hal itu."
"Dasar laki-laki buaya!" kata Giselle sambil mengayunkan tangannya. Namun, sebelum tangan itu mendarat di pipi Leo, dia terlebih dahulu mencekal tangan Giselle hingga membuatnya tak berkutik. Tangan Giselle lalu diarahkan ke belakang sehingga posisinya kini terjegal. Leo lalu mendekat dan berbisik di telinga Giselle.
"Giselle kau tidak sepantasnya berharap lebih padaku karena seharusnya kau sadar siapa kau dan aku. Kita berasal dari kalangan yang berbeda, dan lihat dirimu, kau tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Calista istriku yang begitu cantik dan terkenal."
Giselle hanya bisa menangis mendengar kata-kata Leo yang membuat dadanya kian sesak. "Cukup, sudah cukup kau menghinaku Leo. Sekarang dengarkan aku, ada suatu hal yang begitu penting yang ingin kusampaikan padamu!"
"Apa yang harus kudengarkan dari wanita malang sepertimu? Apa pesangon yang kuberikan itu belum cukup untukmu?" kata Leo sambil melepaskan tubuh Giselle.
"Bukan itu Leo."
"Lalu apa?" kata Leo sambil mengernyitkan keningnya.
"Apakah kau ingat kemarin malam kau mendapat sebuah pesan yang berisi foto test pack?"
"Ya, aku ingat, aku pikir itu hanya ulah orang iseng."
"Itu aku yang mengirimkan!!!"
"Maksudmu?"
"Tespack itu adalah milikku, dan sekarang aku sedang hamil anakmu!!!"
"Tidak mungkin, bukankah kau bilang padaku jika saat kita berhubungan kau sudah memakan pil pengaman?"
"Aku berbohong padamu Leo," kata Giselle sambil tersenyum menyeringai.
PLAKKK PLAKKK
"Brengsek kau Giselle! Gugurkan kandunganmu sekarang juga atau aku akan membunuhmu!!" kata Leo tepat di depan wajah Giselle. Hembusan nafas Leo yang begitu dekat di wajahnya pun semakin terasa membuat pipinya begitu perih namun tak seperih dan sesakit yang dia rasakan di dalam hatinya.
"Dasar laki-laki biadab!!!" kata Giselle sambil meludahi wajah Leo yang masih ada di depan wajahnya.
PLAKK PLAKKK BUGHHHH BUGHH
"Wanita ****** berani-beraninya kau berbuat seperti ini padaku!" Leo menampar wajah dan memukul beberapa bagian tubuh Giselle hingga akhirnya dia pun terkapar. Leo kemudian mendekat pada Giselle yang sudah tampak tidak berdaya dan melemparkan dua bendel uang ke wajah Giselle.
"Gugurkan kandunganmu atau kau akan menyesal jika tak menuruti kata-kataku, aku bisa saja menghabisimu kapanpun aku mau!" kata Leo sambil meninggalkan Giselle yang masih terkapar sambil terus menangis. Suara decit mobil Leo saat pergi meninggalkannya pun kian membuat hatinya semakin perih.
"Laki-laki biadab!" kata Giselle sambil terus menangis menyisakan genangan air mata di atas lantai basemen. Saat Giselle masih begitu terisak, tiba-tiba sebuah langkah mendekat padanya.
"Aku akan membantumu, bekerja samalah denganku." kata sosok yang kini berdiri di hadapannya.
***
Calista berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. "Brengsek. Dasar dokter bodoh, aku akan mencari dokter yang lebih hebat darimu, lihat saja suatu saat aku pasti bisa hamil tanpa bantuan dokter sepertimu!!!" kata Calista dengan emosi yang begitu memuncak saat mengingat pertemuannya dengan dokter Syarif di rumah sakit yang mengatakan jika kemungkinan Calista hamil semakin kecil apalagi setelah Calista mengalami kecelakaan yang begitu parah, karena ada sedikit robekan di rahimnya akibat kecelakaan yang dia alami.
"Lihatttt saja aku pasti bisa hamil!!!" kata Calista sambil berteriak di dalam kamar, sesaat kemudian ponselnya pun berbunyi, sebuah pesan dari Herman masuk ke ponselnya.
"Papa mengirimkan sebuah foto? Foto apa ini?" kata Calista sambil membuka foto itu, di bawah foto itu tertera pesan yang dituliskan Herman untuknya.
[Calista, Olivia kini sudah sembuh dan sekarang sudah kembali ke rumah]
"BRENGSEK!" teriak Calista yang melihat foto Olivia yang dikirimkan Herman. Di foto itu tampak Olivia yang kini sudah bisa melihat kembali dengan normal tersenyum begitu manis dalam dekapan Kenan dan Vansh.
"Kenapa.... Kenapa hidup Olivia selalu begitu sempurna??? Bukankah aku sudah merebut semua yang dia miliki? Tapi kenapa justru dia yang bisa hidup bahagia????" kata Calista sambil terus berteriak di dalam kamarnya.
***
Olivia duduk di depan meja rias sambil menyisir rambut dan melihat wajahnya. Kenan lalu mendekat padanya kemudian memeluknya dari belakang.
"Apa yang kau lihat sayang?" kata Kenan sambil menci*mi tengkuk serta leher Olivia.
"Hanya ingin mengamati wajahku." kata Olivia sambil memegang beberapa bagian wajahnya.
"Aauuwwwww...." teriak Olivia saat tiba-tiba Kenan membopong tubuhnya.
"Sudah cukup kau memperhatikan wajahmu, sekarang aku yang harus mendapat perhatian darimu."
"Sabar Kenan, aku baru saja pulang dari rumah sakit. Kau terlalu terburu-buru." Namun, Kenan tak mengindahkan kata-kata Olivia dia lalu mencengkeram kedua tangan Olivia kemudian menciumi leher yang membuat Olivia tertawa sambil sedikit berteriak.
"Sttttt Olive jangan berisik!" kata Kenan sambil menempelkan telunjuknya di depan bibir Olivia.
ta vote Thor ✌️
bagus Thor perubahan karakter nya dari sangat jahat tidak selamanya menjadi penjahat 👍🌹
aku suka itu.....
jadi kesal